
Kian baru saja keluar dari kamar mandi. Ia melihat Arkan yang sedang mengoleskan sesuatu ke tangannya yang memar. Kian berjalan mendekatinya, ia mengambil alih obat di tangan Arkan dan mulai mengoleskannya.
"Bagaimana tiba-tiba kau bisa ada disana?" tanya Kian, sambil sesekali meniup tangan Arkan.
Ya ampun, tangan mulusnya kenapa jadi kayak ayam geprek gini sih. Memar dimana-mana.
"Aku berangkat ke kantor tadi pagi. Aku melihat-lihat ruanganmu dan tanpa sengaja melihat kalender yang kau tandai." jelas Arkan.
Benar, Kian menandai kalender setiap kali ada kegiatan atau acara yang akan ia datangi.
"Kenapa kau melihat-lihat ruanganku? Jangan bilang, kau merindukanku." ledek Kian.
Sial. Bagaimana dia bisa tahu.
Arkan sedikit terkejut dengan ucapan Kian, meskipun benar, ia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya. "Ck, percaya diri sekali dirimu. Aku hanya ingin memastikan kau tidak membawa barang-barang milik kantor!" jawabnya sewot.
Mendengar jawaban Arkan, Kian melemparkan tangan pria itu. Ia beranjak meninggalkan tempat itu, namun tangannya ditahan.
"Apa begini caramu berterimakasih pada orang yang sudah menyelamatkanmu?"
Kian bersungut kesal. Ia duduk lagi dan mengobati tangan yang penuh memar disana sini. Sepertinya Arkan menghabisi pria itu tanpa ampun. Jika tangan yang menghajar saja memar seperti ini, bagaimana nasib yang dihajar. Kian tidak berani membayangkan. Siapa suruh dia bertindak kurang ajar.
"Sudah selesai." Kian meletakkan tangan Arkan dengan hati-hati lalu menyimpan sisa obatnya.
Hah, sudah selesai? Padahal aku masih ingin berlama-lama memandanginya.
Kian membuka gulungan handuk di kepalanya. Lalu mengeringkan rambut dengan handuk tersebut. Arkan hanya mengamatinya. Namun, lama-lama melihat Kian seperti itu, membuat sesuatu yang ada di dalam dadanya bergejolak.
Argghh rasanya aku ingin memakannya saja!
Ia harus menghindarinya sebelum perasaan itu tidak tertahankan.
"Kau baik-baik saja sekarang?" tanya Arkan.
Kian menoleh, "aku baik-baik saja. Terimakasih sudah menolongku."
"Syukurlah, kalau kau sudah baik-baik saja. Berarti kau bisa tidur di sofa," ucap Arkan sambil berjalan ke ranjangnya.
"Apa?!" Kian melotot mendengar ucapan pria itu. Tapi ia juga tidak bisa protes, toh ini rumahnya. Ia hanya kesal, bagaimana bisa seorang pria membiarkan wanita tidur di sofa. Bukankah, kalau di dalam drama seorang pria akan mengalah.
Sadarlah Kian. Sampai kapan kau akan menjadi korban drama-drama itu? Dia bukan aktor di dalam drama kesayanganmu. Dia hanya pria dingin dan kaku seperti kanebo kering. Ingat itu!.
Dengan langkah kesal, Kian menuju sofa dan merebahkan tubuhnya. Ia juga merasa lelah setelah kejadian hari ini, tidur adalah cara terbaik untuk mengembalikan energinya.
Selamat tidur, malam.
***
Arkan bangun lebih dulu, ia juga sudah bersiap pergi ke kantor. Melihat Kian masih terlelap dengan selimut yang berantakan, ia membetulkannya kembali. Sejenak, ia menatap wajah di depannya. Lucu, polos, dan menggemaskan. Arkan tersenyum melihatnya.
Setelah puas memandangi, ia mengambil ponsel di atas nakas dan menghubungi seseorang.
"Kirimkan semuanya hari ini juga! Dan buat yang terbaik. Aku menginginkan hasilnya secepatnya!"
__ADS_1
"....."
Sambungan telepon terputus. Arkan mengambil sepatu dan memakainya di sofa depan Kian. Ia kembali menatap gadis itu yang meringkuk di balik selimut. Terdengar suara gumaman dari mulut Kian.
"Hei pria bodoh!"
Apa? Apa dia baru saja memanggilku?
"Siapa yang kau maksud?" tanya Arkan polos.
"Tentu saja kau. Siapa lagi memangnya?"
Apa dia bilang? Dia ini tidur apa hanya pura-pura tidur?
Arkan mendekatkan wajahnya ke depan Kian, lalu memasang ekspresi mengejek di depan gadis itu. Ia menjulurkan lidah dan memutar bola matanya sambil mengangkat kedua tangannya di pelipisnya. Persis seperti anak kecil yang sedang meledek teman mainnya.
"Apa yang kau lakukan?" tiba-tiba Kian membuka matanya. Ia mengerutkan dahinya melihat ekspresi Arkan yang terlihat aneh. Sontak Arkan terkejut dan jatuh ke lantai.
Sial. Kenapa dia membuka matanya.
Sekarang, raut wajah Arkan benar-benar tidak bisa dikondisikan. Ia malu karena ketahuan bertingkah bodoh di depan gadis itu. Sekarang, apa yang harus ia katakan pada gadis itu?
"Kenapa kau memasang wajah seperti itu?" Kian mencontohkan ekspresi wajah yang baru saja Arkan lakukan. Membuat harga diri pria itu semakin merosot ke dasar bumi.
Namun, bukan Arkan namanya jika tidak bisa mengendalikan situasi. Dengan cepat dia menata harga dirinya yang sudah berhamburan entah kemana.
"Kau mau membodohiku dengan pura-pura tidur ya?" tanyanya untuk mengalihkan situasi.
"Bohong! Sudahlah, aku mau berangkat ke kantor!" Arkan pura-pura tidak peduli, lalu ia bangkit dan memasangkan dasi di kerah kemejanya.
"Sam akan mengantarmu pulang," ucapnya lagi.
Arkan meninggalkan Kian yang masih terlihat bingung karena ulahnya. Ia sendiri berangkat ke kantor dengan diantar supir yang lainnya. Di tengah perjalanan, ia melihat layar ponselnya. Mengecek titik GPS seseorang.
"Kenapa ia masih disana?" gumamnya pelan.
Tanpa sepengetahuan Kian, Arkan menyambungkan lokasi gadis itu di ponselnya. Ia melakukannya sesaat sebelum pergi meninggalkan Kian beberapa hari yang lalu. Dengan menggunakan GPS, Arkan lebih mudah memantau gerak gerik gadisnya. Itulah sebabnya ia tahu dimana keberadaan Kian semalam. Dan alasan soal kalender yang ia lihat, Arkan sebenarnya tidak percaya Kian akan menghadirinya.
Namun, ia langsung panik, saat melihat lokasi gadis itu benar-benar berada di tempat itu. Ia menyuruh Pak Dan untuk menghubungi beberapa pengawal dan menyusul Kian. Pak Dan sendiri ingin ikut, tapi Arkan melarangnya. Semenjak pria paruh baya itu keluar dari rumah sakit, Arkan memang mengurangi untuk melibatkan Pak Dan dalam urusannya di luar kantor. Alasannya, karena pria itu masih harus menjaga kesehatannya agar benar-benar pulih. Sekarang, lebih baik untuk membawa Sam. Selain masih muda dan sehat, pria itu termasuk orang yang Arkan percayai setelah Pak Dan.
Arkan mendudukkan diri di sofa ruangan kerjanya. Mengatur fokus sebelum memulai aktivitas. Kemarin, ia masuk ke kantor hanya untuk melihat-lihat ruangan Kian. Sehari tidak melihat gadis itu, ia merasa rindu setengah mati. Meskipun kesal, namun ia menyesal karena meninggalkan Kian begitu saja. Rasanya, lebih mudah baginya menahan amarah daripada tidak melihat gadis itu seharian.
Baru tadi pagi aku melihatnya, kenapa aku sudah ingin melihatnya lagi.
Sekarang, ia tidak tahu bagaimana akan memulainya lagi hari ini. Semenjak kepulangannya dari luar negeri, Kian adalah alasan kenapa ia menjadi begitu bersemangat mengurus perusahaannya. Dulu, boro-boro bekerja, semua urusan perusahaan, Pak Danlah yang menghandlenya. Itulah kenapa ia dikirim ke luar negeri oleh Ayahnya.
Meskipun awal-awal ia berangkat ke kantor hanya untuk mengerjai gadis itu, tapi lama kelamaan perasaanya berubah. Sekarang, ia lebih terlihat seperti sosok bucin yang sungguhan. Akut malah!.
Dengan langkah berat, Arkan berjalan ke meja kerjanya. Membuka malas, dokumen yang tertumpuk di atas meja. Sudah hampir seminggu ia meninggalkan pekerjaannya. Syukurlah, ada Pak Dan yang mengurus semuanya disaat ia tidak ada. Ia hanya perlu menandatangani dokumen yang sudah dicek oleh pria paruh baya itu.
Toktoktok. Terdengar suara pintu diketuk. Lalu muncul sosok Pak Dan dari baliknya. Pria itu mendekat menghampiri Arkan.
"Tuan Muda, apa anda membutuhkan sesuatu? Wajah Anda terlihat lesu dan pucat," ujar Pak Dan.
__ADS_1
Arkan terlihat berpikir. Sebenarnya ia sedang membutuhkan kopi dan seseorang yang membuatnya. Namun itu tidak mungkin. Akhirnya ia hanya menggeleng.
"Tidak Pak, terimakasih,"
"Baik, Tuan. Sebentar lagi kita akan ada rapat. Semua orang sudah menunggu, Anda," ucap Pak Dan mengingatkan.
"Ah iya, saya akan segera kesana."
Akhirnya mereka berdua menuju ruang rapat bersamaan.
Satu jam kemudian.
Arkan kembali ke ruangannya. Meskipun rapat berjalan lancar, tapi rasanya kepalanya terasa berat. Meminum kopi instan akhir-akhir ini ternyata membuatnya candu. Saat ini, ia membutuhkan kaffein. Arkan menyandarkan tubuhnya di sofa. Seperti baru menyadari, ia melihat segelas kopi di atas meja. Tunggu, ada notes yang menempel di gelas itu.
Ini kopi Anda, Tuan. Kalau Anda membutuhkan sesuatu, hubungi saya segera. Saya siap membantu Anda kapanpun.
Arkan langsung berlari menuju pintu. Jantungnya berdegup kencang ingin melihat orang yang menulis notes itu.
"Cklek." Handle pintu itu ia dorong perlahan, menampilkan sosok sedikit demi sedikit. Detak jantungnya semakin tidak beraturan. Lama kelamaan sosok itu semakin jelas, seseorang yang sedang berdiri dengan senyuman manis. Ya, Kian sedang tersenyum manis padanya.
"Kau?" gumamnya masih tidak percaya.
Arkan mencubit pipi Kian yang berdiri di depannya. Lalu memutarnya ke kanan dan kiri. Membuat gadis itu memajukan bibirnya.
"Aww sakit," erangnya.
"Aku tidak bermimpi?"
Dasar bodoh! Dimana-mana kalau orang merasa dirinya sedang bermimpi yang dicubit itu dirinya sendiri bukan orang lain. Aku tonjok juga nih orang!
"Hmmmm." Kian menggeleng dengan tangan Arkan yang masih menempel di pipinya. Saat sadar orang lain sedang memperhatikan mereka, Kian langsung menepis tangan pria itu.
Arkan sendiri tidak peduli jika orang lain saat ini tengah memperhatikan mereka. Tapi karena ia tahu Kian merasa tidak nyaman, akhirnya ia menarik gadis itu ke dalam ruangannya.
"Kenapa kau kembali?" tanya Arkan penasaran.
"Bukannya kemarin
Tuan yang meminta saya untuk menjadi asisten pribadi Tuan lagi?"
Sebenarnya aku enek kalau harus manggil dia seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi, ini kan di kantor. Sedangkan dia atasanku. Hufft.
"Benarkah?" Pura-pura amnesia lagi.
Tuh kan dia mulai kumat.
"Kalau Anda tidak ingat, ya sudah saya..." Kian belum melanjutkan.
"Ahh iya aku baru ingat sekarang," jawab Arkan. Ekspresinya dibuat seolah-olah ia baru mengingatnya.
Haha ternyata tidak sulit mengembalikan ingatanmu lagi.
Sialan. Sepertinya dia tahu kelemahanku sekarang. Tapi aku juga tidak ingin dia pergi lagi. Biarlah untuk sekarang aku akan mengalah. Aku akan membalasnya nanti!
__ADS_1