Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Clara


__ADS_3

Clara menatap putrinya yang terlihat baik-baik saja sedangkan dia hidup kacau.


“Kenapa tak mengabari datang ke kosanku.” Ujar Jenni memasukkan kunci untuk membuka pintu.


Jenni masuk tanpa mengajak ibunya lalu duduk dan mengeluarkan isi tasnya untuk mengisi barang lain.


Clara membuka heelsnya dan masuk perlahan memandangi kamar studio kecil yang hanya ada kasur, dapur sempit dan TV tabung kecil.


Dengan menyandang tas mahal di bahu kirinya, Clara memperhatikan segala kesederhanaan hidup putrinya.


Namun wajah Nindi tak terlihat kurusan, pipinya semakin tembem. Rambut lurusnya masih dipanjang yang sama se-ketiak seperti saat dia meninggalkan rumah, namun terlihat lebih kasar. Kulitnya yang tadi putih kini terlihat lebih Tan. Di wajahnya juga ada beberapa jerawat yang bernaung.


Clara sendiri masih berdiri karena tak tahu harus duduk dimana.


“Duduk di kasur saja.” Ujar Nindi.


Kasur itu terlihat kecil dan tipis, tak perlu dibahas warna sprei yang sudah lusuh. Nindi tak mempedulikan wajah ibunya yang menilai satu persatu barang yanga ada di kamarnya.


“Bagaimana kau hidup di sini?” Ujar Clara tetap berdiri.


“Ya Mama liat aku masih hidup aja. Berat badanku juga bertambah.” Ujarnya menyahut sambil memasukkan air minum ke tasnya.


“Aku mau mandi. Mama ada apa ke sini?” Ujarnya menaruh handuk di bahu.


“Kenapa gak tinggal di rumah?” Tanya Clara.


“Mama betah di sana?”


Clara hanya menjawab dengan diam, Nindi bisa menilai ibunya juga mengalami hal berat akhir-akhir ini.


“Cuma itu yang mau ditanya?” Tanya Nindi karena ingin bergegas mandi.


Clara sendiri bingung ingin berbicara apa, dia hanya berdiri di tempat yang sama.


“Ayo kita pergi jalan-jalan.” Ujar Clara pada Nindi.


Nindi yang sudah keluar rumah karena kamar mandi berada di luar kamarnya, menoleh ke ibunya.


“Aku ada janji hari ini.” Sahutnya.


“Janji apa? Penting banget? Mau kemana?”


“Jenguk Richard.” Sahut Nindi dengan wajah dingin lalu berjalan ke kamar mandi dengan peralatan mandi di tangannya.


Saat Nindi kembali ke kamarnya, Clara sudah tidak ada. Dia bersiap, mengunci pintu lalu turun.


“Ayo naik.” Tiba-tiba Clara memanggil dari dalam mobil di pinggir jalan saat Nindi berjalan ke halte bus.


“Ah jadi dia cuma risih aja menunggu di kosanku.” Gumam Nindi dalam hati.


Nindi masuk ke dalam mobil, seharusnya jadi hal baik jika seorang ibu menjenguk anaknya. Hanya saja, sejak Richard masuk Rumah sakit sampai beberapa bulan di sel, ini pertama kalinya Clara datang melihat. Apa Richard akan marah?


*****


“Hei!” Sapa Richard memasuki ruang besuk diantarkan satu petugas dengan tangan diborgol.


Sebelum-sebelumnya, Richard tidak boleh masuk ke ruang besuk karena jejak kriminalnya. Dia hanya bertemu Nindi di ruangan dengan pembatas antara penjenguk dan tahanan. Hal tersebut tak memungkinkan Nindi dan Richard bisa makan bersama.


Untuk beberapa bulan karena Richard bersikap baik, Nindi terus memohon pada petugas kepolisian agar mengijinkan abangnya di ruang besuk agar mereka bisa makan bersama. Keinginan Nindi dikabulkan namun Richard harus diborgol jika masuk ke ruang besuk tanpa penghalang.

__ADS_1


Mimik wajah Richard seketika berubah dari ceria menjadi dingin, melihat ada Clara di belakang Nindi. Dia langsung berbalik ingin kembali ke selnya.


“Richard. Aku bawa makanan, hari ini tahun baru. Bisa kamu mengalah sekali ini saja?” Ujar Nindi berharap Richard tak meninggalkannya.


Richard dilema, dia sangat senang tahun barunya ada Nindi namun kenapa Clara ikut bersamanya. Dari cara Nindi yang merasa terganggu juga, pasti Clara lah yang berinisiatif ingin ikut.


Dia cukup lama berdiri mengambil keputusan, hingga akhirnya berbalik dan duduk di depan Nindi.


“Makanan apa?” Ujarnya seperti tak menganggap ada Clara di sana.


“Udah aku bilang, kalo aku gajian aku akan traktir makanan enak!” Nindi tersenyum ceria.


Dibukanya bungkus makanan yang isinya nasi padang, terlihat sangat menggiurkan. Nindi mengangkat tempat makanan itu lalu diangkat memutar di depan wajah Rio seperti memberi sesajen, dan mereka akhirnya tertawa.


“Enak sih kayaknya.” Ujar Richard mengangkat satu alisnya.


“Kak tolong suapin aku. Cepat bilang begitu.” Ujar Nindi sombong.


Richard mengangkat tangannya dan menjitak kepala adiknya.


“Aw! Kok gitu? Yaudah gak boleh makan.” Nindi kesal dijitak, ditariknya makanan itu dari depan Richard.


“Kak tolong suapin aku.” Ujar Richard mengalah sambil kegelian mengatakannya.


“Nah gitu!” Kini Nindi merasa menang dan menyuapi kakaknya.


“Aku beli 3.” Ujar Nindi pada Ibunya yang terus berdiri canggung di belakangnya.


“Ah tak perlu.” Sahut Clara.


“Keliatan terlalu berminyak ya. Mama pasti gak suka.” Sindir Nindi.


Clara duduk di samping Nindi dan mengambil satu kotak nasi untuk memakannya. Kini mereka jadi terlihat seperti makan bersama.


Clara dengan cara makannya yang anggun dan pemilih. Menyingkirkan potongan lemak dan masakan yang terlalu berminyak. Dia hanya diam sepanjang mereka makan bersama sampai selesai.


“Kenyang bos?” Sindir Nindi pada kakaknya setelah duduk seperti orang kekenyangan.


“Iya nih.” Sahut Richard semakin bossy.


“Kalian terlihat akrab dan baik-baik saja.” Ujar Clara tiba-tiba.


Richard langsung berdiri karena sepertinya dia tidak ingin mendengar obrolan Clara. Dari tadi dia menahan karena menghargai Nindi dan makanan yang enak.


“Sering gajian ya adikku yang cantik.” Ujar Richard memberi salam perpisahan.


Dengan arti makanan hari ini sangat enak. Sayangnya ada Clara yang membuat dia buru-buru ingin masuk kembali ke selnya.


Nindi sendiri tak bisa melarang, baru muncul setelah membiarkan anak-anaknya menghadapi semuanya sendiri, sikap apa itu? Saat ini pun Clara tidak terlihat ingin meminta maaf atau memperbaiki hubungan mereka. Dia hanya telihat ikutan karena mungkin bingung mengisi waktu yang kosong.


Richard sebaiknya memang masuk saja, mendengarkan Clara hanya membawa luka dan emosi. Jika Richard tak bisa menahan emosinya, akan berpengaruh ke depannya saat dia ingin dijenguk mungkin saja dipersulit. Atau kembalin ke ruangan dengan pembatas putih diantara mereka. Richard dan Nindi sudah berusaha sekali untuk meminta ijin bertemu di ruang besuk bebas dengan meja yang cocok jadi meja makan.


Nindi juga membereskan bekas makan mereka dan melambaikan tangan pada Richard hingga dia berlalu.


Nindi tanpa mengajak atau basa basi, bahkan perkataan Clara tadi tak ada yang menyahut. Dia berjalan keluar ruangan untuk keluar dari lapas tersebut.


“Nindi.” Panggil Clara karena Nindi berjalan melewati mobil yang terparkir.


“Aku naik bus aja.” Ujar Nindi tetap melangkah. Dia juga tak siap diajak berbicara oleh Clara. Ada baiknya menghindari sebelum kembali merasa sakit.

__ADS_1


Clara terasa seperti orang asing, memang sedari kecil pun mereka tak begitu dekat. Mungkin Clara terlalu mencintai suaminya, hingga apa pun itu prioritas adalah Praman.


Jika Praman bersikap abused pada anak-anaknya, Clara hanya akan bilang “Makanya kamu jangan begitu. Papa jadi marah.” Tanpa bertanya apa yang terjadi pada anaknya.


Mungkin tidak ada anak yang tumbuh sempurna, namun saat orang tuanya berusaha memberi kasih yang utuh itu bisa disebut telah sempurna.


Apa yang diharapkan seorang anak selain kasih dan ajaran cara untuk hidup? Saat anak telah memutuskan bisa hidup sendiri, dimana terlihat lebih sehat sendiri, patut dipertanyakan jika kehadiran orang tua adalah luka.


Kehadiran orang tua terkesan seperti datang belakangan, padahal mereka lah yang ada terlebih dahulu.


Clara mengejar Nindi dan meraih tangannya.


“Kenapa sih gak mau naik mobil?” Ujar Clara kesal.


“Ya karena aku bisa naik bus.” Sahut Nindi.


“Kenapa harus begitu? Kenapa harus naik bus? Kenapa harus tinggal di kosan kumuh?” Tanya Clara tak mengerti.


“Mama barusan bilang. Kami terlihat baik-baik saja.”


“Iya kalian terlihat begitu.”


“Ya karena memang begitu.”


“Lalu? Apa penjara atau kosan lebih baik dari rumah?”


“Mama! Apa kau merasa tak berguna saat ini?”


Clara menatap tajam mata Nindi karena kata-kata yang barusan dia dengar itu sungguh kasar.


“Itu kenapa aku pengen naik bus! Aku gak mau ngobrol sama mama begini.”


“Ada apa memang ngobrol sama mama? Apa salahnya ibu dan anak mengobrol.”


Nindi menatap dengan mata terluka, hingga begini pun. Saat terendah ini pun, ibunya masih tak mengerti apa yang terjadi.


“Maksudmu apa Mama merasa tak berguna? Kalian yang memutuskan keluar dari rumah, Richard yang memutuskan untuk menjadi seperti ini.”


“Mama! Jika kau memang seorang ibu, kau akan punya rasa bersalah karena aku pergi dari rumah. Di luar aku terlihat baik saja, Richard yang di penjara juga begitu. Mama tau artinya?”


Clara terdiam tak mengerti, dia berharap Nindi langsung berbicara saja tanpa menanyakannya.


Nindi menyisir jari rambutnya, wajahnya kini terlihat sangat kesal. Pembicaraan ini sia-sia saja dilanjut. Dia berbalik ingin pergi, Clara meraih kembali tangan Nindi dan menahannya.


“Lanjutkan. Apa yang mau kamu omongin.”


Nindi tak kuasa menahan air matanya, bibirnya digigit untuk menahan emosi yang mungkin akan meledak saat ini juga.


“Kalian lah masalahnya.” Sahutnya dengan posisi membelakangi ibunya.


Clara tak mendengar dengan jelas, dia berpindah agar bisa berhadapan dengan Nindi.


“Aku bilang kalian lah masalah hidup kami! Kalian lah yang melukai kami! Mama dan Papa yang telah memberi neraka di hidup kami!” Teriak Nindi seperti bom meledak memecah isi kepala Clara.


Dia menarik nafasnya kaget, bahwa dia adalah perkara dari semua yang terjadi. Nindi berlari meninggalkan ibunya yang terpaku berdiri memakan semua omongan yang ternyata kenyataannya begitu.


Clara berjalan tertatih untuk masuk ke dalam mobil, dia merasa tak sanggup berdiri lama karena kakinya sudah tak kuat. Di dalam mobil dia menutup wajahnya mendalami semua perkataan Nindi padanya.


Sedang Richard di dalam selnya menatap cahaya yang masuk dari fentilasi. Cahaya membuat butiran debu terlihat sedang beterbangan. Awal tahun telah dimulai, masih banyak tahun yang harus dilalui di sel itu.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2