
"Summer. Summer. Summer." Panggil Mara berkali-kali. Meskipun bersentuhan, rasa rindu masih terus bergejolak.
"Ya aku disini."
"Aku sangat merindukanmu." Nafas Mara terasa panas. Apa yang harus dilakukan agar rindu ini terobati?
"Aku pun begitu."
Mereka berpelukan lagi sangat erat menyesakkan nafas, entah sejak kapan tapi mereka sudah tertidur di kasur.
"Kau masih sabar menungguku kan?"
"Apa aku masih harus menunggu? Kau ingin pergi lagi?" Jemari lentik itu menyentuh bulu mata putih, turun ke pipi lalu ke bibir.
"Ya. Aku sangat ingin berada di sisimu. Tapi saat ini aku belum bisa." Lagi-lagi matanya tampak sedih, terangnya tampak redup.
"Dadamu masih sangat sakit ya?" Summer menunduk.
Mara menarik wajah itu agar tetap terlihat. Sedetikpun tak ingin disia-siakan, dia lapar akan wajah itu.
"Katakan kau akan sabar menunggu, Summer."
"Tentu. Seberapa lama pun itu aku akan menunggu."
"Hahhh. Aku sangat ingin bisa bersamamu."
Mara kembali memeluk tubuh mungil itu. Menghitung waktu yang cepat sekali berlalu. Dadanya mulai terasa sakit, tak sengaja dia mengerang.
"Mara!" Sontak Summer panik melihat wajah Mara yang kesakitan.
Matanya mencecar sumber rasa sakit, diangkatnya kaos Mara dan melihat garis kusut menjalar di dada kiri, bekas lukanya. Summer mengerutkan keningnya, air matanya langsung bercucuran. Pantas saja Mara mengerang.
"Bagaimana ini?"
"Tak apa. Tapi aku harus segera kembali ke laut."
"Ya. Cepatlah. Aku akan mengantarmu. Ayo!" Summer bergegas bangkit sambil menyeka air matanya.
Summer langsung menyalakan mobil dan menunggu Mara di depan pintu rumahnya.
__ADS_1
"Kau lupa jaketmu." Ujar Mara kemudian masuk dan menyerahkan jaket pada Summer.
Sekali lagi gadis itu hendak menangis kencang, siapa yang sakit siapa yang diperhatikan.
Dia menyambar jaket lalu mengenakan dan manancap gas melaju.
Sepanjang jalan air mata Summer terus menetes, dia menyekanya berkali-kali.
"Aku tak apa-apa, Summer."
"Apanya tak apa-apa?!"
"Maafkan aku. Tak bisa berlama-lama di daratan. Nanti pasti paru-paruku sembuh dan kita bisa bersama."
"Jika tau kau bakal begini, kenapa ke daratan sih?"
"Aku sangat merindukanmu. Aku ingin melihatmu sebentar saja agar bisa bertahan hidup."
Summer meminggirkan mobilnya. Berhenti karena emosinya jadi kacau. Dia menangis hebat, menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Aku juga sangat merindukanmu. Rasanya sakit sekali sampai aku ingin mati saja. Tapi aku tak ingin kau kembali mengorbankan dirimu demi bertemu aku."
"Kenapa kau sangat bodoh?!"
"Maafkan aku."
"Jangan meminta maaf."
"Maaf telah meminta maaf."
Summer menghela nafas. Dia harus waras agar bisa mengemudi. Prioritas harus segera sampai di pantai.
"Apa aku bisa menemuimu di laut?"
"Entahlah. Aku juga diam-diam pergi."
"Aku akan diving setiap hari sabtu di tempat kita biasa bertemu dengan ibuku."
Summer kembali menyalakan mobilnya dan meluncur.
__ADS_1
Summer mengantarkan sampai ke pantai setelah memarkir mobil di depan gang.
"Pergilah. Bajumu bisa basah." Mara mencegah Summer ikut ke air.
Summer tak mendengarkan dan berjalan lebih dulu, berhenti saat air sudah sedalam pinggangnya.
"Mara. Aku sangat mencintaimu. Cepatlah pulih, Sayang. Kita harus bertemu lagi. Aku akan datang menemuimu setiap sabtu." Ujarnya tersenyum hangat.
Mara berlari kencang menghampiri wanita yang menyatakan perasaannya, menghalau deburan ombak kecil hingga air membasahi pinggangnya. Mara memeluk Summer erat, rasanya sangat bahagia.
"Katakan itu sekali lagi."
"Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Karna itu cepatlah sembuh, Sayang."
"Ya. Aku akan sembuh. Aku juga sangat mencintaimu."
"Aku tau."
Mara melepas pelukan itu, mencium kening Summer untuk salam perpisahan mereka. Perlahan tangan yang terjalin erat itu terlepas.
Mara berjalan semakin dalam dengan berjalan mundur. Tak sanggup meninggalkan, dia kembali berlari mendekap erat Summer.
Air mata mereka saling membasahi pundak satu sama lain.
“Pergilah. Cepat pergi.” Usir Summer.
Pelukan ini tidak akan pernah cukup, namun kondisi Mara adalah yang terpenting saat ini.
Pelukan itu begitu sedu, dilepaskannya. Wajah maskulin terasa dingin di telapak tangan, mata kuning yang terus mencucurkan mutiara, rambut putih panjang ditiup angin malam. Indah sebagaimananya laut, kekasih Summer bersinar dibawah rembulan seperti pertama kali mereka bertemu dan jatuh hati.
Mara perlahan mundur, tak ingin melepas pandangannya dari wajah yang akan dia rindukan. Dia menunduk, berbalik lalu menenggelamkan dirinya. Muncul dengan setengah tubuhnya yang sudah berwujud merman, menatap Summer beberapa detik kemudian menyelam dan hilang.
Kaki Summer terasa lemah. Tubuhnya longsor hingga bersimpuh di air sambil menangis melepas kepergian Mara. Memeluk diri seakan memeluk tubuh lain.
Jika laut tempatmu, aku akan datang. Kali ini aku yang akan terus datang.
Tak lama setelah itu, ia bangkit dan berjalan menuju mobilnya lalu pergi meninggalkan pantai.
Bersambung…
__ADS_1