Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Kaos Couple


__ADS_3

******Hai para readers tercinta πŸ€—πŸ€—


Sebelum membaca, jangan lupa like, vote, rate, and comment ya..πŸ˜‰πŸ˜‰


Dukungan dari readers sekalian, sangat membantu author untuk tetap semangat dalam menulis..


Semoga sehat selaluπŸ€—πŸ€—****


----


Rendy masih berada di pantry. Menyesap kopi yang baru saja diseduh. Sambil menikmati cairan hitam pekat yang mengalir di tenggorokannya, ia kembali menghirup aroma segar yang keluar dari kopi tersebut. Rasanya sungguh menenangkan!.


Ia melirik jam tangannya, menunggu kedatangan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Kian. Dia benar-benar tidak tahu kemana gadis itu pergi. Kemarin, seharian ia mencari informasi tentang keberadaan Kian, namun ia tidak berhasil. Bahkan saat ia mendatangi rumah Bibi Sumi, Rendy tidak menemukan siapapun disana. Rumah itu kosong. Terpaksa, ia pulang dengan perasaan kecewa.


"Ren, ada yang nyari kamu tuh!" ujar seorang wanita mengagetkan Rendy dari lamunannya.


"Siapa?" Pria itu mengernyit.


"Viona!" jawab wanita itu. Lalu meninggalkan Rendy yang masih dipenuhi tanda tanya.


"Viona? Mau apa dia?" gumam Rendy.


Pria itu pun menuju resepsionis tempat dimana Viona menunggu. Penampilannya tidak seperti biasa, ia terlihat lebih seksi dengan pakaian yang sedikit terbuka.


"Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Rendy dengan raut wajah bingungnya.


"Aku membawakan sarapan untukmu." Viona menyodorkan sebuah kotak makan ke arah Rendy. "Bagaimana penampilanku?"


"Cantik. Tapi kenapa kamu memakai pakaian seperti ini untuk bekerja?"


"Hmmm,, ini pakaian lamaku. Aku hanya ingin memakainya sesekali. Oh ya, Bos kamu jam segini belum datang?" Mata Viona terus mengarah kesana kemari seperti mencari seseorang.


"Bos? Pak Hendra maksud kamu?" Rendy menyebutkan nama Kepala bagian marketing yang merupakan atasannya.


Viona menggeleng sambil mengibaskan tangannya. "Bukan, maksud aku Tuan Arkan!"


"Ohh, dia tidak masuk dari kemarin," jawab Rendy dingin. Ia jadi teringat Kian dan Tuan Muda itu tidak datang ke kantor sejak kemarin.


"Kenapa?" Viona terlihat sangat penasaran. Gelagatnya sedikit aneh.


"Tidak tahu, bahkan Kian juga tidak masuk kerja dari kemarin," jawab Rendy lirih.


Ck. Lihat, raut wajahmu langsung berubah saat mengatakan gadis pengganggu itu tidak masuk bekerja. Apa kau merindukannya? Dasar laki-laki bodoh!


***


Matahari sudah beranjak naik. Selepas sarapan, Kian menghambur ke dalam kamar, meninggalkan Arkan yang masih mengunyah makanannya. Pria itu sampai melongo, melihat Kian begitu terburu-buru. Bahkan dia tidak membersihkan piring kotor seperti biasanya.


"Hei, mau kemana kau?!" teriak Arkan setelah menelan makanannya.

__ADS_1


"Ke kamar!" sahut Kian lalu menutup pintu.


Pagi itu mereka sarapan hanya berdua. Ibu dan Bapak sudah berangkat ke sawah melanjutkan tandur padi setelah insiden tadi. Sementara Sam, pria itu meminta ijin pergi mencari udara segar sebentar.


Arkan terus mengunyah makanannya hingga tuntas. Walaupun masih sedikit susah menghabiskannya, tapi ia tetap berusaha. Dan sepertinya, ia mulai terbiasa. Sekarang, ia malah merasa lebih cepat lapar kalau tidak makan nasi.


Arkan meletakkan piring kotor di tempat pencucian piring. Entah sejak kapan, dia mulai peduli dengan hal-hal seperti itu. Alih-alih merapikan piring kotor, biasanya selesai makan ia akan langsung menghambur begitu saja.


Arkan berjalan menuju ruang tamu, ia berhenti di depan kamar Kian yang masih tertutup rapat.


Apa yang sedang ia lakukan?


Lama Arkan berdiri disana, ingin memanggil Kian, rasanya ragu. Tapi ia penasaran apa yang dilakukan gadis itu di dalam kamarnya. Akhirnya, Arkan mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu, namun tiba-tiba.


"Cklek." Pintu kamar terbuka.


Melihat tangan Arkan yang menggantung di udara, Kian mengerutkan dahinya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Kau sendiri, apa yang kau lakukan? Kenapa lama sekali kau di dalam kamar?" Arkan gelagapan. Ia balik bertanya untuk menyembunyikan rasa gugupnya.


Wajah Kian terlihat memerah, ia menyodorkan sesuatu di depan Arkan.


"Apa ini?" tanya Arkan bingung.


"Ucapan terimakasih karena sudah membantu keluargaku." Ragu-ragu Kian mengatakannya. Membuat wajahnya semakin bersemu merah.


"Jangan dibuka disini!" larang Kian. Ia malu.


"Kenapa? Aku tak sabar ingin melihat apa isinya!"


Kian pasrah, ia menundukkan wajahnya menahan malu. Sementara Arkan, dengan cepat ia merobek kertas pembungkus itu dan mengeluarkan isinya.


"Kaos?" Arkan terlihat bingung dengan hadiah yang di terimanya. Kaos berwarna yang menurutnya sangat norak. Apalagi ada embel-embel tulisan di depan kaos tersebut.


"Iya," jawab Kian masih malu-malu.


"Cih, norak sekali warnanya. Dan apa ini, I Love Puncak? Seleramu kekanakan sekali!" Arkan mencibir kaos pemberian Kian.


Wajah Kian yang sedari tadi tersenyum, berubah masam. Ia kesal karena pria itu justru mengejek barang pemberiannya.


"Memangnya kenapa? Aku juga punya satu seperti itu. Aku membelinya sepasang waktu di puncak. Kalau kau tidak suka, sini kembalikan!"


Mendengar ucapan Kian, Arkan tertegun. Ia merasa hatinya bergejolak tidak karuan. Itu artinya Kian memberinya kaos pasangan seperti sepasang kekasih.


"Jadi maksudmu, ini kaos couple gitu? Sepasang?" Senyum di bibir Arkan semakin melebar.


"IYA, kalau kau tidak suka, biar aku berikan saja kaos itu pada Arya!" jawab Kian ketus.

__ADS_1


Memberikan kaos ini pada laki-laki itu?


Membayangkan Arya memakainya bersamaan dengan Kian, Arkan menggeleng kuat. Ia tidak terima kalau Kian dan Arya memakai kaos couple itu seperti sepasang kekasih. TIDAKKK!!


"Enak saja, kau sudah memberikannya padaku. Berarti ini milikku!" Arkan memeluk kaos itu kuat.


"Bukankah kau tidak menyukainya?" sindir Kian.


"Siapa yang bilang? Aku hanya mengatakan warnanya terlihat norak, bukan berarti aku tidak menyukainya." Arkan menarik baju Bapak yang sedang ia pakai lalu melepasnya.


"Apa yang kau lakukan?" Kian memalingkan wajahnya saat matanya menatap kotak-kotak di tubuh Arkan. Setiap kali melihatnya, Kian merasa jantungnya berdegup 10 kali lebih cepat.


Pria itu baru saja mengganti pakaiannya dengan memakai kaos yang Kian berikan. Raut wajahnya terus tersenyum senang. Apalagi saat Kian mengatakan itu adalah kaos couple, membuat hati pria itu semakin berbunga-bunga.


Ck. Dasar orang aneh, katanya norak tapi dipakai juga.


"Ya meskipun terlihat norak, tapi karena kaos ini tidak mempengaruhi ketampananku, aku akan memakainya," ujarnya menyombongkan diri. Arkan tidak ingin ketahuan, kalau ia sebenarnya terlalu senang menerima hadiah itu.


"Terserah kau saja!" Kian acuh tak acuh menanggapinya. Namun, saat melihat Arkan memakainya, Kian merasa darahnya berdesir. Sejak awal, ia membayangkan Rendy yang akan memakainya. Bukan orang lain, terlebih pria di depannya ini. Tapi karena Rendy tidak mungkin lagi ia miliki, lebih baik ia memberikan kaos ini pada orang lain. Setidaknya pada orang yang sudah membantu keluarganya. Ya walaupun ia tidak bermaksud menganggap Arkan sebagai kekasihnya, tapi untuk saat ini, hanya itu yang bisa ia berikan sebagai ucapan terimakasih.


"Hei, kau bilang membelinya sepasang, bukan?" tanya Arkan membuyarkan lamunannya.


"Iya, kenapa?" jawab Kian masih dengan wajah sinisnya. Mendapat ejekan atas barang yang ia relakan sepenuh hati, rasanya kesal juga.


"Cepat pakai! Aku ingin tahu pakaian itu cocok untukmu seperti aku apa tidak. Lihat aku, walaupun ini norak, aku tetap terlihat tampan memakainya. Tapi kau? Aku tidak yakin!" Sebuah seringaian muncul di bibir Arkan.


"Cih, rasanya aku ingin menyumpel mulutnya saja!" gumam Kian.


"Tentu saja aku akan cocok memakainya." Kian merasa tertantang dengan ucapan Arkan. Ia kembali ke kamar dan mengganti pakaiannya dengan kaos yang sama seperti Arkan.


Tidak lama, pintu kamar terbuka. Kian keluar dengan pakaian yang sama persis dengan Arkan. Pria itu terus menatapnya tanpa berkedip. Sekarang, dengan pakaian yang sama, mereka benar-benar seperti sepasang kekasih.


"Kau sudah puas? Sudah ku katakan aku cocok memakainya." Kian berkacak pinggang ikut menyombongkan dirinya.


Benar! Kau bahkan sangat cocok memakainya.


"Tidak buruk!" jawab Arkan datar.


"Kalau kau sudah puas melihatnya, aku akan menggantinya." Kian berbalik. Namun tangannya ditahan oleh Arkan.


"Kenapa kau ingin menggantinya? Apa kau malu karena itu terlihat norak?" Arkan berusaha memprovokasinya lagi.


Kian menatap tangannya yang masih dipegang Arkan. "Lepaskan!" Refleks Arkan melepaskannya.


"Baiklah, aku akan memakainya sampai kaos ini membuat matamu meleleh." Usai mengatakannya, Kian pergi meninggalkan Arkan.


Bukan mataku, tapi hatiku.


Arkan menatap punggung Kian yang berjalan menjauh darinya. Ia meraba jantungnya yang berdetak 100 kali lebih cepat.

__ADS_1


Hei, jantung bodoh! Berhentilah, atau kau akan membuatku ketahuan.


__ADS_2