Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Malam Tahun Baru


__ADS_3

Hari ini adalah malam sebelum tahun berganti, banyak hal yang terjadi tapi setidaknya pergantian tahun akan jadi hari yang tenang.


Kini rumah Summer terasa sangat ramai. Tapa bahkan telah menjalani upacara pendewasaannya dan kini ada di rumah Summer bersama dengan Mara, Rio, dan Nindi.


Malam itu mereka hanya bersenang-senang dengan letusan kembang api berturut-turut dan tawa mengiringinya. Sebentar lagi Summer juga akan bertambah umur tepat di tgl 1 Januari di tahun baru.


“Tante Ayu. Kenapa repot-repot bawa banyak makanan. Tapi terima kasih.” Ujar Summer ceria melihat Bu Ayu datang bersama dengan suaminya.


Dengan membawa masakan legendarinya di tangan Pak Bagas, membawa suka cita karena tidak ada yang tak suka masakan Bu Ayu.


Rio, Nindi dan Tapa terlihat bersenang-senang di sudut pekarangan dengan kembang api, dan di tengah pekarangan bakaran barbeque masih menyala. Meja dan kursi telihat cukup untuk 6 orang yang telah hadir. Tak perlu banyak dekorasi karna pekarangan Summer sudah indah sebagaimana adanya.


Nindi langsung mengambil piring untuk mencoba masakan Bu Ayu. Dia orang pertama yang membuka kotak makanan itu.


Ada menu Spageti, makaroni skutel, dan sayap ayam yang dibakar. Semuanya terlihat menggoda tapi mana yang harus dimakan dulu, Nindi bingung.


“Well aku bisa makan semuanya nanti.” Ujarnya menggoyangkan kepala. Makanan adalah kebahagiaan. Padahal dia baru saja makan barbeque dan mengeluh kekenyangan.


“Ummm! Bu Ayu enak banget! Aku bersyukur bisa makan masakan Bu Ayu tiap hari!” Ujar Nindi tersenyum dengan mulut penuh.


Bu Ayu mengernyit dahi sambil tersenyum.


Rio dari sudut sana yang bermain kembang api dengan para pria, akhirnya menghampiri Nindi yang terlihat memuji makasan Ibunya.


“Hmm setiap hari?” Tanya Bu Ayu mengumpulkan puzzle yang selama ini tidak dia susun, yaitu rahasia Rio selalu membawa masakannya bertemu teman yang tak tahu siapa.


Rio yang mendengar hal itu langsung kaget dan menutup mulut Nindi yang masih mengunyah makanan, membuat tangan Rio jadi geli. Segera dia tarik tangannya karena sikap itu membuat wajah orang tuanya semakin seram.


Bu Ayu dan Pak Bagas kini memandang Rio dengan tatapan menghakimi.


“Hehe udah datang Ma, Pa.” Ujarnya tersenyum kaku.


“Iya. Kan kamu liat pas Maman dateng tadi.” Sahut Bu Ayu ketus.


“Oh iya.” Rio semakin canggung.

__ADS_1


Namun hawa canggung itu tidak membuat Nindi terganggu, dia tetap menikmati dan mencoba menu lain yang dibawa Bu Ayu.


Mara dan Tapa akhirnya bergabung ke meja makan dan ikut menyicipi makanan yang dibawa Bu Ayu.


Tapa yang baru saja mencoba masakan manusia, masih mencoba menyesuaikan dengan kayanya rasa. Dia mencicipi dan hanya mencicipi.


Sikap yang sangat aneh, karna semua orang terlihat seperti monster berebut masakan Bu Ayu.


Membahagiakan bisa berkumpul dengan orang-orang terdekat di akhir tahun ini. Tidak terbayangkan hal ini akan terjadi karna tahun lalu Summer melewatinya dengan bekerja dan bekerja.


“Foto yuk!” Ujar Summer ingin mengabadikan kebahagiaan ini.


Rasanya seperti ketenangan sebelum badai.


*****


Di rumah lain kondisinya berbeda-beda.


Seperti saat ini Clara hanya sendiri dan tertidur di kamarnya. Praman tak tahu pergi kemana, sudah 3 hari dia tidak kembali ke rumah.


Baik dia ada di rumah baik tidak, tiada rasa yang mendingan. Di rumah pun Praman hanya diam tak berkomunikasi. Terkadang jika ada suara yang terdengar dari mulutnya hanya makian dan teriakan bersamaan dengan suara barang-barang yang dihancurkan.


*****


Di rumah Yura Wicaksono.


Yura, Harith dan Jenni yang sudah membaik kondisinya, mereka bersama makan di sebuah restoran yang telah dibooking Yura 2 bulan yang lalu untuk menyemangati putrinya.


Meskipun segalanya menjadi kaku karena Jenni sudah tak seceria dulu, namun kasih dan perhatian dari Yura dan Harith terus disalurkan.


Seperti saat ini adalah hari pertama Jenni berani keluar rumah setelah treatment di terapis beberapa bulan. Namun masih sangat hati-hati karena Jenni bak gelas di pinggir meja. Dengan sedikit gerakan, gelas itu bisa jatuh dan pecah.


Skandal tentang Jenni perlahan surut, namun kembalinya dia ke dunia entertainmet akan jadi hal yang mustahil. Belum tau apa yang akan dia lakukan untuk hidup, kekhawatiran itu membuat Jenni berkali-kali kambuh.


Dia bahkan sudah tak diberikan akses untuk membuka handphone, komputer ataupun TV demi kesembuhannya.

__ADS_1


Tepat di hari Jenni membuka matanya sadar di Rumah Sakit, setelah hampir mati dari obat yang dia minum. Dia masih berusaha ingin membunuh diri dengan memegang gunting.


Kala itu Harith yang berada di kamar Jenni tak tahu harus berbuat apa. Jika dia berlari memanggil dokter, dia takut saat dia berpaling sedikit Jenni akan berbuat khilaf lagi.


Jenni yang memegang gunting dengan tangan gemetar dan wajah ketakutan. Selang infus masih menempel di tangannya, sehingga tiang itu terjatuh karena gerakan Jenni yang menjauh.


Air matanya terus menetes dari dagu, bibirnya bergetar. Mata yang memandang Harith seperti ingin meminta maaf karena dia telah mengecewakan Ayahnya.


Harith dengan segala keraguan melangkah perlahan mendekati putrinya. Harith pun sama ketakutan dan panik. Didekatinya putrinya yang terus menangis tanpa mengatakan apapun. Harith melemah dia berlutut di depan Jenni. Menangis tanpa suara, namun menyapu air matanya.


“Jenni. Papa takut. Maafin Papa.” Ujarnya sambil menunduk.


“Papa memang bodoh. Bahkan saat ini pun Papa tidak tahu harus apa agar tidak kehilangan putri Papa.” Harith dengan suaranya yang bergetar akhirnya meluapkan isak tangis dan menatap Jenni yang berdiri membeku dengan rambut panjang menutupi wajahnya.


“Jenni. Kamu tau kan Papa sayang kamu. Tolong Jenni. Papa memang egois. Papa minta ini karena telah takut. Papa tidak bisa hidup jika putri Papa memutuskan untuk mati. Tolong maafin Papa. Tolong jangan begini.” Ujarnya memohon namun Jenni masih terus menunduk.


“Tidak apa-apa begini. Papa masih ada di sini bersama mu. Tidak apa-apa semua orang tidak mengerti kamu. Papa yang akan mengerti. Percaya sama Papa nak.” Harith memohon dengan putus asa.


Dia takut jika semua perasaan yang dia ungkapkan tetap membuat Jenni tak merubah pikirannya.


Tangan Jenni melemah, gunting yang ditangannya kini terjatuh ke lantai. Harith langsung berdiri berlari mendekap putrinya.


“Maafin Papa.” Ujarnya mengelus kepala Jenni yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya di balik rambut panjang.


Jenni perlahan mengeluarkan suara yang bergetar dan menangis hebat. Harith menyadari sebagian dari yang dialami Jenni bisa jadi karena dia yang tahu cara membantu putrinya.


Selagi putrinya terus menangis membasahi kemeja Harith, Yura masuk bersama dokter.


“Tak apa.” Ujar Harith pada Yura yang terlihat khawatir dan takut.


Dari saat itu, Harith lebih banyak berusaha menutup mulut semua media dengan usahanya. Dan memberi perhatian lebih pada Jenni dari pada biasanya. Begitu pun Yura yang berbicara jadi lebih lembut dan menurunkan nadanya yang selalu tinggi saat berbicara. Dari situ Jenni merasa dia masih disayangi, perlahan dia membuka hati untuk memberi dirinya kesempatan hidup.


*****


Keesokan harinya Nindi pulang dengan diantarkan oleh Rio seperti biasa. Namun Rio tak bisa mampir karena Bu Ayu dan Pak Bagas telah menyuruhnya pulang pagi jika ingin menginap di rumah Summer malamnya.

__ADS_1


Nindi naik ke kamar kosannya yang berada di lantai 2. Kakinya tiba-tiba berhenti melangkah melihat Clara berdiri di depan pintu kamarnya.


Bersambung…


__ADS_2