Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Wawancara Kerja


__ADS_3

Kian sedang mematut diri didepan cermin. Karena merasa sudah baikan ia memilih berangkat ke kantor daripada berdiam diri dirumah. Nyeri kakinya sudah tidak terasa sakit, dan luka ditangannya juga mulai mengering. Jadi dia melepas perban dan mengenakan kardigan untuk menutupnya.


Selesai sarapan, ia berpamitan pada Bibi Sumi yang berada dihalaman belakang. Seperti biasa, wanita itu sedang menyirami tanamannya.


"Bibi, Kian berangkat ya," ucapnya sembari mengecup punggung tangan Bibinya.


"Iya, hati-hati dijalan. Awas jangan sampai jatuh lagi," pesan Bibi pada Kian.


Gadis itu tersenyum kecut mendengar pesan Bibinya. Dia merasa bersalah sudah membohongi wanita itu tentang kejadian yang sebenarnya. Tapi mengatakan yang sebenarnya juga akan membuat Bibinya lebih khawatir. Jadi biarlah Bibi Sumi menganggap dirinya hanya terpeleset saja.


"Iya Bibi," jawab Kian mengangguk.


Lalu Kian membuka pintu utama dan melihat sebuah mobil sudah terparkir di depan gerbang. Tanpa memeperhatikan lebih dalam, dia tahu siapa pemilik mobil itu. Ah orang itu lagi, batinnya. Kian membuka gerbang dan berjalan melewati mobil itu. Berpura-pura tidak melihatnya. Kian terus berjalan hingga akhirnya,


"Tiiiinnnnnnnnnn," Suara klakson mobil mengagetkannya. Nyaris gendang telinganya meledak karena berdengung.


"Sialan!" umpatnya kesal. Kian mengusap telinganya yang masih berdengung. Dia menoleh, menatap tajam seseorang didalam mobil. Kian tidak peduli jika tidak bisa melihat wajah orang yang didalam mobil dengan jelas. Kian hanya ingin memberi tahu orang itu melalui tatapannya, bahwa ia tidak ingin di ganggu. Namun sepertinya tidak berhasil, dari dalam mobil, sang pemilik malah terlihat tertawa senang dengan ulahnya. Dialah Arkan, Tuan Muda yang akhir-akhir ini menghabiskan sebagian waktunya untuk mengurus Kian. Mulai dari memberi perhatian yang tidak biasanya ia lakukan, sampai menjahili Kian. Hingga gadis itu merasa jengah sendiri. Setelah memberi tatapan tajam, Kian kembali melangkahkan kakinya.


"Masuklah! Aku akan memberimu tumpangan gratis!" tawar Arkan. Ia membuka kaca jendela agar Kian bisa mendengarnya.


"Tidak perlu repot-repot, Tuan. Saya bisa naik bis," jawab Kian tanpa menoleh. Ia terus berjalan diiringi mobil disebelahnya.


"Kalau kau tidak masuk, aku akan menyuruh Sam menabrak mu!" Mulai memaksa dengan ancaman. Tapi sepertinya berhasil.


Akhirnya sebagai orang yang merasa dirinya waras, Kian mengalah. Meladeni kegilaan pria itu tidak akan ada habisnya. Kian menghembus rambutnya kasar, lalu berbalik masuk ke dalam mobil. Ia disambut dengan senyum penuh kemenangan Arkan. Dasar tidak waras!!


Sebenarnya Kian bukan kesal karena senyum itu atau memaksanya untuk menerima tumpangan. Namun ia kesal karena mengingat kejadian kemarin. Dimana Arkan mengusir Rendy yang datang menjenguknya. Dari balik jendela Kian bisa melihat mereka sedang cekcok, tapi seperti yang kalian tahu siapa yang berkuasa dialah pemenangnya. Akhirnya Rendy mengalah, ia pulang sebelum sempat bertemu Kian. Garis wajahnya menunjukkan ia sangat kecewa. Melihat itu, Kian jadi merasa tidak tega menjauh darinya. Akhirnya ia berlari keluar kamar dan mengejar Rendy. Namun sayangnya pria itu sudah berlalu.


Didalam mobil, Kian memilih diam seribu bahasa. Secuil pun ia tak berniat membuka mulutnya apalagi berterimakasih. Namun tiba-tiba suara dering ponsel memecah keheningan. Kian mengangkat sebuah panggilan tanpa melihat itu dari siapa.


"Iya, selamat pagi," jawab Kian. Keningnya berkerut.


"Betul dengan saya sendiri, ini darimana ya?" tanyanya balik.


Arkan hanya melirik melalui ekor matanya sambil memasang pendengarannya. Tapi sialnya ia tidak bisa mendengar ucapan orang yang menghubungi Kian. Membuatnya semakin penasaran.


"Oh iya iya bisa. Saya akan segera kesana," jawab Kian penuh sumringah.


Laju mobil baru sampai didepan gerbang komplek. Kian buru-buru menepuk bahu Sam.

__ADS_1


"Sam, tolong hentikan mobilnya!" ucapnya setengah berteriak. Membuat Sam kaget dan menginjak rem mendadak. Kian langsung membuka pintu mobil dan menghambur keluar.


"HEI, KAU MAU KEMANAAA??!" teriak Arkan dari dalam mobil. Kian sudah berlari menjauh, tapi ia masih bisa menjawab pertanyaan Arkan.


"INTERVIEW KERJAAA..!" Kian langsung menghilang bersama tukang ojek pengkolan depan komplek.


"Apa tadi dia bilang?" tanya Arkan masih tidak percaya. Raut wajahnya terlihat bingung.


"Interview kerja, Tuan," Sam menimpali.


"Ohh..." Arkan manggut-manggut.


"APAAA?!!" Dia berteriak setelah menyadarinya. "Apa dia sudah gila? Beraninya dia..." Arkan tidak bisa melanjutkan, dia kehabisan kata-kata menghadapi Kian. Ia hanya memijat keningnya dan bergerak kesana kemari. Gelisah tak karuan.


Arkan tidak menyangka akan sesulit ini mendekati Kian. Gadis itu bahkan tidak tergoda dengan hartanya apalagi ketampanannya. Ia seperti menganggap Arkan tak lebih dari bos angkuh. Pria itu menghembus napas kasar, kesal karena tidak bisa menyusul Kian. Dia juga tidak tahu kemana perginya gadis itu. Akhirnya dengan perasaan frustasi ia berangkat ke kantor. Menunggu, semoga Kian segera datang.


Sementara ditempat lain.


Kian baru saja tiba didepan sebuah gedung pencakar langit. Di depan gedung tertulis huruf "R" sebagai logo perusahaan. Seingat Kian saat ia mengirim lamaran pekerjaan, perusahaan ini bergerak di bidang perhotelan, karaoke dan spa. Perusahaan yang cukup terkenal di ibukota dan beberapa kota besar lainnya. Kian bisa melihat orang berlalu lalang keluar masuk dari gedung itu.


Selain tempatnya bekerja sekarang, Kian juga mengagumi perusahaan ini. Perannya hampir sekitar 20% ikut berkontribusi dalam kemajuan sektor ekonomi di negeri ini. Antusiasme Kian memuncak saat dirinya mendapat kesempatan melakukan interview di perusahaan tersebut. Sudah hampir sebulan Kian mengirimkan lamaran, tapi baru hari ini ia dihubungi untuk jadwal wawancaranya. Baginya ini sebuah keberuntungan, tidak menyangka dirinya yang hanya lulusan SMA dilirik untuk melakukan interview kerja.


Begitu memasuki gedung, Kian langsung menghampiri bagian Resepsionis dilobby. Ia mengatakan maksud dan tujuannya, dan Resepsionis itu langsung mengangguk paham. Sepertinya ia sudah mengetahui maksud kedatangan Kian, tanpa banyak bertanya ia langsung mengantar Kian menuju sebuah ruangan.


Kian menunggu seseorang yang akan mewawancarainya sambil duduk di sebuah sofa. Sepertinya ini bukan ruangan HRD, ia tahu hanya dengan melihat fasilitas dan furniture yang ada. Tidak jauh berbeda dengan yang ada di ruangan Arkan. Kian tidak tahu siapa pemilik ruangan ini. Saat Resepsionis tadi mengantarnya, ia hanya diminta untuk menunggu disini.


Setelah hampir sepuluh menit Kian menunggu, akhirnya seseorang muncul dari balik pintu. Kian terkejut melihat orang itu, wajahnya tak asing lagi baginya. Ia merasa pernah melihat orang itu disuatu tempat. Kian mencoba mengingatnya. Ah benar, dia pernah melihat orang itu di ruangan Arkan beberapa hari lalu.


Pria itu tersenyum pada Kian. Lebih tepatnya sebuah seringaian. Lalu duduk berhadapan dengan wanita didepannya. Ia menatap Kian lama sebelum memulai pembicaraan, bertopang pada dagu sambil mengusap bibirnya. Kian hanya menunduk mendapat tatapan itu. Rasanya tidak nyaman. Dari ujung rambut hingga kaki tak luput dari pandangan pria itu.


"Maaf, Tuan. Kapan kita bisa memulai wawancara kerjanya?" tanya Kian yang merasa mulai risih.


"Kapanpun kau mau," jawab pria itu tersenyum.


"Bisakah kita mulai sekarang, Tuan?" tanya Kian lagi. Ia terlihat ragu menanyakan itu, namun pria didepannya seperti ingin dipancing untuk membuka suara.


"Baiklah. Siapa namamu?" Wajahnya masih mengukir senyum, entah kenapa Kian justru merinding melihatnya.


"Kian, Tuan. Kiandra Maharani,"

__ADS_1


"Berapa usiamu?"


"23 tahun, Tuan?"


"Sudah berapa lama kau bekerja dengan dia?" Saat menanyakan ini, ekspresi wajah pria itu mulai berubah, terlihat lebih dingin.


Awalnya Kian tidak mengerti siapa yang dimaksud pria itu, namun sedetik kemudian Kian baru menyadarinya. "Dia" yang dimaksud pria itu adalah Arkan.


"Sudah berjalan dua tahun ini, Tuan."


Pria itu manggut-manggut mendengar jawaban Kian. Lalu melanjutkan lagi.


"Kau sudah pernah bertemu dengannya sebelumnya? Apa kalian memiliki hubungan?" tanyanya lagi.


Kian mengerutkan dahi, dia tidak tahu wawancara apa ini. Kenapa pria itu justru membahas dirinya dengan Arkan. Bukan membahas tentang pekerjaan atau pengalaman kerja Kian sebelumnya. Bukankah hal itu yang selalu jadi prioritas saat melakukan wawancara kerja. Pria didepannya ini benar-benar aneh, batin Kian.


"Saya baru bertemu Tuan Arkan saat ia kembali dari luar negeri, dan saya tidak memiliki hubungan apapun dengannya," jelas Kian.


Mendengar jawaban Kian, raut wajah pria itu kembali tersenyum. Lalu mengangguk pelan.


"Baiklah. Kau diterima bekerja di perusahaan ini. Selamat bergabung!" ucap pria itu sumringah. "Perkenalkan, saya Reino Manhattan. Panggil saja Reino," Pria itu mengulurkan tangannya ke hadapan Kian.


Ohh, jadi logo "R" yang menempel di depan gedung adalah inisial dari orang ini.


Sontak Kian terkejut. Ia masih tidak percaya dengan hasil wawancara ini. Tak masuk akal, pikirnya. Hanya menjawab pertanyaan konyol itu saja membuatnya diterima kerja. Aneh!


"Kau akan mendapatkan gaji 3 kali lipat, dari gajimu sebelumnya," tawar pria itu saat melihat raut wajah Kian yang terlihat bingung.


"Benarkah?" Kian menganga tak percaya.


"Hmmm," angguk pria bernama Reino itu.


"Baiklah, Tuan Reino," Kian membalas uluran tangan pria itu. Tanda persetujuan.


"Tapi Tuan, saya harus mengajukan pengunduran diri dulu di perusahaan sebelumnya. Bisakah saya meminta waktu seminggu?" tanya Kian mengacungkan jari telunjuknya.


Reino terlihat berpikir. "Baiklah satu minggu," jawabnya kemudian.


Akhirnya sesi wawancara berjalan lancar, walaupun sedikit ada keanehan. Namun saat mendengar gaji yang ditawarkan pria tadi, Kian dengan antusias menyetujuinya. Dengan gaji itu ia bisa mengirim uang lebih banyak ke kampung untuk biaya sekolah adik-adiknya.

__ADS_1


__ADS_2