
Waktu makan siang baru saja berakhir. Sekarang saatnya para rombongan menikmati jam bebas yang diberikan panitia, dan kesempatan ini langsung digunakan oleh para rombongan untuk berbelanja. Ada yang berburu pakaian dan aksesoris atau sekedar membeli makanan khas, sebagai buah tangan untuk orang-orang tercinta.
Kian sendiri langsung berlari menuju kios penjual makanan, ia berniat membeli ubi bakar madu yang sedari tadi diinginkannya. Tapi wajahnya berubah masam saat penjual mengatakan makanan tersebut sudah habis diborong seorang pelancong. Kalaupun Kian tetap ingin membelinya, dia harus menunggu selama satu jam sampai ubi tersebut matang. Sedangkan waktu berkumpul yang diberikan panitia kembali ke bus kurang dari segitu.
"Ayo coba cari kesana!" ajak Dina yang ikut menemani Kian. Dia menunjuk kios yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Hmm Ayo!" jawab Kian bersemangat lagi.
Sudah hampir lima kios mereka datangi, tapi semua penjualnya mengatakan hal yang sama.
Busett dah! Siapa sih yang borong ubi bakar sampai segitunya. Buat dibagi-bagiin satu RT kali ya!
Kian sudah tidak bersemangat lagi kali ini, ia menyerah dengan keinginannya menikmati ubi bakar. Kakinya lelah berkeliling di bawah terik matahari. Dia hanya menemani Dina, gadis itu membeli beberapa pakaian couple untuknya dan kekasihnya
"Kamu tidak mau beli?" Dina menunjuk baju couple yang dipegangnya. Warnanya kalem tidak terlalu mencolok. Sepertinya cocok untuknya dan Doni.
"Buat apa?" tanya Kian balik sambil mengangkat bahunya.
"Ya buat dipakai kamu sama pacar kamu." jawab Dina dengan nada menggoda.
"Punya aja engga!"
"Siapa tahu nanti punya." sahut Dina dengan senyum penuh sarat.
Apa sebaiknya aku beli satu ya? Benar juga yang dikatakan Dina, kalau nanti aku punya pacar kan bisa aku pakai bersama. Kian tersenyum sendiri membayangkan khayalannya.
Akhirnya gadis itu memilih pakaian couple yang disukainya dan kira-kira cocok jika kenakan oleh Rendy. Entah kenapa gadis itu justru membayangkan Rendy yang akan memakainya. Terbesit harapan hubungannya dengan Rendy bisa sedikit ada kemajuan.
Setelah selesai dengan urusan berbelanja, para rombongan kembali ke bus. Kian berharap semoga Arkan tidak akan ikut bersama mereka. Akan lebih baik jika pria itu pulang dengan mobil pribadinya. Namun harapan Kian langsung pupus seketika saat melihat tuan muda dengan santainya sudah bersandar di sandaran kursi. Kepalanya sedikit mendongak dengan mata terpejam.
Aisshhh. Kenapa harus aku yang kebagian kursi ini sih? Lihat, wajahnya bahkan sudah penuh seringaian untuk mengerjaiku.
Terpaksa Kian mendudukkan diri di samping pria itu. Alih-alih melirik orang di sebelahnya, matanya malah menatap ke luar jendela. Dia lebih memilih diam di tempatnya dari pada mengusik ketenangan singa buas itu.
"Eh, apa ini?" Kian merasa ada yang mengganjal di bagian belakangnya. Dia menoleh untuk mengeceknya, dan menemukan sebuah kantong berisikan ubi bakar madu yang sedari tadi ia incar di kios pedagang makanan.
__ADS_1
Ubi bakar? Milik siapa? Siapa yang menaruhnya disini?
Baru saja Kian ingin bertanya pada orang di sebelahnya, Pak Dan sudah membuka suaranya.
"Bus akan segera berangkat menuju ibukota. Untuk menemani perjalanan pulang kali ini, tuan Arkan membelikan beberapa cemilan untuk kita semua. Panitia sudah meletakkannya di kursi kalian masing-masing. Silahkan dicek," ucap Pak Dan menjelaskan.
"Wah, tuan Arkan baik sekali. Terima kasih, Tuan!" seru para rombongan, mengucapkan terima kasih bersamaan
Ck. Pantas saja tadi aku mau beli sudah habis. Ternyata kau pelancong yang memborong nya ya!
"Terimakasih, Tuan," ucap Kian. Sebenarnya dia enggan memulai pembicaraan lebih dulu, tapi paling tidak ia harus berterima kasih karena menerima sesuatu dari tuan muda itu. Sedangkan yang diajak bicara hanya diam, dengan mata masih terpejam.
Apa dia benar-benar tidur??
Setelah beberapa saat tidak ada jawaban dari Arkan, akhirnya Kian memilih menikmati ubi bakar di tangannya tanpa memperdulikan pria di sampingnya. Bus mulai melaju perlahan, meninggalkan area parkir menyusuri jalanan. Rentetan bus pariwisata berwarna merah terlihat begitu mencolok memenuhi jalan raya puncak.
Disaat bus lain dipenuhi sorak gembira oleh para rombongan, didalam bus ini justru hanya ada keheningan. Tak ada satu pun yang berani membuka suara apalagi bersorak. Mereka takut mengusik kenyamanan tuan muda di dalam bus itu, terlebih saat seseorang mengajaknya berbicara dia malah tidak menjawab sama sekali.
"Hmm, rasanya enak seperti biasa," gumam Kian sambil terus mengunyah.
"Ubi bakar ini enaknya dimakan selagi masih hangat, Tuan," jawab Kian mengangkat ubi bakar di tangannya. Sementara mulutnya masih lanjut mengunyah. "Tuan mau?"
"Ck. Apa kau pikir aku bisa memakan makanan seperti itu?" sahut Arkan. Sebelah bibirnya tertarik seolah ingin menunjukkan makanan itu bukanlah seleranya atau levelnya.
Sombong sekali dia! Memangnya kenapa dengan makanan ini?
"Memangnya kenapa, Tuan?" Kian mengernyitkan dahinya. Beralih menatap pria di sampingnya, menunggu jawaban yang masuk akal. "Ini enak lho, Tuan!" ucap Kian lagi.
"Apa enaknya makanan itu?" cibir Arkan.
"Aaaaa..." Kian menyodorkan ubi bakar ke mulut Arkan sambil menganga, mengarahkan pria itu agar membuka mulutnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Arkan. Nada suaranya nyaris meninggi. Matanya melotot, tapi Kian tidak peduli.
"Ayo buka mulut anda, Tuan!" perintah Kian lagi.
__ADS_1
Aaahh.. Apa aku sudah gila menyuruhnya membuka mulut!
"APA???!!" Arkan berteriak, membuat mulutnya terbuka lebar. "Happ." Potongan ubi bakar sudah mendarat di dalam mulutnya.
Pria itu mengunyah makanan di mulutnya, meskipun raut wajahnya masih tak percaya.
Apa dia sudah gila? Beraninya menyuruhku membuka mulut dan menyuapiku seperti ini.
Sial. Kenapa ubi bakar ini tiba-tiba rasanya enak?
"Kau mau mati ya?" bentak Arkan setelah menelan makanannya.
"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin berterima kasih kepada tuan karena sudah membelikan ubi bakar ini. Jadi tuan juga harus mencobanya supaya tahu rasanya sangat enak," ucap Kian mencari alasan yang tepat.
Berterima kasih?? Aku ngomong apa sih? Aku kan hanya ingin mengerjainya saja.
"Mulai sekarang sering-seringlah berterima kasih!" gumam Arkan dengan senyum menyeringai.
"Eh??" Kian mengerutkan dahinya, berusaha mencerna maksud ucapan pria itu.
Sementara para rombongan hanya diam tanpa suara. Namun telinga mereka fokus mendengarkan pembicaraan dua anak manusia itu. Berbagai persepsi dan opini pun bermunculan di pikiran mereka masing-masing.
*Apa dia sudah gila?
Apa dia sudah bosan hidup?
Beraninya dia menyuruh tuan Arkan.
Beraninya dia menjejali mulut tuan Arkan dengan ubi bakar.
Aaahh aku juga mau menyuapi tuan Arkan yang tampan itu*.
Kebanyakan mereka hanya merutuki kenekatan Kian. Sementara gadis itu malah tertawa senang dalam hatinya karena berhasil mengerjai tuan muda sombong itu.
Aku benar-benar sudah gila mencari gara-gara dengan orang gila itu!!!
__ADS_1