Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Drama Korea Versi Kian


__ADS_3

Senja sudah menghilang. Tersisa langit yang mulai temaram. Angin malam semakin kencang berhembus, menemani sunyi yang mencekat.


Arkan masih berdiri dibawah shower. Membiarkan air mengucur, mengalir ke seluruh tubuhnya. Berusaha membersihkan pikirannya bersama sisa-sisa debu yang menempel. Sudah lama dia berdiri disana, menelan emosinya sendiri. Pikirannya masih berkecamuk. Mengingat rentetan kejadian hari ini muncul diingatannya, membuatnya ingin menonjok dinding di depannya.


Kedatangan orang yang sama sekali tak ingin dilihatnya, tiba-tiba muncul di kantornya. Ditambah dengan kecerobohannya yang sampai membuat Kian pingsan. Setelah itu, dia bahkan tidak bisa mengucapkan permintaan maaf. Belum lagi sore tadi, saat dia harus melihat Kian dan Rendy menghabiskan waktu bersama, membuat emosinya nyaris meledak.


Akhirnya Arkan memilih mengkahiri mandinya, sebelum tangannya benar-benar menonjok dinding didepannya. Dia meraih handuk berwarna putih lalu melilitkannya di pinggang. Di depan cermin, dia menatap dirinya lama. Dari pantulan cermin tersebut terlihat dada bidang kotak-kotak Arkan begitu mulus. Tidak ada cacat sama sekali. Mungkin semut saja akan terpeleset jika berada disana. Belum lagi otot lengannya, menambah kesan maskulin yang menempel sempurna di dirinya. Aahh wanita mana pun pasti akan meleleh melihatnya!


Arkan menarik suduk bibirnya ke atas, menampilkan giginya yang putih bersih. Tersenyum mengingat Kian keluar dari kamar mandi saat di puncak. Kejadian seperti itu pertama kalinya terjadi dalam hidup Arkan. Melihat tubuh seorang wanita hanya berbalut handuk masih sangat tabuh baginya. Apalagi saat mengingat Kian memakai boxernya, haha.. Arkan sampai tergelak sendiri.


Setelah memakai kaos santai, dia keluar menuju balkonnya. Menatap cahaya gemerlap dari penjuru ibukota. Arkan tinggal seorang diri di sebuah apartemen mewah di pusat kota. Memilih hidup terpisah dari orangtuanya. Tidak ada alasan yang berarti, dia hanya lebih nyaman hidup seperti itu.


Sementara ditempat lain.


Di sudut ruangan kecil ini, Kian menatap langit-langit kamarnya. Separuh tubuhnya sudah tertutup dengan selimut. Rasanya masih sulit untuk memejamkan mata, bayangan Rendy masih menari-nari dipikirannya.


Pasti bahagia sekali punya seseorang seperti Kak Rendy disisinya. Paling memahami perasaan, paling lembut, paling hangat, paling tampan, pokoknya paling, paling, paling deh..


Kian merasa iri membayangkan wanita yang menjadi kekasih pria itu. Viona pasti sangat bahagia memiliki Rendy, begitu pikirnya. Dari apa yang dia lihat, Rendy adalah paket komplit. Seseorang yang menjadi kekasihnya tidak akan mungkin mengkhianatinya. Terus memikirkan sosok Rendy, tanpa sadar dia sampai tertidur membawa pria itu ke dalam mimpinya. Mimpi bertemu sang pangeran impiannya.


***


Udara pagi masih terasa segar menyeruak ke rongga dada. Kian baru saja keluar dari kamarnya, menuju dapur untuk sarapan. Sarapannya pagi ini hanya dua lembar roti yang diberi selai srikaya tipis-tipis olehnya, ditemani segelas teh hangat sudah cukup membuatnya kenyang. Kian menutup kotak makan yang sudah diisinya dengan masakan Bibi Sumi, sebagai bekal makan siangnya. Sedangkan Paman, dia baru saja berangkat kerja lima belas menit yang lalu.


"Bibi, Kian berangkat kerja dulu ya!" Kian menghampiri Bibi Sumi yang ada di halaman belakang. Menyirami bunga-bunga yang dirawatnya dengan baik.


"Iya, hati-hati dijalan," jawab Bibi. Menoleh ke arah Kian, tapi tangannya masih memegang selang air.


"Iya Bibi." Kian kembali ke dapur, mengambil tas yang ia letakkan di atas meja.

__ADS_1


Kian membuka pintu, hembusan angin lembut langsung menerpa wajahnya. Dia mengambil sepatu berwarna hitam yang ada di rak sebelah pintu lalu memakainya. Membuka gerbang, lalu menutupnya kembali. Saat berbalik, Kian terkejut melihat seseorang muncul tiba-tiba. Ekspresi wajah datar orang itu nyaris membuat Kian ingin menendangnya.


Melihat wajah menyebalkanmu itu, membuatku emosi saja!


"Apa yang sedang anda lakukan disini, Tuan?" tanya Kian dingin. Sebenarnya dia tidak ingin tahu apa yang sedang dan ingin di lakukan pria itu. Tapi kedatangan Arkan pagi-pagi begini di depan rumah Bibi Sumi, tentu ada kaitannya dengan dirinya.


"Aku..."


Kian mengernyit, pria di depannya belum melanjutkan bicaranya.


"Aku..." Arkan masih terlihat ragu mengatakannya. Dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kalau tidak ada yang ingin anda katakan, sebaiknya saya permisi!" ucap Kian ketus. Dia melanjutkan langkahnya meninggalkan Arkan yang masih bingung memilih kata-kata.


"AKU INGIN MINTA MAAF!!" Arkan mengeraskan suaranya. Membuat langkah Kian terhenti.


Hah? Apa aku tidak salah dengar? Orang seperti dia meminta maaf? Meracau apa dia pagi-pagi begini?


"Aku ingin minta maaf soal kemarin," ulang Arkan lagi. Kali ini suaranya lebih pelan dari sebelumnya. Tapi Kian masih bisa mendengarnya dengan jelas.


Kian memalingkan wajah, tidak ingin ketahuan ada senyum yang terukir dibibirnya.


Sambil menggigit bibir bawahnya, dia berusaha menetralkan wajahnya lagi. Menampilkan ekspresi wajah datar.


"Tuan kesini pagi-pagi buta hanya untuk mengatakan ini?" selidik Kian.


Pria itu mengangguk. Tiba-tiba memasang wajah memelasnya.


Aaaahh wajah apa itu tuan muda??? Kenapa aku jadi ingin tertawa melihatnya??

__ADS_1


Melihat seorang Arkan sepagi ini datang menemuinya hanya untuk meminta maaf, membuat hati Kian sedikit tersentuh. Ditambah lagi, melihat wajahnya seperti itu membuat Kian tidak tega. Tapi dalam hatinya dia bertekad tetap harus menjaga harga dirinya di depan pria itu. Hatinya tidak akan luluh semudah itu di depan tuan muda.


"Kalau anda menyesal, saya harap kejadian seperti kemarin tidak akan terulang!" tegas Kian. Lebih tepatnya mengancam


Ck. Lihat, dia langsung besar kepala kan!


"Baiklah." Arkan mengangguk. Dia berjalan menghampiri Kian. Mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu. Lalu berbisik pelan. "Cepat berangkat, awas saja kalau kau sampai terlambat masuk kantor!" ancam Arkan. Setelah itu berlalu meninggalkan Kian dan masuk ke dalam mobilnya


"APA?!" seru Kian tak percaya.


Dia yang sudah membuang waktuku tapi malah dia yang mengancamku. Kau itu waras apa tidak sih, Tuan Muda??


"Dasar orang gila!" umpatnya kesal. Kian menertawakan dirinya. Membayangkan Arkan menawarinya berangkat ke kantor bersama, bagai terhempas ke dasar bumi. Bisa-bisanya dia memikirkan hal mustahil semacam itu.


Apa kau pikir sedang bermain drama korea? Saat adegan pemeran pria datang meminta maaf lalu mengajak si wanita pergi ke kantor bersama-sama! Hahaha.. Inilah akibatnya kalau kau kebanyakan nonton drakor, Kian!


Bahkan lubuk hatinya yang terdalam saja menghujat ilusinya. Kian yang malang.


Tak mau larut dalam khayalan dramanya, Kian melanjutkan langkah kakinya. Berjalan menuju gerbang komplek, tempat dimana dia menunggu bis. Tapi justru disanalah dia selalu berpapasan dengan Rendy. Entah itu kebetulan atau tidak, Kian tidak mau ambil pusing. Yang terpenting dia bisa cepat sampai di kantor, apalagi kalau berangkat bareng Rendy. Mana bisa dia nolak!


Sementara Arkan belum benar-benar pergi meninggalkan komplek. Dia masih melihat Kian di tempat persembunyiannya. Jauh dalam hatinya, sebenarnya dia ingin mengajak Kian pergi bersamanya. Tapi dia malu. Terlalu malu untuk menghadapi gadis itu setelah adegan permintaan maafnya. Dia tidak ingin terlihat memalukan didepan Kian. Bagi Arkan, meminta maaf bukanlah hal yang mudah. Terlebih kepada seorang wanita. Harga dirinya terlalu tinggi untuk melakukan itu. Tapi entah kenapa kata-kata itu keluar begitu saja saat berhadapan dengan Kian.


Cinta memang bukan sesuatu yang bisa diukur dengan logika. Kalau logika bisa mengukurnya, bisa dipastikan itu bukan cinta. Seperti dalam lirik lagu Agnes Monica.


Cinta itu


Kadang-kadang tak ada logika


Ikuti semua hasrat dalam hati

__ADS_1


Hanya ingin dapat memiliki dirimu


Walau hanya untuk sesaat


__ADS_2