Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Kehilangan Kian


__ADS_3

Mentari sudah bersinar di ufuk barat. Memantulkan kehangatan dari dinginnya embun pagi. Kicauan burung memecah kesunyian, menari-nari di hamparan langit luas.


Jam menunjukkan pukul 8 pagi, Arkan baru bangun dari tidur panjangnya.


"Pak Dan tolong siapkan mobil," perintah Arkan ditelepon. Tuan muda itu beranjak dari tempat tidurnya.


"Anda mau kemana tuan muda?" tanya Pak Dan balik.


" Melihat acara gathering perusahaan" jawab Arkan sambil menuju kamar mandinya.


Apa aku tidak salah dengar? Kenapa tiba-tiba tuan muda ingin pergi kesana?


"Baik tuan. Saya akan segera bersiap." Setelah menutup telepon, Pak Dan mengirimkan pesan kepada supir yang hari ini bertugas untuk bersiap-siap.


Dalam waktu dua puluh menit, Pak Dan dan supir sudah berada di halaman rumah menunggu Arkan turun. Untung saja Pak Dan sudah membersihkan dirinya sejak shubuh, jadi pria paruh baya itu hanya perlu mengganti pakaiannya ketika mendapat perintah dari Arkan. Walaupun sebenarnya ini hari libur untuk Pak Dan, tapi beliau selalu siap siaga sedari pagi. Dia tidak tahu kapan tuan muda akan membutuhkannya, seperti pagi ini.


Setelah yang ditunggu terlihat menuruni anak tangga, sang supir bersiap membukakan pintu mobil untuk Arkan. Sementara Pak Dan berdiri disisi mobil depan. Arkan mengenakan t-shirt polo berwarna biru dipadu dengan celana jeans berwarna hitam. Pria ini apapun yang dikenakannya tetap terlihat tampan. Mungkin dengan pakaian lusuh sekalipun.


"Selamat pagi tuan," ucap supir dan Pak Dan nyaris bersamaan.


Sedangkan yang diajak bicara hanya menganggukkan kepalanya. Setelah memastikan Arkan masuk kedalam mobil, supir menutup pintu perlahan. Pak Dan juga masuk ke mobil dan duduk di kursi depan. Supir berjalan memutar mobil dan duduk dibalik kemudi. Menyalakan mesin, lalu menginjak gas melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


***


Setelah rombongan tiba di lokasi arung jeram, masing-masing dari mereka memakai perlengkapan yang telah disediakan oleh pengurus. Rendy sedang membantu Kian memakaikan rompi dan helm gadis itu. Dina hanya menggeleng melihatnya. Dan para wanita lain yang sehari-harinya mengejar Rendy, kali ini tidak menggubris perlakuan Rendy kepada Kian, mereka justru sedang asyik memandangi seseorang yang tengah duduk didalam tenda. Bagi mereka ketampanan Rendy belum seberapa dibanding dengan ketampanan wajah seseorang yang mereka lihat sekarang. Belum lagi label tajir melintir tuan muda yang sangat berbeda jauh dengan Rendy. Membuat siapapun pasti tergila-gila padanya. Sedangkan mereka tidak menyadari wajah yang mereka pandang sedari tadi sedang menatap tajam dua sosok manusia yang terlihat sedang kasmaran.


Sial. Apa yang sedang mereka lakukan. Kenapa gadis bodoh itu tersenyum bahagia sekali dengan pria itu. Sedangkan denganku hanya penuh tatapan menakutkan. Ck

__ADS_1


"Siapa pria itu Pak Dan?" tanya Arkan masih menatap Rendy dan Kian dari dalam tenda.


Mendengar pertanyaan Arkan, Pak Dan langsung melirik ke arah tatapan tuan mudanya.


"Dia Rendy dari bagian marketing tuan."


Arkan semakin terlihat gusar saat melihat Kian dan Rendy berada dalam perahu karet yang sama. Mereka hanya tertawa bahagia tanpa memperdulikan yang lain. Setelah perahu karet penuh, seorang instruktur mendorongnya hingga perahu tersebut terbawa arus. Para peserta terlihat semakin antusias saat perahu karet terombang ambing dibawa arus. Gelak tawa dan teriakan saling bersahutan. Sesekali perahu oleng karena menabrak batu, namun para peserta didalamnya dengan cepat mampu mengendalikannya.


Arkan sudah tidak betah berlama-lama disana. Dia beranjak dari duduknya hendak meninggalkan tempat itu. Baru saja beberapa langkah, Arkan dan para rombongan yang ada disitu dikejutkan dengan suara.


"Tolongg!" Teriakan terdengar dari arah sungai.


Mendengar teriakan minta tolong, para peserta dan instruktur mendekat ke tepi sungai. Namun para instruktur melarang peserta untuk lebih maju mendekat. Beberapa orang dari arah sungai berlari kearah mereka, termasuk Rendy.


"Perahu kami terbalik, lalu saat semua orang kembali ke perahu seseorang tidak kembali," ungkap seorang instruktur yang bersama rombongan Kian dan Rendy.


"Apa!" Arkan yang masih berdiri ditempatnya mengepalkan tangan. Ia berjalan menghampiri Rendy lalu mencengkeram baju pria itu.


"Bagaimana bisa kau kehilangan rekanmu? Dan beraninya kau kembali sebelum menemukannya!" teriaknya penuh emosi.


"Maaf tuan, kami sudah berusaha mencarinya tapi belum ketemu." Seorang instruktur berusaha mencegah Arkan memukul Rendy.


"Cari dia sampai ketemu. Sebelum kalian menemukannya, jangan harap kalian bisa meninggalkan tempat ini." Ancaman Arkan tidak main-main. Para instruktur dan dibantu peserta pria bergegas menyusuri sungai.


"Hubungi tim SAR sekarang!" perintah Arkan. Pak Dan yang merasa ucapan itu ditujukan untuknya langsung menjawab.


"Baik tuan." pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celana memencet panggilan sesuai perintab Arkan.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, namun Kian belum juga ditemukan. Arkan semakin gelisah tidak karuan. Bahkan tim SAR pun sudah turut membantu.


"Dasar tidak berguna!" umpat Arkan kesal. Arkan menggulung celana jeans nya dan melepas sepatunya. Pak Dan yang melihat itu pun mengernyitkan dahinya.


"Apa yang akan tuan muda lakukan?" tanyanya.


"Aku akan ikut mencarinya." Berdiri, lalu berjalan ke arah sungai.


"Jangan tuan! anda tidak bisa berenang." Mendengar ucapan Pak Dan, Arkan menghentikan langkahnya. Ia menggeram. Dia kesal tidak bisa melakukan apa-apa.


"Sial!" Meninju udara didepannya.


Setelah satu jam lebih pencarian, akhirnya Kian ditemukan. Dia terdampar disebuah batu besar yang berjarak satu kilometer dari tempat perahu terbalik tadi. Gadis itu tidak sadarkan diri. Tim SAR membawanya kembali ke tenda dengan tandu.


Melihat Kian tidak sadarkan diri, Arkan terlihat gelisah.


Salah seorang tim SAR menekan dada Kian beberapa kali. Membuat gadis itu terbatuk mengeluarkan air yang sudah banyak ditelannya. Dan akhirnya ia pun sadar. Dina langsung memeluk Kian ditengah isak tangisnya.


"Kamu baik-baik saja? Kenapa bisa sampai terjadi? Bukankah kamu bisa berenang?" tanyanya setelah melepas pelukan.


"Aku baik-baik saja. Tadi saat aku ingin kembali ke perahu tiba-tiba kakiku kram, aku tidak bisa berenang dan arus sungai langsung menyeretku," jelas Kian. Menatap wajah rekan-rekannya yang terlihat khawatir. " Maaf sudah membuat kalian khawatir."


"Apa perlu dibawa ke rumah sakit?" tanya Pak Dan. Sedari tadi beliau menyaksikan kegelisahan tuan mudanya yang terlihat khawatir. Tidak biasanya tuan muda bersikap seperti itu. Apalagi jika hanya menyangkut karyawan biasa. Tapi sepertinya gadis muda yang ada didepannya kali ini berbeda. Tuan muda sepertinya mulai tertarik, walaupun dia belum menyadarinya.


"Tidak perlu Pak," jawab Kian cepat. "Saya baik-baik saja." Berusaha menyakinkan bahwa dia baik-baik saja.


"Dasar bodoh!" umpat Arkan pelan. Tapi Kian masih bisa mendengar umpatan pria itu.

__ADS_1


Apa dia baru saja memakiku? Pria gila ini benar-benar tidak punya hati ya? Aku baru saja tenggelam. Dan dia sama sekali tidak bersimpati, tapi malah memaki. Aaaaahh aku ingin membunuhmu saja.


__ADS_2