
Kian memutuskan hari ini adalah hari terakhirnya bekerja. Ia menolak saat ditawari melanjutkan kontrak kerja baru. Bahkan Kepala HRD sampai memberi saran kepada Kian jangan terlalu cepat memberi keputusan. Dia akan diberi waktu untuk memikirkannya dulu. Tapi gadis itu tetap bersikukuh untuk mengundurkan diri. Akhirnya bagian HRD hanya bisapasrah dengan keputusan Kian.
Kian pergi meninggalkan ruangan itu sambil membawa surat referensi di tangannya. Ia menyimpan surat itu didalam lacinya lalu masuk ke ruangan Arkan.
"Dia menolaknya?? Hmm, baiklah," ucap Arkan sambil meletakkan gagang telepon. Ia beralih menatap Kian yang ada didepannya.
Kian dan Arkan belum membuka suara. Pria itu hanya menatap Kian tajam. Banyak yang ingin ia katakan, tapi bibirnya terasa keluh.
"Apa keputusanmu sudah bulat?" tanya Arkan dipenuhi rasa penasaran.
Kian mengangguk. "Iya Tuan,"
"Kau yakin tidak akan menyesalinya?"
"Tidak Tuan,"
Tanpa ragu-ragu Kian menjawab semua pertanyaan Arkan penuh percaya diri. Dia ingin lepas dari jeratan Arkan dan Rendy. Keduanya sama-sama membuat sesak. Pertama, bos angkuh yang selalu menyusahkannya. Pria itu selalu punya cara membuat Kian terlibat dalam masalahnya. Sifatnya yang arogan dan sombong terkadang membuat Kian muak. Sedangkan yang kedua adalah cinta pertamanya yang tak bisa ia raih. Gadis itu
terpesona saat bertemu Rendy untuk pertama kali. Pria itu adalah orang pertama yang membantunya saat ia menginjakkan kaki di kantor ini. Kehangatan pria itu selalu bisa membuatnya tersentuh. Namun sayang, cintanya bertepuk sebelah tangan. Ia tidak tahu akan sejauh apa perasaannya. Dan sekarang, menjauh dari mereka saat ada kesempatan, itulah yang Kian putuskan.
"Dimana?" tanya Arkan lagi. Menyentak Kian dari lamunannya.
"Apanya, Tuan?" Kian tidak mengerti maksud pria itu.
"Dimana kau melamar pekerjaan itu?"
Oh, jadi itu maksudnya. Untuk apa dia menanyakan hal itu. Apa dia ingin mengacaukannya.
"Maaf Tuan, soal itu saya tidak bisa memberitahu anda."
"Ck. Sombong sekali kau!" Arkan merasa kesal karena Kian tidak berniat memberitahunya.
"Nanti Tuan akan tahu sendiri. Saya hanya ingin mengatakan hari ini adalah hari terakhir saya disini. Jika masih ada sesuatu yang bisa saya kerjakan, silahkan panggil saya saja, Tuan. Saya akan melakukan yang terbaik di sisa waktu saya." Sekalipun Kian mengatakannya penuh percaya diri, namun suaranya terdengar getir. Ada titik dihatinya yang tidak rela meninggalkan tempat ini.
Arkan membelalak, menelan liur saat mendengar ucapan Kian. Tanpa keraguan sedikitpun, gadis itu benar-benar ingin pergi meninggalkannya. Rasanya perih. Hatinya bergejolak ingin menahan Kian. Namun ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya.
Bisakah kau tetap tinggal? Katakan! Katakan apa yang harus ku lakukan untuk menahanmu?!
Jangan pergi, kumohon.
__ADS_1
"Memang apa yang bisa kau lakukan? Bukankah pekerjaanmu selama ini hanya melakukan kesalahan?!"
Sial! Tak seharusnya dia mengatakan itu. Dia hanya membuat Kian semakin yakin untuk meninggalkannya. Sesulit itukah baginya untuk sekedar memuji wanita. Paling tidak untuk membuat Kian tersentuh sedikit saja dia tidak bisa. Rasanya Arkan ingin menarik lagi ucapan itu, tapi terlambat. Gadis itu sudah mendengarnya.
Kian menarik napas dalam. "Maaf kalau selama ini saya hanya membuat anda kecewa. Kalau tidak ada yang Tuan butuhkan, saya permisi." Kian memutar badan dan kembali ke ruangannya. Berniat merapikan barang-barang miliknya. Tidak banyak, hanya saja sayang kalau harus berakhir ditempat sampah. Seseorang akan segera menggantikannya.
Arkan menatap punggung Kian nanar, tangannya mengudara untuk memanggil gadis itu lagi. Namun tiba-tiba bibirnya terasa kaku. Ia remas udara ditangannya dan menghentakkan tangan itu keatas meja. Berbagai rutukan ia tujukan untuk dirinya sendiri.
***
Hari sudah sore, matahari mulai kembali ke peraduannya. Menyaksikan senja berwarna jingga yang terlihat sangat mempesona.
Kian baru selesai merapikan meja kerjanya. Barang-barang miliknya ia masukkan kedalam paper bag berukuran besar agar memudahkannya membawa pulang. Dari dinding kaca, seseorang terus menatapnya. Melihat gerak-geriknya, sepanjang hari. Seperti tidak ada pekerjaan lain.
Arkan bergegas keluar saat melihat Kian mau menghampirinya. Ia tahu gadis itu akan berpamitan dengannya.
"Tuan sudah mau pulang?" tanya Kian heran. Ia melihat meja kerja Arkan masih penuh berkas yang berantakan. Biasanya pria itu ingin mejanya rapi saat jam pulang kantor.
"Hmmm," jawabnya singkat.
"Tapi meja Tuan, masih berantakan. Apa perlu saya rapikan dulu?" tawar Kian.
Ck. Semangat sekali dia mengatakan itu. Sepertinya dia senang kalau aku pergi dari tempat ini.
"Kalau begitu saya pamit ya, Tuan. Sekali lagi terimakasih sudah menerima saya bekerja disini dan menjadi sekretaris pribadi, Tuan. Semoga Tuan menemukan pengganti yang jauh lebih baik dari saya. Jaga kesehatan Tuan dan jangan telat makan," Suara Kian tercekat, ia nyaris menitikkan air mata. Hatinya terlalu lembut untuk menyimpan dendam atas kesusahan yang ia terima dari pria didepannya. Terlebih, pria itu juga sering menolongnya. Sekelebat kenangan bersama Arkan melintas di kepalanya.
Kian segera berbalik. Namun langkahnya terhenti saat Arkan menarik lengannya. Lagi-lagi pria itu menatapnya. Kali ini dengan tatapan lebih intens. Dia maju beberapa langkah. Menyorot Kian dengan ekspresi wajah dinginnya. Ia melangkahkan kakinya lagi, semakin mendekat ke Kian. Mengikis habis jarak diantara mereka. Sementara Kian merasa jantungnya berdetak sangat cepat. Rasanya ingin meledak saja. Dia benar-benar gugup, namun Arkan tidak peduli. Semakin lama ia justru semakin mendekat.
Sekarang tatapan Kian tepat didepan dada bidang pria itu. Tidak berani mendongak. Hembusan napas Arkan bahkan terasa di ubun-ubunnya.
Apa yang dia lakukan? Apa sekarang dia sedang mencoba merayuku?
"Ayo aku antar pulang. Anggap saja ini hadiah terakhir dari Bosmu." Arkan langsung melengos pergi meninggalkan Kian yang masih terpaku. Kesadarannya belum kembali, setelah direnggut paksa oleh pria kaku itu.
"Setelah jantungku hampir meledak dibuatnya, dia pergi begitu saja?? Dasar gila!!" umpat Kian. Dia langsung tergelak mengingat khayalan yang sempat muncul dalam benaknya. Dia tahu itu mustahil.
Sementara Arkan hanya tertawa dibalik punggungnya. Ia memegang dadanya yang juga nyaris meledakkan sesuatu. Dia bahkan merasakan jantungnya berdetak 100 kali lebih cepat.
Aku nyaris gila dibuatnya.
__ADS_1
Arkan berjalan cepat menuju mobilnya setelah merebut paper bag yang dibawa Kian. Sebagai tawanan agar gadis itu tidak melarikan diri. Dan sepertinya berhasil. Kian ikut masuk kedalam mobil, menyusul Arkan yang sudah tiba lebih dulu. Melakukan aksi mencebikkan bibir dan menekuk wajahnya. Ia benar-benar kesal karena kejadian tadi.
"Apa besok kau akan langsung berangkat ke kantormu yang baru?" Arkan masih saja menunjukkan rasa penasarannya. Ia tidak mudah menyerah begitu saja dalam menggali informasi.
Kian menggeleng. "Tidak Tuan. Aku ingin bertemu keluargaku di kampung dulu. Aku masih memiliki waktu satu pekan sebelum memulai bekerja disana," lirihnya.
"Memang dimana kampung halamanmu?" tanya Arkan dengan suara senormal mungkin.
"Di kota X, Tuan," jawab Kian datar.
"Jam berapa penerbangan mu?"
"Jam 6 pagi."
"APAA?!! Sepagi itu?"
"Itulah adalah penerbangan yang paling murah, Tuan." Tanpa sadar Kian terus menjawab pertanyaan Arkan. "Tunggu!!"
Kian merasa ada yang aneh. "Kenapa anda menanyakan itu semua?"
"Memangnya tidak boleh hanya bertanya?" jawab Arkan gelagapan
Kian menghembus napas kasar. Terserah anda sajalah, Tuan! Batin kian.
Kian memilih memejamkan matanya. Membayangkan pertemuan dengan keluarganya yang sangat ia rindukan. Sudah 2 tahun lebih ia meninggalkan mereka tanpa pernah pulang. Dan sekarang kesempatan ini tidak akan ia sia-siakan. Kian berniat membeli beberapa hadiah dan oleh-oleh untuk keluarganya.
Kian membuka matanya lagi. Meminta Sam untuk berhenti di Mall yang tidak jauh dari tempat mereka.
"Kau mau apa?" tanya Arkan.
"Saya ingin membeli beberapa hadiah untuk keluarga saya."
Sam menghentikan mobil saat tiba di depan Mall yang Kian maksud. Sebelum turun gadis itu mengucapkan terimakasih lalu menghambur keluar. Dia melambaikan tangan pada Arkan yang hanya di tanggapi tatapan datar pria itu.
Sampai bertemu lagi, Tuan.
Kian berjalan memasuki lobby utama. Suasananya tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan akhir pekan. Ia mulai memasuki toko pertama, namun tiba-tiba keluar lagi. "Gila, barang begitu saja mahal amat!" gerutu Kian. Jiwa missqueen nya langsung meronta melihat tag harga yang tertera. Fantastis!
Kian sudah beberapa kali keluar masuk toko, namun keluar lagi dengan tangan kosong. Dan ini adalah toko ke sepuluh yang ia masuki.
__ADS_1
Apa kakinya terbuat dari besi? Lihat, dia bahkan keluar lagi dari toko itu dengan tangan kosong. Aargghh kakiku...