
Sara tak menyahut namun raut wajahnya terlihat berpikir. Sepanjang perjalanan dia menebak sendiri apa yang dia dengar dari pikiran pria paruh baya yang menyapa Summer tadi. Ini adalah hal yang harus dia bahas pada Summer. Karena pria itu terlihat membenci dibalik senyuman topeng.
Saat sudah di restoran dan mereka duduk satu meja, Sara merasa itu saat yang tepat untuk membahas yang dia pikirkan. Sembari Summer memilih menu yang dia ingin makan siang ini. Sara beberapa kali ingin berbicara namun dipotong oleh waiters yang mengantarkan makanan mereka.
“Pria tua tadi. Dia bilang akan menyingkirkan Bagas.” Ujar Sara langsung pada intinya, sedari tadi tak sabar menunggu pelayan berhenti bolak balik.
Sendok yang di tangan Summer langsung terjatuh. Summer dan Mara saling bertatapan, mereka tahu betul Praman adalah orang yang sangat sanggup melakukan itu.
Kebetulan hari itu pak Bagas ditugaskan keluar kota untuk bertemu klien menggantikannya, karena Summer sangat ingin campur tangan langsung dalam proyek perilisan produk baru Summer Sea. Dia ingin ada secara langsung ikut serta dari detail awal sampai akhir.
Terlebih, adalah hal biasa Pak Bagas menggantikan Summer untuk menemui beberapa klien yang tidak terlalu bawel.
Namun bukan berarti dia ingin kesempatan ini dipakai Praman untuk menyakitinya.
“Apa lagi yang kau dengar?” Tanya Mara ingin tahu lebih detail.
“Dia tertawa saja, setelah bilang akan menyingkirkan Bagas” Sahut Sara.
Summer sontak mengambil handphonenya menelpon Pak Bagas untuk menanyakan keadaannya.
Praman tahu betul kalau kunci dari kesuksesan Summer adalah banyaknya dari bantuan Pak Bagas, pria yang sedari awal sudah bersama Rudi Wicaksono saat pertama kali memulai usahanya. Dan Pak Bagas adalah orang penting yang sudah dianggap ayah oleh Summer.
Pikiran Summer kalut dan takut jika dia adalah penyebab semua orang jadi terluka. Dia tak akan bisa bicara pada Rio dan Bu Ayu jika Pak Bagas kenapa-napa.
“Pak Bagas itu sekretarisnya Summer.” Ujar Tapa menjelaskan sikap Summer.
Summer semakin tegang karena Pak Bagas sama sekali tak bisa dihubungi berkali-kali. Terus mengulang menelpon namun hasilnya tetap sama.
Tak jadi makan siang, Mara dan Sara akhirnya langsung ke kantor untuk bisa menghubungi perusahaan yang punya janji bertemu dengan Pak Bagas.
“Kalian lanjut makan saja.” Ujar Mara pada adiknya dan Tapa.
Summer berlari sampai tak peduli lampu lalu lintas masih hijau. Mara memelototi para pengendara menyebabkan siapapun tidak bisa bergerak dan menjalankan kendaraannya. Semua terpaku karena kekuatan mata Mara.
Ini kedua kalinya dia menggunakan kekuatannya itu, sebelumnya pada reporter.
Jika di lautan Appa dan Mara bisa menghentikan gerakan semua hewan predator dengan matanya. Namun kini Mara memakai kekuatan itu untuk menghentikan manusia.
“Hello. Can i talk to Mr. Raynolt?”
Ujar Summer langsung menelpon sendiri perusahaan kliennya dengan telpon kantor.
“I’m afraid you can’t Miss, Mr.Raynolt had an appointment right now with your secretary.” Sahut suara wanita dari telepon kantor itu.
__ADS_1
“Oh. Thank you.”
Summer menilik jamnya, menandakan janji temu Pak Bagas sedang berlangsung.
Mara berusaha menenangkan Summer yang terus mengetuk-ngetuk jarinya ke meja karena panik.
“Gak apa apa. Tenanglah.” Ujarnya memeluk Summer.
Tubuh Summer terasa panas dingin, dia merasa bersalah tidak menyelesaikan semua masalah dengan Praman buru-buru. Menyebabkan korban baru bisa saja muncul tanpa disadari. Baru semalam Sara hampir disakiti, kini Pak Bagas.
Sepertinya Praman tidak akan berhenti sebelum semua yang Summer punya hilang.
“Tolong telpon pak Bagas 30 menit lagi.” Pintanya pada Mara lalu berjalan ke luar ruangannya.
“Kemana Ketua?” Tanya Mara.
“Aku harus memulai perang.” Sahutnya bergegas.
Mara langsung ikut membuntuti, perkataan Summer jelas berbahaya dan sangat pasti dia perlu dikawal.
Summer berjalan dan berhenti di depan ruangan Harith. Di lantai yang sama dengan Praman.
Summer menatap sekretaris yang hampir menghalaunya untuk masuk padahal dia adalah CEO perusahaan. Namun kembali sadar dia tidak akan bisa menghentikan Summer, akhirnya dia membukakan pintu.
“Ada apa tiba-tiba datang Ketua?” Ujarnya tanpa berdiri dari kursinya. Dengan proporsi duduk arogan, mata yang tak menghormati sama sekali.
“Aku akan langsung ke intinya.” Ujar Summer kemudian duduk menyilang kaki di sofa.
Harith akhirnya berdiri dan ikut duduk bersebrangan dengan Summer.
Summer melemparkan sebuah map berisi dokumen ke meja tepat di depan Harith.
“Kau bisa datang padaku jika sudah membaca dokumen itu.” Ujar Summer singkat lalu berdiri dan pergi meninggalkan ruangan.
Harith mengambil map itu dan mengeluarkan isinya. Disitu tertera bukti transaksi dan bukti chat antara seseorang dengan reporter. Dapat dilihat juga orang yang berbicara pada reporter adalah pihak ke-tiga. Dan pihak ke-tiga itu adalah sekretaris Praman Wicaksono.
Teng!!! Kepala Harith serasa dipukul palu raksasa. Dia membaca dokumen itu berkali-kali karena tak ingin menyimpulkan semuanya dengan singkat. Semakin dia baca semakin kuat bukti bahwa Praman, orang yang sama sekali tak terpikirkanlah yang sengaja menyebarkan info skandal putrinya.
Kini semua terasa masuk akal, dia bisa menyimpulkan bahwa Praman ingin menutupi kasus anaknya dengan memakai Jenni.
Jika diingat lagi apa yang telah keluarganya hadapi selama Jenni depresi dan bunuh diri berkali-kali. Dikecam publik hingga kini. Karir yang sudah putus tak bersisa. Untuk membawa di putrinya keluar rumah saja pun tidak bisa bebas.
Padahal selama ini dikiranya Praman adalah penyelamat yang mengerti kondisinya. Yang akan terus bersama halnya karena Harith sangat setia dan menurut. Namun ternyata dia hanyalah alat bagi Praman, alat yang dipakai tepat saat dibutuhkan.
__ADS_1
Seandainya Praman menggunakan dirinya sebagai senjata mungkin dia bisa terima, namun kenyataan dimana keluarganya diikut campurkan, membuat Harith sangat geram.
Harith rasanya sangat marah, kebodohan membawanya sampai di tahap tak sadar ada serigala berbulu domba. Rasa bersalah pada putrinya semakin melonjak, andai saja dia bisa berpikir jernih saat itu.
Harith kemudian langsung pulang ke rumah tak peduli dengan kerjaan menumpuk atau pun kerjaan urgent. Rasanya sangat ingin memeluk putrinya.
*****
Setelah kembali ke ruangan kerjanya lagi, Summer mencoba menelpon Pak Bagas lagi, dengan harapan kali ini harus diangkat.
“Halo, Ketua. Aku baru selesai meeting. Semuanya lancar sesuai perjanjian awal.” Sahut Pak Bagas dari telpon. Akhirnya Summer dan Mara bisa bernafas lega.
“Pak Bagas akan langsung pulang atau menginap di sana?”
“Aku akan langsung pulang. Sekarang aku sedang menuju ke bandara.”
“Tolong hati-hati.”
“Baiklah.”
“Aku serius.”
“Ba…”
Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras. Jantung Summer terhenti, matanya bergetar perlahan memandang ke arah Mara.
“Pak Bagas! Pak Bagas!” Teriaknya memanggil.
Namun hanya suara jalanan riuh dan klakson yang terus mendengung. Summer langsung berlari turun sambil menelpon Damar agar segera mengantarnya ke bandara.
*****
“Tolong percepat!” Ujar Summer pada Damar.
Mara yang ada di sebelah Summer terus memegang tangannya, karena jika tidak Summer akan terus mengigiti kukunya sampai berdarah.
Dia ingin segera sampai di bandara, dan tak peduli naik pesawat apa yang penting cepat bertemu Pak Bagas.
Tiba-tiba terdengar suara telpon dari ponsel Summer.
“Pak Bagas? Halo!” Ujarnya setelah langsung mengangkat.
Bersambung…
__ADS_1