Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Aku Tidak Akan Menyerah


__ADS_3

Kian menatap nanar pintu di depannya. Ia tidak percaya melihat Arkan baru saja masuk dan meninggalkannya begitu saja. Rasanya ada yang sakit. Bukan lukanya, tapi hatinya yang tidak bisa menerima perlakuan pria itu. Kenapa ia berubah begitu cepat? Bukankah kemarin Arkan masih berbicara dengan lembut padanya. Ahh semakin membingungkan saja!.


Tapi Kian tidak patah semangat. Terlebih saat mendengar ucapan pria itu sebelum meninggalkannya. Menjadi bukti, bahwa Arkan masih mengkhawatirkannya. Pasti ada alasan yang membuat Arkan menjadi seperti itu.


Aku harus mencari tahunya.


Kian meninggalkan apartemen Arkan saat memastikan pria itu tidak akan keluar untuk menemuinya lagi. Meski kecewa, tapi ia yakin ada sesuatu yang terjadi yang tidak ia ketahui. Dengan menggunakan ojek online, Kian sampai di rumah. Ia merasa sedikit menggigil karena hawa dingin. Langkahnya terhenti di depan pintu saat melihat Rendy sedang duduk di ruang tamu, menunggunya. Karena ingin segera masuk ke dalam rumah, ia sampai tidak sadar motor Rendy sudah terparkir di halaman.


Mau apa dia kemari?


"Kak Rendy." lirihnya


Rendy menoleh. "Kau sudah pulang? Darimana saja dirimu? Kenapa kau pergi tidak memakai sweatermu?" Pria itu mencecarnya dengan berbagai pertanyaan. Kian tahu Rendy sedang mengkhawatirkannya, tapi entah kenapa hatinya sama sekali tidak tersentuh. Aneh, saat tadi Arkan mengingatkannya untuk memakai sweater, hatinya langsung berbunga-bunga. Ia merasa begitu senang mendengarnya, meskipun nada suara Arkan terkesan dingin.


"Aku ke rumah teman tadi, Kak. Karena buru-buru, aku lupa membawa sweater," jawabnya datar.


"Kau sudah makan?"


Kian menggeleng.


"Kalau begitu ayo kita makan bareng aja," ajak Rendy.


Kian menurut. Ia pamit lagi pada Bibi Sumi untuk makan di luar bersama Rendy. Bibi pun mengijinkannya. Selain Arkan, Rendy termasuk seseorang yang bisa ia percayai untuk menjaga Kian. Pria itu rela menunggu Kian selama berhari-hari di rumah sakit. Terlihat sekali bahwa Rendy tulus menyukainya.


Setelah bingung memilih mau makan apa, akhirnya Kian memutuskan untuk makan di sebuah restoran. Entah kenapa ia ingin sekali makan disana. Padahal biasanya, ia lebih suka makan di warung pinggir jalan atau RM biasa. Dengan senang hati, Rendy pun menurutinya. Asal ia bisa makan malam dengan Kian.


Setibanya di restoran tersebut, seorang pelayan mengantarkan beberapa menu. Kian nyaris histeris melihat harga makanan di menu tersebut.


Busettt, Harganya ada yang lebih masuk akal tidak sih. Jadi ini biaya makan siang yang sering aku makan saat bersamanya.


Yah, restoran yang mereka datangi adalah yang biasa Kian pesan untuk makan siang Arkan. Tiba-tiba ia rindu makanan ini setelah beberapa hari tidak menyantapnya. Tapi melihat harganya, Kian jadi merasa tidak enak dengan Rendy. Dan sepertinya, pria itu juga sama terkejutnya. Terlihat dari bola matanya yang seketika ikut membulat.


"Kak Rendy, kita pulang aja yuk. Aku tidak jadi makan disini. Perutku tiba-tiba nyeri." ucapnya nyaris berbisik. Seorang waitress masih menunggu pesanan mereka.


"Kalau begitu ayo kita pulang. Kamu harus cepat minum obatmu," jawab Rendy panik setelah Kian mengatakan perutnya nyeri.


"Maaf Mba, kita tidak jadi ya. Pacar saya tiba-tiba sakit." Mendengar ucapan Rendy, Kian seperti tersedak liurnya sendiri.


Sejak kapan aku jadi pacarnya?


"Oh tidak apa-apa, Mas," jawab waitress itu seramah mungkin. Padahal raut wajahnya terlihat kesal.


Rendy segera menuntun Kian ke arah parkiran. Mereka pergi tanpa memesan makanan apapun. Sementara itu, sepasang mata lagi-lagi menatap bayangan mereka. Ia belum keluar dari mobil sebelum kedua orang itu benar-benar menjauh.


"Mereka sudah pergi, Tuan," ujar Sam. Ia tahu kenapa Tuan Mudanya masih betah duduk di dalam mobil.


Arkan keluar setelah Sam membukakan pintu untuknya. Ia masuk ke dalam restoran. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti setelah mendengar ucapan seseorang.


"Iya, mereka tidak jadi pesan. Yang pria bilang pacarnya sakit. Memang sih aku lihat wanita yang datang bersamanya memegang perutnya." ucap seorang waitress yang tadi sempat mengantarkan menu pada Kian dan Rendy.


Melihat kemunculan Arkan, para waitress yang sedang berbincang langsung menutup mulut mereka. Salah seorang menghampirinya.


"Maaf Tuan Muda, Nyonya Wina dan Tuan Wijaya sudah menunggu Anda." Waitress tersebut mengantar Arkan ke ruang VIP. Setelahnya, ia pun pamit undur diri.


Arkan menatap datar kedua orangtuanya. Tanpa basa basi ia langsung bertanya, "Kenapa menyuruhku datang kesini. Bukankah kita bisa bertemu di rumah saja?" Ia kesal, karena Ibu menyuruhnya bertemu disini, ia harus melihat Kian bersama Rendy.


"Duduklah, baru kita berbicara," sahut Ibu dengan senyumnya yang mereka. Sudah lama ia tidak melihat anaknya. Sedangkan Ayahnya, hanya memasang ekspresi wajah dingin.


Arkan menurut. Ia mendudukkan dirinya menghadap orangtuanya. "Sekarang jelaskan, Bu?"


Ibu menghela napas pelan, "Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini. Ibu sengaja menyuruhmu datang agar kita bisa makan malam bersama." Memang sudah lama Arkan tidak makan bersama keluarganya. Bahkan pertemuannya dengan mereka hanya beberapa hari setelah ia pulang dari luar negeri. Arkan langsung memutuskan pindah ke apartemen.


"Aku tidak bisa berlama-lama, Bu. Masih ada urusan yang harus ku kerjakan," jawabnya dingin. Ia melirik Ayahnya yang sama sekali tidak berniat membuka suaranya.


"Baiklah. Kalau begitu Ibu akan langsung to the point." Ibu menyerahkan selembar foto pada Arkan.


Pria itu mengerutkan dahinya. "Apa ini?" tanyanya tidak mengerti.


"Dia adalah anak dari teman Ibu dan Ayahmu sewaktu kuliah. Namanya Delia. Dia cantik dan juga pintar. Cocok untuk mendampingimu."


"Maksud Ibu apa. Aku masih tidak mengerti?" Nada suara Arkan terdengar ketus. Ia tidak suka mendengar ucapan Ibunya barusan.


"Ibu dan Ayahmu ingin menjodohkanmu dengan Delia." tukas Ibu hati-hati. Wanita itu tahu anaknya sangat sensitif urusan begini. Arkan tidak pernah dekat atau berhubungan dengan seorang wanita.


"Bu, Ibu tahu kan Aku tidak suka dijodohkan. Aku bisa mencari pendampingku sendiri saat aku menginginkannya," sahut Arkan lugas.

__ADS_1


Terdengar Ibu mendesah. Ia sudah menduganya sebelum benar-benar mengatakannya. Anaknya masih belum berubah. Bahkan setelah tinggal beberapa tahun di luar negeri, ia masih betah menyendiri. Membuat Ibu khawatir, sebenarnya anaknya normal atau tidak!.


"Setidaknya kamu bisa bertemu dengannya dulu sebelum memutuskan. Ibu merasa tidak enak hati kalau secara terang-terangan menolaknya. Karena Delia sendiri yang ingin bertemu denganmu."


Mendengar suara ibu yang mengiba, Arkan menghembuskan napas kasar. Urusannya dengan Kian bahkan belum selesai, namun masalah lain sudah muncul begitu saja.


"Baiklah, aku akan bertemu dengannya. Tapi setelah itu aku yang memutuskan untuk melanjutkannya atau tidak," tegasnya.


Ibu langsung mengangguk, "Baiklah." Wajahnya yang penuh permohonan, kini berubah sumringah. Arkan menyetujui untuk bertemu dengan Delia.


"Aku pergi dulu, Bu..." Arkan melirik Ayahnya. "Ayah."


Pria paruh baya itu langsung menoleh saat Arkan memanggilnya. "Berhati-hatilah di jalan." Akhirnya sang Ayah membuka suaranya setelah cukup lama menjadi pendengar yang budiman.


***


Kian dan Rendy baru saja tiba di rumah. Kian mengatakan pada pria itu bahwa ia mengantuk. Rendy mengangguk paham, meski wajahnya terlihat kecewa. Ia masih ingin bersama dengan Kian, tapi gadis itu juga harus beristirahat. Dia mengalah dengan pamit mengundurkan diri.


Di kamar, Kian tidak benar-benar tidur. Ia justru menatap layar ponselnya. Membuka sosial media untuk melihat-lihat update berita terbaru atau sekedar melihat postingan teman-temannya. Matanya membulat saat ia melihat saran pertemanan di Instagram. Wajah yang muncul seperti tidak asing baginya. Terlebih pakaiannya. Kian mengkliknya.


Dasar bodoh. Apa bagusnya baju itu sampai kau jadikan foto profilmu.


Kian melihat foto profil Arkan yang sedang menggunakan kaos couple pemberiannya. Saat Kian menscrollnya ke bawah, munculah foto-foto pria itu yang begitu mempesona. Ia sampai tidak berkedip menatap gambar diri Arkan.


Aku baru sadar kalau dia benar-benar sangat tampan.


Satu persatu ia buka gambar itu. Wajah Arkan menunjukkan ekspresi datar atau dingin nyaris di semua foto. Namun ada satu hal yang mengusik Kian. Pria itu hanya tersenyum di satu gambar, ya fotonya dengan menggunakan kaos couple pemberiannya. Dengan caption,


"Hadiah terindah dari orang yang terindah"


Sontak Kian berlompatan seperti orang gila. Ia begitu senang setelah membaca caption tersebut. Hatinya bak melayang ke udara. Tidak menyangka Arkan akan mengunggahnya ke sosial media.


Huh, bukannya dia bilang warnanya norak.


Tunggu, apa ini? Mata Kian melotot saat membaca komentar para netizen.


"Ahhh itu kan hadiah dari aku😍😍."


"Awww senyumnya bikin hati meleleh.πŸ’•πŸ’•"


"Pengen bawa pulang terus simpan dibalik selimut😍😍."


"Mau dong jadi bajunyaπŸ’•πŸ’•"


"Hei, bukannya itu hadiah dariku ya😍😍"


Apa-apaan mereka. Seenaknya mengaku-ngaku. Itu kan aku yang beli. Apaan ini suami sejuta umat. Menikah saja belum. Terus pakai mau disimpan dibawa selimut lagi, emang mau ngapain. Lagian ngapain sih dia senyum-senyum gitu. Mau tebar pesona ya. Menyebalkan!!!


Kian bersungut kesal membaca komentar-komentar itu. Hatinya mendadak panas. Ia lemparkan ponselnya di atas kasur lalu merebahkan tubuhnya lagi. Sambil menatap langit-langit kamar, ia membayangkan wajah Arkan disana. Tersenyum padanya.


Aku merindukanmu. Sangat, merindukanmu.


Sementara di apartemen, Arkan mengambil sebuah foto di saku jasnya. Melihatnya sebentar lalu meremasnya. Ia membuang foto itu ke tempat sampah.


Aku hanya mencintai Kian. Dia gadis yang pertama sekaligus yang terakhir mengisi hatiku. Aku tidak menginginkan yang lain. Hanya dia yang ku harapkan bisa mendampingi hidupku.


Arkan meraih ponselnya di atas nakas. Ia membuka galeri dan mencari gambar seseorang. Gadis bertubuh mungil sedang berdiri di pinggir sawah dengan senyum yang merekah. Meski pakaiannya dipenuhi lumpur, ia tetap terlihat manis.


Hei gadis bodoh, apa kau baik-baik saja? Apa lukamu masih terasa sakit? Bukankah dia bilang akan menjagamu? Kenapa kau masih merasakan sakit. Aku merindukanmu. Aku rasa aku akan gila karena terlalu merindukanmu. Jangan sakit, ku mohon. Atau aku akan melanggar janjiku.


Arkan mengecup foto itu lama. Lalu mendekapnya dalam pelukannya. Ia ingin memeluk Kian meskipun hanya lewat fotonya. Lelah, ia memejamkan matanya. Namun, mulutnya menggumam.


"Kian, Kiandra Maharani... Jadilah istriku."


***


Sesuai janjinya, Arkan menjumpai Delia di sebuah restoran. Ia sengaja memesan ruang VIP agar tidak ada orang lain yang melihat pertemuan mereka. Sekaligus menghindari issue. Sebagai anak dari pemilik Wijaya Group, tentu saja hampir semua orang mengenalnya. Ia tidak ingin orang-orang memberitakannya memiliki hubungan dengan seorang wanita selain gadisnya.


Arkan melihat sosok wanita cantik sudah duduk menunggunya. Wanita itu mengenakan pakaian yang menampilkan bahu mulus dan belahan dadanya. Seksi. Tapi tidak menurut Arkan. Ia terus mengalihkan pandangan dari wanita cantik di depannya.


"Kenalin, aku Delia." Wanita itu bangkit sambil mengulurkan tangannya.


Arkan hanya menatapnya sebentar lalu mendudukkan dirinya. "Kau pasti sudah mengenalku," jawabnya dingin tanpa membalas uluran tangan Delia. Wanita itu langsung menurunkan tangannya dengan raut wajah kecewa.


"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Arkan datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Hah?" Delia terlihat bingung. Apa yang ingin dia katakan. Dia hanya ingin mengenal Arkan lebih dekat. Tapi tidak mungkin dia mengatakannya dengan jujur kan. Malu.


Delia masih bergeming. Dia bingung ingin mengatakan apa. Terlihat Arkan melepas jasnya dan menaruhnya di atas kursi. Ia kembali melirik ke arah Delia yang belum membuka suaranya.


"Kalau kau tidak ingin mengatakan apapun, aku pergi. Masih banyak urusan yang harus aku selesaikan." Arkan bangkit meninggalkan Delia. Wanita itu menatapnya dengan perasaan sedih.


"Jas milikmu?" Delia menunjuk jas yang masih tersangkut di sandaran kursi.


"Itu untuk menutup tubuhmu yang terbuka." Arkan membuka pintu dan meninggalkan Delia yang masih terpaku melihat kepergiannya.


Delia menatap jas yang sengaja ditinggalkan Arkan. Lalu beralih ke tubuhnya yang memang sedikit terbuka. Ia terbiasa memakai pakaian seperti itu. Namun, baru kali ini ada pria yang mengatakan seperti itu. Entah kenapa ia merasa malu sendiri. Ia bertekad untuk terus mendekati Arkan, sampai pria itu jatuh cinta padanya. Seperti Delia, ia mulai jatuh cinta setelah bertemu dengan Arkan.


Aku harus mendapatkanmu bagaimanapun caranya.


Sore harinya, Kian sudah bersiap untuk pergi. Ia memegang sweaternya sambil menimang-nimang sesuatu.


"Ah, lebih baik aku tinggalkan saja. Aku ingin mendengar ia mengatakan itu lagi." Kian menyimpan kembali sweaternya lalu memesan ojek online. Transportasi yang cepat sekaligus irit biaya.


Setelah berpamitan, ia menghambur keluar dan nangkring di atas motor. Abang ojek pun langsung menjalankan motornya menuju lokasi. Angin terasa kencang menerpa, membuat ujung baju Kian bergerak kesana kemari. Tubuhnya sedikit menggigil, tapi tidak menyurutkan semangatnya untuk pergi ke tempat itu. Apartemen Arkan.


Setibanya disana, Kian langsung menaiki lift. Dia berjalan melewati lorong sepi. Ya, di lantai ini hanya ada satu apartemen, yaitu milik Arkan. Pria itu tidak suka bertetangga atau orang lain melihatnya di kehidupan pribadinya. Jadi, sengaja ia membangunnya untuk dirinya sendiri. Tidak sulit bagi anak dari pemiliknya, bukan.


Kian menunggu, ia tahu Arkan belum pulang di jam segini. Seperti kemarin, ia memilih duduk menyandarkan tubuhnya. Satu setengah jam menunggu, Arkan akhirnya muncul. Wajahnya terlihat lelah, bahkan nyaris pucat. Melihat keadaan Arkan seperti itu, Kian merasa khawatir.


Kian bangkit dari duduknya, berdiri tepat di depan Arkan. "Kau sudah pulang?" tanyanya.


"Apa yang kau lakukan disini?" Suaranya terdengar dingin seperti kemarin.


"Aku menunggumu," jawab Kian polos.


Arkan mendesah. "Kenapa? Apa aku punya urusan denganmu?" Kian merasa terkejut mendengarnya. Tapi dia sudah nekad untuk tetap bertahan sambil terus mencari tahu penyebab pria itu berubah.


Lihat, kau tidak memakai sweatermu lagi. Apa kau tidak mendengarku, hmmm. Kau juga semakin bertambah kurus. Apa kau tidak makan? Pergilah Kian, Aku mohon. Aku tidak tahan jika terus melihatmu seperti ini.


"Ya ada. Kau belum menuntaskan urusanmu denganku," jawab Kian lantang.


Urusan apa yang dia maksud?


Arkan mengernyit, "Urusan apa?"


"Perasaanmu. Kau belum menuntaskan perasaanmu padaku."


Apa dia sudah mengetahuinya?


"Perasaan apa maksudmu. Aku tidak mengerti.


Kian menatapnya lekat. Gadis itu maju beberapa langkah hingga jarak mereka hanya sejengkal. Arkan terlihat gugup. Dengan posisi yang sedekat ini, ia bisa merasakan hembusan napas Kian. Bahkan gadis itu masih belum mengalihkan pandangannya.


Arkan ingin melangkah mundur, namun entah kenapa, ia merasa kakinya kaku. Seperti terhipnotis, ia juga menatap Kian lekat.


Aku ingin memeluknya sekarang juga.


Suara derap langkah kaki mengalihkan pandangan mereka. Seseorang sedang berjalan mendekat ke arah mereka sekarang. Tubuh tingginya yang langsing berjalan bak model professional.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Arkan heran melihat kedatangan Delia.


"Aku ingin mengembalikan jas milikmu." Delia menyodorkan jas berwarna navy milik Arkan. Sekarang pakaiannya tidak seperti tadi saat mereka bertemu. Lebih sopan dan tertutup.


"Kau tidak perlu repot-repot mengembalikannya. Buang saja jas itu. Aku tidak membutuhkannya lagi."


Delia meraih tangan Arkan lalu meletakkan jas itu disana. Melihat pemandangan itu, Kian menatap sinis. Raut wajahnya menunjukkan ia tidak suka melihat kedatangan Delia. Arkan tersenyum dalam hati mendapati raut wajah Kian seperti itu. Ia merasa inilah kesempatannya untuk membuat gadis itu pergi.


"Karena kau sudah jauh-jauh datang kesini. Apa kau ingin meminum teh sebelum pergi?" tanya Arkan pada Delia. Delia yang sempat sedih mendengar ucapan Arkan sebelumnya, langsung mengangguk senang setelah pria itu menawarkannya untuk minum teh.


"Ya, aku mau," jawabnya cepat.


Arkan kembali menatap Kian. "Kau, pergilah! Aku rasa tidak ada yang perlu kita selesaikan. Karena aku tidak memiliki perasaan padamu."


Arkan mengajak Delia masuk dan meninggalkan Kian di luar. Gadis itu membelalak tidak percaya. Hatinya sakit melihat mereka masuk ke apartemen Arkan. Tanpa terasa, air matanya menetes begitu saja.


Tidak, aku tidak percaya. Aku akan menunggumu disini.


Arkan menutup pintu perlahan sambil melihat Kian masih berdiri disana. Hatinya nyeri meninggalkan gadis itu disana. Tapi hanya ini caranya agar Kian berhenti menemuinya.


Maafkan aku. Maaf meninggalkanmu disana. Aku takut tidak bisa menahan perasaanku jika terus melihatmu. Jangan menangis, aku mohon, Kian. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika sampai membuatmu menangis. Aku menyayangimu, gadis kecilku.

__ADS_1


__ADS_2