
Pagi itu adalah hari dimana Summer akan hadir ke pemilihan dengan dia sebagai kandidat melawan Praman, omnya.
Summer mengenakan blouse pink, celana biru donker, dan Jas menutupi pundaknya. Kakinya yang berukuran 39 untuk ukuran sepatu, dipakaikannya heels berwarna hitam dengan hak runcing setinggi 7 cm.
Rambutnya kini pendek hanya sebahu. Sudah tidak ada waktu untuk mengurus rambut panjangnya, hingga akhirnya dia potong tepat sebelum hari H itu tiba.
Kini rambutnya lurus hitam dan sebahu membuatnya terlihat lebih tangguh. Dengan riasan yang tipis dan rambut hitam pekat, kulitnya jadi terlihat bersinar.
Dia berjalan dengan percaya diri memasuki aula untuk mengikuti acara pemilihan.
Begitu pun Praman tiba juga di aula. Penampilannya sangat kharismatik. Dengan rambut yang sudah terlihat uban, sangat natural di usianya. Dahinya yang mulai ada kerutan, hidung dan rahangnya yang runcing, tentu ditambah pandangannya yang tajam, membuat orang jelas terpikir dia bukan orang biasa.
Pakaiannya lebih glamour dari biasanya. Sepatu pantofelnya yang berwarna coklat jelas di design khusus untuknya. Celana dengan ukuran dan garis yang pas. Kemeja begitupun vest dan jasnya sangat pas dengan ukuran tubuhnya yang atletis.
Dia berjalan dan duduk di kursi yang disiapkan untuknya.
Pemilihan pun dimulai.
*****
Sedang Mara di habitatnya sedang mengadakan upacara pendewasaan.
Para mermaid dan merman di segala usia berkumpul, dan Appa duduk di bangkunya sebagai pemimpin acara sekaligus pemimpin suku Kulum.
Para mermaid dan merman lajang berkumpul, banyak yang sedih tentunya karna mereka akan jarang melihat pria tampan itu.
“Padahal jarang ada pria tampan di kaum kita.” Ujar salah satu mermaid.
Mendengar itu merman menoleh,
“Lalu kami apa??” Ujar para merman merasa jengkel.
Mermaid memutar matanya untuk mengejek para pria itu.
“Ayo kita ke sebelah sana biar bisa lihat Mara lebih jelas.” Ujar para wanita meminggalkan para pria yang tadi di sebelahnya.
“Ada apa dengan kita? Hahaha cara mereka melihat kita seakan akan kita Blobfish.” Ujar salah satu dari para pria itu merasa terluka.
“Terima kasih. Kali ini upacara diadakan karna anakku Mara sudah dewasa. Dia sudah bertekad bulat untuk menjalani hidupnya di daratan. Untuk itu acara kita mulai.” Ujar Appa.
Disebelah Appa ada Uma berdiri menyaksikan anaknya.
Mara berjalan dengan kalung hijau bulat terpakai di lehernya. Dan di pinggangnya sudah dikaitkan anyaman tumbuhan laut sebagai berkat akan memiliki kaki.
Disitu juga ada Buna yang berperan besar mewujudkan keinginan besar Mara. Buna duduk didepan Appa menunggu Mara menghampirinya.
__ADS_1
Mara berenang dengan gagah dan pelan-pelan.
“Wahai anak Appa pemimpin Kulum. Hari ini kau akan berubah menjadi manusia baru.” Ujar Buna memberkati dengan menaruh kedua tangannya di atas kepala Mara.
Kemudian Buna melanjutkan mantra yang cukup panjang. Seketika warna hijau dari kalung yang mara kenakan bersinar terang menutupi semua yang ada di sana. Sinar itu terus ada hingga beberapa menit bersamaan dengan mantra yang di ucapkan Buna.
Lalu sinar itu pun menghilang, mengartikan kalau prosesi sudah selesai.
Mara menegakkan kepalanya dan tersenyum. Uma refleks meneteskan air mata. Sungguh berat baginya menyetujui keputusan anaknya yang ingin pergi ke daratan.
Tapi apa yang dia bisa lakukan selain mendukung anaknya yang sudah dewasa itu. Uma menutup mulutnya sambil menangis. Melihat itu Mara mendekati ibunya dan memeluknya.
“Terima kasih sudah setuju Uma.” Ujar Mara.
Dengan begitu mereka pun melanjutkan pesta.
Para wanita duyung pun mendekati Mara.
“Berhati-hatilah di luar sana. Sering-sering pulang yaaa. Huaaaahhhhh.” Ujar mereka sedih.
“Hahaha kenapa kalian menangis.” Ujar Mara.
Tawa Mara malah membuat mereka semakin menangis.
“Kita tidak akan melihat tawa orang tampan lagi.” Ujar mereka.
“Mereka berlebihan. Tampan apanya.” Gerutu Sara
“Betul. Tampanan aku kan?” Tapa menyelonong bicara. Sara melihat sambil terkikik.
*****
Acara pemilihan berjalan lancar. Kini saatnya membaca perolehan hasil.
Satu persatu kertas dikeluarkan dari box. Lalu dibacakan, sementara seseorang menulis di papan tulis berwarna putih.
Nama Summer dan Praman bergantian disebut. Karna jumlah yang memiliki saham ternyata cukup banyak, bahkan ada yang berhalangan hadir, pembacaan hasil cukup lama dilakukan.
Dari setengah hasil yang sudah dibaca, Praman unggul memimpin.
Bisa ditebak, karna itu sudah taman bermain bagi Praman. Sudah 10 tahun dia menjabat sebagai Direktur. Jelas orang lebih mempercayakannya.
Namun tidak ada yang tidak mungkin, setengah lagi masih ada di dalam kotak. Yang tidak hadir pun sudah menitipkan pilihannya.
90 menit berlalu. Hasilnya berselisih sangat tipis.
__ADS_1
Hingga ketika petugas merogoh box, namun box sudah kosong.
Hasil di papan tulis menunjukkan.
Summer Wicaksono memperoleh 51% suara
Praman Wicaksono memperoleh 49% suara
Hasil yang sangat tak disangka Praman. Dia tak percaya apa yang terjadi. Wajahnya memerah dan langsung pergi meninggalkan Aula.
Sangat memalukan. Bisa-bisanya kalah dari bocah ingusan. Berani-beraninya mereka membuat Praman jadi Ketua sementara. Tepat hanya setahun dia menjabat sebagai CEO.
“Kurang ajar.” Makinya setelah keluar dari aula.
Summer sendiri pun tak percaya, dia sangat berharap namun masih tak percaya dengan hasil ini.
Bertarung dengan omnya sendiri bukanlah hal mudah. Orang kantor pun banyak yang mencibirnya karna dianggap maruk. Hanya tidak ada yang berani langsung berkata itu di depan wajahnya.
Telinga Summer tuli untuk hal-hal yang mengganggu focusnya. Terlebih dia sudah pernah hampir mati, cibiran hanya hal remeh baginya.
Hal yang bisa membuat Summer menang ternyata headline di banyak media. Citra Summer sudah meledak dan membuat sahamnya langsung naik karna usahanya. Dia juga bersyukur Papanya orang baik, sehingga banyak orang yang dulu setia pada Rudi kini mendukungnya melangkah.
“Terima kasih Pak Bagas.” Ujar Summer.
“Tidak, kamu yang hebat bisa meraihnya.” Sahut Pak Bagas.
Kini berita tentang kemenangan Summer bertebaran dimana-mana. Banyak anak muda juga yang tertarik ikut membeli saham Summer Sea.
Sehingga membuat brand Summer Sea makin menarik perhatian anak muda. Melihat itu hal pertama yang akan dilakukan Summer adalah memperbesar produksi pakaian untuk usia 15-30an.
Tadinya Summer Sea berpatok ke pakaian anak dan balita. Namun kini Summer berencana akan memperluasnya. Tentu itu hal yang baik untuk perusahaannya.
Bahkan video Summer sudah populer dimana-mana.
“APA ADIL UNTUK SEORANG CEO MUDA SECANTIK INI?” Begitulah headlinenya.
Kepopulerannya sangat menguntungkannya.
Praman memasuki ruangan kerjanya dengan wajah geram merasa telah dipermalukan. Melihat namanya di meja membuatnya semakin geram dan melempar tag name yang bertuliskan Direktur itu.
“Sial aku kembali lagi ke tempat ini.” Teriaknya.
Harit yang sedang bersamanya mulai takut. “Kita harus sabar dulu. Kita tak menyangka dampak Summer sebesar itu. Baiknya sekarang kita biarkan dulu. Dia akan tau beratnya posisi itu nanti.” Ujar Harit menenangkan.
“Ya. Sebesar nyawanya.” Ujar Praman dengan nafas berat akibat emosinya.
__ADS_1
Bersambung…