
Hari kedua masuk ke kantor setelah cuti sebulan ternyata cukup merepotkan Kian. Banyak pekerjaan yang harus ia urus lagi mulai dari awal. Bahkan saat Arkan tidak ada di kantor sekalipun, ia tidak bisa bersantai. Belum lagi, beberapa undangan acara untuk Arkan harus ia sesuaikan dengan jadwal pria tersebut. Ia tidak ingin melakukan kesalahan sedikitpun dan membuat Arkan kecewa di awal pekerjaannya.
"Tolong periksa lagi acara yang harus ku hadiri malam ini. Cari tahu juga tema dan pakaian yang harus ku kenakan." ucap Arkan di sambungan telepon.
"Baik, Tuan." jawab Kian sigap. Ia langsung memeriksa catatan di notes tanpa mematikan sambungan telepon. "Acara malam ini berada di hotel X untuk membahas perencanaan cabang baru bersama para pemegang saham. Untuk pakaian Anda, saya akan membawa pakaian Tuan kesana."
"Baiklah. Kerjamu sangat baik. Aku akan memberimu bonus untuk kerja kerasmu." ucap Arkan dengan nada bergurau.
Kian terkekeh pelan.."Tentu, Tuan. Saya akan menunggunya," balasnya dengan gurauan.
Setelah sambungan telepon terputus, Kian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sekelebat bayangan masa lalu muncul di ingatannya. Pria sombong, angkuh dan kejam yang dulu sangat ia benci, kini justru menjadi suaminya. Meski bukan selamanya, tapi rasanya lucu ia mau melakukan pernikahan ini. Dalam lubuk hatinya, jujur Kian merasa senang. Tidak di pungkiri ia juga memiliki perasaan untuk pria itu. Namun, entah kenapa ia masih ragu. Entah itu mengenai perasaannya atau perasaan Arkan, ia belum bisa menyakininya. Biarlah semua ini berjalan kemana takdir membawanya.
"Maaf, Nona. Tuan Arkan tidak ada di kantor." Suara resepsionis yang Kian kenal seperti tengah berbicara dengan seseorang di depan ruangan Arkan. Kian segera membuka pintu untuk melihat siapa orang tersebut.
"Delia?" tanya Kian heran.
"Kau? Dasar wanita tidak tahu malu. Sekertaris tapi mengaku sebagai kekasih Arkan. Apa kau pikir selevel dengan Arkan? Lihat, penampilanmu saja norak seperti gadis kampungan." cibir Delia melihat Kian keluar dari ruangan.
"Nona..!" Resepsionis yang menghalang Delia masuk terlihat kesal melihat wanita itu menghina Kian. Namun, Kian berusaha menenangkan dengan memberinya isyarat untuk meninggalkan mereka. Resepsionis pun mengangguk paham dan pergi meski raut wajahnya terlihat kesal.
"Apa yang sedang kau lakukan disini?" tanya Kian tanpa memperdulikan ucapan buruk Delia.
"Aku ingin bertemu Arkan. Dimana dia?"
"Tuan Arkan tidak ada disini."
"Jangan berbohong!" bentak Delia.
Kian menghela napas pelan. "Untuk apa saya berbohong, silahkan Anda cek sendiri!"
Kian membuka pintu ruangan Arkan untuk membuktikan pada Delia pria itu tidak ada disana. "Kemana dia pergi?"
__ADS_1
Kian mengedikkan bahunya. "Mana saya tahu!"
"Tidak mungkin sekertaris tidak tahu kemana bosnya pergi. Kau mau membohongiku ya?"
Lagi, Kian hanya mengedikkan bahu tanpa mau memberitahu kemana Arkan pergi. "Lebih baik Anda pergi dari sini Nona. Sebelum saya memanggil security karena Anda sudah membuat keributan."
"Lancang sekali kau! Awas saja, aku akan kembali nanti!" umpat Delia kesal sambil berlalu meninggalkan ruangan Arkan.
"Hati-hati di jalan, Nona," ucap Kian dengan maksud mengejek. Membuat Delia semakin kesal dan menatap tajam Kian.
Sore hari, Kian bergegas mengantar pakaian yang akan Arkan kenakan di acara nanti malam. Di sebuah hotel tempat acara berlangsung, Kian sudah berada di lobby menunggu kedatangan Arkan. Sementara, pria itu masih dalam perjalanan ke hotel selepas mengunjungi cabang yang sempat tertunda kemarin.
"Pak, bagaimana menurut Anda mengenai cabang yang akan ku buka kali ini?" tanya Arkan pada Pak Dan. Sebagai orang yang lebih dulu berkecimpung dalam bisnis ini saat bersama ayahnya, Pak Dan tentu memiliki pengalaman yang mumpuni untuk sekedar menilai keputusan Arkan.
"Keputusan Anda sudah benar, Tuan.
Melihat Kian sudah menunggunya, Arkan langsung berjalan cepat menghampiri.
"Tidak apa-apa. Aku hanya mengantar ini dan langsung pulang." Kian menunjuk pakaian yang dibawanya.
"Tidak! Lebih baik kau beristirahat dulu sambil menungguku. Aku akan segera kembali begitu acara selesai."
Akhirnya Kian hanya bisa menurut saat pria itu memesan kamar hotel untuknya. Namun, alangkah terkejutnya ia saat memasuki kamar tersebut.
"Kenapa kau memesan Presiden Suite hanya untuk tinggal beberapa jam saja? Ini terlalu mahal," protes Kian.
"Aku ingin kau beristirahat dengan nyaman meski hanya beberapa jam. Lagipula, tidak ada kata mahal untuk memanjakan istriku."
Oh tidak. Kenapa rasanya hatiku meleleh setiap kali ia menyebutku sebagai istri?
"Tapi-,"
__ADS_1
"Tidak ada tapi-tapian. Kalau kau protes lagi, maka biaya kamar ini kau yang membayarnya!"
Glek. Kian memilih menutup mulut daripada harus membayar biaya kamar paling mahal di hotel ini. Jangankan membayar, membayangkan harganya saja sudah membuat tenggorokannya kering.
"Baiklah, aku akan menunggumu disini," ujar Kian kemudian.
Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dibawa Kian, Arkan keluar menuju ruang acara bersama Pak Dan yang menunggunya diluar.
Kian sendiri langsung merebahkan tubuhnya ke ranjang besar dihadapannya. Tidak hanya besar, namun juga sangat empuk hingga ia berguling kesana kemari sambil terkekeh menyadari kekonyolannya.
"Mimpi apa aku bisa berada di kamar semewah ini!" gumamnya sendiri.
Kian mengeluarkan ponselnya dari dalam tas dan mengambil beberapa foto selfie dirinya. Sangking banyaknya mengambil foto, ia sampai bingung foto mana yang akan diunggahnya di sosial media. Setelah memilih cukup lama, akhirnya ia memutuskan mengunggah tiga foto yang menurutnya paling bagus.
"Ddrttt.. Ddrrtt.." Sebuah getaran ponsel tiba-tiba saja mengagetkan Kian. Ia mencari asal getaran tersebut, dan menemukan ponsel Arkan tertinggal diatas nakas.
"Astaga, tidak biasanya ia ceroboh seperti ini dengan meninggalkan ponselnya."
Kian meraih ponsel tersebut karena melihat layarnya yang menyala. Namun, matanya langsung membelalak kaget saat melihat notifikasi yang muncul. Pemberitahuan ia mengunggah foto di sosial media, terpampang jelas di layar ponsel Arkan. Itu artinya, pria itu mengikuti akun sosial media Kian hingga bisa mendapatkan notifikasi tersebut.
Sejak kapan ia mengikuti instagramku?
Menggenggam ponsel itu ditangan, tiba-tiba saja muncul rasa penasaran di benak Kian. Ia ingin tahu apa isi ponsel dari seorang Arkan.
"Ah sial. Di kunci lagi," sungutnya kesal saat mencoba membuka layar ponsel tersebut.
"Kira-kira apa ya kode sandinya?" Kian mencoba mengetik angka asal, namun gagal. Ia coba juga memasukkan tanggal lahir Arkan, gagal lagi. Beberapa kali ia coba angka yang bermunculan di otaknya, namun tetap saja gagal. Hingga akhirnya...
"Yesss bisa!!!!" serunya senang. Lalu mendadak dahinya berkerut, "Tunggu, bukankah ini tanggal lahirku?"
Belum juga Kian membuka isi ponsel Arkan karena terperangah, sebuah panggilan mengagetkannya. Nama yang muncul di layar, membuat mata Kian mendelik.
__ADS_1
"Tuan Alex? Bukankah dia salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan?" Kian buru-buru beranjak dari tempat tidur dan keluar kamar. Ia ingin menyerahkan ponsel tersebut ke pemiliknya, takut ada sesuatu yang penting yang harus dikatakan.