
Mara berpose seperti yang dipelajarinya dari video, orang-orang yang melihatnya dari kaca luar ruangan tembak tertegun dengan Mara yang terlihat sangat keren.
“Woaahhh kau sangat tampan!!!” Teriak para pria itu.
Mara siap menembak.
“Dor!” Tembakan pertama.
“Dor!” Tembakan kedua.
“Dor!” Tembakan ketiga.
Saat selesai menembak. Target mereka akan bergerak mendekati untuk di nilai.
Semua orang tertegun. Bullseye tiga kali di tempat yang persis sama. Garis tengah itu bahkan tak membesar lubangnya karna tembakannya persis di tempat yang sama tanpa bergeser sedikit pun.
Semua orang ternganga.
“Woah kok bisa?” Ujar mereka berkerumun di samping Mara setelah menerobos masuk karna ingin melihat dengan jelas.
“Apa kau atlet tembak?” Tanya mereka.
Tapi jika atlet setampan ini pasti sudah terkenal.
“Apa kau atlet dari luar negri?” Ujar mereka lagi.
“Bagaimana kau melakukannya.” Tanya seorang peserta yang ternyata seorang atlet tembak.
“Gila. Hendrawan saja sampai bertanya.” Ujar mereka menamai atlet tembak nasional itu.
“Aku, belajar dari iTube.” Sahut Mara malu-malu.
“Gak mungkin!” Ujar mereka menepuk pundak Mara.
Test hari itu ditutup dengan 10 peserta yang lolos. Mara sedikit-sedikit menilik handphone-nya. Namun belum ada balasan Summer.
“Kau kan menang. Kenapa sedih?” Tanya salah satu peserta.
Mara tersenyum memaksa.
“Bagaimana dengan makan bareng?” Ujar mereka.
“Ah aku tidak selera.” Sahut Mara murung.
“Dasar. Ayo aku traktir.” Ajak seorang yang tertua di situ.
“Tapi boleh deh. Dari pada aku makan sendiri nanti jadi sedih.” Ujar Mara cemberut.
Sesampainya di restoran barbeque mereka pun berbincang. Ada yang berasal dari luar negri, ada yang berasal dari luar kota yang sangat jauh. Ada yang pada dasarnya bekerja di perusahaan keamanan, ada juga pasukan khusus, bahkan ada atlet bela diri. Mereka mencoba ikut melamar tadinya demi mendapat gaji fantastis setiap bulannya. Namun seiring berjalannya waktu, mereka lebih tertarik dengan mengukur kekuatan mereka dari test yang disediakan.
“Jika tak menang pun tak apa. Aku senang bisa bertemu orang-orang kuat. Terlebih kan Summer Sea bayar tiketku pulang balik. Makan dan tempat tinggal juga dipenuhi selama menjalani test. Pengalaman ini gratis aku dapatkan. Ini sangat berharga.” Ujar salah seorang peserta.
“Betul betul!” Sahut mereka mengangguk.
“Kamu, kenapa melamar Mara?” Tanya mereka penasaran. Bagi mereka dengan wajah tampan Mara dia bisa kaya hanya dengan jadi model atau aktor.
“Aku tak dibayar pun akan tetap melindungi Summer.” Ujarnya.
__ADS_1
“Jiaaaahhhhhh. Seleramu tinggi sekali! Ketua. Kau harus panggil Ketua. Jangan menyebutnya dengan nama!” Ujar mereka.
“Ah iya aku belum terbiasa.” Sahut Mara.
“Haha gayamu seperti teman dekat saja.” Goda mereka.
“Memang.” Celetuk Mara.
“Benarkah?!” Mereka semua kaget dengan respon Mara.
“Kalau kau temannya kenapa tidak langsung minta pekerjaan padanya saja, tanpa test?” Celetuk salah satu dari mereka yang masih tak percaya.
“Krrghhh.” Orang tertua yang dipanggil Barata itu menenggak alkohol.
“Aku percaya dia teman Ketua. Lihat saja penampilannya. Aku juga seperti dia saat masih muda.” Sambung Barata.
“Hahahah bisa saja.” Mereka tertawa.
Mara sama sekali tak menyentuh alkohol.
Karna saat dia mengirim foto dia makan bersama peserta lainnya, Summer membalas, “Jangan minum alkohol.”
Mara sangat senang Summer akhirnya membalas pesannya itu, namun kembali murung setelah tak dibalas lagi pesan lainnya.
*****
Keesokan paginya, Yura Wicaksono tanpa basa basi mendobrak pintu ruangan Summer menorobos masuk tanpa ijin. Pak Bagas yang tak sempat menghalangi pun ikut masuk.
Mendengar suara rusuh itu Summer meletakkan pulpennya dan menatap wajah tantenya yang sudah tegang karna murka.
Tas kecil dengan harga fantastis yang ditentengnya ikut mengayun karna langkah Yura yang seperti beruang mengamuk. Rambut pendeknya yang disasak tinggi memperlengkap penampilan galaknya itu. Dengan gelang berlian yang menggerincing karna tangannya yang menunjuk-nunjuk Summer.
“Kurang ajar ya kamu!” Bentaknya lagi memukul meja kerja Summer, membuat keributan di kantor itu.
Pak Bagas segera menutup pintu ruangan agar karyawan tak melihat.
Ada satu masalah dari Jenni yang membuat Summer sangat terganggu dengannya. Saat mereka satu sekolah. Summer kelas 5 SD dan Jenni SMP karna mereka terpaut 4 tahun.
Summer sering menyaksikan Jenni menyiksa teman sekelasnya. Dia akan menyuruh korbannya itu seperti babu dan memukulinya jika sedang tidak senang.
Summer yang melihat itu lantas mengkritik Jenni.
“Kak Jenni kok jahat? Nanti aku kasih tau tante Yura.” Ancam Summer.
“Tentu. Coba kasih tau sono.” Tantang Jenni terbahak-bahak dengan temannya.
Summer mencoba menceritakan pada Yura namun respon yang dia dapat adalah amarah Yura padanya. Summer yang masih kecil merasa apa dia yang salah karna Yura sangat marah saat itu.
Keesokan harinya Jenni semakin menjadi-jadi tingkahnya di sekolah. Guru pun sama tak peduli.
Yang ada malah Summer jadi bual-bualan kakak kelas di sekolahnya. Teman sekelasnya pun sering mengerjainya dan tak ada yang mau menemani. Summer yang masih sangat kecil sama sekali tak mengerti kesalahan apa yang dia perbuat sehingga sikap semua orang jadi berbeda. Sehingga suatu saat dia melihat sendiri Jenni membayar sekelasnya dan kakak kelasnya untuk mengerjai Summer.
Summer berpikir keras apa harus memberi tahu Mamanya atau tidak. Nanti jika diberitahu, pasti Yura dan Mamanya akan berselisih.
Akhirnya Summer memutuskan pindah sekolah.
“Kenapa ingin pindah?” Tanya Rita ibu Summer.
__ADS_1
“Aku kurang suka pengajaran dan lingkungannya Ma.” Sahut Summer tetap menulis mengerjakan PR-nya.
Rita sangat mengenal putrinya, Summer memiliki kebiasaan tak berani menatapnya berbicara saat berbohong.
“Kamu yakin gak ada yang terjadi sama kamu?” Tanya Rita membelai kepala putrinya.
Seketika dagu dan bibir Summer mengkerut. Rita memeluk putrinya yang menitikkan air mata itu. Summer sama sekali tak bisa menyembunyikan apapun saat mamanya bertanya begitu. Summer menangis kencang sampai lelah. Rita membiarkan putrinya menangis sepuasnya dulu. Ketika sudah tenang, Summer akan bercerita.
Summer menceritakan semua yang dia alami. Dari Jenni yang menindas teman sekelasnya, sampai pada akhirnya Summer yang ditindas karna berani bersuara.
“Bicara sama tante Yura ternyata percuma ya.” Ujar Rita menyimpulkan.
“Percuma bicara sama orang yang tidak bisa mengerti Ma!” Sahut Summer.
Rita tertawa mendengar gadis kecilnya sudah bisa bicara seperti orang dewasa.
“Baiklah. Tapi tetap Mama harus bicarakan ini dengan pihak sekolah.”
Keesokannya Rita datang keke sekolah bersama Summer menandatangani surat pindah sekolah.
Rita melangkah memasuki ruangan guru dengan kharismatik. Dipandanginya satu-persatu wajah guru itu.
“Berikan formulirnya.” Ujarnya.
Wakil kepala sekolah berlari menghampiri Rita sambil memasang wajah ramah.
“Ah kenapa tidak bicara di ruangan saya saja Bu Rita.” Ujar kepala sekolah berbahasa manis.
“Tak perlu. Saya ingin urusan ini segera tuntas. Saya tidak mau membuang waktu anak saya lebih lama di sekolah yang kurang berkualitas ini.” Sindir Rita dengan tegas.
“Kita bisa bicarakan masalah ini sambil duduk di ruangan saya Bu.” Wakil kepala sekolah tetap membujuk.
“Satu dari kalian pun tak tahu jika anak saya dibuli oleh temannya di sini. Semua uang yang saya keluarkan di sekolah ini bukan untuk anak saya dibuli.” Ujarnya Rita geram.
“Benar-benar sekolah tak berkualitas. Bahkan anak SMP yang sudah masuk rumah sakit saja tak kalian hiraukan. Saya menyesal menyekolahkan anak saya di sini!” Bentak Rita.
“Siapa? Siapa yang dibuli?!” Bentak Wakil Kepala sekolah pada guru di ruangan itu.
Semua guru terdiam kecuali seorang guru honorer yang berdiri dan berkata, “saya sudah menyampaikan kasus itu pada guru BP.”
Bu Rita langsung mempelototi guru BP tersebut. “Sangat tidak kompeten. Cepat berikan formulirnya agar aku bisa tanda tangani.”
Tentu kejadian ini mengguncang sekolah. Selain dari Summer yang selalu membawa nama baik sekolah karna dia murid unggul, Rita juga rutin memberi sumbangan. Sekolah akhirnya kehilangan mereka berdua.
Kejadian itu membuat Kepala Sekolah memperketat sistem pengajaran. Hal itu berdampak pada Jenni tersangka pembulian. Dia akhirnya diskors selama sebulan.
Itu lah awal dari berantakannya hubungan Jenni dan Summer.
Itu sekilas ingatan Summer tentang Jenni sesaat setelah mendengar Yura yang berteriak di depannya saat ini.
Satu pun dari ibu dan anak tidak ada yang berubah.
Yang berbeda adalah saat ini, Mamanya yang biasa melindunginya tak ada.
“Ya. Lagi pula aku sudah dewasa.” Gumam Summer tersenyum.
Bersambung…
__ADS_1