Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Hari Bahagia


__ADS_3

Saat di area water park yang suasananya penuh tawa bahagia kental terasa, tidak sama halnya di rumah utama keluarga Wijaya yang sedikit canggung. Bapak dan Ibu Kian terkejut setelah mendengar tanggal pernikahan Kian dan Arkan yang diajukan Nyonya Wina dyang akan dilaksanakan dalam waktu seminggu. Meskipun awalnya sempat ragu, tapi Nyonya Wina berhasil menyakinkan kedua orangtua Kian. Semua persiapan akan dilakukan dalam waktu seminggu.


Seminggu berlalu.


Tepat hari ini, semua keluarga dan beberapa tamu undangan yang hadir sudah memenuhi ruang akad pernikahan. Kian dengan ditemani sang Ibu masih berada di kamarnya hingga ijab qobul selesai diucapkan. Sejak tadi, detak jantung Kian berdegup tidak karuan meskipun Ibunya sudah berusaha menenangkannya. Bahkan sapu tangan yang ada di genggaman Kian nyaris basah karena tangannya terakus berkeringat. Ia merasa gugup, bahkan sangat gugup, terlebih tidak bisa menysikan akad pernikahannya secara langsung.


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja," ujar Ibu menenangkan sambil menggenggam erat tangan Kian. Tanpa terasa air mata Ibu menetes melihat anak gadisnya yang kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa, dan sebentar lagi akan sah menjadi istri seseorang. Bagi Ibu, waktu berlalu sangat cepat hingga kenangan Kian kecil masih bisa berputar dengan baik di ingatannya.


"Kenapa Ibu menangis?" tanya Kian bingung.


Ibu langsung mengusap air matanya lembut sambil menarik napas dalam, " Ibu bahagia melihat kamu akhirnya menjadi pengantin, Kian. Rasanya baru kemarin Ibu menggandeng tangan mungilmu di genggaman Ibu. Tapi sekarang, ada orang lain yang sudah siap menggantikannya," lirih Ibu dengan suara yang bergetar. Di kecupnya kepala Kian pelan seperti yang sering Ibu lakukan dulu, sewaktu Kian masih kecil.


"Ibu, maafin Kian belum bisa membahagiakan Ibu tapi sudah memutuskan menikah. Maafin Kian, Bu." Sambil terisak, Kian memeluk Ibunya erat.


"Sstt.. Kamu tidak perlu meminta maaf, Kian. Melihat kamu sekarang bisa menikah dengan lelaki pilihan kamu sudah sangat membahagiakan Ibu, Nak."


Tangisan Kian semakin dalam. Bukan karena ia akan meninggalkan keluarganya dan menjadi istri dari pewaris tunggal Wijaya Group. Tapi karena mengingat perjanjiannya dengan Arkan. Ya, selain syarat yang ia ajukan pada pria itu, ia juga memiliki perjanjian. Bahwa pernikahan itu akan berlangsung hanya sementara. Setidaknya, sampai Nyonya Wina tidak menuntut Arkan untuk menikah dan Tuan Wijaya mempercayakan semua bisnis padanya. Pernikahan itu bukanlah pernikahan sungguhan seperti yang diharapkan keluarga Kian. Itulah yang membuat Kian semakin bersalah pada keluarganya, terutama pada sang Ibu.

__ADS_1


Maafin Kian, Bu.


"Tok tok tok." Seseorang mengetuk pintu dan membukanya perlahan.


"Ijab Qobul nya sudah selesai, Kak." Ayu dengan raut wajah sumringah langsung menghampiri Kian.


"Ayo kita keluar!" ajak Ibu sambil membantu Kian berdiri dan disambut anggukan oleh Kian.


Dengan perasaan takut, gugup, dan haru yang bercampur aduk menjadi satu, Kian berjalan menuju ruang akad. Suasana ramai yang memenuhi ruangan itu membuat Kian semakin gugup. Ia menundukkan wajah malu saat semua mata tertuju padanya.


Kian masih berjalan pelan dengan dibantu sang Ibu, balutan gaun pengantin yang ia kenakan sungguh membuat Kian sangat cantik dan mempesona. Rambut hitamnya pun tidak lagi kelihatan. Kerudung putih bersih sudah menutup sempurna di kepalanya. Ditambah riasan lembut yang menghiasi garis wajahnya membuat Kian menjadi pengantin tercantik di mata seseorang. Ya, Arkan sedang menatap Kian. Seorang gadis biasa yang kini sudah sah menjadi istrinya terlihat begitu cantik. Bahkan, meski ijab qobul yang membuat detak jantungnya berpacu sangat cepat sudah berhasil ia lewati, tapi ternyata di dalam dadanya masih merasakan debaran tersebut.


Kian yang mendengar pujian itu semakin menundukkan wajahnya. Ada rona merah yang menghiasi wajahnya. Bukan blush on melainkan rona merah karena menahan malu.


Tanpa Kian duga, Arkan meletakkan telapak tangannya di kepala Kian, tepatnya di atas ubun-ubunnya. Sambil mengucapkan sesuatu yang pelan, bahkan sangat pelan hingga Kian tidak bisa mendengarnya. Arkan menurunkan tangannya setelah ia selesai mengucapkan sesuatu. Lalu meraih kepala Kian dan mengecupnya lama. Kian sedikit tersentak mendapatkan perlakuan itu, meskipun ia yang mengajukan syarat untuk tidak melakukan kontak fisik, tapi entah kenapa ia merasa nyaman mendapat ciuman itu. Bahkan hatinya yang sejak tadi khawatir dan gugup tidak karuan, mendadak terasa damai.


Kenapa rasanya sangat menenangkan?

__ADS_1


"Ayo cium tangan suamimu, Kian!" Suara Ibu yang lembut mengagetkan Kian dari lamunannya, tanpa sadar ia menunjukkan reaksi gelagapan dan salah tingkah sendiri. Membuat para tamu undangan tergelak melihat tingkahnya.


"Sepertinya kau menginginkan yang lain," goda Arkan saat melihat Kian yang sempat menutup mata dan merekahkan bibirnya sedikit.


"Kau!" Kian mencubit pinggang Arkan hingga pria itu meringis antara merasakan sakit dan geli di pinggangnya. Lagi, para tamu tertawa melihat aksi lucu mereka.


Setelah acara akad selesai, keluarga Kian tidak kembali ke rumah Bibi Sumi, melainkan pergi menuju hotel berbintang yang sudah di siapkan untuk mereka. Arkan dan Kian sebelumnya sepakat untuk tidak mengadakan resepsi pernikahan. Sebenarnya, hanya Kianlah yang tidak menginginkannya, karena dia pikir pernikahan ini tidak akan berlangsung lama, jadi lebih baik untuk tidak memberitahukannya ke publik. Hanya pihak keluarga dan orang terdekat yang mengetahui bahwa mereka sekarang sudah menikah. Bahkan Rendy dan Dina tidak tahu berita ini.


Karena tidak ada acara resepsi pernikahan, Arkan memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Ia membawa serta Kian bersamanya untuk tinggal bersama mulai hari ini.


Meskipun sudah beberapa kali Kian datang ke apartemen pria itu, tapi kali ini rasanya berbeda. Ia merasa lebih canggung saat sudah sah menjadi istri Arkan.


"Aku ingin membersihkan tubuhku dulu. Istirahatlah, kau pasti lelah!" ucap Arkan lalu berjalan menuju kamar mandinya.


Hmm.. Aku akan rebahan sebentar," angguk Kian. Tanpa melepas gaun pengantin, Kian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasa kantuk dan lelah sudah menyergapnya sejak tadi. Bagaimana tidak, semalaman ia tidak bisa tidur karena memikirkan hari ini. Belum lagi saat ia harus duduk selama berjam-jam di depan meja rias sejak shubuh, membuat seluruh badannya terasa pegal. Gaun pengantin yang ia kenakan juga terasa berat, hingga menguras energinya. Kian benar-benar lelah sekarang. Dalam waktu sekejap ia sudah terlelap, dan tidak menyadari Arkan yang keluar dari kamar mandi.


"Ck, kau pasti sangat lelah sampai mendengkur seperti itu!" Arkan terkekeh saat melihat Kian yang telentang di atas tempat tidur.

__ADS_1


Kian masih belum menyadari kehadiran Arkan. Bahkan suara dengkurannya semakin jelas terdengar. Dia sangat pulas tertidur setelah semua kelelahan yang ia rasakan.


Akhirnya kini kau sah menjadi istriku. Meskipun kau berpikir untuk tidak mau bersentuhan denganku, aku akan menunggu sampai kau siap. Dan lagi, aku akan membuatmu membatalkan perjanjian konyol itu. Bagaimana mungkin aku akan melepasmu setelah bersusah payah mendapatkanmu?


__ADS_2