Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Manager Pemasaran


__ADS_3

Hari itu Summer tetap pergi bekerja meskipun kurang istirahat. Dia mungkin hanya bisa tidur sekitar 3 jam saja, itu pun di kapal.


“Kamu bisa libur untuk istirahat.” Ujar Summer pada Mara yang dari semalam tidak tidur sama sekali.


Namun Mara sudah siap dan rapi tinggal menunggu Summer.


Sambil mengambil heelsnya, Summer mengenakan sepatu itu dengan posisi dia duduk di sofa.


Melihat Mara sudah rapi dan siap pergi, Summer jadi tersenyum. Sia-sia menyuruhnya tinggal di rumah, dia akan tetap keras kepala mengikuti kemana pun Summer pergi.


Summer mendekati Mara lalu meraih kepalanya. Mara sudah tau Summer akan apa, dia refleks menundukkan kepalanya agar Summer lebih mudah mengelusnya.


“Ayo.” Ujar Summer tersenyum.


*****


Dari meja kerjanya, Pak Bagas melihat Summer baru tiba dan akan berjalan masuk ke ruangannya. Seperti biasa di belakangnya ada Mara pengikutnya.


“Meeting akan dimulai 15 menit lagi ketua.” Ujar Pak Bagas menghampiri dengan memeluk dokumen di lengannya.


“Baiklah.” Ujar Summer menggantungkan Coat-nya.


Summer mengecek sekilas bahan meeting yang nanti akan dibahas. Dia mengecek sambil berdiri dan menggigit penanya sambil berpikir.


“Ayo.” Ujarnya kemudian.


Pak Bagas dan Summer meninggalkan ruangan itu lalu pergi ke ruangan meeting diikuti oleh Mara yang menunggu di luar ruangan.


*****


“Baiklah. Semua sudah sesuai rencana. Pakaian dewasa akan di launching tanggal 15 ini. Ada lagi yang perlu dibahas?” Tanya Summer ingin menutup rapat.


“Ketua. Kami akan mengenalkan Manager Pemasaran kita yang baru.” Ujar Harith mendekatkan mulutnya ke mic.


“Kenapa ada pergantian?” Tanya Summer, berita itu tiba-tiba sekali.


“Manager sebelumnya mengundurkan diri, maka kita terburu-buru mencari yang baru. Terlebih dengan produk yang akan dilaunching, posisi itu pasti tak boleh kosong.” Sahut Harith.


Praman hanya berdehem dan melihat ke bawah sambil menyeringai.


Sedangkan Mara yang berdiri di depan ruangan kaget karna Richard tiba-tiba muncul dan ingin masuk.

__ADS_1


Mara menahannya karna baginya Richard adalah sosok yang perlu dijauhkan dari Summer.


“Silahkan masuk pak Richard.” Ujar yang lainnya membuka pintu.


Richard memandang sinis Mara dan tersenyum merendahkan.


Summer terbelalak namun mencoba tetap tenang. Dari semua orang kenapa harus Richard yang mengisi posisi itu. Summer langsung khawatir produk baru tak berjalan lancar dan kesulitan berkomunikasi adalah masalah yang pasti terjadi.


Mara tersenyum sinis, liciknya keluarga sendiri tak peduli dengan keselamatan perusahaan.


“Terima kasih. Saya akan bekerja dengan giat untuk memenuhi ekspektasi perusahaan.” Ujarnya tersenyum dan melirik Summer yang sama sekali tak mempedulikannya.


Sesuai kata Bambang, Praman akan memasukkan putranya di salah satu bagian Manager. Tapi melihat dia memilih bagian pemasaran, tentu bisa dianggap sangat menyepelekan pekerjaan. Summer tahu kemampuan Richard dalam bekerja, dia ditaruh di situ hanya untuk jadi pengganggu.


“Semoga Ketua selalu sehat.” Ujar Richard menyodorkan tangannya untuk disalam.


Tawanya selalu terasa mengganggu. Semua omongan yang keluar dari mulutnya berkamus sarkas. Matanya yang selalu melihat Summer seperti melihat wanita tanpa busana.


Summer memandang dingin tangan Richard yang di depannya. Tanpa berkata apa-apa, Summer berbalik dan keluar dari ruangan meeting.


*****


“Hari ku langsung rusak setelah melihat wajah itu.” Ketus Summer yang sudah ada di ruangannya.


“Iya. Aku yakin borok manusia satu itu pasti banyak.” Ujar Summer kesal.


“Baik Ketua.” Sahut Pak Bagas meninggalkan ruangan Summer.


Mara rasanya sangat kesal dengan hadirnya Richard di gedung itu. Dia juga tahu seberapa terganggunya Summer. Perusahaan sungguh rumit dan licik.


“Akan kupatahkan semua tulangnya jika macam-macam.” Gumam Mara dengan mata membara.


Namun kemudian mata itu layu lagi karna dia sangat mengantuk. Beberapa kali Mara menguap dan mempertahankan posisi berdirinya. Sesekali dia menyender agar lebih nyaman.


Summer dapat melihat dari dalam ruangan, Mara sangat gelisah. Dia menelpon Pak Bagas untuk menyuruh Mara masuk.


Tak lama kemudian Mara masuk dengan wajah ceria seperti anjing menggoyangkan ekornya.


“Kau mengantuk ya?” Tanya Summer.


“Sedikit. Tapi tidak apa-apa Ketua. Aku masih bisa berjaga.” Sahut Mara profesional.

__ADS_1


Summer tersenyum. Sikap Mara selalu menghibur, seperti sekarang Summer sudah tersenyum lagi padahal tadi dia sangat jengkel karna melihat wajah Richard.


“Kamu boleh tidur di sofa.” Ujar Summer.


“Hah? Jangan.” Mara menolak.


Summer mengambil remote dari lacinya dan menekan salah satu tombol. Tembok kaca yang tadi bening sekarang menjadi buram. Sehingga yang di luar tidak dapat melihat keadaan di dalam.


Pak Bagas langsung was-was, sedang apa dia sejoli itu di satu ruangan. Tanpa pikir panjang Pak Bagas langsung masuk ke ruangan Summer dan menyaksikan Mara sudah


tertidur nyenyak di sofa panjang.


“Dia belum tidur semalaman karna mengemudi kapal.” Ujar Summer agar Pak Bagas tak membangunkannya.


Pak Bagas kehilangan kata-kata. Keadaan yang dia lihat saat ini sangat tabu. Dimana pemimpin perusahaan bekerja keras sedangkan bawahannya tidur cantik di sofa. Bahkan banyak karyawan yang mengantuk sampai dahinya terbentur ke meja namun mereka tetap bekerja.


“Pak Bagas.” Panggil Summer.


Summer bisa menebak apa yang ada di pikiran sekretaris merangkap ayahnya itu.


“Biarkan dia tidur, lagian sekarang sedang tidak ada siapa-siapa yang datang.” Ujar Summer.


Pak Bagas menghela nafas, meskipun gadis itu masih 20 tahun, namun dia adalah atasannya, dia harus menurutinya.


“Kemarilah Pak Bagas. Aku ingin periksa sesuatu.” Ujar Summer memasukkan sd card ke dalam laptopnya.


Pak Bagas mendekat dan penasaran apa yang hendak dilihat oleh Summer. Ada sebuah folder yang berisi rekaman black box mobil ayahnya, Rudi.


Summer memeriksa dan mencari tanggal kecelakaan itu terjadi.


Saat video itu di putar, terlihat sebuah mobil dengan pelindung besi di depannya, berjalan berlawanan arah. Mobil itu sangat kencang sedangkan mobil Rudi terlihat santai dan hati-hati. Rudi mencoba membanting setir agar tak bertabrakan dengan mobil besar itu. Namun rem mobilnya tak berfungsi. Mobil Rudi terus melaju dan menabrak pembatas jalan. Mobil tersebut kembali menabrak mobil depan Rudi berkali-kali hingga mobil tersebut terjatuh dan menyangkut di lahan curam.


Itu akhir dari video tersebut. Saat ini Summer hanya menemukan Nomor plat dan jenis mobil penabrak. Banyak hal yang perlu diperiksa karna wajah penabrak tak terlihat jelas.


“Ketua dapat ini dari mana?” Tanya Pak Bagas.


“Aku tak bisa cerita.” Sahut Summer.


Pak Bagas khawatir, jika seandainya Summer mencari tahu sendiri, akan sangat berbahaya.


“Ketua. Tolong jaga dirimu. Jangan menyimpan semuanya sendiri. Aku tak ingin kau melakukan hal berbahaya.

__ADS_1


“Terima kasih Pak Bagas.” Sahut Summer tersenyum.


Bersambung…


__ADS_2