Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Kencan Di Bioskop


__ADS_3

“Khhrrrgghh.” Summer terkikik.


Jenni selalu bersikap bodoh dan tak bisa m embaca situasi. Selalu teledor dan sok tau. Padahal sikapnya tak lebih dari serangga.


“Kamu tertawa?” Mara jadi ikut tersenyum.


“Dia selalu merasa dia itu seram dan mengancam. Padahal kemampuannya tak sampai ke situ.” Summer tersenyum.


“Iya. Dan dia gak bisa diam seperti cacing laut.” Ujar Mara. Tawa Summer langsung pecah.


Tangan Mara merasakan otot perut Summer yang mengeras saat dia tertawa.


“Kamu gak selera makan?” Tanya Mara.


“Kamu bikin ikan bakar ya?”


“Iya.”


“Yaudah ayo makan. Aku mau makan ikannya.” Ujar Summer.


“Perutmu masih sakit gak?”


“Udah mendingan. Karna minum obat tadi kayaknya.”


“Oke. Tunggu di sini aku ambilin.” Ujar Mara langsung menarik tangannya dari perut Summer dan berlari ke dapur.


Mara datang dengan ikan besar sepiring, wanginya nikmat sekali.


Summer tersenyum melihat Mara yang memanjakannya. Dari caranya memisahkan semua duri ikan dengan teliti, lalu menyuapi Summer.


“Besok kalau aku sudah enakan, mau pergi nonton ke bioskop?” Ujar Summer sambil mengunyah.


“Bioskop?”


“Belum pernah?”


“Iya belum.”


“Besok malam ya.”


Mara tersenyum riang, ditambah elusan Summer di kepala Mara, lengkap sudah.


Ketika Summer sudah selesai makan, giliran Mara yang mengelus kepala Summer.


“Aku mau gosok gigi terus tidur.” Ujar Summer.


Dengan begitu Mara pergi dan kembali ke kamarnya setelah membereskan dapur.


Di depan kaca wastafel, Summer memandang wajahnya yang memerah. Disentuhnya kepalanya lalu tersenyum.


*****


Besok harinya Mara lebih ceria dari biasanya. Dia terbiasa ceria namun hari ini dia cengengesan terus.


“Aku akan berkencan dengan Summer.” Mara bersenandung terus dengan membuat kata itu menjadi kurang jelas.


“Angu angan bengecan dengan sungeng.” Begitu kedengaran senandungnya.


Semalam sebelum tidur Mara mencari di internet kata menonton di Bioskop. Ada kata-kata yang sering dia temukan yaitu kata “berkencan.”


“Tempat berkencan selain di bioskop.”


“Kencan?” Gumam Mara. Dicari tahunya arti kata itu, dan wajahnya jadi cengengesan sejak itu hingga sepanjang hari.


Saat makan siang Mara terus membisikkan “Kita akan kencan.” Pada Summer.


Begitu pun di mobil ketika akan pulang ke rumah.


“Kita akan berkencan ke bioskop.” Ujarnya bangga tanpa peduli ada Damar yang mendengar.

__ADS_1


Damar mengulum tawa melihat sikap Mara yang baru pertama kali mengerti kata kencan.


Sesampainya di rumah pun Mara tetap berceloteh. “Aku akan mandi lalu kita pergi berkencan.” Sambil senyum sumringah.


Saat Mara sudah siap berpakaian dia mengetuk pintu Summer. “Ayo nanti kita kemalaman kencannya.” Ujar Mara tak sabar.


Summer awalnya tersenyum namun lama-lama bosan juga mendengar kata Kencan itu.


Summer keluar dengan dress putih lengan panjang dengan outer turtleneck berwarna hitam. Rambutnya diikat setengah, riasannya sangat tipis sesuai usianya. Dia memakai boots heels berwarna hitam.


Mara memandangnya seperti dunia ini terhenti karna cantiknya Summer.


“Ayo.” Ujar Summer.


“Apa kau yakin keluar seperti ini?”


“Kenapa?”


“Kau terlalu cantik.” Ujar Mara menutup mata dan berbalik.


Summer langsung keuar rumah tak mempedulikan.


Mereka sampai di Bioskop, Summer memilih film yang akan tayang agar mereka tak menunggu lama.


“Ayo beli popcorn.” Ujar Summer.


“Ah iya! Aku mau popcorn!” Ujar Mara.


“Wah ternyata bodyguardnya juga menemani bosnya menonton.” Ujar oranng yang di sana melihat Summer dan Mara.


Mara langsung kesal, karena dia tak sedang bekerja namun berkencan.


“Tentu saja bodyguard harus ikut kemana pun bosnya pergi.” Sahut yang lainnya.


Melihat Mara jadi murung, akhirnya Summer memegang tangan Mara.


“Setelah di bioskop, kita akan kencan dimana lagi?” Ujar Summer dengan lantang sehingga didengar orang yang membicarakan mereka tadi.


“Ayo masuk.” Ujar Summer menarik tangan Mara.


Itu pengalaman pertama Mara di bioskop, dia sangat fokus menonton dan beberapa kali terpukau. Bagi Summer, dibandingkan film itu, ekspresi Mara lebih seru untuk di tonton. Dia beberapa kali tersenyum melihat ekspresinya yang berganti setiap scene berganti.


Mara juga sepertinya menyukai popcorn.


“Wahhh seru sekali!” Ujar Mara setelah selesai menonton.


“Iya. Dari wajahmu aku tau filmnya seru.” Sahut Summer.


“Hehe.” Mara tertawa malu.


“Jadi kita akan berkencan kemana lagi habis ini?” Ujar Mara masih punya banyak energi.


“Hmmm bagimana kalo makan terus pulang deh istirahat.”


“Makan… mau makan apa?”


“Aku apa saja.”


“Pecel lele?”


“Boleh. Tapi…” Summer melihat penampilan mereka bisa jadi topik pembicaraan semua orang.


“Bagaimana jika kita makan di rumah?” Sambung Summer.


“Baiklah. Tapi memangnya kenapa?”


“Kamu terlalu menonjol.”


“Menonjol?”

__ADS_1


“Wajahmu. Menarik banyak perhatian.”


“Ah…”


“Kamu juga”


Mereka jadi terdengar saling memuji.


Malam yang tenang dan menyenangkan itu diganti dengan pagi yang ramai dan heboh sekali.


Foto Mara dan Summer berpegangan tangan di Bioskop tersebar dalam hitungan jam saja. Semua orang sepertinya jadi wartawan gratis. Foto itu mengundang kontroversi antara hubungan Mara, Jenni dan Summer.


“Apa ini? Bukannya Jenni pacar Bodyguard itu?”


“Mentang-mentang ganteng jangan secepat itu cari pasangan dong.”


“Aku jadi gak respect sama bodyguard itu.”


“Tapi aku lihat ada artikel yang bahas jika Mara mengamuk di sebuah restoran.”


“Enak ya jadi cowo ganteng, milih artis atau bos perusahaan.”


Begitulah isi-isi komentar orang yang menanggapi skandal Mara.


“Kamu bahkan udah punya haters aja padahal bukan artis.” Ujar Summer setelah membaca komen-komen tersebut.


Tak perlu di media online, di kantor pun isi pemikiran karyawan semuanya tentang skandal.


Mara hanya berdiri dan merasa bersalah. Dari awal memang benang kusut berasal darinya. Dan Mara merasa seharusnya dia yang memperbaiki kesalah pahaman publik ini.


Summer yang melihat Mara bingung tak bisa menyalahkannya. Semua ini berawal dari tingkah Jenni. Dan ternyata Summer pun tidak berbeda. Entah apa yang dipikirkannya sehingga melakukan dan mengatakan hal seperti itu di bioskop.


“Sini.” Summer menyuruh Mara menundukkan kepalanya. Summer mengelus kepala itu agar tak panas karna berpikir terus.


“Gak apa-apa.” Ujar Summer menenangkan hati Mara.


Mara langsung tersenyum, “Mau makan siang apa?” Ujarnya.


“Ck… dasar.” Padahal masih pagi sudah memikirkan makan siang saja.


“Ketua, kamu pacaran?” Tanya Pak Bagas yang memasuki ruangan Summer. Sedangkan Mara sudah keluar.


“Tidak.” Sahut Summer.


“Kenapa berpegangan tangan?”


“Itu karna aku kemaren berkencan.”


“Tidak pacaran tapi berkencan?”


“Yah… mungkin begitu.”


“Ketua. Kau harus lebih hati-hati. Semua orang mengenalmu, semua orang juga mengenal Mara. Kalian sudah gak bisa bebas berkeliaran.”


“Ck… padahal cuma menonton.” Summer merasa tak adil karna mereka hanya ingin menonton. Tapi publik tidak memberi ruang untuk mereka bisa bersantai dan berkencan seperti itu.


Pak Bagas menghela nafas. Dia tahu sebenarnya usia ini adalah usia dimana gadis seperti Summer akan tertarik dengan pria. Masalahnya pria yang bersamanya adalah pria yang wajahnya tak bisa disembunyikan.


Terlebih jika ada artikel yang menyebut Summer merebut Mara atau Summer vs Jenni. Rasanya sangat kekanak-kanakan dan tak etis.


“Maaf Pak Bagas.” Ujar Summer.


Mara melihat dari luar ruangan mimik wajah Pak Bagas saat bicara pada Summer. Dia bisa menebak kalau pria paruh baya itu sedang mengomel. Mara akhirnya masuk lagi ke ruangan Summer.


“Pak Bagas, omeli aku saja jangan Ketua.” Ujar Mara tiba-tiba.


“Wah!” Pak Bagas menganga tak habis pikir. Benar-benar seperti pasangan sejoli.


Pak Bagas sudah geli duluan. Dia memilih mundur dari obrolan ini dan keluar ruangan sambil memegang tengkuknya yang kaku.

__ADS_1


Summer hanya bisa terkekeh karna Mara yang berusaha melindunginya.


Bersambung…


__ADS_2