Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Cemas Tapi Gengsi


__ADS_3

Sebuah mobil berhenti didepan rumah. Kian yang hampir saja tertidur, kembali membuka matanya lebar-lebar.


Bibi Sumi membuka pintu saat mendengar seseorang membuka gerbang, dia melihat Kian yang terlihat berantakan dengan perban ditangannya.


"Apa yang sudah terjadi?" tanya Bibi cemas.


"Tadi sore aku terpeleset Bibi," jawab Kian pelan. Tidak ingin menambah kekhawatiran Bibinya.


"Bagaimana bisa terjadi? Kamu ini ceroboh sekali," Bibi Sumi malah mulai mengomeli Kian.


"Maaf Bibi, Kian seperti itu karena saya. Saya tidak bisa menjaganya." lirih Arkan menjelaskan.


Mendengar ucapan pria itu, Kian terkejut.


Bagaimana mungkin dia memiliki perasaan bersalah. Dia saja memakiku tidak berguna, dasar bodoh. Ya walaupun setelah itu mengobati lukaku. Tetap saja aku tidak percaya.


"Tidak, tidak. Justru Bibi terimakasih sama nak Arkan, karena sudah menjaga Kian semalam. Ini pasti terjadi karena kecerobohannya sendiri." ucap Bibi Sumi ingin menjitak Kian. Dengan cepat gadis itu mengelak dan mencebikkan bibirnya. Arkan sampai menahan tawa melihat kelakuan Bibi dan keponakannya itu.


Apa?! Jadi Bibi sudah tahu kemana aku semalam? Dan dia tidak marah? Aisshh kenapa Bibiku sampai segitu mempercayakan aku pada pria berkepribadian ganda ini sih?!


"Jadi Bibi tahu aku menginap dimana semalam?" tanya Kian penasaran. Setelah Arkan berpamitan pulang.


"Hmm... Tentu saja!" jawab Bibi Sumi disertai anggukan kepala.


"Bibi tidak marah dengan tuan Arkan?"


"Kenapa Bibi harus marah padanya? Seharusnya yang dimarahi itu kamu. Bagaimana kamu bisa tertidur pulas sebelum mengabari Bibimu ini, hah? Untung saja pria itu mau mengangkat ponselmu saat Bibi menelponmu, jadi Bibi bisa bernapas lega. Lagi pula kalau dia ingin berniat jahat padamu, kamu mungkin sudah diturunkan ditengah jalan, tapi buktinya dia malah mengantarmu pulang," tutur Bibi Sumi panjang kali lebar seperti orang tuanya kalau ditanya satu hal. Kian terkekeh. Apa semua orang tua kalau berbicara seperti itu, ya? Tentu saja, itu karena mereka khawatir.


Lihat, bahkan Bibi sampai membelanya. Tapi benar juga yang dikatakan Bibi. Kalau tuan muda itu berniat jahat padaku, tidak mungkin dia membantuku mengobati luka-luka ini.


"Maaf, sudah membuat Bibi khawatir." ucap Kian dengan nada menyesalnya.


"Tidak apa-apa. Lain kali kamu harus lebih berhati-hati. Kamu adalah tanggung jawab Bibi selama disini." balas Bibi sambil tersenyum. "Oh iya, mas Sholihin ada menghubungimu, tidak? Akhir-akhir ini, anak itu susah sekali dihubungi!" celoteh Bibi lagi.


"Ada Bibi, baru kemarin mas sholihin mengirim pesan ke Kian. Katanya mau pulang dalam waktu dekat. Tapi belum tahu kapan." jawab Kian menjelaskan.


"Lihat, dia bahkan mengabarimu lebih dulu. Tapi justru tidak menjawab telpon dari Bibi. Anak itu benar-benar ya! Awas saja kalau dia pulang sampai tidak mengabari Bibi. Akan Bibi kembalikan dia ke tempat asalnya." ancam Bibi Sumi sambil menunjuk perutnya.


Kian tergelak mendengar ucapan Bibinya. Terkadang Bibi Sumi punya selera humor yang bisa mengocok perutnya. Apalagi kalau sudah bertemu anaknya, Kian sampai meneteskan air mata karena tertawa. Kian senang memilik keluarga seperti Bibi Sumi. Walaupun dia jauh dari keluarga kandungnya, tapi disini dia bisa mendapatkan kehangatan keluarga juga.


Setelah membersihkan diri, Kian langsung merebahkan diri di kasur. Rasanya badannya sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Lelah teramat sangat menjalar hingga ke tulang sendinya. Hari pertama menjadi sekretaris pribadi benar-benar menguras tenaganya. Belum lagi saat jatuh dari motor tadi sore, rasa sakit dan nyeri baru ia rasakan sekarang.


Angin malam menembus kamar Kian melalui lubang ventilasi. Membuat udara di ruangan itu lebih terasa dingin. Kian menarik selimut, menutup rapat tubuhnya yang merasa kedinginan. Sebelum benar-benar tertidur, Kian menatap langit-langit kamarnya. Tiba-tiba muncul bayangan seseorang ada disana. Wajahnya terlihat menyebalkan. Suaranya juga. Tapi apa yang dikatakan orang itu mampu membuat Kian tertegun.


Jangan tertidur sembarang jika aku tidak ada. Apalagi saat bersama orang lain. Ingat itu!


Kalimat terakhir yang diucapkan Arkan sesaat sebelum dia pergi, membuat Kian bingung. Mendengar ucapan itu rasanya ada yang aneh dengan dirinya. Entah kenapa Kian merasa terharu. Apa pria itu sedang mencemaskan dirinya? Tidak mungkin!


Apa dia sudah tiba di rumah ya?

__ADS_1


Lama menatap bayangan itu, matanya mulai terasa berat. Akhirnya dalam sekejap, ia pun terlelap dalam mimpinya. Mimpi bertemu sang pangeran. Kali ini bukan pangeran berkuda putih. Melainkan pangeran bermobil Mercedes Benz AMG CLA datang menghampirinya.


"Aku mencintaimu, Pangeran," gumamnya sendiri.


Malam yang syahdu, bagi para penikmat rindu.


***


Pagi yang cerah untuk menyambut hari baru. Akhir-akhir ini Arkan sangat bersemangat berangkat ke kantor. Hari ini pun penampilannya terasa berbeda dari biasanya. Kemeja putih berbalut jas biru dongker menampilkan garis ketampanannya yang sempurna. Senyuman manis juga terus terukir disudut bibirnya. Menyapa para karyawan yang ditemuinya dengan ramah. Tak ada wajah dingin nan angkuh yang tercetak diwajahnya. Membuat orang-orang heran dengan sikapnya.


Apa dia kesambet?


Apa kepalanya habis kebentur tembok?


Apa dia sedang amnesia?


Berbagai pertanyaan muncul di kepala mereka. Hari ini tuan muda yang mereka temui bukan seperti tuan muda yang biasanya. Boro-boro mau tersenyum apalagi menyapa, menjawab sapaan karyawannya saja tidak pernah. Meski dengan anggukan kecil. Aneh tapi nyata. Itulah fakta yang didapatkan para karyawan pagi ini. Sedangkan yang dianggap aneh hanya menyeringai tanpa sebab.


Aku tak sabar ingin mengerjainya lagi!


Itulah yang terus dipikirkannya. Seperti mendapat oase baru yang akan terus menghibur dirinya. Ia langkahkan kaki dengan semangat menuju ruangannya. Ingin melihat sosok yang akan mencebikkan bibirnya atau mengumpatnya saat ia memulai aksinya lagi. Sungguh pemandangan indah!


Dia pasti sudah tiba.


Arkan sudah tiba di ruangannya. Matanya mencari-cari ke sudut ruangan kecil didepannya hingga ke ruangannya juga. Tapi sosok yang ia cari tidak ada.


"Mungkin dia sedang membuat kopi." Arkan masih mencoba berpikir positif.


10 menit.


20 menit.


30 menit.


Kian tak kunjung menampakkan dirinya. Arkan mulai gusar. Ingin menghubungi, namun dia bahkan tak memiliki nomor ponsel gadis itu. Berpikir sejenak, lalu membongkar isi lemarinya, mencari sesuatu. Dia tersenyum saat menemukan beberapa lembar kertas. Surat CV yang ia minta dari Pak Dan. Pria paruh baya itu sampai geleng-geleng kepala mendengar permintaan tuan mudanya. Baru kali ini ia tertarik dengan surat lamaran kerja karyawan.


Akhirnya ia buka lembaran CV itu.


Terlihat ada pas foto yang terlampir. Melihat foto lama seseorang yang menampilkan wajah polosnya, terukir senyum di bibirnya. Lalu matanya berbinar saat menatap nomor ponsel yang tertera disana.


Ahh dapat! Semoga saja dia tidak menggantinya.


Arkan menekan angka diponsel sesuai nomor yang tertera. Lalu menunggu.


Bunyi pertama. Belum ada jawaban.


Bunyi kedua. Belum ada jawaban.


Bunyi ketiga. Berhenti.

__ADS_1


Senyap. Sedetik kemudian.


"Halo..." seseorang berbicara. Suaranya terdengar lembut.


Mendengar suara itu tiba-tiba Arkan merasa gugup setengah mati. Jantungnya berdegup tidak karuan. Tangannya berkeringat, mengusap peluh. Kata-kata yang sudah ia rencanakan, tiba-tiba hilang begitu saja. Menyisakan dirinya yang gelagapan saat membuka suara.


"Halo... Ini siapa?" sapa orang itu lagi


Sedangkan Arkan masih belum menjawab.


"Halo... Halo.. Halllowwwww..." Merasa kesal tidak ada yang menjawab, orang diseberang telepon meninggikan suaranya. Lalu dalam sekejap sambungan telepon terputus.


"Apa dia sudah gila? Beraninya dia memutuskan sambungan teleponku! Mau mati dia ya?!" Arkan memaki-maki ponsel yang digenggamnya. Yang sebenarnya ia tujukan untuk Kian.


Arkan merutuki dirinya sendiri. Bagaimana dia bisa bertindak bodoh seperti itu. Selama ini dia tidak pernah menghubungi karyawan atau bahkan sekertarisnya lebih dulu meskipun menyangkut soal pekerjaan. Biasanya Pak Dan yang akan melakukannya. Dia juga tidak pernah menghubungi wanita, kecuali ibunya. Jadi saat dia menghubungi gadis itu, dia bingung harus mengatakan apa. Pekerjaan? Memang siapa dia, sampai pemilik perusahaan harus meneleponnya dan menanyakan penyebab dia tidak masuk kerja. Lalu menunjukkan kekhawatirannya? Tidak mungkin. Gadis itu bisa jadi besar kepala. Ya walaupun sebenarnya Arkan memang khawatir. Tapi dia belum siap kalau harus berkata jujur. Malu.


Akhirnya Arkan memilih keluar dari ruangannya. Mencari alternatif lain. Langkahnya menuju ke ruangan Bagian administrasi.


"Kau temannya Kian, bukan?" tanya Arkan saat bertemu seseorang. Dia Dina, sahabat Kian.


"I-iya Tuan," ragu-ragu Dina menjawabnya. Baru kali ini dia berbicara langsung dengan tuan muda, cukup membuatnya gugup dan ketakutan.


Arkan menyeringai, seperti mendapatkan ide cemerlang di kepalanya. "Ikut ke ruangan ku!" perintahnya.


Apa?! Kenapa?!


Takut-takut gadis itu mengiyakannya. "Baik Tuan," jawabnya sambil menganggukkan kepala. Jantungnya berdebar tidak karuan. Apa dia sudah melakukan kesalahan. Hanya itu yang dipikirannya.


Begitu ada didepan ruangan Arkan, Dina tidak menemukan keberadaan Kian. Dia hanya mengikuti langkah Arkan hingga terhenti saat pria itu mendudukkan diri di sofa.


"Hubungi temanmu! Kenapa dia tidak masuk hari ini? Apa dia sudah bosan bekerja disini?" cecar Arkan. Walaupun sebenarnya sindiran itu tertuju untuk Kian, tapi justru Dina lah yang merasa takut.


"Saya tidak membawa ponsel, Tuan. Tertinggal didalam tas," jawab Dina dengan peluh memenuhi pelipisnya.


"Kau tidak mengingat nomor teman baikmu?" selidik Arkan.


Dina menggigit bibir bawahnya. "Kalau dia jawab tidak, pasti tuan muda ini akan marah padanya. Tapi kalau dia jawab iya, bagaimana dengan Kian?"


"Jawab!" bentak Arkan. Membuat gadis didepannya terkejut.


"I-ingat Tuan," jawabnya pelan.


"Hubungi dia pakai itu!" Arkan menunjuk telepon kantor yang teronggok dimeja kerjanya.


"Baik Tuan."


Dina mulai memencet tombol. Sambil menunggu jawaban dari Kian, Dina terus mengumpat dalam hatinya. Dia kesal sekaligus geli melihat kelakuan Arkan.


Ck. Kalau tuan khawatir, kenapa tidak anda saja yang menghubunginya? Kenapa harus membuatku jantungan seperti ini. Dasar tuan muda Bucin.

__ADS_1


__ADS_2