
Sepulangnya dari kafe, Kian terlihat lemas. Dia terlihat tidak bersemangat melanjutkan sisa pekerjaannya. Masih ada sisa waktu 15 menit lagi sebelum jam istirahat berakhir. Dia belum memakan apapun. Bahkan makanan yang tadi ia pesan di kafe tidak tersentuh sama sekali. Selera makannya mendadak hilang. Kian memilih meninggalkan kafe lebih dulu, dengan alasan tuan Arkan memanggilnya. Entah kenapa disaat seperti itu mendadak dia memikirkan nama tuan mudanya. Ternyata menyebut nama pria itu bisa menyelamatkannya juga.
Kian duduk diruang istirahat seorang diri, melihat bekal makan siangnya yang masih utuh. Dia belum berniat memakannya. Pikirannya masih melayang.
"Kenapa kau tidak makan?" tanya seseorang tiba-tiba. Entah darimana munculnya, tahu-tahu sudah berdiri di sebelah Kian.
Kian menoleh sebentar, lalu menatap makanannya lagi. "Tidak berselera," jawab Kian datar.
Arkan menarik kotak makan Kian lalu duduk di sebelahnya. Mengambil sendok dalam genggaman Kian.
"Anda mau apa, Tuan?" Kian mengernyit. Penasaran apa yang sedang dilakukan tuan muda itu.
"Kalau kau sedang tidak berselera, biar aku saja yang makan," jawab Arkan sambil memasukkan suapan pertama.
Memangnya dia bisa makan makanan seperti itu? Seleranya dia kan tinggi. Sedangkan itu, hanya nasi putih ditambah tumis buncis dan telur dadar.
Namun Kian justru terperangah saat pria itu makan dengan lahap. "Anda belum makan siang?" tanya Kian lagi.
Pria itu masih mengunyah, lalu menelannya. "Belum. Biasanya Pak Dan yang akan mengurus makan siang ku." jawab Arkan sekenanya.
Pantas saja Pak Dan memintaku untuk menjaganya. Bahkan untuk mengurus makan siangnya saja dia tidak bisa.
Akhirnya Kian hanya membiarkan Arkan memakan bekal makan siangnya. Pria itu memakannya dengan lahap. Sepertinya dia benar-benar lapar.
"Buka mulutmu!" perintah Arkan. Dia sudah menyodorkan sendok nasi di depan Kian.
Kian mengangkat sebelah alisnya. "Apa yang anda lakukan?"
"Aku bilang buka mulutmu!" perintahnya lagi.
"Tidak mau!"
Sebenarnya Kian mengerti maksud pria itu. Hanya saja dia terlalu malu untuk membuka mulutnya, terlebih saat banyak mata sedang memperhatikan mereka. Entah desas desus apa yang akan bermunculan setelah ini.
Ini di kantor, Tuan Muda!
"Cletakk!" Arkan baru saja menyentil kening Kian. Membuat gadis itu mengerang.
__ADS_1
"Arghhh..." Mulut Kian terbuka, dan.. Happ.. Satu suapan mendarat ke mulutnya. Sambil mengelus- elus keningnya yang sakit, Kian mengunyah makanannya.
Sedangkan Arkan hanya tergelak melihatnya. Dia kembali memasukkan makanan ke mulutnya. Mengunyah-ngunyah dan menelannya. Sambil senyum-senyum sendiri.
Ck. Senang sekali dia melihat aku terdzolimi!
Kian terlihat sewot melihat Arkan yang menertawakannya. Dia menarik lagi kotak makannya dan merebut sendok di tangan Arkan. Membuat pria itu membelalakkan matanya. Tidak terima.
"Maaf tuan, tiba-tiba saya merasa lapar." ucap Kian sinis.
Rasakan pembalasanku!
Arkan tidak menjawabnya. Dia hanya memperhatikan Kian melahap makanannya. Sebenarnya dia masih ingin memakannya lagi, tapi melihat Kian seperti itu dia justru diam saja.
Kenapa aku jadi tidak tega melihatnya seperti itu? Aaahh tolong kondisikan wajahmu tuan muda!
"Aaaaaa.." Giliran Kian menyodorkan sendok nasi di depan Arkan.
"Tidak mau!" Pria itu memalingkan wajahnya. Cemberut layaknya anak kecil yang tidak dituruti keinginannya.
"Kalau tidak mau, ya su..." Kian ingin menarik tangannya lagi. Tapi tiba-tiba Arkan menahan dan menariknya. Lalu memasukkan makanan itu ke mulutnya.
Aahh.. Dasar malu malu meong!
Melihat tingkah mereka berdua, orang-orang yang sedari tadi memperhatikan mereka hanya bisa menelan ludah. Menatap iri dan sinis kepada Kian. Bahkan orang yang sempat menatap rendah Kian karena kejadian pertengkarannya dengan tuan muda merasa menyesal. Sepertinya mereka sudah salah sangka soal Kian. Ternyata keberuntungan masih berpihak pada gadis itu.
Akhirnya bekal makan siang yang dibawa Kian habis dilahap mereka berdua. Jam istirahat pun berakhir. Kian kembali ke ruangannya. Sekarang dia merasa hatinya tidak sekacau tadi saat bertemu Viona. Entah kenapa dia justru bersemangat melanjutkan pekerjaannya. Rendy juga terlihat sudah kembali dari tugas diluar-nya. Dia menyapa Kian, tapi gadis itu berusaha menghindarinya. Yang ada dipikiran Kian saat ini hanyalah bagaimana caranya menjaga jaraknya dengan pria itu. Dia tidak mau semakin hanyut dan terluka. Benar yang dikatakan Dina, seharusnya Kian tidak mudah baper saat menerima perhatian dari Rendy. Bisa saja dia hanya salah mengartikan. Sekarang, menyesal juga tidak berguna. Dia sudah terlanjur memberikan hatinya untuk pria itu, walaupun akhirnya dia yang terluka.
Cahaya senja tiba-tiba saja menghilang. Berganti langit mendung diselimuti awan gelap. Angin juga berhembus semakin kencang, memberi pertanda akan turunnya hujan.
Kian sedang merapikan meja kerjanya. Menutup file-file yang sudah selesai dikerjakan. Jam menunjukkan pukul lima tepat. Sudah waktunya pulang. Kian langsung mengambil tas dan menyelempangkan dipundaknya. Melihat langit mendung dia buru-buru turun. Jangan sampai hujan turun lebih dulu sebelum dia tiba dirumah. Karena kalau sampai itu terjadi, bisa-bisa Kian akan pulang larut malam karena terjebak banjir.
Terlambat. Hujan sudah turun deras membasahi ibu kota. Sedangkan Kian masih menunggu bis di halte. Bayangan Rendy pulang bersama Viona menyeruak dipikirannya. Tumben sekali dia sudah menunggu Rendy di lobby. Bahkan Rendy yang mengejar Kian karena gadis itu turun lebih dulu pun terkejut melihat kedatangan Viona. Alhasil dia mengurungkan niatnya mengantar Kian pulang ke rumah.
Hari semakin gelap. Dinginnya malam mulai menyapa bersama tetesan hujan. Kian menyilangkan tangannya ke dada untuk menghalau dingin yang menusuk kulitnya. Pakaiannya nyaris basah terkena air hujan yang terbawa angin.
Jalanan semakin macet, karena banjir sudah melanda beberapa wilayah ibukota. Sedangkan bis yang ditunggu Kian sedari tadi belum juga tiba, membuatnya semakin gusar.
__ADS_1
Inilah yang paling membuat Kian sedih saat berada di Ibukota. Disaat seperti ini dia jadi merindukan kampung halamannya. Dikampung, mau hujan sederas apapun, dia tidak perlu khawatir akan banjir. Berbeda dengan disini. Setiap kali hujan deras, Kian selalu was-was takut terjebak banjir. Kalau saja ada mas Sholihin, dia pasti langsung datang menjemput Kian. Pria itu juga sangat mengkhawatirkannya.
Kian melirik jam tangannya. Sudah jam 8 malam! Kian mendesah. Merasa perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi, hawa dingin selalu membuatnya lebih cepat lapar.
Huh! Dingin.
Lapar.
Aku ingin cepat pulang!
Ya Tuhan, sampai kapan aku akan menunggu?
Kian meratap sedih. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya. Memberi kabar ke Bibi Sumi bahwa dia akan terlambat pulang. Agar wanita paruh baya itu tidak panik melihatnya semalam ini belum sampai dirumah.
"Nona, silahkan masuk ke mobil!" Seseorang tiba-tiba menghampiri Kian sambil memegang payung.
Kian menyipitkan matanya. Karena gelap, dia tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas.
Wajahnya sepertinya tidak asing! Dia seperti...
Supir tuan muda!
Merasa tidak memiliki pilihan, akhirnya Kian mengikuti pria itu masuk ke mobil. Dan didalamnya dia bertemu seseorang. Siapa lagi kalau bukan tuan muda Arkan!
Pria itu menatap Kian datar. Ekspresi wajah itu tidak bisa ditebak sama sekali. Kian hanya menyapanya sekilas lalu diam tanpa bersuara. Namun tidak dengan tubuhnya. Pakaiannya yang separuh basah ditambah dinginnya Ac membuatnya nyaris menggigil. Kian terlihat sibuk melipat tangannya, mengatupkannya, mengusapnya, semuanya dilakukan secara bergantian, untuk sekedar menghangatkannya. Tapi tetap saja tidak berhasil. Udaranya terlalu dingin.
Melihat Kian seperti itu, spontan Arkan melepaskan jasnya. Menempelkannya di bahu gadis itu agar tidak menggigil kedinginan. Dia juga menyuruh supir untuk mengecilkan Ac-nya.
Kian menoleh kearah Arkan. Menatapnya lekat. Sekuat apapun dia menahan hatinya untuk tidak tersentuh dengan sikap Arkan, tetap tidak berhasil. Kali ini Kian mengakui, dia benar-benar tersentuh dengan perlakuan pria itu.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Arkan heran.
Kian tersenyum tipis. "Terima kasih, Tuan," ucapnya pelan.
Mendengar Kian mengucapkan terima kasih seperti itu membuat Arkan salah tingkah. "Jangan salah sangka. Aku tidak tertarik padamu. Hanya saja kau tidak boleh jatuh sakit. Kalau kau sampai tidak masuk kerja, tidak ada yang membuatkan kopi untukku!"
Ck. Memang siapa yang mengatakan kau tertarik padaku? Aku hanya mengucapkan terima kasih! Lagian apa maksudmu aku tidak boleh sakit, memangnya aku robot? Kalau kau ingin kopi, kau tinggal menyuruh siapapun untuk membuatnya. Tidak akan ada yang berani menolak perintahmu, tuan muda.
__ADS_1
"Iya Tuan." Kian hanya menjawabya singkat. Tidak ingin memperpanjangnya. Dia lebih memilih menyandarkan kepalanya. Matanya sudah mulai mengantuk.
Akhirnya hujan malam ini tidak sepenuhnya membawa luka, ada perasaan hangat yang bersembunyi dibaliknya. Mencairkan kebekuan yang selama ini bersarang di hati.