Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Jadi Terkenal


__ADS_3

Mara berlari dengan cepat dan langkahnya terdengar jelas sehingga orang tersebut refleks melarikan diri.


Mara mengejarnya dengan cepat kemudian menarik kerah bajunya hingga orang itu terseret jatuh.


Orang itu memegang lengan Summer berniat untuk melepaskan pakaiannya agar dia bisa lari, Namun Mara menarik tangan yang di lengannya tersebut lalu melepar orang itu ke dinding.


Sontak orang yang ada di rumah keluar semua. Summer yang sudah memakai piyamanya, Rio dan Damar yang sudah tertidur tadinya.


Mereka menyaksikan Mara mengangkat orang yang sudah pingsan itu di lengannya yang besar.


Summer berlari mendatangi Mara. Lalu ditariknya wajah Mara ke bawah.


“Matamu menjadi kuning.” Ujarnya mengingatkan sebelum yang lain menyadari itu.


Setelah bola mata Mara berubah menjadi hitam, mereka lanjut berjalan.


Dilemparkan Mara tubuh orang itu lalu membuka penutup wajahnya. Terlihat pria berumur 30an dengan rambut cepak, tubuh kurus dan tinggi sekitar 170cm


Rio yang sedari tadi menyaksikan cara Mara yang menaruh manusia dilengannya, tentu membuatnya merinding.


Rio kemudian tanpa sadar mulai memperhatikan Mara dari atas sampai bawah. Kemeja putihnya yang menjadi ketat karna ototnya bermunculan setelah habis bergerak banyak, dan wajahnya yang menjadi lebih maskulin. Ternyata dia bisa saja mati jika macam-macam dengan bodyguard Summer itu.


Namun wajah maskulin dan menyeramkan itu bisa langsung berubah ketika Summer menyuruh Mara untuk menunduk lalu mengusap kepalanya.


“Terima kasih.” Ujar Summer seperti bicara pada hewan peliharaan.


Wajah Mara langsung berubah menjadi senang dan tatapannya langsung lembut.


Rio langsung menyadari, Mara menyukai Summer. Dan Summer mengontrol Mara.


“Summer serem juga bisa jinakin orang.” Pikir Rio.


“Hmm kita taruh di ruang bawah tanah saja.” Ujar Summer setelah berpikir.


Banyak yang harus dia tanyakan, namun harus menunggu pria ini terbangun dulu.


Mara akhirnya memutuskan untuk tidak pulang malam itu. Dia takut ada hal lain yang terjadi pada Summer saat dia tak ada.


Mara tidur di kamar yang sudah ditunju Summer tadi. Dia bersyukur belum pulang dan bisa menjaga Summer dari orang yang ingin menyakitinya.


Mara merasa kemejanya sangat tidak nyaman dipakai tidur, karena kemeja itu cukup ketat dan Mara tidak leluasa bergerak. Mara memutuskan melepasnya, begitupun celananya. Kink Mara hanya tidur mengenakan boxernya, dan memakai selimut karna kamar itu cukup dingin.


Pagi hari, Mara terbangun dan menguap lebar di tempat tidurnya. Dia melipat selimut seperti kebiasaannya. Bahkan di hotel pun dia begitu karna saat tinggal bersama Wawan, dia diajari untuk disiplin.


Mara berniat mengambil air minum ke dapur karna rasanya sangat haus. Ketika dia di dapur, sepertinya seseorang sedang membuka kulkas. Ada Summer yang sedang minum lalu menoleh dari balik pintu kulkas yang menutupinya.


Seketika botol minum yang tadi menyentuh bibirnya itu jatuh dan membuat lantai basah.


Mara yang tadinya sempat senang karna wajah pertama yang dia lihat adalah Summer di pagi hari, kini berubah menjadi kaget dan segera mancari tissue untuk mengelap lantai.


“Kau bisa terpeleset.” Ujarnya sambil mengelap lantai.

__ADS_1


Summer masih tak bisa melepas pandangannya dari pria dengan tubuh yang luar biasa di depannya itu. Badannya yang tinggi, dengan tubuh dan otot yang bermunculan, begitupun pahanya yang kokoh dan kaki yang panjang, sungguh indah. Air yang tadi sudah sempat masuk mulutnya jadi menetes jatuh.


Rio yang baru keluar dari kamarnya pun ikut tertegun.


“Lu! Mengapa tidak pakai baju!” Teriaknya.


Mara kemudian baru sadar, jika dia hanya memakai boxer. Mara kaget langsung terbiri-birit masuk ke kamar.


“Ah apaan sih. Kan aku belom puas liatnya!” Ujar Summer meneriaki Rio.


Rio pun sebenarnya sama belum lihat dengan jelas. Tapi sekilas terlihat tubuh itu sangat kekar. Jika Rio yang punya tubuh itu, mungkin dia akan berjalan di luar tanpa pakai baju setiap hari. Dia hanya iri.


“Dia olahraga apa sih.” Ujar Rio jadi tak bernafsu minum lalu kembali tidur.


Sebenarnya bagi Mara, dia sudah biasa tak pakai baju. Seumur hidupnya menjadi merman dia tak pernah pakai baju. Hanya karna Rio teriak tadi, dia jadi merasa takut. Takutnya Summer merasa Mara orang mesum.


“Summer juga tadi terlihat kaget.” Ujarnya merasa bersalah menggosok wajahnya dengan kasar.


“Nanti minta tolong Pak Damar saja mengantar kamu ke hotelmu.” Ujar Summer pada Mara.


“Iya Non.” Malah Damar yang menyahut.


“Ah iya, kita harus nanyain orang semalem.” Ujar Summer baru ingat dengan orang yang ditaruhnya di ruangan bawah tanah.


“Aku akan temani.” Ujar Mara.


Mereka pun menuruni tangga menujuh ke bawah yang terlihat gelap. Summer kemudian menyalakan lampu yang berada di tembok saat dia turun tangga.


Ternyata pria yang diikat itu sudah sadarkan diri namun masih tergeletak di lantai dengan kaki yang diikat.


“Ah sudah bangun?” Ujar Summer mendekat dan Mara dibelakangnya.


“Siapa yang menyuruhmu?” Tanya Summer. Pria itu tentu menjawab dengan bungkam.


“Nama?” Tanya Summer kemudian namun hanya dijawab dengan diam.


Summer yang tadi diposisi jongkok kemudian berdiri. Diambilnya sebotol anggur kemudian memecahkannya ke dinding sehingga tinggal botol pecah dengan pinggiran pecahan yang tajam.


Mara kaget dengan sikap Summer yang tak disangka-sangkanya itu.


Summer kembali jongkok dan menaruh bagian botol yang tajam ke leher pria yang tergeletak itu. Ditekannya agar terlihat serius sedang mengancam.


“Clara.” Ujar pria itu terburu-buru.


“Clara?” Summer mengerutkan kening.


“Aku tak tau siapa tapi aku mendengar orang yang membayarku menyebut nama Clara.” Sahut pria itu berkali kali menjilat bibirnya karna panik.


Summer kemudian berdiri dan membuang botol tersebut lalu meninggalkan pria itu di ruangan gelap itu lagi, Mara pun mengikutinya.


“Summer, dia mau berapa lama di bawah?” Tanya Mara.

__ADS_1


“Percuma kalo dilepaskan. Jika Tante Clara lihat aku sehat saat ke kantor nanti, tentu dia akan mencari orang itu dan membunuhnya.” Sahut Summer.


“Apa kamu akan menyelamatkannya?”


“Hmm entahlah. Dia hampir membunuhku.” Sahut Summer.


“Aku akan ikuti maunya kamu.” Ujar Mara kemudian.


“Ayo berangkat.” Ujar Summer melihat mobilnya sudah terparkir di depan.


Pagi itu tidak seperti biasanya Summer tiba di kantor rada siang dan bertemu dengan Praman yang seperti biasa masuk dari pintu timur.


“Kau terlihat sehat, Ketua.” Sapa Praman.


“Iya. Sangat sehat.” Sahut Summer lalu melanjutkan berjalan dan memasuki lift tanpa menunggu Praman masuk dia menutup lift tersebut.


Summer kini sudah sangat yakin, orang yang ingin menyelakainya justru keluarga sendiri.


“Bukannya dia bodyguard Ketua?” Ujar beberapa karyawan berkumpul ke sebuat meja dan membaca sebuah artikel bersama dari komputer mereka.


“Ahhh jadi Jenni pacarnya seorang bodyguard.” Tambah yang lainnya.


Summer berjalan ke arah suara desas desus itu dan ikut melihat apa yang mereka lihat dari belakang.


Wanita paling belakang yang ikut berkumpul menoleh ke belakang lalu kaget dan menepuk pundak teman yang di depannya. Mereka kaget bersamaan dan lantas bubar sambil memberi salam pada Summer.


“Pagi Bu.” Ujar mereka kalang kabut kembali ke meja masing-masing.


Mereka menoleh kembali pria yang di belakang Summer, yaitu Mara. Pikiran mereka sama semua, mengagumi rupa Mara dan “Ah ini pacar Jenni.”


Summer kemudian menoleh ke belakang melihat Mara yang masih memakai pakaian yang sama seperti kemaren. Digigitnya jarinya sambil memperhatikan Mara dari bawah sampai atas. Tiba-tiba terlintas badan Mara yang sempat dia lihat tadi pagi. Summer menjadi salah tingkah dan berjalan menuju ruangannya.


“Mataku memang diberkati pagi ini.” Ujar Summer dalam hati


“Kau bisa pulang berganti baju dulu.” Ujar Summer membuka satu persatu dokumen yang sudah disiapkan di mejanya.


“Baik, Ketua.” Sahut Mara lalu meninggalkan ruangan.


Summer melihat dari dinding ruangannya yang terbuat dari kaca itu. Semua mata karyawannya mengikuti bergeraknya Mara.


“Ah kenapa dia jadi terkenal begini.” Ujar Summer menggigit bibir.


Mara kemudian keluar dari gedung. Namun di luar gedung sudah berkumpul para reporter dan langsung mengerumuni Mara.


“Sudah berapa lama anda punya hubungan dengan Jenni?” Tanya reporter itu berbondong-bondong.


Mara bingung dengan pertanyaan itu, dia bahkan tak tahu menahu apa yang terjadi.


Lalu dia baru ingat kemudian, artikel yang dibaca karyawan di kantor tadi. Bodyguard yang mereka bahas ternyata dirinya.


“Siapa Jenni?” Ujar Mara mengangkat kedua tangannya kesempitan karena mereka terus mendesak mendekat berebutan menyodorkan mic.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2