
Bagaimana tidak, penampakan Summer yang memakai kemejanya 1000 kalo lebih sexy dibanding saat memakai handuk.
Kemeja itu terlihat kebesaran hingga tangannya menggantung lebih, paha mulus Summer jelas terlihat karena kemeja itu hanya menutupi 15cm dari pinggangnya. Dan kancing atas yang sengaja dibuka satu membuat dada Summer terlihat sexy.
Mara tak tahu harus apa, jika tak dilihat, akan lebih gusar ingin melihat. Namun jika dilihat dia langsung pusing.
“Kenapa?” Tanya Summer bingung.
“Aku… aku gak bisa tenang melihat kamu memakai kemejaku.” Ujarnya sambil menutup matanya dengan telapan tangan.
Kini Summer jadi paham, terlihat gundukan di boxer Mara jadi lebih menonjol. Summer sontak membalikkan badan dan berdehem.
“Ah Maaf. Apa aku harus ganti lagi.”
“Tak perlu. Ayo makan setelah bajumu nanti dianter.” Ujar Mara langsung masuk ke kamarnya tanpa melirik Summer.
Summer terdiam tak tahu harus apa, dia pun sama berdebar karna melihat hal yang tak seharusnya tadi.
Entah karna sudah gila, Summer dikontrol oleh nafsu sehingga kakinya berjalan cepat dan membuka kamar Mara.
Mara yang duduk terdiam di kasur tiba-tiba jadi terlihat sangat lezat. Dia melangkah cepat, menarik wajah itu lalu membenamkan bibirnya ke bibir penuh milik pria yang tadinya ingin menenangkan diri.
Mara tentu langsung termotivasi dan mendapat sinyal lampu hijau, dia membalas ciuman itu sembari menarik satu paha Summer ke sisi kakinya. Agar Summer bisa duduk di pangkuannya.
Kini tubuh Summer yang terlihat lebih tinggi membuat Mara menengadah meladeni bibir Summer yang ********** dengan ganas.
Kini nafas mereka beradu, terasa panas dan seperti berkompetisi ganas. Rambut yang beberapa kali menutupi rambut hampir okut masuk tertelan, namun kembali disisir jari agar tak mengganggu.
Tangan Mara menjelajahi punggung kecil yang dilapisi kemeja putihnya. Setiap gerakan Mara membuat Summer berekspresi berbeda. Seperti semuanya yang dia sentuh sangat sensitif.
Mara kemudian mengangkat tubuh Summer dan menidurkannya, sekarang posisi Mara di atas.
“Kali ini jangan berhenti.” Ujar Summer dengan serius. Matanya seperti orang putus asa.
Kata-kata itu serasa memancing semua iblis dalam diri Mara bersatu dan ingin mengeluarkan semua tenaganya. Rahang Mara mengeras menatap mata Summer yang lembut dan siap dengan apapun yang terjadi.
Rambut ikal menutupi wajahnya sehingga Summer menyisir rambut itu menahan dengan tangannya untuk melihat dengan jelas bagaimana ekspresi pria yang kini di atasnya.
Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi, Summer menghela nafas kesal, mau tak mau dia akhirnya bergerak turun dan menilik pintu.
Diterimanya bajunya yang sudah bersih lalu menutup pintu.
__ADS_1
Mara langsung membalikkan badan Summer dan mendorongnya ke pintu, dia sudah cukup sabar menunggu tadi. Ditariknya dagu Summer lalu ********** tanpa ampun. Summer melingkarkan lengannya pada leher Mara, kakinya menjinjit karena tubuh Mara tinggi. Leher yang mungkin sebentar lagi akan patah bukan masalah bagi Summer, dia tetap berusaha meraih. Mara mengangkat bokong Summer hingga kini menciumnya sambil menggendong. Menjadi lebih nyaman saat berciuman karena kini wajah mereka setara.
Mereka berciuman sambil Mara melangkah masuk ke kamar perlahan-lahan. Mengangkat Summer seperti mengangkat bulu, sangat ringan bagi Mara.
Dibaringkannya Summer di kasur perlahan lalu diciumnya kembali sembari tangannya menyentuh setiap inci kaki Summer yang jenjang hingga pahanya.
Kini bibir Mara sudah berpindah ke bawah dan menggerayangi setiap inci leher kuning langsat milik Summer. Tangannya kini membuka satu persatu kancing kemeja Summer dan terdiam menelan liur.
“Kau tak pakai apa-apa di dalam.” Ujarnya kaget.
“Sudah kubilang, pakaianku dilaundry tadi.” Sahut Summer mengalihkan pandangan karena malu.
Mara langsung pening, mengingat pakaian dalam Summer disentuh oleh orang lain.
Summer melihat Mara seperti memikirkan sesuatu, segera dia tarik wajah pria itu dan mengecupnya.
“Fokus.” Ujarnya.
Mara kemudian menciumi setiap inci tubuh Summer. Pikiran kotornya berkata, Summer terlihat sejuta kali lebih cantik saat tak mengenakan apa-apa. Sinting.
“Summer… kenapa kau cantik sekali. Aku pusing.” Ujar Mara akhirnya memeluk Summer untuk menenangkan diri.
“Summer.” Panggil Mara menatap wajah yang sudah memerah itu. Pipinya merah, telinganya pun ikut memerah.
Mara mencium pipi itu, dan mengigit telinga yang memerah. Dia tersenyum namun Summer terlihat malu dan tegang.
“Lanjutkan.” Perintah Summer.
Di setiap gerakan yang mereka lakukan, Mara tak henti-hentinya memandang wajah dan ekspresi Summer yang membuatnya semakin ingin menghancurkan dunia.
“Hanya aku yang boleh melihat wajahmu yang begini, Summer.” Ujarnya dalam hati.
Seiring semangat yang semakin menjadi-jadi, keringat, suhu tubuh, nafas berat, erangan, debaran jantung, Mara ingin merekam semua itu di dalam otaknya, setiap detailnya.
Bagaimana mereka berdua menghabiskan malam yang panjang seperti binatang yang sedang subur.
Hingga pagi pun Summer masih tetap mengenakan kemeja putih Mara. Saat dia terbangun, pria besar itu masih memeluknya.
“Ah bangunnya kesiangan.” Pekik Summer melihat jam di ponselnya.
Mara langsung menarik Summer yang bergerak ingin turun dari kasur, dengan suaranya yang serak.
__ADS_1
Summer menatap pria besar itu dan tersenyum. Dia kembali membaringkan badan untuk melihat wajah Mara yang maasih tertidur. Dibelainya wajah itu, lalu dikecupnya kening Mara.
“Ayo. Kita harus ke rumah sakit.” Ujarnya membangunkan.
“Hmmm bentar lagi.” Sahut Mara tanpa membuka mata.
Summer kemudian mengigit lengan Mara karena gemas.
“Ahhhhhh!” Mara sontak membuka mata.
“Hahahhahahh!” Summer tertawa.
“Hmm aku balas ya.” Kini Mara langsung naik ke atas Summer.
“Kamu gigit aku?” Summer tak percaya Mara akan berani.
“Ahhh pagiku indah sekali.” Mara tersenyum memandang Summer yang jadi hal pertama dia lihat saat membuka mata.
Dielusnya rambut hitam lurus itu sambil tersenyum, keningnya dikecup lembut.
“Semalam kita gak jadi makan ternyata.” Summer baru ingat. Pantas saja perutnya serasa menghisap, ternyata kelaparan.
“Aku sudah makan kamu tapi.” Goda Mara yang kini memeluk Summer.
“Ih apa sih.”
“Hahaha.”
“Aku lapar Mara.”
“Iya iya. Tapi selama kamu pakai kemejaku, rasanya aku jadi ingin makan kamu lagi.”
“Astaga! Geser geser!” Summer langsung meloloskan diri dan masuk kamar mandi
“Hahahaha. Bilang aku kalau butuh bantuan ya.” Teriak Mara menggoda Summer agar dia bisa masuk ke kamar mandi bersama.
“Dasar. Bantuan apa!” Ujar Summer geli.
“Lagian dari mana sih dia belajar kta-kata begitu? Dia udah gak polos lagi. Huh! Dasar.” Summer menatap wajahnya di cermin sambil tersenyum malu dan menepuk pipi. Jika teringat hal yang terjadi semalam, dia menjadi orang paling mesum sedunia rasanya.
Bersambung…
__ADS_1