Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Perpisahan Dan Tekad


__ADS_3

Malam itu Summer tidak tertidur sama sekali.


Ini malam ketiga dia bersama Mara. Dan di malam itu juga dia akhirnya memutuskan apa yang akan dia lakukan.


Dia berpikir sampai pagi, pikiran yang sama terus berulang-ulang di kepalanya.


Tapi dia bersyukur tak tertidur karna ada hal yang tidak boleh terlewatkan.


Yaitu warna rambut Mara yang akan berubah seiring dengan muculnya sinar matahari setiap pagi.


Dia terus memperhatikan Mara yang masih tertidur dan masih tetap terpana meskipun ini ke-empat kalinya kejadian itu dia lihat.


Mara terbangun dan membuka matanya. Dia bertemu mata dengan Summer. Sontak Summer langsung memalingkan matanya dan melihat sembarang tempat.


Entah kenapa Summer merasa malu.


Mara langsung masuk ke dalam air dan berenang renang. Lalu keluar dengan ikan-ikan ditangannya.


“Udah mau sarapan aja??” Ujar Summer.


Baru saja Mara bangun udah terpikir sarapan. Mara memperhatikan ikan-ikan yang menggelepar dia atas batu itu lalu melahapnya.


“Argh. Aku masih tetap tak terbiasa!” Ujar Summer kaget.


Respon Summer itu tak membuat Mara kehilangan nafsu makannya. Dimakannya tiga ikan habis.


“Pantes aja kamu sebesar itu.” Ujar Summer tersenyum.


Sedari awal Summer tersenyum, Mara selalu merasa terbuai. Apa yang berbeda dari senyum belaka.


Tapi melihat Summer tersenyum ternyata masuk daftar yang wajib dia lakukan seiring waktu bersama Summer.


Mungkin itu hari ketiga mereka bersama tapi hubungan mereka jadi cukup dekat. Itu bisa terjadi mengingat awal pertemuan mereka.


Terlebih Summer berada tepat dititik terbawah dalam hidupnya, di saat itulah dia bertemu Mara. Apa lagi yang perlu disembunyikan. Mara bahkan sudah tau lebih dari siapapun kejadian kelam Summer yang tidak akan Summer ceritakan pada siapa pun.


Mara mendengar ada yang berenang tidak jauh dari mereka dan langsung bersikap waspada. Mara bisa mendengar suara kapal yang sepertinya mengarah ke mereka.


Summer tidak mendengar apapun namun menyadari sikap Mara yang berubah. Mara mengernyit seperti orang yang siap menyerang.


Semakin dekat suara itu, berbau manusia.


Mara kemudian menyadari mungkin orang itu dapat menyelamatkan Summer. Entah harus bersyukur atau sedih. Mara menatap Summer dengan dalam dan tersenyum.


Summer pun mulai mendengar suara-gemercik air dari jauh. Seperti orang berenang dan ada suara kapal. Dia pun mengerti arti senyuman Mara.


Dipegangnya wajah yang berbau air laut itu. Rasa syukur terlihat di wajah Summer.


“Terima kasih. Aku harap kita bisa bertemu lagi suatu saat. Aku akan mengunjungimu.” Ujar Summer sambil tersenyum.


Mara menunduk, belum juga Summer pergi dia sudah merasa kehilangan.


Apa ini rasanya bertemu teman baru? Entahlah dia mungkin lebih dari sekedar teman di hati Mara, karna rasanya sangat sakit.


Mara menegakkan kepalanya dan menatap Summer. Pertama kalinya Mara mencoba menyentuh wajah Summer perlahan dan hati-hati karna takut kukunya akan melukai Summer.


Summer tersenyum “Aku akan hidup. Itu keputusanku.” Ujar Summer tersenyum.

__ADS_1


Diraihnya wajah Mara lalu diciumnya pipi yg dingin karna air laut itu.


Antara rasa sakit dan rasa deg-degan, Mara tak bisa tenang.


“Pergilah. Tidak ada yang boleh melihatmu. Mereka semakin dekat.” Ujar Summer melepas tangannya dari wajah Mara. Pria itu menunduk lalu tanpa melihat Summer, dia langsung menyelam.


“Harusnya melihat aku dulu baru menyelam.” Gumam Summer.


Betul saja Tim SAR sudah mendekat dengat kapal yang cukup besar. Tentu saja kapal itu besar, yang di cari adalah putri dan istri kolongmerat, apa yang tak bisa dilakukan. Tim SAR yang menyelam pun ada beratus orang ditugaskan.


Seorang dari mereka melihat Summer sedang duduk di batu. Segera mereka mempercepat gerakan menurunkan boat karet menuju Summer.


Rio yang mendapat kabar kalo Summer ditemukan langsung melompat ke air dan menyelam. Lalu naik ke Boat yang menuju ke arah Summer.


Dari kejauhan, Mara masih melihat Summer didekati oleh boat dan diangkat masuk ke boat.


Terlihat mereka memberi Summer selimut dan membawa Summer ke kapal.


Setelah melihat Summer naik kapal, Mara lalu berbalik dan kembali berenang.


“Kita udah nyariin lu berhari hari Sum!” Ujar Rio sambil mengernyit. Dia pasti Orang yang sangat khawatir karna Rio adalah orang terdekat Summer juga.


“I know.” Sahut Summer tenang.


Rio merasa bersyukur dan memeluk Summer.


“Are you okay?” Tanya Rio


“I hope so.” Sahut Summer.


Di boat yang sedang menuju ke kapal itu, Summer melihat ke arah batu dan berharap melihat Mara sekali lagi. Pandangannya tak lepas dari tempat itu.


Petugas kesehatan bergegas ingin memasang infus dan membersihkan luka di paha Summer.


“Lukanya ternyata sudah mengering bahkan tak perlu dijahit.” Ujar perawat yang melihat luka itu.


Summer hanya diam tak menghiraukan.


“Om Rudi dimakamkan hari ini.” Ujar Rio.


“Gue harus siap-siap berarti.” Ujar Summer bangkit dari posisi tidurnya.


“Gak perlu diinfus.” Tambahnya lagi.


Rio melihat Summer dengan intens. Banyak hal yang berubah dari gadis ini. Seharusnya dia sedang menangis, lemah dan hancur. Tapi Summer kelihatan sangat dingin.


Summer yang dia kenal orang yang ekspresif dan charming. Yang di depannya ini orang yang sangat berbeda. Selain kulitnya yang menjadi coklat, wajahnya datar dan sangat diam.


Rio bisa memaklumi perubahannya, pasti bisa terjadi karna hal yang dialaminya sangat teramat berat. Rio tak mengomentari perubahannya itu.


Pak Bagas yang juga berada di kamar itu akhirnya memerintahkan petugas medis untuk tak perlu merawat Summer. Karna sepertinya Summer buru-buru ingin bertemu Papanya sebelum terlambat.


“Aku akan mandi. Tolong sediakan pakaian hitam” Ujar Summer sambil turun dari kasur dan bergerak ke kamar mandi.


Ketika Summer keluar dari kamar mandi, kamar sudah kosong. Dia mengenakan pakaian hitam yg sudah disediakan di atas kasur. Dress polos yang tertutup dari leher sampai bawah lututnya. Sepatu heels hitam, dan topi hitam dengan lace menutupi sebagian wajahnya.


Terdengar suara ketukan di pintu kamarnya.

__ADS_1


“Masuk.” Ujar Summer masih dengan posisi berdiri di depan cermin. Dia terlihat sudah rapi , rambutnya digulungnya ke belakang.


Pak bagas kemudian membuka pintu kamar dan menghampiri Summer yang berdiri di depan cermin.


“Sebentar lagi kita sampai di pelabuhan.” Ujar Pak Bagas.


Summer sebentar lagi akan meninggalkan laut yang bernama laut Sawarna itu.


Membawa bekal tekad untuk mencari tahu apa yang terjadi terhadap dia dan orang tuanya. Sekali lagi dia menatap refleksinya di cermin.


“Bagaimana Mama Papa bisa kecelakaan? Pa Bagas pasti sudah investigasi kan?” Ujarnya menatap Pak Bagas dari cermin.


Pak Bagas terlihat ragu untuk bicara, namun berusaha mencari kata-kata yang tepat untuk menjawab anak 19 tahun itu.


“Pak Bagas bisa beri tahu. Aku juga sudah mengalami. Aku tau ada yang ingin membunuhku.” Ujar Summer berbalik badan menatap mata Pak Bagas.


Tentu Pak Bagas pun tahu itu, dia sudah melihat sendiri keadaan mobil Summer yang remuk di dasar laut, jelas terlihat akibat ditabrak.


“Ya. Sepertinya begitu. Tapi tolong jangan berbuat apa-apa dulu. Kita sedang mengumpulkan bukti. Dari pada itu, sekarang perusahaan sedang berantakan. Wafatnya ketua membuat orang-orang serakah bermunculan. Karna itu kita harus berhati-hati.” Ujar Pak Bagas akhirnya buka suara.


Dia sebenarnya ragu, karna Summer masih terlalu muda untuk menerima semua itu.


“Apa yang harus aku lakukan lebih dulu?” Tanya Summer serius.


“Kita harus menyelamatkan Summer Sea terlebih dahulu. Itu perusahaan yang susah payah Rudi bangun.” Ujar Pak Bagas memanggil ketuanya dengan namanya.


Pak Bagas dan Rudi adalah teman dekat sedari SMA. Sampai saat Rudi memulai usahanya, Pak Bagaslah yang bersamanya.


Namun Pak Bagas tak mau diberi kedudukan tinggi apapun di perusahaan itu, karna baginya itu bisa membuatnya serakah.


Dia lebih memilih jadi sekretaris yang akan selalu ada disebelah Rudi dan tahu apa saja masalah temennya itu. Rasa kehilangan itu sangat memukul Pak Bagas atas wafatnya teman yang sudah melebihi keluarga baginya.


Tapi dengan adanya Summer, Pak Bagas mulai bertekad akan menjaganya seperti anak sendiri, begitupun Summer Sea.


Yang tadinya Summer hanya menebak kalau kecelakaan orang tuanya disengaja, kini terpukul kembali dengan kenyataan tebakannya itu memang terjadi.


Wajahnya menjadi semakin dingin, dan pikirannya terus berputar-putar.


Dia bersiap akan bertemu dengan orang yang menghancurkan keluarganya di pemakaman Papanya.


“Pak Bagas. Terimakasih. Kedepannya aku akan selalu meminta bantuan Pak Bagas. Aku sudah memutuskan, aku akan membuat orang yang membunuh Papaku menderita. Tolong ajari aku.” Ujar Summer.


Pak Bagas menghela nafas, Gadis kecil ini dalam tiga malam berubah jadi orang yang berbeda. Mimiknya yang dingin, bahasanya yang terlalu dewasa, dan lipstiknya yang berwarna merah.


Di gereja katedral, seorang pastor membawakan ibadah. Di depan altar ada peti mati Rudi Wicaksono, setengah terbuka.


Orang-orang di gereja penuh dan berpakaian hitam. Banyak yang menangis dari keluarga dan kerabatnya.


Mungkin jika pemakaman dibuka untuk umum, banyak karyawan Summer Sea yang akan datang. Karna Rudi dikenal orang terpandang dan baik citranya. Tentu saja banyak yang bersedih dengan kepergian ketua Perusahaan itu.


“Naas sekali. Istri dan anaknya bahkan belum ditemukan. ” Ujar Yura Wicaksono menangis tersedu-sedu.


Ditengah ibadah dan suara organ yang memenuhi gereja itu, terdengar suara pintu terbuka bersamaan dengan cahaya yang masuk dari luar.


Suara langkah yang jelas terdengar karna heels yang dipakainya. Summer masuk dengan wajah dingin tak menangis. Dibelakangnya ada Pak Bagas dan Rio menemaninya.


Summer terus berjalan dan melewati semua barisan bangku. Lalu dia berhenti setelah sampai di peti mati Papanya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2