Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Hari Pertama Bekerja


__ADS_3

Rio mengkerutkan kening mencerna.


“Are you crazy?!” Teriaknya pada Summer.


“Maaf Non maaf.” Ujar pria itu tiba-tiba berlutut menatap tanah.


“Maaf Non maaf. Saya sungguh minta maaf. Itu kekhilafan saya karna sudah tidak makan 3 hari.” Pria itu memohon sampai menggesekken kedua telapak tangannya sambil menangis.


Rio kehilangan kata-kata. Dia hanya bisa terpaku heran dengan keputusan Summer.


“Tolong jangan bawa saya ke kantor polisi tuan. Tolong. Saya hanya butuh makan dan tempat tinggal. Saya akan lakukan apapun.”


“Penjara tempat yang tepat. Kau bisa makan dan tinggal di situ.” Sahut Rio menohok.


“Jika mertua dan istri saya tahu, mereka akan sangat sedih. Saya bahkan sudah tidak mengabari mereka 3 bulan ini.” Sahut pria itu.


“Aku ingin pulang.” Ujar Summer langsung masuk mobil karna merasa sudah lelah.


“Gue yang nyetir sini.” Rio sembari masuk ke dalam mobil.


“Masuk.” Ujar Summer pada pria lusuh yang terpaku berdiri di luar mobil.


“Iya Non.” Sahutnya buru-buru masuk di kursi depan. Rio masih tidak bisa terima dengan keputusan Summer. Tapi yang terpenting sekarang adalah mengantarkan Summer pulang.


“Lu nginep?” Tanya Summer pada Rio.


“Ya iyalah. Malem gini lu suruh gue balik?” Sahutnya melemparkan diri ke sofa dan duduk semena-mena.


“Bapak bisa tinggal di rumah belakang. Dulu itu adalah tempat supir Papa saya.” Ujar Summer akhirnya dengan bahasa sopan.


“Baik Non.” Sahutnya.


“Rio anterin dong.” Ujar Summer yang kelelahan dan merasa perlu berganti baju.


“Ya ya.”


Rio kemudian berdiri dan mengambil kunci yang tergantung di tembok. Kemudian mereka ke belakang rumah, terlihat sebuah rumah sederhana dimana rumah itu pisah tembok dengan rumah Summer.


“Baiknya kamu bersikap baik, atau aku akan menghabisimu!” Ancam Rio sambil membuka pintu rumah mungil itu.


Pria itu menyahut dengan mengangguk dan membungkuk.


Rio memutuskan tidur di rumah itu karna dia perlu memeriksa sikap Supir baru tersebut. Bisa-bisanya Summer membawa sembarang orang masuk ke rumahnya. Begitu lah Rio berjaga semalaman dan tidak ada yang terjadi.


Summer sudah terbangun dan Rio baru mau tidur.


Pagi-pagi buta Mara sudah diperjalanan menuju rumah Summer. Hari pertama bekerja dengan pujaan hatinya. Seberapa sering pun mereka bertemu tetap saja rasa deg-degan itu tak juga hilang.


Saat dia sampai di rumah itu, terlihat rumah Summer masih tertutup. Akhirnya Mara memutuskan menunggu di pekarangan depan rumah.


Dia tiba di sana pukul 5 pagi, dini sekali.


Summer saja baru terbangun jam segitu. Dia akan menghabiskan 1 jam waktu bersiap dan sarapan lalu berangkat jam 6 setiap paginya.

__ADS_1


Mara merasa bosan, dia akhirnya iseng mengelilingi rumah untuk berjaga-jaga. Namun dia malah terlalu fokus dengan taman yang bagus dan luas. Tumbuhannya terlihat sangat rapi dan sehat. Mara mengikuti jalan setapak di antara kebun itu, sehingga dia tak sadar sudah berjalan cukup jauh karna rasa penasarannya dengan setiap tumbuhan dari depan sana sampai dia berada di samping rumah kini.



Saat akan melanjutkan langkahnya tiba-tiba terdengar suara teriakan.


“Aaaaarrrggggghhh!” Suara Summer melengking tinggi.


Mara mencari arah suara yang ternyata tepat di sebelahnya. Ada sebuah jendela yang terbuka dan Summer dengan hanya mengenakan handuk.


Rio yang mendengar teriakan itu langsung loncat dari kasurnya di kamar tamu.


“Summer kenapa?” Ujarnya menggerak-gerakkan gagang pintu khawatir.


“Woi jangan masuk!” Teriak Summer memarahi Rio.


Mara yang masih berada di depan jendela langsung menutup matanya.


“Ini aku Mara.” Ujarnya dengan mengalihkan pandangan berbalik badan.


Summer rasanya ingin marah karna sudah dibuat kaget tadi. Lebih seram rasanya jika orang melihatnya pake handuk dari pada ditusuk atau hampir mati.


“Kamu!” Bentak Summer lalu menutup jendela dengan kencang.


“Aku melakukan kesalahan lagi. Tapi, kenapa tangannya diperban?” Gumam Mara kemudian kembali ke depan rumah.


Rio yang masih khawatir menunggu Summer di depan kamarnya.


“Lo kenapa?” Tanyanya langsung sesaat Summer membuka pintu kamar.


“Gue kira lo jatoh atau kenapa. Tapi ngobrol sama siapa tadi?”


“Bodyguard gue.” Sahut Summer kemudian berjalan untuk membuka pintu depan rumah.


“Datangnya pagi sekali.” Sapa Summer pada Mara yang sedang duduk di kursi. Mara menunduk muram.


“Maaf Summer. Aku bikin kesalahan terus.” Ujarnya dengan mata memohon seperti anak anjing.


“Ah bodyguard baru ya?” Tiba-tiba Rio nyelonong ke luar.


Dipandanginya dari atas sampai bawah, apa ini? Ganteng banget!


Mara yang melihat ada seorang pria yang keluar dari rumah Summer tentu langsung bermuka masam. Di otaknya sudah penuh pertanyaan siapa manusia ini. Belum dia selesai berpikir sudah muncul satu pria lagi entah dari mana.


“Bodyguard lo dua?” Tanya Rio.


“Satu.” Sahut Summer kemudian memperhatikan pria yang baru datang itu. Summer juga tak yakin siapa pria tersebut.


“Nama saya Damar Non.” Ujar pria itu memperkenalkan diri.


Summer langsung mengenali pria itu setelah dipanggil Non.


Tentu saja mereka sempat tak mengenali, pria yang semalam lusuh itu kini berubah jadi pria tampan. Rambutnya yang tadinya lusuh dan berantakan kini jadi pendek dan rapi. Damar juga mencukur kumisnya. Wajahnya jadi bersih begitu pun pakaiannya.

__ADS_1


“Wah gila! Beda banget!” Rio sampai menutup mulut.


“Sebentar lagi Pak Bagas tiba, kalian tunggu di dalam saja. Saya ingin sarapan dulu.” Ujar Summer sambil masuk ke dalam rumah.


“Ah iya. Aku gak tau mau sarapan apa.” Summer baru ingat rotinya sudah habis.


“Sini saya belikan Non.” Damar langsung mengajukan diri.


“Boleh. Beli sarapan untuk kita berempat ya.” Ujar Summer.


Mara tak bisa menutupi ekspresinya yang terbiasa jujur. Summer bisa menebak anak itu sedang mengambek sekarang. Mulutnya sedari tadi manyun terus. Wajah maskulin tapi ekspresif itu rasanya lucu sekali.


“Mood bodyguard lu kayaknya lagi jelek nih. Atau emang mukanya begini terus.” Sindir Rio.


Summer hanya menjawab dengan mengulum tawa.


Rio ini adalah hal yang paling buat Mara terganggu karna dia terlihat sangat akrab dengan Summer. Mata Mara sangat menunjukkan dia tak menyukai Rio.


Rio mengkerutkan dahi memikirkan masalah orang ini apa padanya. Matanya seperti ngajak perang dari tadi.


Tak lama Pak Bagas sampai dan mereka belum selesai sarapan.


“Yah saya cuma beli 4.” Ujar Damar.


“Tak apa. Pak Bagas pasti sudah sarapan.” Sahut Summer.


Pak Bagas mendekat ke meja makan dan membelai kepala anaknya yang sedang makan lalu berjalan melihat keadaan Summer.


“Bagaimana lukamu?”


“Cuma goresan kecil.” Sahut Summer tetap makan.


“Siapa?” Tanya Pak Bagas melihat ada wajah baru.


“Dia akan jadi supirku mulai hari ini.” Sahut Summer.


“Maaf aku belum sempat cerita.” Sambung Summer lagi.


Pak Bagas menatap pria itu untuk mendeteksinya.


“Dia aman.” Sahut Summer.


“Aman apaan.” Celetuk Rio. Namun langsung ditimpa omongan Summer,


“Pak Bagas pasti capek bolak-balik nganterin aku. Jadi supaya efisien, aku seharusnya punya supir.”


“Baiklah.” Sahut Pak Bagas setuju. Karna menyupiri merangkap sekretaris memang sangat melelahkan bagi Pak Bagas.


“Kalo Papa tau aslinya, lu pasti dimarahi.” Bisik Rio.


Summer cuma menjawab dengan mengangkat bahu.


Mara yang dari tadi merasa dicuekin akhirnya makan dengan senyap. Begitu pun Damar setiap ditanya luka Summer dan siapa dia, rasa bersalahnya semakin bertambah saja. Dia juga tahu dia tentu tak pantas. Tapi sebagai pembalasan budi, dia ingin menjadi orang yang bisa membantu Summer dengan apa pun yang dia bisa.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2