
Mara menelisik sekeliling mereka, dan dia menemukan sosok Uma muncul.
Summer mengikuti Mata Mara, dan dapat dilihatnya Seorang wanita yang perlahan-lahan muncul wajahnya. Ada mahkota di atas kepalanya, rambutnya putih lurus dan matanya terang. Wanita itu sangat cantik menandingi kecantikan semua wanita yang pernah dilihatnya. Matanya yang tajam yang tadinya berwarna kuning terang berganti menjadi hitam. Lehernya jenjang dan pakaiannya terlihat indah. Kulitnya putih bersinar.
Perlahan-lahan di belakangnya juga muncul seorang pria bertubuh gagah dan besar, rambut ikal hitam panjang. Di kepalanya terdapat perhiasan, di wajahnya ada beberapa bekas luka. Dada dan pergelangan tangannya dibalut armor. Tangannya menggenggam sebuah tombak garpu 3 jari berwarna emas.
Dibelakang pria itu kemudian muncul seorang Merman berambut coklat dengan tombak putih di tangannya kirinya, dan Rita di gendong dengan tangan kanannya.
Kemunculan mereka membuat Summer tertegun dan terhipnotis.
Setelah Uma memastikan ada Mara di kapal itu, dia kemudian menyelam kembali untuk mendekat.
Summer yang melihat sekilas wajah ibunya di gendong di belakang rasanya ingin langsung meloncat ke laut menghampiri. Diremasnya jaketnya karna sudah tak sabar.
Sesaat setelah Uma menyentuh belakang kapal dan yang lain pun begitu. Summer langsung berlari turun . Mereka menaruh Rita untuk duduk di deck belakang kapal.
Rita mengesot tak sabar menghampiri anaknya. Summer dengan tangannya yang hendak memeluk dan air mata yang berjatuhan berlari tersungkur dan langsung mendekap ibunya.
“Ahhhhh anak Mama!! Haaaaahhh!” Teriak Rita menangis menerima dekapan putrinya yang putus asa.
Summer menangis seperti anak kecil, memeluk ibunya yang hanya bisa duduk menyamping. Dia sudah tak bisa mengeluarkan kata-kata apa pun selain erangan tangis sekuat tenaga.
Selama beberapa menit mereka hanya mengangis dan menangis, mendekap erat sosok yang tadinya tak mungkin dijumpai. Rasa rindu yang menumpuk memeluk foto di setiap tidur selama lebih dari setahun.
“Mm…maa…maa!!” Akhirnya Summer memanggil mamanya dengan suara sesenggukan.
“Anak mama yang malang. Haaaa anak mama… Iya sayang ini Mama. Ini mama.” Rita mengelus kepala putrinya berkali-kali.
“Maafkan mama tidak bersamamu selama ini. Anak mama pasti menderita hidup sendiri. Haaaahhh sayang mama.”
Kata-kata Rita membuat Summer semakin memeras habis air matanya. Tentu rasa sakit fisik dan sendiri juga dirasakan ibunya. Namun penderitaan putrinya yang pertama dia pikirkan.
“Coba sini liat mama.” Ujar Rita menarik wajah putrinya.
Diperhatikannya semua wajah putrinya yang terlihat lebih tirus. Dielusnya pipi yang memerah karna dingin dan tangisan. Bibir dan dagunya masih bergetar sambil menyentuh semua bagian wajah Summer. Dilihatnya dari atas sampe bawah, memeriksa apa putrinya baik-baik saja.
Summer sesenggukan sambil melihat ibunya dari rambut sampai ekornya. Di sentuhnya ekor hijau yang mengkerut itu. Bersisik dan berkilau namun tak sempurna. Sambil menunduk, air mata Summer kembali mengalir melihat ekor yang kini cacat itu.
“Gapapa. Mama gapapa.” Ujar Rita manarik wajah putrinya dan menyapu air mata yang mengalir terus itu.
Summer kembali menangis kencang dengan wajah berhadapan dengan wajah ibunya.
“Pasti sakit Maaaaaa. Kau pasti menderita…”
Rita kembali memeluk putrinya, hatinya terasa sangat sakit karna ekornya tak bisa dia sembunyikan agar tak membuat putrinya khawatir. Jika bisa semua sakit yang dia rasakan, cukup dia yang merasakan.
Sedang Uma, Appa dan Bima yang ternyata adalah Puta teman Mara, mereka tetap di air hanya diam memperhatikan.
“Tolong duduk di sini saja.” Ujar Summer agar mereka tak terus di air.
“Ehem.” Appa mendehem kemudian mengangkat badannya ke atas deck belakang kapal yang terkena air laut karna cukup rendah. Terlihat ekornya yang besar berwarna biru gelap dan sirip yang lebar. Tubuhnya sungguh besar, bisa ditebak tubuh itulah yang menurun ke Mara.
Uma ikut duduk dibantu Appa dan Tapa.
__ADS_1
Uma dengan ekornya yang putih seperti rambutnya, berkilauan seperti perhiasan dan sangat indah helaian ujung ekornya, dia duduk dengan anggun.
“Terima kasih tante…” belum berhenti Summer bicara, Mara memegang tangannya lalu berbisik. “Uma, Appa, Tapa.”
“Ah maaf. Terima kasih Uma, Appa, Tapa.” Ujar Summer menatap mereka satu persatu sambil menunduk memberi hormat.
Summer tak bisa melepas pandangannya dari Uma yang sangat anggun dan indah.
“Ah kenapa Uma bisa secantik ini.” Ujarnya canggung.
Uma hanya tersenyum. Mara mendekati dengan sebox besar sushi di tangannya.
“Summer membawa ini untuk Uma dan Appa. Ini kesukaanku, cobalah.” Ujar Mara menyodorkan pada mereka.
Uma dan Appa tersenyum melihat penampilan anak mereka yang berjalan dengan kaki.
“Anakku memang tampan.” Ujar Appa bangga.
“Aku akan mengajak orang tuaku bicara, pakai waktumu untuk mengobrol dengan Bu Rita.” Ujar Mara perhatian.
Summer tersenyum betapa pengertiannya Mara.
Appa mencoba satu sushi itu, dan sepertinya menikmatinya. Kini Summer bisa lihat selera makan Mara turun dari siapa.
Malam itu Summer dan ibunya banyak bercerita dan melepas rindu mereka dengan terus berpegangan tangan.
Rita menceritakan bagaimana dia bertemu dengan Rudi. Rita hanya seorang mermaid yang penasaran akan daratan.
Bertemu dengan seorang penjahit yang memberinya sendal dan makanan. Mulanya seperti itu sampai mereka terus bersama dan memiliki Summer.
Rita juga meminta maaf tak bisa menemui Summer karna ekornya sudah tak bisa berubah menjadi kaki.
“Kamu cepat sekali dewasa, nak.” Ujar Rita mengelus wajah putrinya.
“Mama akan lebih terkejut jika tau aku sekarang duduk di kursi CEO.”
“Apa?” Rita langsung kaget.
“Iya. Aku bertarung dengan Om Praman.” Ujarnya tersenyum masam.
“Summer.” Ujar Rita menatap mata putrinya.
Rita melepas tali kantung yang melingkar dipinggangnya. Rita menyerahkan kantung itu pada Summer.
*****
Sebelum Rita berangkat, buni tiba-tiba memberikan sebuah sd card yang katanya ada di mulut Rita saat pertama dia dibawa ke rumah Buni.
Itulah isi dari kantong tersebut.
*****
“Bagaimana ini.” Ujar Rita khawatir.
“Kenapa Ma?”
“Kau harus berhati-hati pada Praman.” Rita berbicara sangat serius sambil memegang kedua tangan putrinya.
__ADS_1
“Aku tau ma. Keluarga Om Praman dan tante Yura.” Sahut Summer tak kaget.
“Oh anak mama.” Rita memeluk anaknya yang malang. Yang harus berhadapan dengan para iblis di sekitarnya.
“Itu sd card dari kamera black box mobil saat terjadi kecelakaan.”
“Ma. Saat itu aku juga kecelakaan.” Ujar Summer.
Rita terkejut tak tahu menahu sama sekali.
“Aku ditolong oleh Mara. Saat itulah kami saling mengenal. Lalu aku ditemukan oleh Pak Bagas. Aku langsung ke pemakaman Papa.”
Sekali lagi Rita menatap wajah putrinya yang sudah menghadapi banyak hal sendirian.
“Ma. Aku itu wanita yang kuat. Mama gak perlu khawatir. Aku ini seorang Ketua di Summer Sea.” Summer tidak ingin sedih mengkhawatirkannya.
“Tentu. Great job my little angel.” Ujar Rita memuji namun di lubuk hatinya dia tahu, putrinya hanya ingin terlihat kuat.
Waktu terlalu cepat berjalan. Mereka belum puas bercengkrama, namun sebentar lagi akan subuh.
Mau tak mau mereka harus berpisah dan kembali ke tempat mereka masing-masing.
Tangan yang digenggam erat oleh sangat berat untuk dilepaskan. Rita terus mengelus wajah putrinya.
“Terima kasih untuk tetap hidup ma. Aku sekarang bisa berkunjung kapan pun.” Ujar Summer tersenyum hangat.
“Kedepannya tolong bawa burger double meat ya.” Hibur Rita.
“Tentu.” Ujar Summer tertawa.
Sambil bercengkrama Uma, Appa dan Tapa sepertinya menikmati makan sushi sampai habis tak bersisa. Rasa syukur Summer tak terungkapkan dalam bahasa, dia hanya bisa terus berterima kasih. Jika saja ada yang bisa dia lakukan untuk membalas kebaikan mereka.
“Kedepannya aku akan meminta Bima mengantarkan ibumu jika ingin bertemu.” Ujar Uma tersenyum.
Mara menerjemahkan bahasa kulum tersebut pada Summer.
Summer menyahut dengan senyuman dan berterima kasih sambil membungkuk.
Tappa menggendong Rita kembali, dan kini mereka semua berada di air untuk memberi salam akan pergi.
Summer melambaikan tangannya dengan mata berkaca-kaca dan bibir tersenyum.
Uma berbalik dan menyelam mengepakkan ekornya dan menghilang diikuti Appa, Tapa dan Rita.
Saat itu sudah pukul 5 dini hari, sebentar lagi matahari akan muncul. Summer masih berdiri di tempat dia melambaikan tangan. Dia menelisik jauh ke dalam air yang tak terlihat, seraya berdoa dalam hati agar ibunya diberi perlindungan selalu.
Mara menggenggam tangan Summer dan tersenyum. Mengajaknya untuk kembali ke rumah.
“Tidurlah, aku yang akan jadi nakhoda!” Ujarnya cengengesan dengan tangan dipinggang.
Summer terseyum dan tiba-tiba memeluk Mara. Karena dia pendek, dia hanya bisa meraih pinggang Mara.
Mara juga senang karena Summer bahagia. Dielusnya punggung kecil Summer.
“Baiklah. Aku percayakan padamu! Bapak Nakhoda.” Ujar Summer memberi hormat dan tertawa.
Mara terbahak-bahak seperti pria tua.
__ADS_1
Summer kemudian masuk ke kamar. Dari ujung laut terlihat matahari mulai mengintip, cahanya menyebar berwarna jingga dan langit menjadi sangat indah. Summer tersenyum dan membiarkan jendelanya terbuka agar tidur dengan cahaya matahari terbit.
Bersambung…