
Dua kaki melangkah menaiki sebuah batu di dekat pantai. Kaki jenjang, tubuh ramping dan rambut panjang hitam. Kulit putih wajah bak dewi. Perlahan melangkah menyesuaikan tubuh.
“Begini rasanya punya kaki.” Ujarnya tersenyum.
Pakaian yang sudah dia bawa di kantung plastik, kini dapat dia kenakan. Seragam sekolah warna putih biru, hadiah dari Mara.
Pakaian itu sangat pas dikenakannya, rok pendek di atas lutut, kemeja putih dengan dasi biru polkadot.
Mermaid bernama Sara, kini telah menjadi manusia.
Di ujung sana Mara dan Tapa menanti untuk menjemput putri Appa. Namun setiap langkah, Sara ingin dalami dan rasakan. Lenggak lenggok tubuhnya yang mulai muncul diantara para manusia, membutakan mata.
Tiada mata yang tak lekat dari wanita tinggi dan berwajah indah itu.
Tapa segera menghampiri, tak terima gadis pujaan hatinya jadi bahan tontonan.
“Kenapa pakaianmu minim sekali?” Ujarnya mengikatkan jaket ke pinggangnya.
Sedang Mara mendekat memberi sepatu kets dan kaus kaki untuk dikenakan adiknya.
“Pakailah. Ini sepatu yang biasa dipakai pelajar di sini.” Ujarnya.
Sara tersenyum ceria, segera dia kenakan sepatu itu tanpa bantuan.
“Aku bisa sendiri.” Ujarnya lalu duduk di sebuah batu di pantai itu. Itu kata pertama yang dikatakan Sara.
Tapa lantas menutupi Sara dengan tubuhnya, saat ia mengenakan sepatu.
Dikenakan sudah, namun mengikat talinya Sara bingung harus bagaimana. Tapa menjongkok, dan mengikatkan tali sepatunya seraya menunduk sopan.
“Sudah.” Ujarnya kemudian berdiri.
Sara tersenyum memperhatikan setiap sisi kakinya yang mengenakan sepatu. Sudah sangat lama dia ingin merasakan rasanya pakai sepatu.
“Aku sekarang terlihat seperti pelajar. Ayo.” Ajak Sara.
Mereka pun berjalan menuju Restoran seafood Wawan. Restoran itu berjarak hanya 800m dari pantai.
Di situ Wawan dan istrinya menyambut Sara dengan sopan, ramah dan lembut.
“Giliran aku kemaren gak begitu.” Sindir Mara pada Wawan.
Mara akhirnya memutuskan akan menemani hari pertama adiknya di daratan. Dia meminta Tapa untuk menggantikannya menjaga Summer.
Tentu saja Tapa sewot, dia ingin dia yang bersama Sara. Tapi jika harus ditantang, kekuatan Tapa tidak akan bisa mengalahkan Mara.
Mau tidak mau dia menurut dan segera pergi naik taxi untuk menyusul Summer ke kantor.
*****
Di ruangan kanto Summer.
“Mara memang kemana?” Tanya Summer pada Tapa.
“Bersama Sara.”
“Hah? Sara?” Nama itu belum pernah Summer dengar.
“Iya. Mara akan temani Sara di hari pertamanya di daratan.”
“Sara mermaid?” Kesimpulan, Sara adalah wanita.
“Iya.”
“Kenapa harus Mara yang temani?”
“Aku juga kesal. Kenapa bukan aku.”
“Lah. Jadi itu maunya Mara?”
“Iya.”
“Begitu ya. Aku gak tau Mara bisa senang hati membantu wanita lain. Hah!”
“Cantik gak?”
“Siapa?”
“Sara.”
“Ya iyalah.“
“Ya iyalah???”
“Ya iya!”
__ADS_1
“Dari pada aku?”
“Ya Sara lah.”
“Secantik apa sih?”
“Dia mermaid tercantik dari semua bangsa Kulum.”
“Hah! Kamu punya fotonya?”
“Foto?”
“Ah udah lupain! Bodo amat dia secantik apa.”
Tapa bingung mau jawab apa, dia kembali ke luar ruangan menjaga di depan pintu.
“Hah! Gayanya kayak aku cewe satu-satunya yang dia sukai. Apa nya! Segala nganalin aku sama Uma Appa. Aku gak tau kalau dia playboy.” Summer menyeringai sinis, rasanya dia ingin mencincang Mara saat ini juga.
Summer berusaha bekerja, namun tidak bisa fokus karna penasaran secantik apa wanita itu. Berkali-kali dia banting pulpennya ke meja.
Dia berdiri dengan menghentakkan kaki, tangan dipinggang dan bibir digigit. Wajah kesal dan ingin menghancurkan dunia rasanya.
Tak tahan dengan pikirannya, Summer langsung mengambil tasnya dan keluar dari ruangannya. “Aku akan pulang lebih awal.” Katanya sambil berjalan seperti orang marah. Tapa berlari kecil mengikuti langkah Summer.
“Mau kemana?” Tanya Tapa.
“Menemui wanita cantik.”
Tapa tersenyum akhirnya dia bisa bersama Sara di hari pertamanya di daratan.
Tapi dia masih ingin sampai dengan selamat dan utuh, bukan ketakutan selama di perjalanan.
Summer dengan matanya yang menyala-nyala, membawa ngebut mobil seperti orang kesurupan. “Apa manusia memang bawa mobil secepat ini? Pak Damar tak pernah seperti ini.” Ujarnya memegang pegangan di dekat kepalanya.
Summer memencet klakson dengan agresif agar para mobil lain memberinya jalan.
Jantung Tapa serasa copot setiap kali Summer membelok.
Summer membalap sampai depan restoran lalu langsng mengerem hingga mereka hampir terlempar ke depan.
Tapa mengelus dadanya yang sedari tadi mengalami banyak cobaan. Summer mengambil kaca kecil dari laci dashboard. Di perbaikinya riasan dan rambutnya, setelah merasa rapi dia membuka pintu mobil lalu berjalan dengan aura mengintimidasi.
Dibukanya pintu restoran dan berjalan dengan percaya diri bisa menghancurkan wanita mana saja. Terlihat Mara duduk bersama dengan seorang wanita berambut panjang, dilayani oleh Wawan seperti tamu kehormatan.
Dari belakang terlihat wanita itu seperti pelajar. Duduk bersampingan dekat dengan Mara. Untuk saat ini Summer ingin memperhatikan dulu tanpa menyapa.
Bu Rani mendekat memberikan menu.
“Datangnya tiba-tiba sekali.” Ujarnya.
Karena sebelum-sebelumnya Summer akan mengabari dan booking restoran untuk beberapa jam. Namun kini Summer terlihat main nyelonong masuk tanpa peduli wajahnya dilihat orang.
Mara yang fokus dengan adiknya sampai tak sadar ada Summer di belakangnya.
“Kak. Aku lebih suka makan ikan mentah.” Ujar Sara merengek.
“Kaaak?!!” Summer semakin jengkel sambil menirukan rengekan Sara dengan wajah mengejek.
“Katanya kau ingin terbiasa. Sini aku suapin saja.” Ujar Mara mengangkat sendok menyuapi Sara.
Summer langsung bangkit dari duduknya dengan menepuk kencang meja. Mengejutkan mereka dan reflek melihat ke belakang.
Summer berjalan seperti orang yang akan memakan manusia. Dia berjalan perlahan namun tatapannya seperti akan mencingcang tangan Mara dan sendok yang ditangannya.
“Summer!” Teriak Mara ceria.
Wajah ceria itu sudah tidak menarik perhatian Summer lagi, omong kosong.
Setelah berada di hadapan Sara, Summer langsung membelalak karena wanita itu sangat sangatlah cantik. Dia bahkan lebih tinggi dari Summer. Tubuhnya sangat indah dan rambutnya pun begitu. Kulitnya bening dan terlihat bercahaya. Summer berusaha mencari setidaknya satu kekurangan dari Sara dengan menelisik setiap inci tubuhnya.
“Kenapa kau di sini?” Ujar Mara.
“Kenapa? Kau berharap aku tak di sini?” Jawab Summer dingin. Menatap Mara buru-buru setelah kaget dengan kecantikan Sara.
Sara kemudian mendengar is pikiran Tapa yang mengatakan bahwa Summer adalah wanita yang dikenalkan ke Uma dan Appa.
“Kak… ayo makan lagi!” Ujar Sara menarik dan memeluk tangan Mara. Dia merasa ingin mengerjai Mara dan Summer.
Melihat tangan Mara yang di rangkul oleh Sara, darah Summer rasanya mendidih.
Mara bahkan terlihat santai dan tak berniat melepas rangkulan tangan itu. Apa karna wanita itu cantik?
Sara cemberut, dia menatap sedih wajah kakaknya.
“Oh **** cantik banget.” Pikir Summer melihat ekspresi cemberut Sara.
__ADS_1
Pikiran itu tentu terdengar oleh Sara, dia hampir tertawa namun segera menundukkan kepala agar tak disadari.
Mara bingung kenapa Summer terlihat sangat kesal, dia bahkan mengomeli Sara yang baru dia lihat.
Tunggu…
“Summer dia ini ad…”
“Kakak. Ayo suapin aku.” Ujar Sara memotong omongan Mara. Kali ini dia memeluk Mara dari samping dengan sikap manja.
Mata Summer seperti akan membakar mereka hidup-hidup. Tanpa basa-basi dia langsung pergi ke luar restoran dan masuk ke mobilnya. Dia takut akan memporak-porandakan restoran beserta orang-prang di dalamnya.
Mara langsung kalang kabut berlari mengejar Summer.
“Tapa tolong jaga Sara.” Ujar Mara buru-buru keluar.
“Yes!” Tapa merasa berhasil menyelesaikan misi.
Mara segera masuk ke dalam mobil sebelum Summer menginjak gas.
“Keluar.” Ujar Summer.
“Summer.”
“Keluar!”
“Summer. Kenapa kamu marah?”
“Kenapa? Hah!”
“Sara begitu karna dia a…”
“Sara. Wah kamu bahkan menyebut namanya akrab sekali.”
“Ya memang.”
“Memang?”
Kini Mara menutup matanya menenangkan diri, dia bingung menyampaikan kalau Sara itu adiknya. Setiap kata yang dia katakan terasa salah dan membuat Summer makin emosi.
“Apa karena dia cantik?”
“Ya dia memang cantik.”
“Ck.” Summer tiba-tiba memukul setir mobilnya hingga suara klakson terdengar kencang.
Jantung Mara hampir copot, Summer sangat menyeramkan saat marah.
“Harusnya aku diem!” Ujar Mara dalam hati.
Summer tiba-tiba menarik nafasnya berat, terdengar isak perlahan-lahan.
“Summer. Kau menangis?” Mara makin kaget.
“Sara kamu bener-bener jail.” Ujar Tapa pada Sara yang cengengesan dari dalam restoran.
“Aku selalu pengen ngelakuin itu saat Mara punya pacar. Hihi rasanya seru.”
“Sara. Kau tidak boleh begitu. Kasian Mara dan pasangannya.”
“Baiklah. Baiklah.” Ujar Sara setelah puas terkekeh. Dia berjalan ke luar untuk memperbaiki situasi yang dia ciptakan.
“Aku tau dia cantik.” Ujar Summer dengan suara menangis.
“Summer. Maaf.” Sahut Mara.
Namun kata itu diartikan berbeda oleh Summer. Mara berniat meminta maaf karena Summer menangis. Namun yang ditangkapnya maaf itu karena menyukai gadis lain.
Rasanya hati Summer semakin hancur. Dia ingin meledak saat ini juga.
Saat dia menarik nafas ingin membentak, tiba-tiba Sara mengetuk kaca mobil. Summer langsung mengalihkan pandangannya.
“Kak Mara, aku ditemani Tapa saja. Kau bisa pergi dengan kakak ipar.” Ujar Sara sambil tersenyum.
“Kau yakin?” Tanya Mara.
“Ka… kakak apa?” Tiba-tiba Summer berhenti menangis. Dia menatap Sara dengan pipi yang basah.
“Maaf ya kakak ipar.” Ujar Sara tersenyum nakal sambil mengedipkan sebelah matanya.
Summer akhirnya menyadari apa ynag terjadi, tidak tau harus apa di situasi seperti ini. Sangat malu seperti ingin menenggelamkan kepalanya ke dalam tanah.
Saat Sara masuk kembali ke restoran, dia langsung memalingkan dan menutup wajahnya karena sangat malu. Harus lari kemana agar tak terlihat lagi di muka bumi ini. Dia tak sanggup menatap Mara.
Bersambung…
__ADS_1