Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Berpura-pura Tak Tahu


__ADS_3

Sudah 2 jam Mara tertidur, sudah waktunya jam makan siang. Summer tak terlalu lapar namun Mara pasti lapar. Karena itu dia harus dibangunkan.


Summer mendekati Mara yang tertidur pulas. Dia tersenyum pria itu tidur seperti bayi, nyenyak sekali.


“Mara… ayo makan siang.” Panggil Summer.


Namun Mara tak bergerak sedikit pun.


Akhirnya Summer memanggil sambil mengoyangkan bahunya sedikit.


“Hei. Kamu gak makan siang?” Tanya Summer.


“Hmm?” Mara perlahan membuka matanya yang terasa perih karena kurang tidur. Matanya tampak merah mungkin lagi dalam-dalamnya tertidur.


Jika dari pandangan Mara saat dia membuka matanya ada Summer tepat di depan wajahnya. Posisinya jongkok di lantai sehingga wajah mereka sejajar. Mara melihat penampilan baru, rambut Summer diikat. Ada sisa rambut yang tak terikat karena masih terlalu pendek di tengkuknya. Mara menyentuh rambut yang tak terikat itu lalu tersenyum.


“Ah rambutku masih terlalu pendek.” Ujar Summer ikut menyentuh rambutnya.


“Kenapa kamu selalu cantik?” Ujar Mara dengan posisi masih tiduran.


Summer menyahut dengan tersenyum.


“Ayo makan siang.” Ujar Summer.


“Iya. Terima kasih sudah bolehin aku tidur. Aku mau cuci muka dulu.” Ujarnya bangkit.


Summer masih tetap di posisi yang sama meskipun Mara sudah keluar dari ruangan itu. Sentuhan Mara membuat pipinya tiba-tiba memerah, disentuhnya lehernya.


“Sushi lagi?” Ujar Pak Bagas komplain.


“Aku suka kok.” Celetuk Mara.


Pak Bagas jelas tau Summer mengajak makan sushi karna Mara sangat suka.


“Aku akan minta istriku bikin bekal mulai besok.” Ujar Pak Bagas bosan meihat sushi.


“Boleh. Aku kangen makan masakan Tante Ayu.” Ujar Summer.


“Ikan bakar?” Karna itu yang biasa diminta Summer.


“Aku sudah tak perlu makan ikan bakar Pak Bagas.” Sahut Summer tersenyum.


Senyum itu menyiratkan bahwa dia sudah bebas dari rasa pahit dan menyiksa diri. Summer perlahan-lahan berubah menjadi lebih ekspresif dan banyak tersenyum. Mungkin sejak ada Mara dia jadi berbeda.


Lega sekali rasanya melihat Summer jadi lebih santai dan tenang. Pak Bagas masih ingat wajah saat pertama kalinya dia temukan Summer di lautan. Wajah itu sangat dingin, dan tidak punya ekspresi. Sulit makan dan selalu menangis. Menyiksa diri dengan makan ikan bakar tanpa garam atau bumbu apa pun. Setiap hari hanya belajar, bekerja, belajar dan bekerja.


“Syukurlah.” Gumam Pak Bagas dalam hati.


“‘Mara belum pernah makan masakan Tante Ayu.” Ujar Summer.


“Istriku tak akan bikin makanan untuk orang lain. Cuma buat Ketua aja.” Dumel Pak Bagas.


Mara menatap seperti anjing meminta makan. Summer tertawa.


“Apa aku orang asing Pak Bagas? Bukannya kita sudah akrab?” Goda Mara.


“Kapan? Aku gak ingat kita pernah akrab.” Sahut Pak Bagas.

__ADS_1


“Pak Bagass!” Goda Mara sambil mendempetkan dirinya pada Pak Bagas.


“Jangan dekat-dekat!” Ujar Pak Bagas.


Mereka tertawa bersama, itu sudah jadi kebiasaan mereka, makan bersama tertawa bersama.


Meskipun Pak Bagas bawel terhadap Mara, rasa syukurnya banyak datang dari Mara, hanya saja sikap Mara yang seperti ingin mendekati Summer membuatnya terganggu. Sebagaimana Ayah melindungi saat peia mendekati putrinya. Harus penuh dengan seleksi ketat baru tenang.


*****


“Bersikaplah yang baik, jangan bikin masalah.” Ujar Praman pada Richard di ruang kerja di rumahnya. Praman akhirnya telah memasukkan anaknya bekerja di Summer Sea.


Saat itu Nindi ingin memanggil ayah dan kakaknya untuk makan malam.


“Baik Pa. Percaya padaku.” Ujar Richard meyakinkan.


“Hah entahlah. Cari cara agar kita bisa menyingkirkan Summer.” Ujar Praman masih tak yakin dengan kemampuan putranya.


Nindi yang saat itu sudah berdiri di depan ruangan ayahnya, menghentikan langkahnya karena mendengar mereka membahas Summer.


“Aku pernah mencobanya.” Sahut Richard.


Kuping Nindi langsung lebih fokus, apa maksud dari perkataan itu.


“Mencoba?” Tanya Praman.


“Kecelakaan Summer setahun lalu, itu ulahku.” Sahut Richard.


Sontak Nindi yang menguping kaget sampai menutup mulutnya menghindari suara.


“Yang seperti itu maksudku. Kau tak bisa becus dalam melakukan satu hal. Summer saja masih hidup.” Ujar Praman.


“Apa kau yang menabrak sendiri?” Tanya Praman kemudian.


“B…bukan. Aku menyuruh orang.” Sahut Richard berbohong.


Padahal saat itu dia langsung membawa pergi sebuah truk setelah memdengar telpon Pak Bagas dengan Summer di hari kecelakaan Rudi dan Rita


.


Richard tak sempat mencari orang untuk mencelakai Summer, waktunya sangat mepet. karna itu dia yang turun tangan sendiri, setelah memperhitungkan Summer pasti mengemudi sendirian di jalan di waktu itu.


“Bagaimana dengan bukti?” Tanya Praman.


“Truk itu sudah dihancurkan.” Sahut Richard.


Nindi seperti dipukul oleh palu besar, kepalanya berdenging mengetahui bahwa ternyata keluarganya sendiri yang mencelakai Summer teman dekatnya. Disaat semua keluarganya ingin menyingkirkan Summer tanpa sepengetahuan Nindi. Dia datang menghibur, menenangkan Summer. Pasti terlihat munafik bagi Summer jika dia tahu.


Nindi melangkah menjauh dari ruangan ayahnya. Dia sudah tak memikirkan makan malam, dia langsung masuk ke kamarnya. Memikirkan perlakuan keluarganya terhadap Summer dan perkataan ayahnya yang menganggap Richard gagal membunuh Summer.


Nindi merasa mual dan jijik. Dia sering lihat kakaknya dipukuli namun tak pernah terpikir Papanya akan mencelakai orang. Saat itu Nindi disadarkan jika keluarganya adalah manusia kejam sejak dulu.


Setiap Nindi merasa ada yang aneh, dia selalu mengesampingkan kenyataan bahwa ada hal janggal. Nindi tetap hidup haha hehe tanpa khawatir keluarganya ternyata seperti itu isinya.


Nindi sudah tak akan bisa lagi menunjukkan wajahnya pada Summer.


Terdengar suara ketukan di pintu kamar Nindi. Segera dia lap air matanya dan mengubah ekspresinya. Nindi kembali lagi seperti itu, bersikap tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


Dibukanya pintu kamarnya, Richard yang berdiri di situ.


“Makan malam.” Ujar Richard.


“Aku tak selera makan.” Sahut Nindi.


Richard menatap adiknya yang terlihat bermata sembab itu.


“Aku tau kamu dengar obrolanku dan Papa.” Ujar Richard.


Nindi menelan liurnya gemetar.


“Kau cukup seperti biasa saja. Pura. Pura. Tidak. Tahu. Apa. Apa.” Ujar Richard tersenyum.


Nindi mengepal kuat tangannya hingga pakaiannya teremas.


“Itu kelebihanmu. Begitu saja.” Ujar Richard.


Ternyata tak cuma Nindi yang menyadari sikapnya itu selama ini, Richard pun menilainya begitu.


“Ya sudah kalo tak mau makan.” Ujar Richard lalu meninggalkan Nindi di kamarnya.


Nindi menangis kembali, dia merasa dirinya tak ada bedanya dengan keluarganya. Namun jika memang Nindi ingin berbeda, memang apa yang bisa dia lakukan? Bagaimana pun mereka adalah keluarganya. Mama, Papa, dan Kakaknya.


*****


“Tentu saja dia harus profesional. Dia harus lebih memilih bosnya dari pada aku jika itu di jam kerja.” Ujar Jenni di sebuah artikel.


Banyak dukungan datang dari para fans Jenni.


“Bu Summer tolong beri bodyguardmu libur agar mereka bisa berkencan.”


“Pacarnya memang profesional.”


“Jenni tidak memandang profesi ya.”


“Tapi pacarnya memang luar biasa tampan.”


Jenni membaca satu persatu komenan di instogrannya sambil bersantai di sofa. Berwajah dua memang ahlinya Jenni. Semua orang mengira dia adalah wanita polos dan rendah hati. Padahal penuh akal busuk.


Jenni punya ide agar dia bisa berbicara dengan Mara. Dia melenggak lenggok mendatangi gedung Summer Sea dan menunggu di parkiran sekitar jam pulang kerja.


Saat dia lihat Mara dan Summer turun ke Basement dia langsung menghampiri.


“Mara. Aku perlu berbicara denganmu.” Ujarnya langsung ke wajah Mara.


Mara yang bingung lalu menatap Summer, namun dapat anggukan dari Summer tanda dia mengijinkannya.


Mereka berjalan menepi menjauhi Summer. Tak lama setelah itu Mara langsung kembali.


“Dia bilang apa?”


“Dia meminta nomorku.” Sahut Mara.


Wajah Summer langsung berubah menjadi dingin.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2