
Jam masih menunjukkan pukul 7.30 pagi, tapi Kian sudah berada dikantornya. Ya sudah beberapa hari ini Rendy menunggunya di depan komplek dan mereka berangkat ke kantor bersama. Kian sendiri bingung, kenapa pria itu malah menunggunya bukannya menjemput kekasihnya.
Untuk pertanyaan itu, hanya Rendy yang bisa menjawabnya. Yang penting, sekarang ia merasa hubungannya dengan Rendy seperti mendapat angin segar. Maju sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya ia benar-benar menjadi kekasih pria itu. Kian tersenyum sendiri membayangkannya.
Seperti biasa Kian akan berada di pantry menyeduh kopi kesukaannya. Segelas kopi bisa menyegarkan pikiran bagi sebagian orang, termasuk Kian. Setelah selesai menyeduhnya, Kian berjalan menuju ruangannya. Namun baru saja ia memegang gagang pintu, seseorang mencegatnya. Orang itu meraih gelas yang dibawa Kian lalu mengambilnya dari genggaman gadis itu.
"Maaf, itu kopi saya." Kian mendongak untuk melihat siapa pria yang merebut kopinya.
"Sekarang ini milikku," jawab pria yang ada didepannya.
"Kalau Tuan mau, saya bisa meminta office boy untuk membuatkannya dan mengantarnya ke ruangan Tuan." Berbicara sesopan mungkin walau ada nada kesal terdengar disana.
"Apa kau merasa tidak senang aku mengambilnya darimu?" Pria itu menunjuk gelas yang kini digenggamnya. Tatapannya mengintimidasi Kian.
"Tidak Tuan, silahkan kalau Tuan mau. Saya bisa membuatnya lagi," jawab Kian berusaha menyembunyikan kekesalan di wajahnya.
Setelah mendengar jawaban Kian, pria itu berlalu meninggalkannya. Menyisakan Kian yang mengutuknya sambil menghentakkan kaki. Sementara dibalik wajahnya, pria itu menyeringai penuh kemenangan.
"Dasar bajingan gila. Setelah kemarin dia mempermalukanku, sekarang dia malah merebut kopiku. Astaga, kalau saja dia bukan pemilik perusahaan ini, sudah aku patahkan jari-jarinya itu."
Kian menggertakkan gigi sangking kesalnya, menyorot punggung Arkan yang meninggalkannya dengan sorotan membunuh. Ya pria itu adalah Arkan. Orang yang sudah mencabik harga diri Kian hingga berkeping-keping.
Sekalipun Kian ingin meminum kopi, tapi dia sudah terlalu malas untuk membuatnya lagi. Setelah melihat pria dihadapannya tadi membuat seleranya hilang.
"Ini." Seseorang menyodorkan segelas kopi ke arah Kian.
Mata gadis itu kini berbinar, melihat sosok yang memberinya segelas kopi. "Kak Rendy, terimakasih." Senyumnya semakin melebar.
"Tak perlu sungkan," jawabnya sambil membuka pintu, mempersilahkan Kian masuk terlebih dulu.
Setelah Kian duduk di kursinya, ia meneguk kopi yang dibuat oleh Rendy.
"Ahh.. Aroma kopi ini benar-benar nikmat. Tidak seperti yang diambil orang gila tadi. Tapi setidaknya aku berterimakasih padanya. Karena dia, aku bisa menikmati kopi yang dibuat Kak Rendy."
Arkan menyesap kopi yang ada di genggamannya. Terlihat menikmati setiap tegukannya. Terdengar seseorang mengetuk pintu. Setelah diijinkan masuk, pintu terbuka dan memunculkan sosok Pak Dan dari sana.
__ADS_1
Pria paruh baya itu meletakkan beberapa file di atas meja sambil melirik apa yang sedang diminum Arkan.
"Ternyata rasa kopi instan tak seburuk dugaanku." Kembali menyesap kopinya.
Sementara Pak Dan mengernyitkan dahi mendengar ucapan Arkan. Sejak kapan Tuan Muda itu mau meminum kopi yang dijual di pasaran. Biasanya dia akan menikmati -apapun- tidak hanya kopi dari tangan ahlinya.
"Jika Tuan ingin meminumnya, saya bisa meminta sekertaris untuk membuatkannya kapan pun Tuan mau." Masih berdiri disisi meja Arkan. Pak Dan melihat Arkan benar-benar menikmati kopi itu.
"Tidak!" sergahnya cepat.
"Maaf, Tuan," ucap Pak Dan sedikit kaget.
"Tidak, maksud ku suruh saja gadis bodoh yang kemarin berulah membuatkan kopi setiap pagi untukku. Anggap saja sebagai pelajaran tambahan untuknya," jawabnya dengan senyum menyeringai.
Pak Dan tersenyum penuh arti. Ia mengerti sekarang. "Baiklah, Tuan." Tanpa bertanya lagi. Lalu pergi meninggalkan ruangan Arkan.
Kian sedang mengcopy beberapa file di mesin pencetak, tiba-tiba seorang teman menghampirinya.
"Kian, kamu dipanggil Pak Dan di ruangannya," ucap temannya itu.
Temannya hanya mengedikkan bahu tidak tahu.
"Ah baiklah, terimakasih," jawab Kian pada temannya lalu meminta tolong untuk melanjutkan mengcopy filenya.
Kian berjalan menuju ruangan Pak Dan yang terletak bersebelahan dengan ruangan Arkan. Dia terlihat sangat gugup, takut kalau akan mendapatkan hukuman lagi. Kian meremas jemarinya sebelum akhirnya memberanikan diri mengetuk pintu.
"Masuk." Terdengar sahutan dari dalam ruangan.
Kian memegang handle pintu dan membukanya. Dia melihat Pak Dan duduk di meja kerjanya sambil menatap berkas yang ada dihadapannya.
"Selamat siang, Pak. Apa anda memanggil saya?" tanya Kian memulai pembicaraan setelah Pak Dan hanya bergeming dengan kedatangannya.
Pak Dan mengalihkan pandangan dari file. "Ah ya, mulai besok pagi buatkan kopi untuk Tuan Arkan," jawabnya sambil menatap Kian yang berdiri tidak jauh dari mejanya.
"Kopi untuk Tuan Arkan, Pak?" tanya Kian masih tidak percaya.
__ADS_1
"Iya, kopi untuk Tuan Arkan," jawab Pak Dan singkat.
Kini pandangannya beralih lagi keatas meja kerjanya. Mengecek berkas yang dibawa sekertaris tadi pagi. Sebelum diserahkan ke tuan Arkan, biasanya Pak Dan akan memeriksanya terlebih dulu. Jangan sampai ada kesalahan yang membuatnya justru mengalami kesulitan. Karena Arkan akan langsung memecat bawahan yang membuat kesalahan sekecil apapun itu. Dan orang yang paling direpotkan setelahnya adalah Pak Dan karena harus menyelesaikan masalah sekaligus menyeleksi ulang karyawan yang berada dibawah perintah Arkan langsung.
"Belum jelas?" Pak Dan kembali bertanya saat melihat Kian masih berdiri.
"Eh? Maaf, Pak. Saya permisi!"
Setelah memastikan bahwa apa yang Kian dengar tidak salah, dia pamit meninggalkan ruangan.
Sebelum benar-benar menjauh dari ruangan Pak Dan, Kian sempat melirik ruangan disebelahnya. Kian melihat sosok yang paling dia benci sedang fokus menatap layar komputer didepannya. Wajah yang penuh dengan keangkuhan dan sangat menyebalkan itu rasanya ingin ia cabik-cabik menjadi serpihan. Lalu membuangnya ke dasar lautan agar dimakan oleh gerombolan hiu. Kian tersenyum, membayangkannya saja sudah sangat menyenangkan.
Saat Kian sedang asyik mengumpat dengan bersumpah serapah, tiba-tiba pria itu mengalihkan pandangannya. Hingga pandangan mereka berdua bertemu. Kian terkejut setengah mati, lalu berbalik dan meninggalkan tempat itu tergesa-gesa. Nyaris saja terpeleset oleh langkahnya yang cepat. Jangan sampai Arkan menghampiri dan mempermalukannya lagi. Sementara pria itu hanya tersenyum menyeringai saat melihat Kian berlalu.
Kian kembali ke ruangannya dengan wajah yang ditekuk. Dia masih tidak habis pikir kenapa si brengsek itu memintanya membuatkan kopi. Bukankah dia punya sekertaris yang siap melayaninya kapanpun.
Dasar si brengsek gila. Umpatnya dalam hati.
Kian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi, seiring waktu moodnya mulai membaik. Dia bahkan istirahat bersama Rendy dan Dina di kantin kantor. Tadinya mereka ingin makan siang diluar. Tapi berhubung hujan deras, mereka membatalkannya dan memilih ke kantin.
Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, para karyawan mulai bersiap untuk pulang. Begitupun Kian. Dia, Dina dan Rendy turun dari lift bersamaan. Seperti biasa Dina sudah ditunggu kekasihnya di area parkir. Dia meninggalkan Kian dan Rendy yang masih berdiri disana. Selain berangkat bersama, sekarang hampir setiap sore mereka juga pulang bersama. Rendy memberikan satu helm pada Kian untuk dikenakan.
"Kak Rendy, kok jarang banget pulang dan berangkat bareng Viona?" tanya Kian yang mulai penasaran kenapa pria ini jarang sekali mengantar kekasihnya itu.
"Mmhh Viona sering bawa motor sendiri, karena arah rumah kami yang berlawanan, dia kasihan kalau aku harus menjemput atau mengantarnya lebih dulu," tutur Rendy sambil menyalakan mesin motornya. Setelah Kian mengaitkan helmnya, mereka pergi meninggalkan halaman kantor.
Beberapa jalanan ibukota sudah mulai banjir akibat hujan deras tadi siang. Banyak pengendara yang mencari jalan alternatif untuk menhindari genangan air. Rendy terlihat paham betul jalanan yang bisa mereka lalui agar tidak terjebak banjir. Tapi sayang saat hampir sampai dirumah Bibi Sumi, ternyata jalanan di gang komplek banjir. Sedangkan itu adalah satu-satunya jalan. Tidak ada jalan alternatif lain.
"Aku turun disini saja Kak. Biar nanti jalan kaki kerumah," ucap Kian sambil menepuk bahu Rendy agar berhenti. Tapi Rendy tidak menggubrisnya, dia tetap melajukan motornya menerobos banjir.
"Kak Rendy!" Panggil Kian lagi, berharap pria itu mau menghentikan motornya. Karena gadis itu takut motor Rendy akan mogok kalau memaksa lewat.
"Tidak apa-apa, Kian. Motornya tidak akan mogok," jawab Rendy seolah mengerti maksud gadis itu.
Kali ini Kian hanya diam diatas motor, membiarkan Rendy mengantarnya sampai ke rumah. Pria itu benar-benar berusaha agar Kian sampai ke rumah dengan selamat. Tanpa disadari Arkan, Kian sudah mengisi nama pria itu di ruang dalam hatinya. Ruang yang selama ini tertutup rapat, kini mulai terbuka untuk pria itu. Kian berharap, dia tidak membuat kesalahan dengan membiarkan Rendy mulai mengisi hatinya.
__ADS_1