
Polisi menerima bukti berupa ponsel yang dibawa Nindi, tentu dengan senang hati seraya menyuruh bawahannya untuk membawa ponsel itu untuk kembali diperiksa, seperti mengembalikan semua pesan yang pernah di hapus, siapa tahu ada bukti pendukung lain.
"Hubungan anda dengan Praman?" Polisi tersebut ingin menulis di laporannya.
"Saya putrinya." Nindi merasa malu bercampur ironis, dia menunduk.
Mereka yang mendengar, tiba-tiba terdiam. Melihat seorang anak yang melaporkan Ayahnya sendiri.
"Keluarga mereka benar-benar berantakan." Bisik salah seorang di meja lain pada rekannya.
Dengan begitu, semua bukti telah rangkum. Dari ponsel tersebut jelas Praman memberi perintah untuk membunuh Rudi untuk menutupi penggelapan dananya dan takut diturunkan dari jabatannya. Hal selanjutnya yang dilakukan adalah mencari kaki tangannya, polisi berniat mencabut sampai akar-akarnya.
"Halo." Sahut salah satu petugas mengangkat telpon dari telpon kantor yang berdering.
Sesaat setelah menerima laporan. Dia mematikan telpon dengan sigap kembali membuat panggilan.
"Petugas, ada keributan di pantai Sawarna. Urgent!" Ujarnya menyambar jaket lalu mendekati petugas yang bersama Nindi.
"CEO Summer Sea dikepung, kita tak akan sempat ke sana karena jarak. Aku sudah hubungi polisi setempat. Tapi kita tetap harus bergegas."
Nindi membelalak, Ayahnya kembali berulah dan sudah habis-habisan menunjukkan jati diri kali ini.
Petugas itu dan lainnya ikut bergegas, pria yang tadi bicara dengan Nindi paham betul terguncangnya gadis ini. Dia menepuk bahu Nindi agar tegar, lalu meluncur pergi.
*****
Suara sirene polisi bersamaan dengan ambulance tiba di pantai, tempat yang dilaporkan.
Situasi sangat kacau, banyak mayat yang terkapar sedang yang berdiri hanya Tapa dan Damar. Berusaha mengangkat Summer yang tak sadarkan diri. Para petugas menyapu wajah dengan kengerian pandangan di pantai pasir darah itu.
Namun sepertinya ada yang masih hidup, Praman. Meskipun dia kehilangan kesadarannya setelah Tapa menghantam kepalanya dengan senapan.
Keinginan Tapa untuk membunuh iblis satu ini sungguh besar, namun beruntung dia memikirkan Summer yang mungkin akan kena masalah setelah ini. Tentu dia sudah memastikan Praman tidak akan bisa mengungkapkan jati diri Tapa, Mara dan Sara.
"Lidahnya tak ada." Ujar perawat bergidik ngeri saat membuka mulut Praman di UGD.
__ADS_1
Dapat dipastikan Praman tidak bisa bicara dan tangannya pun divonis lumpuh tak akan bisa menulis, belum lagi kepalanya yang bocor, efeknya menyusul.
Clara ditangkap di kediamannya bersama dengan bukti-bukti yang ditemukan saat kepolisian mengacak-acak rumah besar itu. Ini adalah akhir telak bagi Praman dan Clara.
Mereka berakhir seperti yang diharapkan Summer. Tapi kali ini pikirannya tercurah sepenuhnya hanya untuk Mara. Setiap harinya dia akan pergi ke pantai dan berenang. Tapa dan Damar bahkan sudah terbiasa dan membiarkan, itu cara gadis gila ini menenangkan diri.
"Jangan terlalu lama begini. Coba ingat bagaimana kau bisa tegar dulu? Banyak yang terbengkalai. Perusahaan kacau balau. Tolong berusahalah tegar Summer. Perbaiki yang ada dan cari dia dengan baik setelah itu. Dengan penuh kewarasan." Pak Bagas lelah melihat sikap Summer yang sudah bermalam dua minggu di hotel dekat pantai. Tak pergi bekerja, hanya diam dan pergi berenang saat sore hari.
Summer tak menyahut, hanya tidur memunggungi Pak Bagas yang akhirnya berlalu pergi.
Sore itu seperti biasa Summer akan pergi berenang, lalu pulang setelah malam. Diam melamun di kasur kecil menatap bulan dari jendela.
Terdengar suara ketukan pintu, menyentakkan lamunan kosong. Summer turun dari kasur berjalan membukakan pintu.
"Sara!" Netranya membulat. Wanita tinggi berdiri di depan pintu seperti menagih sesuatu.
"Mara? Bagaimana Mara?" Sambar Summer langsung.
Wanita cantik itu hanya diam memandang ke bawah. Berantakan sekali gadis ini.
"Ya… Sa… Sara. Tak bisakah kau beri tahu bagaimana keadaan Mara?"
"Berdoa saja. Aku dengar itu yang dilakukan manusia."
"Bagaimana lukanya? Apa dia masih belum sadar?"
Banyaknya pertanyaan Summer, menyebalkan bagi Sara. Dia langsung ke kamar sebelah, sedari awal dia tahu Tapa dan Damar di situ.
Summer mengikuti, karena dia belum mendapat jawaban apapun. Tapa sendiri bingung apa bisa meninggalkan Summer dalam keadaan seperti ini.
"Tidak bisakah kau beri tahu aku?" Tanya Summer berusaha lagi.
"Bisa apa kamu kalaupun tahu?!" Sara dengan nada membentak membelalak menatap Summer.
"Aku perlu tahu! Kau mungkin tak mengerti. Dia sangat penting bagiku. Jika aku bisa mengganti nyawaku dengannya, aku akan langsung menggantinya saat ini juga. Jika aku bisa berenang selama apapun, jika itu agar bisa bertemu dengannya aku akan jabani! Aku tak bisa hidup begini Sara. Aku tak bisa hidup kehilangannya. Tolong beri tahu saja keadaannya jika memang aku tak bisa bertemu dengannya. Tolong…"
__ADS_1
Sara menarik nafasnya yang berat, memunggungi Summer karena tak ingin melihat wajah kacau itu.
"Kau tahu? Aku tidak membencimu. Aku hanya berharap Mara sama sekali tak pergi ke daratan, tak punya alasan dan semangat untuk menginjakkan kaki di sini, itu harapanku. Aku hanya menyesali daratan seburuk ini untuk kakakku yang berhati tulus."
"Ya kau benar. Kau benar." Ujar Summer menyesali hal yang sama.
"Mara dibawa pergi ke Samudra Pasifik untuk mencari bantuan. Belum pernah kaum merepeople terkena luka separah itu. Parunya sebelah terluka parah." Akhirnya Sara menceritakan hal perih itu. Matanya tak dapat menahan tangis, jika mengingat Uma dan Appa langsung bergegas membawa pergi kakaknya setelah Buna sang penyihir tak mampu menangani.
"Maafkan aku. Maafkan aku." Ucap Summer lirih.
"Aku percaya kakakku akan bertahan. Kau! Perbaiki hidupmu! Luka kakakku sia-sia jika kau terus hidup seperti ini. Meskipun dia tak sadarkan diri sekarang, aku yakin si bodoh itu akan sedih melihatmu begini."
Summer menarik dahinya hingga matanya terbuka lebar, bibirnya bergetar menatap lantai.
"… Dan lagi. Bu Rita ingin bertemu kamu besok. Pergilah dengan Tapa, setelah itu Tapa akan aku bawa pulang."
Dibalik bahasa Sara yang pedas, ada perhatian dan kasih. Summer sangat bersyukur. Dia sungguh berhutang banyak pada manusia duyung.
Yang pasti untuk saat ini, Summer tahu mau apa. Dia bisa menunggu selama apa pun itu. Ada harapan yang muncul untuknya melanjutkan hidup.
“Terima kasih, Sara.”
“Entahlah.”
“… Besok aku akan kembali lagi,” Sambung Sara kemudian melangkahkan kaki ke luar. Segera Tapa mengikuti dengan berlari kecil.
“Aku akan mengantarmu.” Ujar Tapa memegang tangan Sara.
Sara diam tak mengelak, tangan Tapa menang yang dia harapkan. Mereka berjalan perlahan menuju pantai tanpa bahasa.
Sesampainya di pantai, debaran ombak menggapai kaki mereka yang kemudian berhadapan. Tapa memeluk Sara dengan erat.
“Maafkan aku. Aku harusnya ada bersamamu.”
“Iya. Karna itu besok kembalilah ke laut.” Sahut Sara membalas pelukan Tapa.
__ADS_1
Bersambung…