Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Masakan Rumahan


__ADS_3

Suara ketukan pintu terdengar di kamar kosan Nindi, dia sudah menebak siapa yang datang.


Nindi membuka pintu dengan gaya gontai karena malas harus berdiri.


“Lagi ngapain?” Sapa Rio dengan ceria dan langsung nyelonong masuk.


“Nih gue bawa masakan rumahan.” Ujar Rio meletakkan tote bag berisi beberapa tempat makanan di meja dapur.


Nindi mengikuti ke dapur dan melihat apa yang dibawa pria jail ini.


“Woahhhh! Bu Ayu yang masak?” Ujar Nindi. Dia sering makan masakan Bu Ayu saat bermain ke rumah Summer dulu.


“Iya.” Sahut Rio bangga telah melakukan hal baik.


“Woaaahhhh. Bilangin terima kasihku ke Bu Ayu ya.” Ujar Nindi membuka satu persatu tempat makanan itu. Dicomotnya masakan itu untuk mencicipi. Matanya langsung melotot bahagia.


“Enak bangeeeettt!!!” Teriaknya sambil berlari kecil.


“Hehe.” Rio tanpa sadar jadi malu, padahal bukan dia yang memasak.


“Ayo makan! Gue jadi lapar.” Ujar Nindi semangat mengambil nasi dari penanak nasi-nya.


“Mau makan gak?” Tanyanya pada Rio yang mematung dan senyum-senyum sendiri.


“Huh? Iya mau lah. Gue udah makan sih dari rumah tapi mau lagi.” Ujar Rio mengambil piring dan meminta nasi.


Saat makan Nindi terlihat sangat bahagia.


“Udah lama ih gak makan makanan rumahan.” Ujarnya cengengesan.


Rio hanya tersenyum, entah kenapa wajah Nindi yang bahagia saat makan membuatnya jadi terus memperhatikannya.


“Lu lagi sakit?” Tanya Nindi.


“Huh?” Rio tak mengerti.


“Lu hari ini rada pendiem. Biasanya lu bakal semena-mena sama gue.” Ujar Nindi menghisap jarinya yang kena bumbu makanan.


Melihat itu Rio mengedipkan matanya tak beraturan dan tanpa sadar menelan ludahnya.


“Mau nambah ah. Heheh.” Ujar Nindi berdiri lagi mengambil nasi.


“Tau gak sih. Warteg aja di sini tuh mahal banget huhu.” Keluh Nindi.


“Ibu kota.” Sahut Rio.


“Iya ya.” Sahut Nindi


“Eh gue bentar lagi mau berangkat kerja.”


“Kerja? Dimana?”


“Di swalayan deket sini. Mayan buat beli makan.” Ujar Nindi


“Ah.”


Rio merasa malu melihat Nindi yang bekerja keras. Sedangkan dia hanya mondar-mandir sepulang kuliah, tak melakukan apa-apa. Hanya memikirkan main dan pulang jika lapar.


“Lu bisa di sini aja. Ntar kunci taro di bawah lap kalo mau balik.” Ujar Nindi.


“Gue.. gue ikut!” Ujar Rio.


“Ngapain?”


“Gak ada lowongan kerja juga?”


“Lu mau kerja?”


“Iya”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Ya pengen aja!”


“Hmm nanti coba gue tanya ya.”


“Iya gue ikut sekarang. Gak mau sendiri!”


Nindi menatap Rio dengan wajah kesal.


*****


“Lu yakin gak bakal bosen? Gue sampe jam 12 loh ini.” Ujar Nindi pada Rio yang memutuskan menunggunya di depan swalayan sampai pulang kerja.


“Jam 12?!” Tanya Rio kaget.


Dia langsung masuk dan menemui pemilik toko.


“Pak saya butuh pekerjaan. Boleh saya bekerja di sini?” Ujarnya dengan wajah sedih.


“Sudah gak butuh karyawan mas.” Sahut pemilik toko.


“Pak saya butuh sekali.”


Pemilik toko jadi kesal dan pergi meninggalkan Rio.


“Setengah aja!” Teriak Rio.


“Gaji saya cukup dibayar setengah saja!” Ujar Rio memicingkan mata tak percaya dengan apa yang dia katakan.


Pemilik toko yang sudah berjalan akhirnya berhenti dan berbalik menghampiri Rio.


“Saya gak butuh karyawan lagi.” Ujarnya singkat lalu pergi.


Nindi tersenyum canggung.


“Untuk apa lu kerja?” Tanya Nindi.


“Nanti kalo gue ada info lowongan, gue kabarin.”


“Gak mau. Orang maunya di sini.” Sahut Rio bete.


“Gak ngerti gue. Sana pulang aja.” Ujar Nindi.


“Yaudah.” Sahut Rio pergi.


Namun pukul 23.45 dia sudah kembali lagi membawa motor gede berwarna hitam.


Nindi menoleh keluar karna dia hapal suara motor Rio.


Rio melepas helmnya dan menaruh di motornya. Dia memandang Nindi yang sepertinya sedang beres-beres dan akan menutup toko.


”Kenapa kembali lagi?” Ujar Nindi menghampiri.


“Ayo gue anterin balik.” Ujar Rio memakai kembali helmnya dan mengambil helm satu lagi dari tasnya. Dia buka pengkait helm tersebut dan langsung menaruh ke kepala Nindi dengan menekan kepalanya.


“Awww!” Ujar Nindi kesakitan.


,


Rio terkekeh.


“Ayo.” Ujarnya menyuruh Jenni naik.


Malam itu Rio hanya mengantarkan Nindi ke kosannya lalu langsung pergi. Padahal kosan Jenni dan swalayan tersebut tidak jauh, hanya butuh waktu 10 menit berjalan.


Sesampainya di rumah, Rio perlahan-lahan memasukkan motornya ke parkiran. Sebisa mungkin suara gerakannya harus pelan karena ibu dan ayahnya pasti sudah tidur.


Dia membuka pintu rumah perlahan dan berjalan jinjit menuju kamarnya tanpa menyalakan lampu.

__ADS_1


Rio menghela nafas lega karena sampai kamar dengan selamat.


“Ting!” Suara notif masuk ke ponselnya.


“Terima kasih Rio!” Isi pesan yang datang dari Nindi.


Rio tersenyum namun melarang dirinya untuk tersenyum, namun akhirnya kalah dan tersenyum.


*****


Di ruang tamu, terlihat Summer dan Mara duduk bersama di sofa dengan TV yang menyala.


“Udah lama Nindi gak main ke sini.” Ujar Summer merindukan temannya.


Mendengar itu Mara langsung waspada. Dia harus punya cara agar Summer lupa dengan Nindi.


“Sebentar lagi ulang tahun kamu.” Ujar Mara.


“Oh iya. Ini udah Desember. Gak kerasa ya.”


“Mau dirayakan dimana?”


“Hmm aku mungkin ingin mengundang Pak Bagas dan yang lain tapi aku ingin ngerayaain sama Mama dan Uma.” Sahut Summer akhirnya jadi malu.


“Aku setuju.” Sahut Mara antusias.


“Aku mau nelpon Nindi.” Ujar Summer mengetik angka di ponselnya.


Mara tiba-tiba memegang tangan Summer untuk menghentikannya mengetik.


“Kenapa?” Tanya Summer.


“Kamu gak merasa sering mengabaikanku akhir-akhir ini?” Ujar Mara.


“Mengabaikanmu?” Summer bingung.


“Iya. Kalo ada Nindi kamu bahkan gak peduli aku dimana dan ngapain. Kamu bakal bersenang-senang terus bersama Nindi. Padahal aku gak bisa senang tanpa kamu.” Ujar Mara mendumel.


Summer ternganga, ternyata selama ini Mara kesal dengan dia yang bermain dengan Jenni.


“Ah ya sudahlah. Sudah malam.” Ujar Mara jadi lanjut mengambek.


Sampai Mara masuk ke kamarnya, Summer masih terdiam tak tahu mau bilang apa.


“Dia cemburu sama Jenni?” Ujar Summer bicara sendiri.


Summer akhirnya masuk ke kamarnya dengan terus berpikir, apa dia melakukan kesalahan.


Selama Mara di daratan, hidup dia hanya untuk Summer. Melihat cara Mara yang bahkan tak pernah memandang wanita lain selain dia, pasti membuatnya kesunyian jika tak ada Summer. Rio pun sama sudah jarang ke rumah, jika ada pun Mara tak sebegitu dekat dengan Rio.


Akhirnya Summer keluar kamar dan menghampiri kamar Mara.


“Mara..” Panggil Summer sambil mengetuk pintu.


“Mara.” Ujarnya sekali lagi namun tak disahut.


“Dia ngambek beneran?” Gumam Summer. Baru beberapa menit dia masuk kamar, seharusnya Mara belum tidur.


Summer kemudian memberanikan diri menekan gagang pintu dan ternyata tidak dikunci. Saat dibukanya pintu, terlihat Mara sudah terbaring diam.


“Mara… sudah tidur?” Ujarnya perlahan mendekat.


Summer semakin mendekat untuk melihat mata Mara terpejam atau tidak. Dan ternyata sudah terpejam. Summer menghela nafas.


“Kamu cepet juga ketidurannya.” Ujarnya memperhatikan wajah tidur Mara.


Ada hari esok untuk mengajak Mara bicara. Summer berbalik untuk meninggalkan kamar itu. Namun terhenti karena Mara tiba-tiba memegang tangannya.


“Summer. Kamu gak tau masuk ke kamar pria itu berbahaya?” Ujar Mara.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2