
"Tahanan 1304. Ada pegunjung." Panggil seorang petugas dari balik jeruji besi.
Pria yang menyandang nomor itu bangkit, dia tak berharap bertemu siapa pun saat ini.
"Adikku datang?"
"Bukan adikmu. Wanita muda lain." Sahut petugas. Semua petugas sudah mengenal Nindi saking seringnya datang.
"Ck. Kenapa wajahmu terus babak belur begitu sih?"
Richard menerka-nerka siapa itu. Tidak mungkin Clara. Ibunya itu sudah dikurung di penjara seperti dirinya.
Untuk memastikan, dia mengikuti petugas yang membawanya ke ruang jenguk.
Summer duduk bersilang kaki menatap Richard yang muncul hingga duduk di meja yang sama dengannya.
"Aku tak mengira kau yang datang." Ujar Richard menggaruk canggung kepalanya yang botak.
"Kau terlihat tidak baik.”
Sebelah manatanya lebam, pipinya lebam hijau dan bibirnya terluka. Belum tangannya yang juga biru-biru.
"Yah… begitulah yang terjadi pada orang sepertiku." Richard kembali menggaruk kepalanya sambil tersenyum kaku.
__ADS_1
Summer dapat menilai, pria ini telah banyak berubah. Nada bicara yang sopan salah satunya.
"Apa kau masih berteman dengan adikku?"
Sekali lagi Summer menaikkan nilai Richard, karena memanggil Nindi dengan 'adikku'.
"Ya."
"Bagaimana kabarnya?"
"Dia masih sama bekerja keras dari sore sampe malam. Dan kuliah dari pagi sampai siang."
"Ckk. Sudah dibilangin jangan bekerja terlalu keras." Richard mengalihkan pandangannya agar ekspresinya khawatirnya tak terlihat.
"… Summer. Aku tau aku tidak pantas mengatakan ini. Aku minta maaf. Aku sungguh meminta maaf padamu…"
"Tak hanya padaku, tapi pada wanita yang kau pukuli juga."
"Ya. Aku ingin punya kesempatan untuk meminta maaf pada mereka."
Dia menunduk, air matanya jatuh, namun yang terlihat hanya kulit kepala yang diramunk rambut baru tumbuh.
"… Aku hidup dengan bayangan dimana kau adalah sumber masalah. Penyebab dari ayahku yag terus memukuliku sejak kecil. Aku benci dengan dirimu yang kompeten, berhasil dengan apapun yang kau kerjakan. Aku minta maaf. Kepribadianku sama seperti ayahku. Kau benar. Kami hidup dengan inferiority complex. Kami takut disingkirkan karena tak sehebat dirimu. Perkataanmu semua benar. Lihat. Aku akan menjalani semua hukuman yang seharusnya, bahkan jika kau ingin menambahi aku akan menanggungnya. Hanya saja Summer, kumohon. Maafkan aku telah memohon, tapi ini satu-satunya yang berharga dalam hidupku. Kumohon tetaplah berteman dengan adikku. Dia anak yang baik. Dia bukan orang brengsek seperti kami. Dia seperti lahir dari dunia lain. Dia tak bersalah sama sekali. Tolong lindungi adikku. Aku tau aku tak pantas meminta ini, karena aku salah satu orang yang paling menyakitimu. Tapi Summer, untuk ini aku tidak akan tahu malu. Tolong jaga adikku."
__ADS_1
"Ya. Aku tahu dia tak bersalah. Dan lagi tanpa kau minta aku memang tetap akan berteman baik dengannya."
Summer berdiri, baginya pembicaraan ini sudah selesai.
"Tolong jangan beritahu adikku keadaanku begini."
Summer membalikkan badan, bersamaan dengan itu petugas menarik Richard agar kembali ke selnya.
"Terima kasih, Summer. Terima kasih!" Ujarnya bersyukur sambil membungkukkan badan berkali-kali.
Summer keluar dan berdiri sebentar di luar gerbang, menatap pohon dengan celah yang ditembus sinar matahari.
"Pak Bagas. Tolong cari cara agar Richard bisa pindah Rutan." Ujar Summer di telpon.
"Kenapa pengen dipindahin, Ketua?"
"Aku jengkel aja, Nindi jauh kalau mau jenguk."
"Ahh baik."
Summer menutup telponnya.
"Hahhh. Kenapa sampai disini pun dia masih babak belur." Gumam Summer.
__ADS_1
Bersambung…