Moonlight On The Sea

Moonlight On The Sea
Menghitung Hari


__ADS_3

“Waduh!” Pekik Bu Rani.


“Pendaftarnya sudah ada 1000 orang!”


Sambung Bu Rani membaca website Summer Sea di handphonennya.


“Tentu saja. Siapa yang gak mau punya uang 100 juta perbulan.” Sahut Wawan yang duduk di depan Bu Rani.


“Apa kamu ikut ngelamar aja?” Goda Bu Rani pada suaminya.


“Aku lebih suka menjagamu meskipun tak dibayar.” Sahut Wawan balik menggoda.


“Awwwww.” Bu Rani tersipu sambil memukul lembut bahu suaminya.


Mara yang juga duduk semeja dengan suami istri itu terlihat tetap santai sambil memakan French Fries yang ada di meja.


Mara tak khawatir dan percaya diri dia akan bisa lolos.


Dia hanya tak sabar karna waktu rasanya sangat lambat berputar. Kalau bisa ketemu pagi cepat-cepat lalu langsung malam.


“Hahhhhh kenapa dunia ini seharinya harus 24 jam…” Keluh Mara menghela nafas.


“Sabar ya. Seminggu lagi.” Hibur Bu Rani.


Mara mengetuk-ngetuk french fries yang ada ditangannya ke piring, sementara tangan satunya lagi memangku pipinya.


“Ayo pulang.” Ajak Wawan pada istrinya.


“Ayok.” Sahut istrinya bergegas berdiri.


“Aku akan bereskan piringnya. Selamat istirahat.” Lirih Mara masih berpangku tangan.


Selesai Mara membereskan piring kotor yang tersisa, dia naik ke lantai dua tempat kamarnya berada. Dilemparkannya tubuhnya ke kasur itu dan menatap foto Summer lalu tertidur.


*****


“Tutup saja pendaftarannya.” Ujar Summer pada Pak Bagas.


Seperti biasa pukul 7 dini hari Summer sudah siap dengan posisi duduk di kursinya untuk memulai pekerjaan di ruangannya itu.


“Ini terlalu banyak.” Ujar Pak Bagas melihat angka yang melamar di website Summer Sea.


“Saring saja dari hal yang dia tahu tentangku. Dan alasan kenapa mereka melamar.” Ujar Summer.


“Terima orang yang tidak tahu terlalu banyak tentangku.” Ujar Summer.


Dia ingin membuat sebuah jebakan. Jika itu orang suruhan Yura, pasti akan diberi tahu semua info tentang Summer sebanyak mungkin.


“Saya mengerti.” Sahut Pak Bagas kemudian meninggalkan ruangan Summer.


Siang itu juga test pertama masuk bagi para pelamar Bodyguard Summer.

__ADS_1


Untuk orang-orang yang tinggal jauh dari ibu kota atau bahkan orang yang melamar dari luar negri tentu banyak yang tak tahu apapun tentang Summer kecuali yang mereka tonton di TV dan media sosial.


Pak Bagas mengumpulkan jawaban-jawaban yang unik dan yang mencurigakan.


Hal-hal seperti apa makanan yang Summer suka begitupun kebiasaan Summer, jika pelamar mengetahui itu dengan lengkap tentu rasanya mengerikan.


Summer sendiri ingin ikut serta dalam memilih bodyguard-nya. Dia ikut membaca bersama dengan Pak Bagas di ruangan itu.


Terlihat CV dengan jawaban yang tak memuaskan sudah menumpuk.


“Ini unik sekali.” Ujar Pak Bagas melihat sebuah CV simpel dan jawaban yang dia berikan.


“Ohhh… dia bekerja di restoran seafood yang kemarin ingin kita datangi.” Sambung pak Wawan.


Wah dunia hanya sebesar daun kelor, sampai seorang pramusaji pun bisa ikut mendaftar.


Summer menengadahkan tangan kanannya meminta dokumen tersebut.


Dilihatnya dokumen itu, sontak pupilnya membesar.


Foto pria yang dia lihat itu mirip dengan seorang yang pernah dia kenal. Rambut dan mata yang hitam pekat. Dan bentuk wajahnya yang sangat jelas masih diingat oleh Summer. Summer masih ingat suhu wajah pria yang pernah dia sentuh di laut yang dingin itu.


Dia bingung harus merespon apa. Apa yang terjadi? Apa ini orang yang mirip? Atau bagaimana?


Summer tak ingin menyimpulkan dengan buru-buru namun jantungnya sedari tadi tanpa sadar sudah berdegup kencang.


“Samara Apna.” Ujarnya membaca nama itu.


Dibaliknya kertas itu dan membaca jawaban yang pria itu tulis di testnya.


Summer membelalak dan menutup mulutnya. Jawaban itu membuatnya yakin kalau pria ini adalah pria yang dia kenal.


Apapun itu yang terjadi, pria ini adalah pria setahun lalu yang menyelamatkannya.


Dipegangnya lama CV itu.


“Apa mencurigakan? Jawabannya sangat unik.


Kamu kenal dia?” Tanya Pak Bagas penasaran.


“Sepertinya aku kenal.” Sahut Summer.


Kemudian Summer meletakkannya di kumpulan CV orang-orang yang diterima.


“Dia menyebutmu dengan nama.” Ketus Pak Bagas.


“Melindungi Summer adalah cita-citaku. Dan lagi aku sudah bisa bakar ikan lebih enak dari pada ikan bakar yang kamu makan setahun lalu.” Begitulah tulisannya.


Ternyata sangat lelah seharian mensortir 1000 CV para pelamar dari siang sampai pukul 10 malam.


Summer bahkan sampai di rumah pukul 11 malam.

__ADS_1


Dia langsung menjatuhkan badannya ke kasur besarnya, dan membuka hpnya.


Sedari tadi ada hal yang sangat membuatnya penasaran.


“Apa ya nama restorannya. Ah iya!” Gumamnya mengingat-ingat.


Diketiknya nama restoran seafood itu, beruntung namanya gampang diingat.


“Wah ternyata ada akunnya.” Summer bersemangat mengklik akun itu.


Ketika akun itu ditampilkan, dapat dilihat banyak foto makanan yang mereka jual. Ada satu foto Mara sedang memegang sebuah lobster. Di kliknya foto itu untuk memperbesar.


“Wah ini beneran dia.” Summer kagum dan merasa lucu ternyata selama ini mereka sangat dekat.


Dengan Summer yang mengira Mara masih di laut dan mungkin tak bisa bertemu lagi.


Summer lalu membuka foto tautan di restoran itu, dan ternyata foto Mara berserak di situ. Sangat banyak.


Foto bersama orang-orang yang sepertinya makan di restoran itu.


“Wah dia langsung populer.” Ujarnya.


Kemudian Summer membuka akun-akun yang diikuti oleh restoran itu. Siapa tahu dia bisa menemukan Mara diantaranya.


Ada satu akun tanpa foto namun namanya Mara. Dikliknya akun itu, tidak ada satu pun postingan. Namun sudah banyak yang mengikuti.


Summer menimbangi apa harus mengiriminya pesan atau tidak. Dipencetnya icon chat itu, lalu kaget sudah ada chat yang masuk dari Mara sebulan yang lalu dan dua minggu yang lalu.


“Summer, aku M. Semoga kamu tidak lupa. Hal pertama yang ingin aku lakukan setelah di daratan adalah bertemu kamu.”


“Aku datang membawa bunga untukmu, Warna merah muda cocok untukmu. Namun ternyata belum waktunya kita bisa bertemu, maka aku menitipkannya ke satpam.”


Begitu lah isi pesannya.


Summer sangat senang bunga lili yang dia peroleh tiga minggu lalu tidak dibuangnya, ternyata itu dari Mara.


Ternyata selama ini mereka sangat dekat dan mungkin pernah berpapasan namun sama sama tak sadar.


Melihat kemungkinan bisa bertemunya sangat sering namun tak disadari itu sempat membuat Summer sedih.


“Sepertinya kamu yang mendatangiku, padahal aku yang janji akan menemuimu.” Guman Summer.


*****


Malam itu Mara tertidur lebih cepat karna sangat bosan menunggu waktu yang berjalan seperti keong. Biar cepat berganti hari dia tidur saja.


Ditengah nyenyaknya tidur Mara,


“Klinggg!” Terdengar suara notifikasi di handphone yang dia taruh di atas meja.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2