Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Bertemu Rekan Bisnis


__ADS_3

Jam istirahat sudah berakhir, tapi Kian belum juga kembali. Dina membawa bekal makan siang Kian kembali ke ruangan mereka. Menyimpannya di laci. Rendy sendiri terlihat gusar, terlebih saat dia tidak bisa menghubungi Kian. Ponsel gadis itu ikut tertinggal di ruang istirahat karena dia buru-buru ke ruangan Arkan.


Kenapa Kian belum juga kembali? Kemana mereka sebenarnya?


Mana dia tidak bawa ponsel lagi.


Rendy sempat mendengar beberapa karyawan berbisik soal Kian yang pergi bersama Arkan. Mereka bertanya-tanya kenapa tuan Arkan mengajaknya pergi. Kemana Pak Dan yang biasanya bersamanya. Kenapa akhir-akhir ini tuan Arkan terlihat dekat dengan Kian. Apa dia hanya ingin mengerjain Kian atau sebaliknya, mulai menaruh rasa pada gadis itu. Selama ini tuan Arkan tidak pernah pergi dengan siapapun kecuali Pak Dan, bahkan sekretaris kantornya sekalipun. Baru kali ini dia mengajak orang lain pergi bersamanya. Berhentilah, bisikan bisikan halus itu hanya menambah kekhawatiran Rendy.


Sementara di tempat lain, Kian terlihat antusias mengikuti langkah kaki Arkan memasuki sebuah restoran. Dia bahkan senyum-senyum sendiri.


Apa sekarang dia akan mentraktirku??


Seorang pelayan datang menghampiri, lalu mengarahkan mereka ke sebuah ruangan VIP.


Ya ampun, dia sampai menyewa ruang VIP segala! Tidak perlu repot-repot tuan muda, di tempat biasa seperti ini juga saya sudah senang.


Kian terus saja meracau dalam hatinya. Entah kenapa dia penuh percaya diri sekarang. Namun saat pelayan itu membukakan pintu, sekujur tubuh Kian melemas. Wajahnya di tekuk, bak jeruk purut.


Huh, benar! Dia sudah ada janji dengan rekan bisnisnya. Kenapa aku percaya diri sekali dia akan mentraktirku. Dasar bodoh!


Kian mendengus, merasa kesal sendiri. Bagaimana bisa-bisanya dia berpikir sesuatu yang mustahil.


"Maaf sudah membuat anda menunggu." Arkan bersikap ramah dengan orang itu. Tidak biasanya.


"Tidak apa-apa, Tuan. Saya juga baru saja tiba. Silahkan duduk!" Di belakang orang itu ada seseorang yang sedang berdiri, seperti seorang asisten atau sekertaris.


"Terima kasih." Arkan duduk berhadap-hadapan dengan orang itu. Sementara Kian hanya berdiri di belakangnya.


Tidak lama pelayan yang tadi mengantar mereka kembali lagi. Kali ini ia membawa kereta dorong berisi makanan, dibantu dengan pelayan lainnya. Kian menelan ludah melihat makanan yang tersaji diatas meja. Sambil menarik nafas panjang, berharap insiden suara perut tadi tidak terulang.


"Silahkan dimakan, Tuan." ucap orang di depan Arkan. Lalu dia sendiri mengambil sendok dan garpu di sebelahnya.


Arkan sempat terkejut melihat hidangan diatas meja. Dia pikir hanya akan langsung membahas soal bisnis mereka. Tidak kepikiran dengan makan siang bersama lebih dulu. Ahh iya, ini kan jam makan siang.


"Hhmm Baik." jawab Arkan kikuk. Dia melirik Kian sebentar, gadis itu memalingkan wajahnya. Raut masam jelas terlihat.


Ragu-ragu Arkan memasukkan suapan pertama ke mulutnya. Dia mengunyah makanan itu lambat.


Lihat, dia bahkan makan dengan tenang tanpa memikirkan orang yang sedang kelaparan. Rasanya aku ingin mencekiknya saja!


"Uhuk!" Arkan terbatuk, dia mengambil gelas yang ada disisi tangannya.


"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya orang di depannya.


"Tidak apa-apa, maaf!" Arkan mengusap mulutnya dengan serbet di meja.


Entah kenapa Arkan merasa tenggorokannya sulit menelan. Sampai-sampai dia harus mendorong paksa dengan meminum banyak air.

__ADS_1


Kenapa tiba-tiba tenggorokanku terasa sakit??


Karena susah menelan, Arkan tidak melanjutkan. Dia hanya menunggu orang didepannya menyelesaikan makan siangnya.


Kenapa dia berhenti? Apa makanannya tidak enak? Menurutku rasa makanan ini tidak ada masalah.


Melihat Arkan menghentikan makannya, orang itu pun ragu untuk melanjutkan. Akhirnya dia pun menyudahinya.


Setelah acara makan penuh drama, mereka melanjutkan obrolan. Obrolan tentang bisnis tentunya. Kian tidak begitu peduli. Baginya, perutnya yang lapar saja sudah membuatnya pusing, ditambah lagi kalau harus mencerna pembicaraan mereka. Tambah pusing, Gustiiiii.


"Terima kasih, Tuan. Semoga kerja sama ini berjalan dengan baik." Orang itu menyalami Arkan sambil menepuk punggung tangannya. Menandakan dukungan.


" Sama-sama, Tuan. Saya juga berharap demikian," membalas jabat tangan orang itu.


Kian bernafas lega saat pertemuan Arkan dan rekan bisnisnya berakhir. Dia berharap bisa cepat kembali ke kantor. Menyantap bekal makan siangnya. Rekan bisnis Arkan dn asistennyan meninggalkan ruangan terlebih dulu, menyisakan mereka berdua di dalam ruangan.


"Tunggu disini!" perintah Arkan. Lalu dia keluar meninggalkan Kian sendiri.


Apalagi sekarang???


"Aku lapar," gumam Kian sendiri. Mengelus-elus perutnya.


Dia duduk menyandarkan tubuhnya sambil menunggu Arkan. Lalu datang dua orang pelayan tadi membereskan makanan yang sebelumnya mereka antar, dan menggantinya dengan yang baru. Rasanya ingin sekali Kian melahap habis makanan itu, tapi apa daya dia hanya bisa menelan liurnya sendiri. Sambil meremas perutnya yang semakin nyeri.


Sekarang siapa lagi yang akan dia temui?? Aaahh rasanya aku ingin pingsan.


"Maaf, kalau tuan merasa tidak nyaman. Tapi saya hanya penasaran, soal makanan tadi... Apa tuan tidak menyukainya?" tanya orang itu ragu-ragu.


Arkan menaikkan sebelah alisnya, berpikir. "Ohh,, maaf bukan seperti itu. Tadi entah kenapa tiba-tiba tenggorokan saya terasa sakit, jadi saya tidak melanjutkan memakannya."


"Ohh jadi seperti itu, saya kira karena anda tidak menyukainya. Saya jadi merasa tidak enak memesan sesuatu yang tidak anda suka."


"Bukan, bukan seperti itu. Maaf sudah membuat anda salah paham," ucap Arkan menyesal.


"Tidak apa-apa, Tuan. Baiklah, saya permisi dulu!" jawab orang itu tersenyum.


"Iya, hati-hati dijalan."


Lalu Arkan kembali ke ruangan dimana Kian berada. Ia melihat gadis itu sedang menidurkan kepalanya diatas meja.


Ck. Padahal aku menyuruhnya menunggu bukan menyuruhnya tidur. Kenapa gampang sekali dia tertidur??


"Hei, bangun!" panggil Arkan sambil menendang-nendang kaki kursi pelan.


Kian tidak bergerak.


"Hei kau, bangun!" panggilnya lagi.

__ADS_1


Masih diam.


"Kau tidur apa pingsan??!" Intonasi suara Arkan meninggi.


Kian masih tidak bergerak juga.


Arkan menepuk bahu Kian, mengguncangnya pelan tapi gadis itu tetap diam. Lalu tiba-tiba,


"Bruggg!" Tubuh Kian jatuh ke lantai.


Sontak Arkan terkejut. Dia langsung meraih tubuh Kian, memeluknya dipangkuannya.


"Kian, bangun! Apa yang terjadi??" Arkan mengusap-usap pipi Kian, berusaha membangunkannya.


Sial, kenapa wajahnya pucat begini?!


Arkan langsung menghubungi supirnya. Tidak lama supirnya datang bersama seorang pelayan. Pelayan itu datang dengan membawa minyak angin di tangannya. Lalu membuka tutup botol minyak tersebut dan mendekatkannya ke hidung Kian.


"Apa yang sedang kau lakukan?!!" bentak Arkan.


"Maaf, Tuan. Saya hanya berusaha menyadarkannya dengan aroma minyak angin ini. Saya perhatikan dari tadi nona ini memegang perutnya, sepertinya dia lapar. Mungkin dia pingsan karena lemas."


Dasar bodoh. Kenapa aku ceroboh sekali??


Arkan mengutuk dirinya sendiri. Dia memang sudah memesan makanan untuknya dan Kian, tapi sepertinya terlambat. Gadis itu keburu pingsan.


Arkan terus mengusap pipi Kian, sampai akhirnya gadis itu mengerjapkan mata. Sepertinya aroma minyak angin itu ampuh menyadarkannya. Kian memegangi kepalanya yang terasa pusing. Pandangannya masih sedikit mengabur.


"Minum ini!" Arkan menempelkan gelas berisi air putih ke bibir Kian, perlahan gadis itu meneguknya.


Setelah sepenuhnya sadar, Kian melepaskan dirinya dari pelukan Arkan. Matanya menatap benci ke pria itu.


"Ayo kita ke rumah sakit!" Kali ini nada bicara Arkan sedikit lembut dari sebelumnya.


"Tidak mau!" jawab Kian ketus.


"Tapi kau harus diperiksa."


"Tidak perlu. Aku mau pulang saja!" ucap Kian datar. Raut wajahnya terlihat dingin.


"Baiklah, aku akan mengantarmu." Arkan berusaha membantu Kian berdiri, tapi gadis itu menepisnya.


Arkan terkejut melihat perlakuan gadis itu. Beraninya dia menepis tanganku, batinnya. Tapi Arkan menahan emosinya, toh Kian begitu karena dia.


Kian berjalan lebih dulu menuju mobil. Tubuhnya masih lemas, terlihat dari cara jalannya yang lunglai. Sementara Arkan hanya mengikutinya dari belakang. Dalam hatinya dia merasa bersalah membuat Kian seperti itu.


Apa dia baik-baik saja??

__ADS_1


__ADS_2