Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Rindu


__ADS_3

"Ma…"


Summer yang sedari tadi menunggu di pinggir kapal, memanggil dengan lega saat ibunya muncul dari dalam air digendong oleh seorang Bima.


Sesuai janji Sara, Tapa menemani Summer untuk terakhir kalinya bertemu ibunya sebelum dia kembali ke laut.


Mereka berpelukan mengobati rindu, hari-hari kebelakang sangat rungsing hingga tak sempat bertemu.


Summer memeluk ibunya seolah-olah mencurahkan semua rasa campur aduk.


"Are you okay?"


Mengelus rambut putrinya, tanpa menatap wajahnya yang di sembunyikan di pelukan, Rita tahu putrinya sedang terpuruk.


"No. I'm not okay."


Rita menarik wajah Summer dari pelukannya. Wajah itu telah memerah, kusut. Air mata yang terus mengalir, hingga mata tak bisa terbuka.


"Ohhh anak mama." Rita kembali memeluk erat putrinya. Dari dulu semuanya terlalu berat untuk dia tanggung sendiri. Kali ini pun begitu.


"Mama sempat melihat Mara?"


Rita menarik nafas berat, mereka akhirnya melepas pelukan untuk bisa bicara saling bertatap muka.


"Keadaanya sangat kacau. Sara datang bersama dengan Merman lain yang kebetulan melihat mereka melintas. Uma dan Appa dan seluruh penduduk heboh. Semuanya menangis, termasuk Sara yang marah-marah. Buni menyebut itu luka yang cukup parah, dia hanya bisa menghentikan pendarahannya tapi tidak paru-parunya yang telah rusak. Tanpa pikir panjang mereka membawa Mara ke Samudra Pasifik, karena di sana terkenal seorang penyihir hebat yang dapat menyembuhkan segala sakit."


Summer menggigit bibirnya, dampak dari balas dendamnya seberat ini. Ada rasa menyesal telah mengikut sertakan Mara dalam hidupnya.


"Uma dan Appa pasti telah membenciku. Mungkin bahkan seluruh penduduk bangsa Kulum."


"Summer…"


"Ma… dulu aku saat hampir mati…"


Perkataan itu mengagetkan Rita. Mengingat putrinya mengalami kata 'hampir mati' adalah kegagalan besar dalam hidupnya selama menjadi ibu, bahkan saat ini pun keadaan masih sama.


"… Mara datang menyelamatkanku. Tapi saat dia yang begitu, aku tak bisa membantu apapun Ma. Aku tak bisa apapun."


"Mama ngerti perasaan kamu. Bahkan saat ini pun Mama tak bisa bantu apa-apa. Maafkan Mama."


"Aku ngerti posisi Mama. Praman lah yang brengsek."


"Mama yakin, Mara juga pasti berpikir begitu, Summer. Jangan menyalahkan diri sendiri. Praman lah yang membuat kita semua begini."


Summer jadi menyadarinya, Mara bisa saja berpikir bahwa semua ini terjadi bukan karenanya. Tapi tetap saja, jika kata ‘seandainya’ bisa terjadi, mungkin keadaan bisa lebih baik.

__ADS_1


"Tentu dia akan berpikir begitu, karena dia bodoh."


"Kau juga bodoh berarti. Memaklumi Mama yang tak bisa berbuat apa-apa untukmu."


"Gak ma… bagiku Mama bertahan hidup adalah kebahagiaan."


"Coba nilai dirimu, dari cara kamu memandang Mama, memaklumi Mama. Mara juga pasti begitu. Dia sangat sayang kamu mama liat."


"Iya ma."


"Sekarang, apa yang kamu harapkan?"


"Aku sangat berharap Mara bisa kembali seperti dulu."


"Kau harus tetap menjalani hidup dengan harapan itu. Kau harus tetap percaya kalo Mara itu kuat."


Rita pun sebenarnya tak yakin, dia hanya berharap Summer bisa kembali menjalani hidupnya dengan baik.


*****


Keesokan harinya Summer pergi bekerja tanpa didampingi Bodyguard. Sudah tak perlu harusnya, biang keroknya sudah di penjara. Setelah 3 minggu penuh tidak bekerja, Pak Bagas adalah orang yang paling berbeban berat di Perusahaan.


“Aku CEO-nya kayaknya.” Gerutunya di meja, sibuk dengan beberapa dokumen.


“Aku masih CEO Pak Bagas.” Sahut Summer sebagai salam di pagi hari.


“Akhirnya…” Bahunya lengser, meloloskan nafas lega.


“Pak Bagas, bawa semua dokumen yang perlu dikerjakan ke ruanganku.” Perintah Summer siap bertempur.


Dengan sigap Pak Bagas menumpuk semua di meja Summer. Melihat dari wajahnya yang lelah sepertinya Pak Bagas kurang tidur karena mengurus semuanya sendiri.


“Bagaimana rencanamu dengan para pengikut Praman?”


“Apanya?”


“Mau dilanjut bekerja dengan mereka? Karena Polisi bolak-balik kemari.”


“Tentu polisi akan muncul. Jelas Praman tak terima jatuh sendiri. Dia pasti ingin membawa pengikutnya yang berkhianat.”


“Lalu? Harus bagaimana?”


“Biarkan saja Polisi melakukan tugasnya.”


“Baiklah.”

__ADS_1


“Sudah punya kandidat menggantikan mereka?”


“Kandidat pasti selalu ada.”


“Baiklah. Lakukan perlahan.”


“Wakil Direktur bagaimana?”


“Tentu dia harus ditangkap juga.”


“Baik.”


Hari itu juga, Harith ditangkap di kediamannya. Dia diam tak melawan. Jenni terpukul hebat, melerai Papanya dari tangan polisi, memeluk Papanya sambil menangis.


“Maafkan Papa. Karena Papa begini, kamu jadi mengalami masa sulit di hidupmu. Seandainya Papa bisa menilai orang. Maafkan Papa.” Harith memberi salam perpisahaan pada putri semata wayangnya. Yang teriak berontak dipegangi Yura, istrinya.


Saat akan memasuki mobil, Harith berhenti dan merogoh kantong celananya.


“Boleh aku menelpon sebentar?”


Para petugas bertatapan, merasa itu tak masalah mereka memberi waktu untuk Harith.


Harith mencari kontak Summer dan menaruh ponsel di telinganya.


“Ketua. Tolong pegang janjimu.” Ucapnya singkat lalu mematikan telpon.


Ditangkapnya Harith menggemparkan Perusahaan. Kini posisi Direktur Utama dan Wakil Direktur resmi kosong. Lonjakan kembali terjadi, banyaknya jabatan dibawah melirik kursi itu. Kompetisi menjadi sengit, dan semua berbanding terbalik. Orang-orang yang dulu tak menghargai Summer, kini menjadi penjilat profesional.


Persaingan itu membuat mereka menjadi saling menyerang. Tanpa Summer berusaha mengeluarkan, orang-orang serakah itu sudah lebih dulu jatuh oleh saingan mereka. Alhasil banyak sekali kursi yang kosong.


Gejolak itu membuat Summer Sea diambang krisis karena kurangnya SDM. Iklan yang membuka lowongan secara terbuka untuk umum diserbu semua orang di dalam baik di luar negri.


Summer sengaja, dia ingin isi orang perusahaannya adalah orang-orang berbakat. Bukan hanya orang yang gak becus bekerja, namun berbakat untuk keuntungan pribadi, umumnya mereka bisa menjabat katena nepotisme. Summer Sea dirombak habis-habisan.


Prosesnya sangat berat, seperti memulai Perusahaan dari awal. Lambat namun pasti. Semua orang mengakui kemampuan Summer dalam menjalankan Perusahaan. Meskipun ketat dan perfeksionis, hasilnya selalu memuaskan.


Untuk memilih orang yang tepat saja duduk di kursi yang kosong, Summer menghabiskan waktu 2 bulan.


Bekerja seperti orang gila, baik di kantor baik di rumah. Namun di malam harinya, Summer akan menatap fotonya bersama Mara dan berdoa untuk keselamatan pria yang dia rindukan itu.


Sudah 3 bulan berlalu, namun belum ada kabar. Summer bertemu dengan ibunya sekali sekali sebulan, namun mendapat jawaban yang sama. Mara, Uma dan Appa belum juga kembali. Hanya ada Sara yang menggantikan ayahnya memimpin, dibantu oleh Tapa di sisinya.


Summer akan tetap berpegang teguh dengan harapannya, bahwa suatu saat dia akan bertemu dengan Mara yang telah sehat. Tapi rindu ini sakit sekali. Tidur di kamar Mara, memakai pakaian Mara, mandi di kamar mandinya, memakai sabun dan samponya. Aroma Mara membuatnya merasa bersama. Menutup mata membayangkan, kulit dan suhu badannya, suara nafas dan detak jantung Mara yang selalu berdegup kencang saat mereka bersama.


Summer memeluk rindu itu meringkuk mengendus selimut Mara. Rindu ini sangat menyakitkan.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2