
“Pent…house?” Jerit Jenni dalam hati.
100% dia makin tertarik dengan pria tampan itu.
Jelas dia kaya raya!
Pintu lift tertutup dan membawa Jenni turun.
“Bapak bisa masuk dengan menempelkan kartunya seperti ini.” Jelas pegawai itu.
Dia bisa menebak sekaligus kalau Mara belum pernah bermalam di hotel.
Mara kemudian masuk dan dengan cepat kembali lagi ke luar.
“Ah maaf! Lampunya mati.” Ujar Mara memanggil pegawai yang sudah berbalik badan ingin pergi.
Wanita itu kemudian masuk dan membantu memasukkan kartu ke rak kecil dan menekannya.
Seketika semua lampu menyala.
“Terima kasih.” Ujar Mara tersenyum lebar.
“Selamat istirahat Pak Samara.” Ujar pegawai itu kemudian pergi.
Mara berjalan perlahan lahan, ruangan itu sangat besar, sofanya saja ada 2.
Meja makannya besar, dan ada kolam renangnya.
Yang paling indah dari itu semua adalah, dinding kaca yang membuatnya bisa melihat semua yang ada di bawah dari ketinggiannya.
“Wahhhhhhhhhhh!” Serunya kagum.
Rumah-rumah terlihat kecil, dan lampu-lampu terlihat seperti bintang.
Indah sekali.
Mara kemudian memoto pemandangan itu dan mengirimnya ke Summer.
*****
Melihat kesempatan di depan mata membuat Jenni enggan meninggalkan hotel tersebut.
Dia memutuskan akan mendekati pria tampan itu. Dia percaya diri kecantikannya bisa menaklukkan pria yang membuatnya tertarik itu.
Sepertinya keberuntungan ada pada Jenni keesokan pagi itu.
Mara sangat ingin mencoba membiasakan diri di lift, karna itu dia ingin mencoba naik turunlift sendiri tanpa bantuan pegawai.
Disitulah dia bertemu dengan Jenni yang ingin masuk lift.
“Yes!” Seru Jenni dalam hati.
“Hai. Tinggal di sini?” Tanya Jenni sambil berpose.
Dia adalah aktris terkenal dan tentu semua orang seharusnya mengenalnya.
“Iya.” Sahut Mara singkat sambil melihat angka di atas pintu lift.
“Kau tidak kenal aku?” Tanya Jenni terheran.
“Ah maaf. Apa kita pernah bertemu?” Tanya Mara melihat Jenni dan memastikan.
“Tentu belum!” Jawab Jenni. Dia jengkel pria ini hidup di belahan bumi mana sampai tak kenal dia seorang Jenni aktris yang paling booming tahun ini.
“Bagaimana dengan sarapan bareng?” Goda Jenni.
“Aku akan sarapan di kamarku” Sahut Mara.
Karna Mara sudah memesan banyak makanan untuknya sarapan nanti.
__ADS_1
“Aku boleh sarapan di kamarmu?” Suara Jennie dibuat terdengar manja atau tepatnya lenjeh. Dia tak berhenti mencoba melempar banyak godaan.
“Tidak.” Sahut Mara tegas.
Mara merasa manusia satu ini aneh, adek perempuannya saja tidak pernah masuk ke kamarnya.
Dan lagi sikapnya sedari tadi seperti cacing laut, tak bisa diam.
“Sial pria ini bukan pria biasa.” Jenni berpikir keras sambil menggigit bibirnya.
“Ting” tiba-tiba pintu lift terbuka dan mereka sudah berada di lobi hotel.
Jenni melangkah keluar namun dia heran Mara tidak ikut keluar.
Saat Jenni ingin ikut masuk lagi pintu lift tertutup, dengan cepat dia memencet tombol berkali-kali namun sudah terlambat, Mara sudah naik.
Saat sampai di depan kamarnya, Mara melihat pegawai sudah berada di depan pintu kamar mengantarkan sarapannya.
Mara segera buru-buru membuka pintu kamar mengijinkan pegawai itu masuk.
Mara kini punya kebiasaan memoto semua yang dia lakukan lalu mengirim pada Summer.
Seperti pagi ini dia memoto sarapannya.
Terlihat chat mereka terus berlanjut.
Setiap ada balasan dari Summer, Mara akan tersenyum lebar. Chat dari Summer adalah sumber kebahagiaan bagi Mara.
Namun chat saja tentu tak cukup, keserakahan akan terus ada, Mara berharap bisa berbicara langsung dan makan bersama.
Setelah bisa berbicara langsung, apa lagi ya.
“Kau sudah siap kan. Tidak boleh terlambat. Testnya pukul 11.” Isi chat Summer mengingatkan.
“Apa kau akan hadir nanti?” Balas Mara.
“Tidak. Aku akan hadir di final nanti.” Balasan chat Summer.
Summer yang membaca emoticon itu bisa membayangkan wajah Mara saat ini.
“Hahahahahah.” Summer tertawa dengan handphone di tangannya.
Tidak biasanya Summer bermain handphone saat bekerja, makan saja kadang jarang, kini dia sering memeriksa handphone-nya, mengacuhkan dokumen-dokumen yang ada di meja kerjanya.
“Ayo makan malam bersama setelah kau selesai test nanti.” Balasan chat Summer masuk.
Wajah Mara langsung berubah 180 derajat. Bibirnya langsung menyungging. Senyumnya menunjukkan hampir semua giginya saking lebarnya senyum itu.
*****
Test pun dimulai. Semua pelamar yang berjumlah 100 orang berkumpul di sebuah aula besar milik perusahaan Summer Sea.
Terlihat hampir seluruhnya punya bentuk badan bagus. Mereka besar dan tampak tangguh.
Mungkin jika dimasukkan ke acara TV pasti banyak yang akan menonton.
Karna tanpa TV pun, banyak dukungan orang yang memilih jagoan atau keluarga mereka agar menang. Jadi seperti pertandingan olahraga saja.
Mara yang sudah siap dan berdiri di barisannya terlihat santai dan tak gentir.
Test pertama hari ini adalah pelari paling cepat. 50 peserta dengan urutan paling cepat yang akan menang.
Mereka diajak ke lapangan besar di luar aula itu. Lapangan yang biasanya dipakai para atlet untuk lomba lari jarak pendek.
Ternyata lapangan besar itu juga adalah milik Summer Sea. Para pelamar yang ikut serta pun makin semangat setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, sekaya apa perusahaan Summer Sea. Hidup mereka akan jaya jika berhasil jadi bodyguard Summer.
Mereka dibagi menjadi 10 kelompok yang berisi 10 orang.
Mara ada di kelompok ke dua.
__ADS_1
Kelompok pertama maju dan memulai lomba lari.
Menghasilkan 5 orang pemenang dari kelompok itu. Kemudian dilanjut kelompok lainnya.
Itu hal remeh bagi Mara. Meskipun kakinya tak terbiasa lari seperti kebanyakan manusia yang telah memiliki kaki sejak lahir.
Mara punya kaki yang jenjang dan setiap langkahnya menghasilkan jarak yang panjang. Tentu saja kakinya itu membuat jadi dia pemenang pertama dengan waktu tersingkat dari semua yang ada di sana.
Singkatnya kini mereka tinggal 50 orang. Yang kalah akan langsung meninggalkan pertandingan.
Test selanjutnya adalah menggendok batu seberat 50kg sambil lari.
“Ini sebagai percobaan bagaimana kalian bisa kuat menggendong Ketua saat dalam bahaya.” Ujar pemimpin acara.
Mendengar kata menggendong membuat Mara membelalak.
Membayangkan orang lain yang menggendong Summer membuat mata Mara hampir berubah menjadi kuning.
Rasanya dia ingin menghancurkan batu yang ada di depannya itu.
Test dimulai!
Mereka hanya boleh mengangkat batu berat itu dengan menggendong depan atau belakang seperti menggendong manusia.
Setara dengan gaji yang akan di terima, perjuangan mereka pun terlihat sangat keras. Keringat bercucuran, urat bermunculan, muka memerah dan bergetar hebat.
Kecuali Mara yang mengangkat Batu itu dengan enteng dan berlari cepat bolak balik karna kemarahan dalam dirinya membara.
Ketika orang saja kesulitan berjalan satu putaran, melihat Mara yang seperti monster itu membuat bulu kuduk mereka berdiri.
Mereka lebih takut melawan pria itu dari pada berjuang hidup. Satu persatu mereka menjatuhkan batu dan tereleminasi.
Kini tinggal 25 orang. Mara menatap pembawa acara itu dengan tajam karna kata “menggendong” tadi.
“Hawanya kenapa jadi dingin sekali.” Ujar pembawa acara itu melihat Mara yang tak berhenti menatapnya.
“Apa aku melakukan kesalahan?” Gerutu pembawa acara itu serba salah.
Itu akhir dari acara. Dan mereka akan melanjutkan besok. Mara melihat di luar sudah malam.
Seharian ini dia mengingat punya janji dengan Summer. Segera dia bergegas keluar dan berlari membawa tasnya.
“Aku akan tunggu di restoran di hotel tempat kamu menginap.” Begitu chat Summer.
Mara mempercepat larinya dan melambaikan tangan pada taxi yang lewat.
“Pak tolong cepat ya.” Ujarnya pada supir taxi itu. Mara ingin segera sampai di tempat Summer menunggunya.
“Aku berkeringat banyak sekali.” Ujar Mara mengendus bajunya.
Mara buru-buru mengambil uang berwarna merah dua lembar. Di taruhnya di kursi depan sebelah supir.
Lalu secepat kilat turun dan menutup pintu mobil.
“Pak… ini kebanyakan!” Teriak supir tersebut namun Mara sudah lari cepat sekali.
“Rejeki.” Ujar supir itu tersenyum dan mengantongi uang tersebut.
Ketika masuk ke lobi, segera Mara ke restoran dan celingak-celinguk mencari keberadaan Summer.
Dilihatnya di sudut sana ada Summer duduk cantik.
Seketika Mara terdiam menghela nafasnya pelan-pelan sembari menikmati pandangan dengan setiap gerakan Summer.
Setiap gerakan kecil itu mengguncangkan hati Mara.
Summer yang tak tahu kalau dia diperhatikan karna dia sibuk memainkan handphone-nya agar tak bosan menunggu.
Rambut lurusnya terjatuh saat kepalanya menunduk melihat handphone, jarinya refleks menyangkutkan rambut itu ke belakang telinganya.
__ADS_1
Gerakan Summer itu membuat jantung Mara tiba-tiba berdetak lebih kencang lagi.