
“Ketua baik-baik saja?” Pak Bagas panik melihat tangan Summer yang meneteskan darah saat membuka surat yang dia ambil dari buket bunga.
Pak Bagas kemudian dengan sigap mengambil kotak P3K.
“Oh tidak! Darahnya kena dokumen.” Summer panik. Dia merasa sudah secepat mungkin menjauhkan tangannya yang terluka dari meja, namun ternyata sempat juga mengenai dokumen yang sedang dia kerjakan.
“Itu gak penting! Tangan kamu terluka itu yang penting.” Pak Bagas berbicara dengan nada tinggi.
“Bisa-bisanya kamu mikirin dokumen.” Pak Bagas lanjut mengomel.
Melihat itu Summer tersenyum. Pak Bagas benar-benar memperlakukan Summer seperti anaknya. Namun tak mengurangi rasa hormatnya pada Summer sebagai ketua. Summer mungkin tak tau akan jadi apa sekarang ini jika bukan karna bantuan Pak Bagas.
“Sudah. Kedepannya jangan terima bunga lagi.” Pak Bagas masih mendumel seraya membereskan kotak P3K dan menyimpannya.
“Ah sayang sekali. Padahal bunganya bagus.” Ujar Summer memperhatikan bunga hortensia biru yang dia terima pagi ini dari satpam.
Mendengar respon Summer, Pak Bagas langsung menatapnya tajam.
“Baiklah baiklah.” Sahut Summer.
Pak Bagas langsung mengambil bunga itu kemudian membuangnya ke tempat sampah dengan emosi. Matanya pun tertuju pada bunga tulip yang tertenggeng di vas bunga di meja Summer.
Sontak Summer mengambil bunga itu dan memeluknya.
“Yang ini jangan. Aku suka bunga lili! Dan lagi yang memberi ini orang yang berbeda!” Ujarnya melindungi bunga itu.
Pak Bagas menghela nafas “Mereka bisa saja membayar orang yang berbeda beda.” Ujarnya tak habis pikir. Pak Bagas lalu keluar dari ruangan Summer untuk menenangkan diri.
“Seram sekali kalo marah.” Gumam Summer menaruh kembali bunganya di meja.
*****
“Kali ini jangan lupa beri surat.” Ujar Bu Rani.
Tentu saja dia tidak lupa. Semalaman Mara memikirkan apa yang harus dia tulis sampai tak bisa tidur. Entah berapa banyak sampah kertas diremas yang dia buang pagi ini.
Mara ingin terus berusaha sampai dia bisa bertemu wanita yang terus ada di pikirannya itu. Jarak dan waktu adalah hal yang patut dia lewati.
“Ketua sudah tidak terima bunga lagi.” Ujar Satpam ketus.
“Kenapa?” Tanya Mara bingung.
“Entahlah.” Sahut Satpam itu cuek.
Mara harus kembali lagi dengan tangan kosong. Tangan yang benar-benar kosong. Dia sudah tidak mood untuk nongkrong seperti yang dia lakukan sebelumnya.
Dia membuka hpnya, pantulan cahaya terang di waktu menjelang siang itu membuatnya harus menutupi sebagian layar handphonenya dan melihat dengan mata yang disipitkan.
__ADS_1
Mara memeriksa chat yang dia kirim di akun instogran Summer dari 10 hari yang lalu. Belum juga dibaca apalagi direspon.
*****
“Summer. Tanganmu kenapa?” Tanya Yura melihat jari-jari Summer dibaluti perban putih tipis. Pagi itu Yura Wicaksono datang dengan alasan ingin berkunjung ke kantor ponakannya itu.
Dengan anggun Yura memegang kuping cangkir dan lapik. Dia menghirup lalu meminum teh yang dibuatkan Pak Bagas tersebut, namun matanya tak lekang dari Summer. Ketika diletakkannya cangkir itu, bekas lipstiknya yang berwarna merah itu telah menempel di pinggir cangkir.
“Ah gak apa apa tante.” Sahut Summer tak nyaman.
“Gak apa-apa gimana! Luka-luka begitu. Tante dengar kamu sering diusili ya.” Tanya Yura dengan wajah berusaha perhatian.
Summer sempat kaget, selain dia dan Pak Bagas, tak ada yang tahu kejadian-kejadian itu.
“Tante tahu dari mana?” Tanya Summer instan.
“Tante dengar desas desus begitu.” Sahut Yura tenang.
“Ah… begitulah Tan.” Sahut Summer semakin tak nyaman.
“Ini gak bisa dibiarin. Kamu harus sewa bodyguard secepatnya!” Yura memberi saran yang sepertinya mutlak harus dilakukan.
“Aku akan urus masalah itu sendiri Tan.” Sahut Summer.
“Tentu tante harus bantu. Tante kenal beberapa perusahaan yang menghasilkan bodyguard yang bagus.” Yura menekankan dia ingin ikut campur dalam masalah memilih bodyguard.
“Aku akan kabari Tante nanti. Ah iya sebentar lagi aku mau ada pertemuan Tan, aku lanjut kerja gapapa kan Tan?” Ujar Summer agar menilik arlojinya, tentu Summer ingin pembicaraan ini cepat selesai.
“Terima kasih tante.” Ujar Summer mengantarkan Yura keluar kantornya.
“Haahhhhhhh… perasaan gak nyaman ini.” Keluh Summer.
Pak Bagas langsung menghampiri Summer setelah melihat ekspresi wajahnya.
“Dia tahu ada yang menjahiliku.” Ujar Summer langsung bicara.
“Dia pasti bilang tahu dari gosip.” Sambung Pak Bagas.
“Betul.” Sahut Summer curiga. Dia bingung,
apa semua keluarganya harus dia curigai?
“Katanya dia ingin menyewa sendiri bodyguard untukku” sambung Summer memijit kepalanya yang sangat pusing karna kebingungan ini.
*****
“Coba lagi nanti.” Ujar Wawan menepuk punggung Mara yang terlihat muram karna lagi-lagi tak bisa bertemu Summer.
__ADS_1
“Eh apa ini? Cepat-cepat sini!” Bu Rani tiba-tiba menepuk meja.
Wawan mendekati istrinya dan ikut membaca apa yang dibaca istrinya.
“Summer Sea membuka lowongan Bodyguard.” Ujar Bu Rani.
“Apa itu bodyguard?” Tanya Mara tak mengerti.
“Bima.” Sahut Wawan simpel.
“Kamu menjaga keselamatan Summer. Jadi 24 jam kamu akan terus menjaga Summer.” Ujar Bu Rani.
“Benarkah? Itu adalah cita-citaku!” Sahut Mara girang langsung melompat ke arah Bu Rani karna ingin ikut membaca.
“Summer Sea akan melakukan pelatihan selama seminggu untuk orang yang mendaftar. Kekuatan fisik yang terbaik yang akan diterima.” Baca Bu Rani dengan lantang.
Bu Rani dan Wawan menatap wajah Mara, kesempatan ini tidak akan datang dua kali. Mereka tahu benar kekuatan Mara luar bisa karna gelas mereka banyak yang pecah dengan Mara hanya menggenggamnya.
Bi Rani dan Wawan serentak menganggukkan kepala. Mara melihat dukungan dari mata suami istri itu, dia kemudian ikut mengangguk dengan mata semangat membara.
“Akhirnya ada kesempatan!” Teriak Mara mengangkat tangannya sambil melompat-lompat.
Bu Rani dan Wawan ikut melompat-lompat, kini mereka bertiga bersamaan berlompat sambil berpegangan tangan.
*****
“Kita buat iklan lowongan secepatnya sebelum Tante Yura menyewa bodyguard dari perusahaan lain yang bisa dibayar untuk memata-mataiku. Aku punya firasat buruk” Ujar Summer memutar otak.
“Mereka kemungkinan bisa mencari pria yang dikenal paling kuat.” Sahut Pak Bagas.
“Tentu. Namun akan sedikit kemungkinannya karna mereka akan tercampur. Menurutku dengan gaji yang aku tawarkan, semua orang kuat juga akan ikut mendaftar.” Sahut Summer.
“Baiklah.” Sahut Pak Bagas.
*****
“Cari pria yang paling kuat!” Perintah Yura pada bawahannya. Persis seperti yang ditebak oleh Summer dan Pak Bagas.
“Anak ini benar-benar bernyali juga ya.” Ketus Yura bicara sendiri dengan senyum dinginnya.
*****
Sedangkan Mara sudah menghitung jam saja menanti tanggal yang ditentukan untuknya mendaftar bekerja di Summer Sea.
“Dua minggu itu tidak lama lagi. Beberapa jam lagi saja sudah hari baru.” Ujarnya tersenyum.
Mara mendusel wajahnya ke bantal bersarung warna putih itu, lalu tertidur.
__ADS_1
Malam itu dia tidur sambil tersenyum.
Bersambung…