
~Jika waktu bisa terulang, aku ingin memelukmu tanpa melepaskannya lagi~
"Siapa dia?" tanya Delia setelah Arkan menutup pintu.
"Aku menawarimu minum teh bukan untuk menginterogasiku," jawab Arkan sinis. Lalu ia berjalan menuju kamar tidurnya.
"Aku tidak biasa membuatkan minum untuk orang lain. Kalau kau ingin minum teh, buat saja sendiri di dapur! Aku mau membersihkan diriku. Dan kau, jangan menyentuh apa pun tanpa ijinku," sambungnya lagi.
Arkan membuka pintu dan menutupnya kembali. Meninggalkan Delia di ruang tamu dengan wajah kesalnya. Namun Arkan tidak peduli. Ia membiarkan Delia masuk hanya karena ingin membuat Kian menyerah.
"Ck. Bukannya tadi dia yang menawariku untuk minum teh." Delia mendengus kesal. Ia pikir, Arkan mulai membuka hati untuknya. Namun ternyata, pria itu hanya menjadikannya alat. Ia tidak tahu siapa gadis di luar tadi, tapi ia merasa ada sesuatu diantara mereka.
Delia tidak berniat meminum teh. Peringatan Arkan padanya untuk tidak menyentuh barang milik pria itu pun membuatnya tidak bisa berkutik. Akhirnya Delia hanya duduk di sofa sambil melihat sekeliling. Apartemen yang cukup luas untuk penghuninya yang hanya seorang diri.
"Apa dia pernah membawa seorang wanita kesini sebelumnya?" gumamnya sendiri. Seketika pikirannya tertuju pada gadis yang ia temui di luar tadi. Membuat Delia penasaran, siapa gadis itu sebenarnya. Cara Arkan melihat gadis itu pun sangat berbeda dengan pada saat pria itu melihatnya. Entah kenapa hatinya sakit. Ia merasa cemburu pada Kian.
"Cklek." Terdengar suara pintu kamar terbuka. Arkan keluar dengan mengenakan pakaian kasualnya.
Dia benar-benar sempurna. Aku harus memilikinya segera.
Delia berdecak kagum melihat sisi yang berbeda dari pria itu. Meski terlihat santai, tapi penuh kharismatik. Wajah tampannya pun terpancar begitu sempurna. Rasanya, ia ingin segera memiliki pria itu bagaimana pun caranya.
"Bolehkah aku menginap disini malam ini? Hari sudah malam, tidak mungkin kan aku pulang sendiri sekarang," pinta Delia. Suaranya dibuat selemah lembut mungkin agar Arkan mengijinkannya.
"Tidak. Supirmu sudah menunggu sedari tadi," sahut Arkan sambil berjalan menuju pintu.
Mata Delia mendelik. Bagaimana ia tahu aku datang bersama supir?
"Bagaimana kau bisa tahu?" tanya Delia penasaran.
"Kau bukan tipe wanita yang bisa melakukan apapun sendiri."
Glek. Delia meneguk liurnya sendiri. Ia merasa kerongkongannya kering setelah mendengar ucapan Arkan. Lagi, pria itu membuat Delia malu pada dirinya sendiri.
Arkan membuka pintu agar Delia segera keluar dari apartemennya. Namun, ia terkejut saat melihat sosok yang bersandar di dekat pintu. Kian masih menunggunya sampai tertidur pulas disana. Wajah gadis itu terlihat lelah dengan anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya.
Kenapa dia masih ada disini. Ya Tuhan, apa yang harus ku lakukan sekarang? Aku benar-benar tidak sanggup melihatnya seperti itu.
Kian terbangun setelah mendengar suara pintu yang dibuka. Ia segera bangkit sambil merapikan rambutnya yang berantakan. Matanya menatap tajam pada Arkan dan Delia yang keluar bersamaan.
"Kenapa kau masih disini?" tanya Arkan. Suaranya masih terdengar dingin di telinga Kian.
__ADS_1
"KAU... Beraninya membawa masuk wanita lain selain aku, hah?" Kian mengacungkan jari telunjuknya tepat di wajah Arkan. Sontak pria itu terkejut.
"Siapa kau?" Kini, Delia yang menatap tajam gadis itu dengan tatapan tidak suka.
"Huh, Aku..? Aku kekasihnya. Dan KAU.." Kian beralih menunjuk wajah Delia. Gadis itu sampai melotot tidak percaya. "Jangan pernah mengganggu kekasihku. Dia milikku!!" Kian melirik Arkan yang melongo dibuatnya lalu menarik lengan pria itu masuk ke apartemennya. Ia juga membanting pintu dengan keras. Meninggalkan Delia yang terkejut karena tingkahnya.
Tidak hanya Delia, bahkan Arkan pun merasa terkejut dengan perlakuan Kian. Sejak kapan ia memiliki keberanian seperti itu. Tunggu, gadis itu bahkan menyebut dirinya sebagai kekasihnya. Arkan langsung memegang dadanya yang nyaris meledakkan sesuatu.
Aaahh jantungku rasanya ingin meledak sekarang. Aku benar-benar tidak tahan lagi melihat sikapnya yang seperti ini. Bisa-bisa aku akan melanggar janjiku karena begitu menggilainya.
Selepas membanting pintu. Kian menatap tajam Arkan yang sedang memegang dadanya. Wajah pria itu mendadak pucat pasi dengan keringat dingin yang membasahi pelipisnya.
"Kau sakit?" Kian menempelkan punggung telapak tangannya ke kening Arkan.
Tidak! dia demam.
Kian segera menarik tangannya dan menyeret Arkan ke kamar tidur. Pria itu tidak memberontak, ia hanya mengikuti langkah kaki Kian yang terus membawanya ke tempat tidur. Hati-hati, Kian membaringkan tubuh Arkan lalu menyelimutinya. Pria itu bisa melihat kekhawatiran di wajah Kian dengan jelas.
Kian segera berlari ke dapur dan mengambil air hangat. Mengompres dahi Arkan untuk menurunkan panasnya. Ia juga mengambil obat dari kotak di dalam nakas dan menyuruh Arkan meminumnya. Lagi-lagi, Arkan hanya menuruti Kian tanpa memprotesnya sedikit pun.
Seumur hidup, Arkan sudah sering mendapatkan pengakuan cinta. Entah sudah berapa banyak wanita yang terang-terangan menyatakan perasaan padanya. Bahkan tidak sedikit yang rela memberikan kehormatannya secara cuma-cuma. Tapi kali ini rasanya berbeda. Ia begitu senang saat Kian mengakui dirinya sebagai kekasihnya. Sampai-sampai sekujur tubuhnya panas dingin merasakan debaran jantungnya.
"Kenapa kau masih disana tadi?" tanya Arkan setelah Kian membaringkan tubuhnya lagi.
"Kau benar-benar mau mati ya? Beraninya membawa wanita lain kesini," ujarnya sinis.
"Bukankah ini rumahku? Aku bebas membawa siapa pun kesini."
Wajah Kian yang berapi-api mendadak ciut setelah mendengar ucapan Arkan. Ia memalingkan wajahnya malu.
Benar. Ini rumahnya. Aku tidak punya hak untuk kesal, apalagi melarangnya.
"Benar. Ini rumahmu, kau berhak melakukan apa pun yang kau suka," ucap Kian lirih.
Melihat wajah gadis itu berubah murung, Arkan menghela napas. "Aku ingin membuatmu pergi," jawabnya pelan.
Kian menoleh. Sebelah sudut bibirnya tertarik, "Apa kau pikir aku bodoh?"
"Kau memang bodoh. Aku sudah mengusirmu pergi, tapi kau malah tertidur disana. Apa kau tidak punya rumah?"
"Kalau begitu aku pergi saja!" Kian beranjak. Ia tidak berniat benar-benar pergi meninggalkan pria itu, ia hanya berpura-pura. Berharap Arkan akan menahannya seperti biasa.
__ADS_1
Namun sampai Kian maju selangkah, Arkan tidak juga menarik tangannya atau menahannya. Ia penasaran, lalu melirik pria itu melalui ekor matanya. Ternyata Arkan hanya menatapnya datar, Kian jadi ragu ingin melanjutkan langkahnya atau tidak.
"Kau tidak jadi pergi?" tanya Arkan polos.
Dia ini bodoh atau apa sih? Aku kan hanya berpura-pura.
"Kau benar-benar menginginkan aku pergi?"
"Bukankah kau yang mengatakan akan pergi saja?" Arkan merasa bingung sendiri. Tadi gadis itu yang bilang ingin pergi. Tapi kenapa seolah-olah ia yang menginginkannya. Wanita memang membingungkan!
"Ahh sudahlah. Aku akan disini saja sampai kau membaik." Kian mendudukkan dirinya di sofa lalu berbaring disana membelakangi Arkan. Pria itu hanya tersenyum menatapnya.
Dia sangat menggemaskan kalau sedang marah.
Karena efek samping obat, Arkan merasa benar-benar mengantuk sekarang. Akhirnya ia pun terlelap setelah lelah berdebat dengan Kian. Sementara gadis itu, ia membalikkan tubuhnya. Ia berjalan menghampiri Arkan yang sudah tertidur pulas. Menatap wajah pria itu lekat dengan bibir yang mengerucut.
"Ck. Wajahmu itu curang sekali. Bagaimana bisa kau tetap terlihat setampan ini sekalipun sedang tidur. Pantas saja banyak wanita yang mengejarmu. Menyebalkan!!"
Puas memandangi wajah Arkan, Kian pun ikut tertidur. Ia menjatuhkan sebagian tubuhnya di atas ranjang, sedangkan yang lainnya tetap duduk di atas kursi. Ia ingin menemani Arkan sampai kondisi pria itu membaik.
Beberapa saat kemudian, Arkan terjaga. Ia melihat Kian yang tertidur di sampingnya. Rasanya, ia tidak ingin malam ini berlalu begitu cepat. Kalau pun hari esok tiba, ia tidak ingin Kian bangun dari tidurnya. Biarlah tetap terlelap seperti ini, asalkan ia bisa memandangi gadis itu sesuka hatinya.
"Terimakasih sudah menjadi gadis bodohku. Kalau tidak, mungkin aku tidak akan bisa melihatmu disini. Aku merindukanmu!"
Arkan menggerakkan tangannya menyentuh kepala Kian. Membelai lembut rambut gadis itu. Ia merasa tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak melakukannya. Meski harus melanggar janjinya, ia akan menerima resikonya nanti.
***
Matahari sudah beranjak naik, cahayanya yang menembus dinding kaca menyilaukan mata yang masih terlelap. Kian mengerjap sambil sesekali mengucek matanya. Ia melirik sekelilingnya.
Kenapa tiba-tiba aku ada disini?
Kian baru menyadari dirinya sudah berada di atas tempat tidur. Entah bagaimana caranya ia bisa ada disana. Ia langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, mencari keberadaan Arkan. Namun, pria itu tidak ada disana. Ia beranjak, tapi tiba-tiba matanya melirik sesuatu di atas nakas.
"Apa ini?" Kian meraih piring berisi sesuatu yang berbentuk bulat lalu disiram sirup di atasnya. Seperti pancake. Tunggu, ada notes di bawah piring tersebut.
Ini bayaranmu karena sudah mengurusku. Awas kalau sampai tidak kau makan! Aku akan membunuhmu**!
"Bayaran apa ini? Aku sudah menunggunya semalaman, dan dia, hanya memberiku ini. Pelit sekali dia!"
Kian mencebikkan bibirnya membaca notes itu sambil mengambil sendok di atas nakas. Ia menyuapkan potongan besar ke dalam mulutnya, mengunyahnya sebentar lalu menelannya. Rasanya lumayan enak, batin Kian.
__ADS_1