
“Ketua.” Ujar Pak Bagas tak bisa berkata-kata saat melihat mereka akan memasuki jet pribadi yang akhirnya disewa oleh Summer untuk kembali ke ibu kota.
“Sudah naik saja. Lihat saja keadaan Pak Bagas, masih perlu diinfus.” Sahut Summer sembari menaiki jet itu.
Summer ingin Pak Bagas merasa lebih nyaman berbaring dan bisa sambil ditemani oleh perawat yang tetap menjaga di dalam pesawat.
Sesampainya di bandara ibu kota, Bu Ayu dan Rio sudah menunggu celingak-celinguk mencari sosok Pak Bagas.
“Paaaaa!!!” Teriak Rio saat melihat batang hidung Papanya muncul dari pintu kedatangan.
Wajah mereka semakin sedih melihat Pak Bagas yang dibaluti perban kepala dan tangannya, terlebih dia di dorong dengan kursi roda bersama dengan infusnya.
Rio langsung berlari setelah Pak Bagas melewati pembatas.
“Paaaa!!!” Ujarnya langsung memeluk disusul oleh Bu Ayu.
“Rio, Ma…” Ujar Pak Bagas tersenyum menunjukkan jika dia baik-baik saja.
“Makasih ya Summer, sudah langsung bawa pulang suamiku.” Ujar Bu Ayu memegang tangan Summer.
Summer merasa tak pantas menerima ucapan terima kasih, dia adalah penyebab kecelakaan terjadi pada Pak Bagas. Jika saja dia lebih kompeten, hal ini tak akan terjadi.
Sebelum dia mengatakan apa-apa, Pak Bagas sudah memandang Summer dengan intens menafsirkan agar dia tak perlu menceritakan. Hal itu akan membuat Bu Ayu makin khawatir dan murka.
“Ayo jalan, kalian pasti lapar. Aku sudah memasak tadi. Ada di mobil makanannya.” Ajak Bu Ayu.
Sedangkan Rio masih terus memeluk papanya dengan menunduk menangis sambil berjalan karena kursi roda Pak Bagas sedang di dorong oleh Mara perlahan.
“Paaaaa jangan sakit-sakit dooonggg!!” Rengeknya.
“Astaga! Kamu gak malu ya nangis di depan umum.” Ujar Pak Bagas memukul lengan putranya.
“Ayo jalan yang benar!” Bu Ayu menepuk punggung putranya dengan kencang.
“Pa. Lihat kan Mama begitu, galak sama aku. Kalo Papa gak ada aku bisa habis dipukuli. Paaaa!!!!” Rengek Rio seperti anak kecil.
“Sudah-sudah. Ayo jalan yang bener.” Ujar Pak Bagas mendorong tangan Rio agar dia berdiri tegak.
“Aku akan menghabisi orang yang menabrak Papaku. Dasar brengsek.” Gerutu Rio sangat geram.
”Paaaa!!!!” Rengek Rio kembali memeluk papanya.
Pak Bagas hanya terdiam, mengingat bahwa Rio sangat dekat dengan Nindi anak Praman. Mungkin hubungan mereka bisa saja berubah jika Rio tahu siapa dalang dibalik kecelakaan Pak Bagas. Meskipun Nindi berbeda dengan orang tuanya, tak bisa menjamin jika Praman tak akan menarget keluarganya. Anaknya saja dibiarkan terlantar, apa lagi anak orang lain. Membayangkannya saja, Pak Bagas rasanya ingin melarang Rio bertemu Nindi lagi.
Setelah mengantarkan Pak Bagas ke Rumah Sakit di pusat kota, mereka makan bersama. Banyak hal yang perlu di urus Summer karena kemaren tiba-tiba berhenti kerja dan hari ini libur. Mara dan Summer kemudian pulang ke rumah dijemput oleh pak Damar.
__ADS_1
“Non. Saya mau ngobrol.” Ujar Damar agar Summer tidak turun dulu dari mobil.
Mara pun sama tak ingin turun.
“Mara masuk duluan aja.” Perintah Summer akhirnya.
Mara dengan gayanya yang bete akhirnya masuk. Dia kesal kenapa dia harus diasingkan jika itu berbicara tentang Summer. Apa ada hal yang perlu dirahasiakan?
“Kemaren saya diseret untuk ketemu Praman, Non.” Praman akhirnya memulai ceritanya.
Summer menbelalak karena kaget. Kini semua orang yang ada di sekeliling Summer akhirnya menjadi target.
“Aku gak kenapa-napa Non.”
“Dia bilang apa?”
“Dia bilang akan bayar saya lima ratus juta kalo bisa nyelakain Non. Seperti kecelakaan mobil begitu.”
“Lalu pak Damar bilang apa?”
“Akan saya pikirkan. Tapi Non! Saya sama sekali tak berpikiran menghianati Non. Saya hanya ingin keluar dari situ dan mengatur strategi sama Non Summer.”
“Aku mengerti. Tapi Pak Damar tidak merasa sayang? Uang yang ditawarkan cukup banyak.”
“Memang banyak, Non. Tapi saya berhutang nyawa dan budi sama, Non. Itu lebih mahal dari uang sebanyak apapun.”
“Non mau saya bagaimana?”
“Pulang kampung.”
“Hah?”
“Saya tak ingin Pak Damar terseret dan terancam nyawanya karena saya. Pak Bagas udah jadi pelajaran besar, saya tak ingin ada yang terluka lagi.”
“Non! Tolong jangan begitu. Jika bukan karena Non saya sudah mati di jalanan! Saya tak akan mau pulang kampung. Kalau perlu, saya akan tidur di mobil ini setiap hari!”
Summer tak tahu bagaimana lagi untuk meyakinkan supirnya agar tak ikut serta, otaknya berputar mencari alasan apa yang kuat untuk memulangkan supirnya ke kampung.
“Saya akan pura-pura setuju, Non. Dengan begitu Non Summer tau kapan Praman akan bergerak.”
“Pak Damar! Meskipun pak Damar setuju, mereka tetap tak akan melepaskan nyawamu! Bisa jadi Pak Damar yang dijebak menjadi pelaku yang membunuhku jika nanti Pak Damar masih hidup!”
“Non… jangan asal ngomong! Omongan adalah doa! Bicaralah yang baik-baik!” Bentak Damar jengkel dengan entengnya Summer menyebut nyawanya yang bisa saja mati.
“Jangan jalani ini sendirian. Percayalah pada saya Non. Jika mati pun saya tak akan menyesal. Saat bertemu Non Summer barulah saya bisa merasakan indahnya hidup dan bisa memberi nafkah yang baik untuk keluarga saya!”
__ADS_1
Summer tak tau harus berkata apa lagi, dia memalingkan wajah lalu turun dari mobil.
Damar menunduk, dia hanya perlu meyakinkan atasannya agar percaya bahwa dia juga sanggup melindungi dan ingin ikut serta.
Namun untuk saat ini dia akan biarkan Summer berpikir dulu sembari berharap.
“Summer! Bagaimana?” Tanya Sara menyambut kedatangan Summer -dengan pertanyaan.
“Syukurnya Pak Bagas selamat.” Sahutnya lalu masuk ke kamar.
Pikirannya penat dan melelahkan, mempertaruhkan nyawa orang jelas adalah kelalaian. Summer ingin sekali menyelesaikan semua ini secepat mungkin tanpa mengikutsertakan orang lain.
Suara ketukan pintu terdengar.
“Summer.” Panggil Sara sembari mengetuk.
Summer membuka pintu dan tersenyum.
“Ayo masuk.” Ujarnya tersenyum.
Mereka duduk di kasur, Sara melihat sekeliling kamar Summer lalu menatap pemilik kamar itu.
“Maaf, pikiranmu berisik sekali.” Keluh Sara tersenyum.
“Ah iya. Kamu pasti terganggu ya.”
“Summer. Aku jadi tau kamu orang yang baik. Karena semua orang ingin melindungimu termasuk aku. Tahu gak? Mereka akan sangat dihargai jika diperbolehkan ikut serta.”
“Aku takut.”
“Ya aku tau. Itu sebabnya semua orang menyayangimu. Kau takut menyakiti siapa pun. Denger Summer, aku ada di sini. Aku pasti sangat membantu. Pergunakan aku. Aku bisa membongkar rahasia apa pun itu.”
“Sara kamu baik banget.”
“Ahhh memang. Tapi aku cuma seneng aja kalo punya kakak ipar kaya.”
“Hahaha. Terima kasih. Sepertinya aku cukup kaya.”
“Tetaplah kaya!”
Akhirnya mereka berdua pun tertawa. Rasanya beban di pikiran Summer terangkat. Ternyata ada baiknya jika seorang saja bisa mendengar isi pikirannya. Dan dia beruntung yang mendengar adalah Sara yang cukup bijak dan baik.
Tepat sekali, tiba-tiba ponselnya berdering.
“Ketua.” Suara tenang dari seorang pria paruh baya.
__ADS_1
“Wakit Direktur?” Tebak Summer sambil tersenyum.
Bersambung…