
Mara mengetuk pintu kamar Summer.
“Aku ingin ke luar dulu ya.” Ujar Mara pada Summer. Namun tidak disahut.
Mara kemudian pergi. Sejak pulang dari kantor Summer terus mendiami Mara. Summer mengurung diri di kamar dan tak menyahuti apapun omongan Mara.
“Kau harus datang jika tak ingin berita buruk tentang Summer aku berikan pada wartawan.” Begitu pesan dari Jenni. Membuat Mara mau tak mau harus menemuinya.
Jenni menentukan tempat pertemuan di sebuah restoran di pusat kota.
Sesampainya di sana, Mara masuk ke restoran tersebut dan sudah disambut lambaian tangan Jenni di meja paling pinggir.
Jenni berdiri menjemput Mara, terlihat dia memakai dress hitam selutut dengan belahan tinggi. Rambut panjangnya kali ini dikeriting.
“Ayo duduk.” Ujarnya mempersilahkan.
Selang berapa menit, pramusaji datang mengantarkan Appetizer.
Mara yang datang berniat hanya untuk bicara tentu tak peduli dengan makanan.
“Kita makan dulu baru bicara.” Ujar Jenni tersenyum.
“Aku tak bisa lama-lama.” Ujar Mara tak ingin meninggalkan Summer lama sendirian di rumah.
“Makan tak akan lama kok.” Sahut Jenni menyodorkan makanan yang sudah ada di meja.
Mara tetap diam dan memandang dingin. Dia tahu tipe manusia seperti Jenni ini adalah tipe licik dan ambisius.
Setelah beberapa menit menunggu Jenni tak bicara juga, Mara berdiri ingin pergi karena merasa buang-buang waktu.
“Hei mau kemana?” Ujar Jenni kalut.
“Kalo tak ada yang mau dibicarakan. Aku pulang saja.” Ujar Mara.
“Ah tidak sabaran sekali. Baiklah.” Jenni mengalah.
“Aku menemukan kecurangan Summer di dalam perusahaan.” Ujar Jenni memulai membahas.
Mara masih menunggu maksud dari cerita itu.
“Iya. Aku menemukan bukti Summer melakukan penggelapan dana. Katanya dia baru beli yacht.” Ujar Jenni mempersilahkan Mara kembali duduk. Namun Mara tetap berdiri.
“Jika aku sebarkan itu ke wartawan. Tentu karir Summer akan langsung hancur.” Ujarnya.
Jenni dengan wajah tersenyum menunggu respon Mara yang akan terkejut dan langsung menuruti semua maunya.
Mara menyesal dia datang hanya untuk mendengarkan omong kosong itu. Jenni kira Mara akan terpancing karena tak mengerti tentang perusahaan. Namun dia sama sekali tak tahu, bahwa Mara sangat mengenal Summer.
Mara sangat jengkel karena Jenni mengatakan hal buruk tentang Summer. Wajahnya yang dikira akan takut kini berubah menjadi marah.
Mara menarik taplak meja sehingga semua piring dan peralatan di atasnya terlempar pecah dan berserakan di lantai.
Mara lalu menatap tajam wajah Jenni yang mulai takut karna kaget dengan sikap Mara.
“Sebaiknya jangan lakukan hal seperti ini lagi.” Ujar Mara dengan suara rendah dan berat.
Mara langsung pergi meninggalkan Jenni yang syok berat dengan tangan dan leher kaku. Dia tak menyangka hal itu akan terjadi. Seumur hidup dia tidak pernah perlakuan seperti ini.
*****
__ADS_1
Mara mampir di supermarket untuk membeli ikan. Dia ingat masih punya janji yang belum dikabulkan pada Summer.
Sesampainya di rumah, Mara memasak karna dia tahu sejak pulang kerja Summer belum makan apapun, hanya mengurung diri di kamar.
“Summer ayo makan. Aku lapar banget. Aku sudah bikin ikan bakar.” Ujar Mara dari depan pintu kamar Summer.
Namun Summer tak menyahut juga. Mara tiba-tiba merasa khawatir, diketuknya pintu kamar Summer dengan lebih kencang. Handle pintu digerakkan ke bawah berkali-kali karna terkunci.
Mara manjauh dan berlari, siap akan mendobrak pintu. Namun tiba-tiba pintu terbuka sehingga Mara terlempar ke dalam kamar dan terjatuh.
Segera dia berusaha berdiri dan melihat Summer sedang membungkuk berdiri.
“Kamu sakit?” Mara langsung memperhatikan dari atas ke bawah.
“PMS” sahut Summer.
“Apa itu?” Mara baru dengar kata-kata itu.
“Tolong keluar.” Usir Summer.
“Aku panggil ambulans ya.”
“Tak perlu.”
“Aku panggil dokter.”
“Tak perlu! Tolong keluar aja.”
Mara tak mau meninggalkan Summer yang sedang kesakitan sendiri. Namun wajah Summer seperti akan membunuhnya jika dia tidak keluar sekarang juga.
“Baiklah. Jangan kunci pintunya.” Ujar Mara.
Sedetik setelah Mara keluar, Summer membanting pintu mengagetkan gendang telinga.
“Mens… mentru… menstruasi?”
“Namanya sulit sekali.”
Mara membaca artikel tersebut hingga habis. Dia kemudian berlanjut mencari cara mengobati PMS sampai ke seluruh website.
Setelah merasa cukup mengobservasi, Mara langsung keluar lagi ke supermarket. Dibelinya cemilan dan coklat, dan pereda nyeri.
Setelah di rumah Mara menaruh air hangat ke dalam botol. Dibawanya semua itu ke kamar Summer.
“Summer ayo minum obat dulu.” Ujar Mara yang sudah siap memegang air minum dan obat di tangannya.
Summer duduk perlahan dengan tangan masih memegang perutnya.
“Sakit sekali ya jadi wanita.” Ujar Mara prihatin.
Kemudian Mara memberikan satu kantong belanja berisi coklat dan cemilan.
“Aku baca wanita suka ngemil ketika sedang menstruasi.” Ujar Mara.
“Ah lalu ini air hangat untuk perutmu.” Ujar Mara menyodorkan botol berisi air hangat itu.
Summer kemudian menaruh botol itu di dalam bajunya sehingga bersentuhan langsung ke perutnya.
Mara menelan liurnya, dia merasa bersalah saat Summer lagi sakit begini bisa-bisanya pikirannya kotor.
__ADS_1
Summer kemudian tiduran dengan memegang botol di perutnya. Digesekkannya kedua kakinya dan membolak-balik badannya. Mara sangat sedih, Summer terlihat menderita.
“Kakimu sakit?” Tanya Mara, karna dari yang dia baca, memberi massage akan membantu menenangkan rasa sakitnya.
“Iya.” Sahut Summer, suaranya serak.
Mara mencoba memijat seperti di video yang dia tonton. Perlahan-lahan dari jari sampai betisnya. Summer saat itu memakai piyama dengan celana yang lumayan pendek sehingha menunjukkan sebagian pahanya.
Setiap tangan Mara menyentuh kaki Summer, beradu iblis dan malaikat di pikirannya.
“Kenapa bisa kulitnya indah sekali.” Pikir Mara.
Namun kembali menyadarkan diri karna Summer sedang sakit. “Aku memang bajingan.” Maki Mara dalam hati.
Kaki Summer yang kuning langsat dengan jari-jari kaki yang panjang dan langsing. Betisnya sangat mulus seperti kulit bayi. Pahanya jangan dibahas, Mara tak akan berani menyentuhnya.
Keadaan ini sangat berat bagi Mara. Namun dia tidak bisa langsung pergi meninggalkan orang sakit menderita sendiri demi mengendalikan dirinya.
Summer mengeluarkan botol itu dari dalam pakaiannya dan menaruh di kasur.
“Kenapa? Sudah tak panas?” Tanya Mara.
“Iya.” Sahut Summer.
“Sebentar aku ganti.” Mara meraih botol itu.
“Tak perlu.” Ujar Summer.
“Ah gitu. Yaudah.” Sahut Mara.
“Pakai tanganmu saja. Tanganmu hangat.” Ujar Summer menutup wajahnya.
Mara terdiam sebentar. Kemudian mendekat perlahan-lahan ke sebelah Summer yang terbaring membelakanginya.
Mara membaringkan diri menghadap punggung Summer, tangannya pelan-pelan mendekat ke perut Summer. Kemudian masuk ke dalam pakaian itu dan menaruh telapak tangannya di perut Summer.
Summer tau saat kakinya dipijat, telapak tangan Mara hangat dan nyaman. Begitu pun di perutnya sekarang, suhunya pas sekali. Tangan Mara yang besar menutupi selurus perut Summer.
Mara berlatih bernafas dengan normal. Dia tahu betis Summer sangat lembut, tapi kenapa perutnya bisa lebih lembut lagi.
Mara yang memperbantal lengannya menatap punggung Summer kasihan. Badan kecil itu meringkuk karna kesakitan, jika seandainya rasa sakit itu bisa berpindah padanya.
“Kau tadi kemana?” Tanya Summer.
Kamar itu sangat hening, suara Summer yang lembut terdengar jadi sangat jelas, begitu pun nafasnya, begitu pun jantung Mara.
“Jenni mengirim pesan. Jika aku tak datang dia akan menyebarkan berita buruk tentangmu.” Sahut Mara pelan.
“Lalu?”
“Aku datang.”
“Lalu?”
“Dia ternyata bicara omong kosong. Harusnya aku tahu itu sedari awal. Maafkan aku.”
“Dia bilang apa memang?”
“Katanya kamu menggelapkan dana untuk membeli kapal.”
__ADS_1
“Khhrrrgghh.” Summer terkikik.
Bersambung…