Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Gara Gara Kopi


__ADS_3

Malam semakin larut, udara dingin nyaris menembus kulit. Beruntung bagi mereka yang sudah berleha-leha di rumahnya. Karena sebagian orang masih ada yang mencari cara untuk menyelamatkan diri dari banjir.


Beruntung Rendy mengantarkan Kian sampai ke rumah dengan selamat. Hanya saja Kian merasa khawatir apakah pria itu juga sampai ke rumahnya dengan selamat.


"Aku baru saja sampai."


Kian memutuskan teleponnya. Akhirnya bisa bernapas lega saat Rendy mengatakan sudah tiba di rumah. Ia sendiri beranjak ke tempat tidur dan mematikan lampu kamar, lalu menarik selimut hingga menutup dadanya. Matanya mulai terpejam.


"Arghhh." Tiba-tiba ia berteriak frustasi, mengacak selimutnya dengan kaki.


Mengingat lagi pekerjaan tambahan yang diberikan Pak Dan tadi siang membuatnya kesal setengah mati. Bukan karena pekerjaannya, tapi karena harus bertemu Arkan setiap hari. Benar-benar menyebalkan!


"Kenapa aku harus berurusan dengan orang gila itu lagi sih?!" umpatnya nyaris berteriak. "Tidak cukupkah dia menginjak harga diriku? Bahkan sekarang memberiku pekerjaan tambahan? Dasar Tuan Muda terkutuk!!"


Sejak bertemu dengannya, hidupku dibuat tidak tenang. Bahkan untuk bernafas sekalipun.


"Oke Kian, tarik nafas! Tenang. Besok kau hanya perlu membuatkan kopi lalu mengantarnya ke ruangan Tuan Muda sombong itu. Setelah itu keluarlah tanpa membuat masalah." Kian mengatur rencana yang harus dilakukannya besok.


Meskipun ragu, dia menyakinkan dirinya dengan mengepalkan tangannya ke udara. "Aku pasti bisa." Menyeringai penuh semangat.


Hingga akhirnya ia pun terlelap dalam mimpinya.


***


Pagi ini Kian sudah berada di pantry. Sedari tadi dia bingung memilih kopi yang akan dia buat untuk Arkan. Setelah cukup lama berpikir akhirnya ia memutuskan untuk menyeduh kopi yang sama seperti yang kemarin ia buat. Kopi yang pada akhirnya direbut oleh Arkan. Karena biasanya Kian akan menyeduh kopi instan yang berbeda, sesuai dengan moodnya.


Gadis itu mengambil dua buah gelas yang ada di lemari dan menuangkan isi kopi ke dalamnya, menambahkan air panas secukupnya lalu mengaduknya. Pikirannya melayang, bercampur aduk seperti kopi yang ia seduh.


"Kenapa hari ini Kak Rendy tidak menjemput ku, ya?" gumamnya sendiri. Ia takut kalau Rendy kesal padanya gara-gara mengantarkannya semalam, pria itu jadi menerobos banjir.


Kian melangkahkan kakinya perlahan saat berada di depan ruangan Arkan. Mengetuk pintu pelan sambil menunggu jawaban dari dalam sana. Setelah beberapa menit tidak ada jawaban, Kian memutuskan untuk masuk tanpa persetujuan sang pemilik. Saat dia membuka pintu, pandangannya langsung beredar ke seluruh ruangan. Namun tak ada seorang pun didalam sana.


"Eh, tidak ada orang? Apa dia belum datang ya?" ocehnya sendiri. Lalu melangkah menuju meja Arkan.


"Ck, ruangan kerjanya saja bahkan seluas ukuran rumah orangtuaku di kampung." Kian berdecak kagum dengan dibumbui nada iri disana.


Kian meletakkan kopi di atas meja kerja Arkan, agar pria itu lebih mudah melihatnya. Setelah meletakkan dengan hati-hati ia keluar meninggalkan ruangan. Kian, kembali ke pantry untuk mengambil segelas kopi yang tadi ia seduh bersamaan dengan milik Arkan.


Sebelum memulai pekerjaannya, Kian terlebih dulu akan menyesap kopi dan menikmati setiap tegukan nya. Baginya itu sudah seperti ritual khusus yang harus dia lakukan setiap pagi. Kecuali saat dia terlambat masuk kantor. Itulah alasan kenapa Kian selalu memilih lebih cepat berangkat dari yang lain.


Arkan masuk ke ruangannya disusul Pak Dan yang ada dibelakang. Pria paruh baya itu meletakkan berkas di meja kerja tanpa menyadari sesuatu. Setelah meletakkannya, Arkan mempersilahkan Pak Dan untuk meninggalkan ruangan. Baru saja pria itu berjalan beberapa langkah, ia dikejutkan oleh suara yang ada dibelakangnya.

__ADS_1


"Prankkkk." Kopi yang diseduh Kian tumpah hingga gelas tersebut pecah membentur lantai. Pak Dan langsung berlari menuju Arkan. Beliau merapikan berkas terlebih dulu agar tidak mengenai tumpahan kopi di atas meja.


"Siapa orang bodoh yang meletakkan kopi di meja kerjaku?"


"Maaf Tuan, saya akan menyuruh seseorang untuk membersihkannya," jawab Pak Dan berusaha menenangkan.


"Tidak! Panggil gadis bodoh itu. Pasti dia yang meletakkan kopi di atas meja." Menyadari siapa pelaku sebenarnya.


"Baik, Tuan."


Begitu keluar dari ruangan Arkan, Pak Dan menuju ke ruangan dimana Kian berada. Semua orang yang ada didalam terkejut melihat kedatangannya, termasuk Kian.


"Apa kamu yang meletakkan kopi di meja kerja Tuan Arkan?" Langsung bertanya dengan nada tinggi. Bahkan tatapannya sangat mengintimidasi.


"I-iya Pak," jawab Kian takut-takut.


"Ikut saya!" Sebelum Kian sempat bertanya Pak Dan sudah berjalan meninggalkan ruangan. Sedangkan Kian mengikutinya dengan kaki gemetar.


Ya Tuhan apalagi ini.


Mereka memasuki ruangan Arkan bersamaan. Mata Kian langsung tertuju pada tumpahan kopi dan pecahan gelas yang berserakan di lantai. Ia menutup mulutnya yang menganga karena terkejut. Entah apa lagi yang akan ia hadapi sekarang.


Kian berjalan menghampirinya sambil menundukkan wajah. Peluh nyaris membanjiri pelipisnya. Dia masih diam seribu bahasa. Walau perasaannya sudah kacau tidak karuan.


Tiba-tiba dia dikejutkan saat Arkan meraih dagunya dan mencengkeramnya kuat. Membuat gadis itu meringis kesakitan. Tapi Dia tidak berani mengeluarkan suara. Bahkan untuk merintih sekalipun.


"Apa kau tahu kesalahanmu?" tanya Arkan masih mencengkeram dagunya. Sorot mata tajamnya seolah ingin meremukkan Kian. Membuat gadis itu semakin gemetar ketakutan.


"Ma-ma-af Tu-an," jawab Kian terbata bata. Menahan sakit di kerongkongannya. Kali ini dia sudah tidak bisa menitikkan air mata. Rasanya kering seketika.


"Kalau kau tidak mau melakukannya, katakan! Jangan membuat keributan seperti ini, atau aku benar-benar akan membuatmu membayarnya!" ancam Arkan.


"Maaf Tuan. Saya tidak sengaja, tolong maafkan saya." Membungkuk berulang kali setelah Arkan melepas cengkraman nya.


"Bersihkan! Jika dalam waktu lima menit tidak selesai, aku akan memberimu pelajaran." Menunjuk tepat di wajah Kian.


"Ba-baik, Tuan." Lalu Kian bergegas mengambil peralatan di pantry untuk membersihkan kekacauan ya.


r


Kian mengelap meja terlebih dulu lalu membersihkan serpihan gelas yang ada di lantai. Karena terburu-buru Kian tidak sadar tangannya tergores pecahan gelas. Darahnya menetes tapi dia tidak menyadarinya. Setelah semua bersih, Kian melaporkannya pada Arkan dan mengulang permintaan maafnya lagi.

__ADS_1


"Sudah bersih, Tuan. Sekali lagi mohon maafkan saya," ucapnya sambil membungkuk.


"Hmm," jawabnya tanpa melihat Kian. Matanya fokus menatap berkas di tangannya sambil bersandar di sofa.


"Kalau begitu, Saya permisi." Pergi meninggalkan Arkan. Sedangkan Pak Dan sudah sedari tadi kembali ke ruangannya saat Arkan mengatakan tidak membutuhkan apapun lagi.


Melihat meja kerjanya sudah bersih, Arkan kembali ke sana dan melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Sangking banyaknya kertas yang berserakan, beberapa di antaranya sampai terjatuh ke lantai. Dan disaat ia membungkuk untuk mengambil berkasnya yang terjatuh, matanya menangkap setetes noda merah yang ada di lantai. Arkan menyentuh dengan ujung jarinya lalu mengusapnya.


"Bercak darah?" Arkan mengernyitkan dahinya.


"Huh, Dasar bodoh! Selalu saja bertingkah ceroboh!" ucapnya lagi.


Padahal, ia hanya berniat mengerjai Kian dan memberinya sedikit pelajaran. Bisa-bisanya tidak mengenali bosnya sendiri. Tapi ia merasa ada yang aneh. Entah dalam hal apa, hanya saja ia merasa aneh. Entahlah.


Kian kembali ke pantry untuk mengembalikan peralatan. Sementara disana, ada Rendy yang sedang menunggunya khawatir. Kian sempat terkejut melihat keberadaan Rendy tapi langsung tersadar saat pria di depannya mengambil peralatan di tangannya lalu mengembalikannya ke tempat semula.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Rendy dengan nada khawatir yang kentara.


Kian mengangguk lesu. "Aku baik-baik saja. Kenapa Kak Rendy ada disini?" tanyanya balik.


"Aku mengkhawatirkan mu. Tadi aku bertanya pada Dina, katanya kamu di bawa Pak Dan ke ruangan Arkan." Rendy memang tidak mengetahui kedatangan Pak Dan ke ruangan mereka, karena tadi dia berada di ruangan lain. Tiba-tiba matanya tertuju pada jari Kian yang meneteskan darah.


"Jari kamu terluka!" Rendy refleks meraih tangan Kian.


Lalu membuka lemari untuk mengambil kotak P3K. Ia mengeluarkan pembersih luka dan kapas dari kotak lalu mulai membersihkan luka Kian perlahan. Setelah yakin darah tidak menetes, ia membalutnya dengan plester.


"Terimakasih, Kak. Aku baik-baik saja. Jangan khawatir." Berusaha menyakinkan Rendy bahwa dirinya memang baik-baik saja.


"Bagaimana aku tidak khawatir, kalau kamu terus berurusan dengan dia." Kian tahu 'Dia' yang dimaksud Rendy. Hanya saja ia masih bergeming.


"Dan sekarang lihat, kamu terluka karena ulahnya!" protes Rendy dengan nada nyaris meninggi.


"Kak--"


"Jangan katakan kamu baik-baik saja, kalau kenyataannya kamu terluka. Jangan menyimpannya sendiri, jangan menahannya jika kamu merasa ingin menangis." Kalimat panjang yang Rendy lontarkan padanya sebelum ia menyelesaikan ucapannya, tanpa sadar membuat manik hitam itu berkaca-kaca. Hingga akhirnya butiran kristal bening jatuh membasahi pipi Kian. Dengan kasar, ia usap air mata yang dengan lancangnya jatuh di depan Rendy.


"Maaf sudah membuat Kak Rendy khawatir," jawabnya tertunduk.


Rendy meraih tubuh Kian dan memeluknya. Alih-alih tenang karena mendapatkan pelukan, Kian justru membelalakkan mata. Ia terkejut hingga merasa jantungnya nyaris copot.

__ADS_1


__ADS_2