Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Malam Pertama ( End Part 1 )


__ADS_3

Arkan berdecak kesal melihat Kian yang begitu semangat menertawakannya. Namun beberapa saat kemudian Kian menghentikan tawanya dan memicingkan mata, menatap Arkan penuh selidik.


"Apa benar kau tidak pernah berciuman sebelumnya?" tanya Kian tidak percaya.


Beberapa detik mengingat, Arkan menggeleng. "Tidak, sepertinya aku pernah melakukannya sekali. Seorang gadis bodoh sudah mencuri ciuman pertamaku."


"Apa?! Dengan siapa?" Kian membelalak tidak suka. Meski kesal, namun ia penasaran gadis mana yang sudah berani mencium Arkan sekaligus merasakan ciuman pertama pria itu. Ahh dia tidak rela!.


"Kau tidak ingat pernah melakukannya?" tanya Arkan balik.


Kian mengacungkan telunjuk ke wajahnya sendiri. "Aku? Melakukannya? Kapan?"


"Ck. Benar. Mana mungkin kau akan ingat. Kau bahkan melakukannya tanpa sadar."


"Kapan? Kapan aku melakukannya? Itu artinya aku yang merasakan ciuman pertamamu?" tanya Kian semakin antusias.


"Hmmm," sahut Arkan singkat lalu menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang.


Syukurlah. Meski aku tidak ingat pernah melakukannya, tapi setidaknya ciuman pertamanya bukan bersama orang lain.


"Darimana kau mendapatkan pakaian itu?" Kian heran melihat Arkan yang mengenakan pakaian santai, padahal ia tidak membawanya.


"Di ruang ganti ada lemari yang menyediakan pakaian baru. Kau juga bisa mengganti pakaianmu disana," tunjuk Arkan dengan mengangkat dagunya.


Kian menoleh ke ruangan yang dimaksud Arkan lalu beranjak hendak mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang disediakan dari hotel. Kian baru tahu ada hotel yang menyediakan pakaian ganti untuk para tamu, sampai-sampai ia merasa takjub saat melihat pajangan pakaian dalam di lemari yang bentuknya tidak pernah ia lihat sebelumnya.


"Apa ini?" gumamnya sambil memegang G-string. Karena penasaran dengan bentuknya yang hampir mirip dengan celana dalam, Kian menempelkannya di pinggul sambil menatap dirinya dalam cermin. Membayangkan ia sedang memakainya. Lalu sesaat kemudian ia terkekeh membayangkan memakai G-string tersebut di depan Arkan.


"Apa yang kau lakukan?!" Suara Arkan tiba-tiba saja mengagetkannya. Membuat jantungnya serasa mau copot sangking terkejutnya. Dengan cepat, ia menyembunyikan celana dalam tersebut dibalik tubuhnya.


Kian menggeleng. "Tidak! Aku tidak melakukan apapun. Hanya sedang memilih pakaian tidur saja," jawab Kian gugup. Merasa aneh, Arkan mendekat ke arahnya. Melirik ke balik tubuh Kian yang menyembunyikan sesuatu lalu menarik paksa dari genggamannya. Spontan, Kian terperanjat.


Sambil mengerutkan kening, Arkan membolak balik G-string di tangannya. "Apa ini?" tanyanya bingung. "Bentuknya seperti-."


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Kian cepat sebelum Arkan melanjutkan pertanyaannya yang bisa-bisa membuatnya malu sendiri.


Arkan tersadar mengingat tujuannya masuk ke ruang ganti, lalu melempar G-string di tangannya ke sembarang arah. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. "Ini untukmu," ucapnya sambil menyerahkannya pada Kian.


Kian menatap kotak kecil ditangannya dengan kening berkerut. "Apa ini?"

__ADS_1


"Bonus yang ku janjikan tadi siang. Bukalah!"


Perlahan, Kian membuka kotak kecil berbahan kain beludru tersebut. Sebuah kalung berliontinkan permata terlihat begitu indah. Kian bahkan tidak berkedip menatapnya.


"I-ini untukku?" tanya Kian tidak percaya. Matanya masih belum beralih dari kalung tersebut.


"Hmmm. Kau suka?"


Kian mengangguk. Tanpa terasa buliran bening jatuh di pelupuk matanya. "Terima kasih," ucapnya dengan suara tercekat.


Mendengar suara Kian yang aneh, Arkan langsung meraih dagu Kian. Ia panik saat melihat air mata justru membasahi pipi istrinya. "Hei, kenapa kau menangis, hmm? Kau tidak menyukainya? Kalau kau tidak suka, aku akan membuangnya dan segera membeli yang lebih bagus dari ini. Jangan menangis, ku mohon!" rentet Arkan dengan wajah kebingungan.


Kian menggeleng pelan. "Bukan itu. Aku menyukainya, sangat. Tapi aku tidak pantas menerimanya. Aku baru saja mengacaukan dan membuatmu malu di acara tadi. Aku tidak bisa menerima ini." Kian menyodorkan kalung tersebut pada Arkan. Namun dengan segera ditolaknya.


"Apa maksudmu? Aku tidak pernah merasa kau mempermalukanku sedikitpun. Asal kau tahu, justru aku merasa bahagia memilikimu. Aku mencintaimu, Kiandra Maharani." Arkan memeluk erat Kian yang semakin menumpahkan tangisannya di pelukan pria itu. Tangisan bahagia bahwa pernikahan yang ia idamkan menjadi kenyataan. Dicintai dan mencintai. Membangun mahligai rumah tangga dengan pria didepannya tentu tidak mudah, tapi dengan cinta yang mereka miliki satu sama lain, ia siap berjuang.


"Aku juga mencintaimu, Arkan Saguna Wijaya," ucap Kian setelah melepas pelukannya. Meski manik matanya masih menggenang, tapi kata-kata itu bisa terucap sempurna dari mulut Kian. Senyum merekah menghiasi wajah mungilnya.


Menatap wanita yang kini sah menjadi istrinya, Arkan tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuhnya. Diraihnya kepala Kian hingga tepat di depan wajahnya, lalu mendaratkan ciuman lembut di kening wanita itu. Mencurahkan rasa kasih sayang yang ia miliki sepenuhnya hanya untuk Kian.


Setelah mengecup kening Kian, Arkan beralih menatap bibir merah muda yang menghias sempurna di wajah istrinya. Baru saja ia menempelkan bibirnya ke bibir Kian, keringat dingin sudah mengucur di pelipisnya. Ia merasa tubuhnya mulai gemetar dan refleks, ia menyudahi ciumannya.


Ciuman yang tadinya lembut kini mulai memanas. Kian membiarkan lidah Arkan menerobos masuk dan menjelajah setiap sudutnya. Menyesap bibir atas dan bawah bergantian.


"Kau siap?" tanya Arkan dengan tatapan mata sayu. Malu-malu, Kian pun mengangguk.


Dengan seluruh tenaga, Arkan menggendong tubuh Kian di perutnya. Sementara Kian, melingkarkan kedua tangannya di leher Arkan sambil merengkuh kepala Arkan di pelukannya.


Arkan berjalan membawa tubuh Kian menuju kasur dan meletakkannya pelan-pelan disana. Dicumbunya lagi istrinya sambil tangannya melepas ikatan handuk yang melilit tubuh Kian. Perlahan, Arkan membuka handuk tersebut dan terlihat bagian intim Kian yang selama ini tertutup rapat, menyambut hasratnya. Kian pun melakukan hal yang sama, ia membantu menarik pakaian suaminya satu persatu. Dada bidang yang selama ini hanya bisa diliriknya, kini bisa ia sentuh sepuasnya. Kian memainkan jemarinya disana hingga membuat tubuh Arkan semakin menegang.


Setelah puas merasakan jemari Kian bermain di dadanya, sekarang giliran Arkan yang menjelajahi setiap inci tubuh istrinya dengan mendaratkan tanda kepemilikan disana. Kian hanya bisa mengerang, merasakan kenikmatan sentuhan Arkan yang membuatnya seperti melayang di udara.


"Pelan-pelan," lirih Kian saat Arkan mencoba menembus pertahanan yang selama ini ia jaga. Sambil menggenggam jari Kian, Arkan menambah tekanannya hingga akhirnya ia bisa menerobos masuk merasakan milik Kian yang menghangatkan juniornya.


Perih, sakit, dan nikmat Kian rasakan sekaligus. Namun dalam hatinya ia merasa bangga bisa memberikan kehormatannya hanya untuk suaminya seorang. Begitupun sebaliknya, ia merasa sangat bahagia mendapatkan suami yang hanya membagi kenikmatan ini hanya dengannya seorang.


Arkan menarik miliknya saat mereka sudah sama-sama mencapai puncak kenikmatan. Baru saja ingin merebahkan tubuhnya di samping Kian, ia panik melihat bercak darah diantara organ intim istrinya.


"Astaga, kamu berdarah!! Ayo kita segera ke rumah sakit!" Arkan ingin beranjak dari tempat tidur, cepat-cepat Kian duduk dan menahannya.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa. Itu bukti kalau aku menjaganya selama ini hanya untuk seseorang yang akan menjadi suamiku."


Lagian aku tidak ingin seisi rumah sakit tahu kita habis melakukan hubungan suami istri.


Arkan tertegun mendengar pengakuan Kian, namun raut wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran. "Kenapa harus sampai mengeluarkan darah? Apa rasanya sakit?" tanyanya cemas.


Astaga, kenapa dia polos sekali? Bagaimana aku menjelaskan padanya kalau ini biasa terjadi saat melakukannya pertama kali.


"Itu karena selaput darah yang melindungi milikku robek. Rasanya sedikit sakit dan perih, tapi aku tidak apa-apa."


Wajah Arkan yang tadinya terlihat cemas, semakin gusar. "Apa itu artinya kamu akan berdarah setiap kali kita melakukannya?"


Kian terkekeh dan menggeleng. "Tidak. Itu terjadi hanya untuk pertama kalinya saja," jelas Kian menenangkan.


Arkan menghela napas lega. "Maafkan aku. Sudah membuatmu merasakan sakit."


"Tidak apa-apa. Aku akan membersihkannya dulu." Kian hendak beranjak sambil meringis menahan perih diantara selangkangannya.


"Biar aku gendong." Arkan meraih tubuh Kian dan mengangkatnya diantara tangan kokohnya. Kian yang sempat terkejut hanya tertegun memandang wajah suaminya.


Arkan masuk ke dalam bath up dan meletakkan tubuh Kian di depan tubuhnya. Lalu mengisinya dengan air hangat sambil meneteskan beberapa aroma terapi. Ia juga mengambil shower puff dan mulai menggosok tubuh Kian perlahan. Kian terkekeh geli saat Arkan sesekali mencium leher dan punggungnya. Memberikan aliran yang serasa berpusat di perutnya.


Lama kelamaan, tangan Arkan yang tadinya menggosok punggung mulai beralih mengusap bagian depan. Membuat Kian semakin mengerang merasakan pijatan lembut tangan Arkan di dadanya. Dibalik tubuhnya, sesuatu milik Arkan sudah tegak berdiri dengan gagahnya. Dan akhirnya, mereka pun melakukannya lagi.


Arkan menarik selimut menutupi tubuh Kian yang sudah terlelap karena lelah. Mengecup kening Kian sebentar lalu berbaring di sampingnya. Sebelum benar-benar tidur, Arkan menyempatkan untuk menatap wajah Kian yang terlihat begitu tenang. Hatinya tidak berhenti bergejolak meskipun permainan mereka telah usai. Bagi seorang pria dewasa sepertinya, hasrat untuk melakukan itu sering kali muncul. Terlebih saat banyak wanita yang menawarkan diri padanya. Namun, ia tetap bertahan. Baginya, ia hanya akan melakukan hubungan intim dengan wanita yang telah sah menjadi istrinya. Seorang wanita yang begitu dicintainya.


"Aku akan membuatmu bahagia bagaimanapun caranya." Mengambil tangan Kian dan menciumnya. Lalu memeluk erat istrinya hingga pagi menjelang.


***


Kian dan Arkan berangkat ke kantor bersamaan. Meski Kian sedikit gugup, namun Arkan terus menyakinkannya untuk mulai mendeklarasikan hubungan mereka. Agar tidak seorangpun yang bisa meremehkan istri dari pewaris tunggal Wijaya Group.


Semua karyawan menatap Kian dan Arkan yang saling bergandengan tangan sejak memasuki gedung kantor. Tatapan takjub sekaligus iri mengarah kepada pasangan itu. Siapa yang menyangka, pertemuan pertama yang penuh kebencian, kini berubah menjadi penuh cinta.


Arkan melingkarkan tangannya ke pinggang Kian, mengecup puncak kepala istrinya yang sontak disambut dengan sorakan dan tepuk tangan meriah dari para karyawannya.


"Aku mencintaimu, Istriku." Bisik Arkan.


Kian tercenung sesaat mendengar pernyataan cinta Arkan, sebelum akhirnya ia tersenyum bahagia.

__ADS_1


Terima kasih Ya Allah mengirim dia dalam hidupku.


__ADS_2