Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Pertemuan Tak Terduga


__ADS_3

Setelah menurunkan Kian, Sam kembali menginjak pedal gas dan melaju mobil menembus jalanan. Namun tiba-tiba Arkan memberinya perintah.


"Putar balik, Sam."


Sejenak pria itu mengernyit, lalu mengangguk paham. "Baik Tuan," jawab Sa. Senyum simpul terukir di bibirnya saat melihat tingkah aneh Arkan lagi. Tanpa bertanya, dia tahu kemana harus mengarah.


Sudah kuduga anda tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.


Arkan berjalan lebih dulu, diikuti Sam yang mengekor dibelakangnya. Begitu mereka memasuki Mall, beberapa pasang mata langsung tertuju kearah mereka. Terkesiap melihat makhluk yang begitu sempurna. Daya pikatnya menarik siapapun untuk memandangnya. Sekalipun wajahnya tidak menunjukkan sikap ramah, orang-orang tetap tertarik pada sosoknya. Tidak hanya wanita, bahkan pria pun ikut memandanginya. Memandang iri segala sesuatu yang menempel di diri Arkan.


Tanpa memperdulikan tatapan-tatapan itu, Arkan terus berkeliling mencari keberadaan Kian, hingga akhirnya menemukan gadis itu baru saja keluar dari sebuah toko.


Ahh disana rupanya dia.


Arkan terus membuntuti Kian kemana gadis itu berjalan. Saat Kian memasuki sebuah toko, Arkan menunggunya diluar. Namun, saat melihat Kian tidak menenteng satu pun tas belanja, membuat Arkan penasaran. Ia pun masuk ke toko tersebut dan menanyakan perihal gadis itu. Karyawan toko mengatakan bahwa ia datang melihat-lihat barang, namun saat melihat tag harga yang tertera dia keluar begitu saja. Mendengar penuturan karyawan toko tersebut, Arkan terkekeh.


Kau pasti terkejut setengah mati melihat harganya bukan?


Akhirnya Arkan menanyakan barang apa saja yang sudah dilihat oleh Kian. Dengan senyum merekah, para karyawan itu berebut untuk melayani Arkan. Namun senyum mereka mendadak pudar saat Arkan menyuruh Sam yang mengaturnya. Mereka terlihat kecewa. Karena yang mereka inginkan sebenarnya adalah melayani Tuan Muda tampan dan kaya. Walaupun Sam terlihat tidak buruk, tapi tetap saja, dari segi apapun Arkan melesat jauh lebih unggul. Semua wanita akan tergila-gila padanya, kecuali seseorang.


Sementara itu, Arkan terus membuntuti Kian. Ia merasa kakinya ingin terlepas, saat melihat gadis itu keluar dari sebuah toko untuk yang kesekian kalinya. Dan lagi, tidak ada satu barang pun yang ia beli dari toko itu.


Apa dia sekere itu?


Arkan melanjutkan langkahnya lagi. Diam-diam mengikuti tanpa sepengetahuan Kian.


Eh, kenapa dia berhenti?

__ADS_1


Arkan melihat Kian menghentikan langkahnya. Mata gadis itu menatap lurus ke depan, seperti sedang melihat sesuatu. Arkan pun ikut mengarahkan pandangannya lebih jauh ke depan. Mencari apa yang Kian lihat.


Brengsek. Ternyata dia sudah memiliki kekasih. Tapi dia masih saja terus menempel pada Kian. Apa dia sedang mempermainkannya? Kurang ajar!!


Arkan mengepalkan tangannya geram saat matanya menangkap sepasang kekasih yang saling berpegangan tangan. Pandangannya beralih ke Kian. Gadis itu memutar badannya hendak menjauhi mereka. Wajahnya yang ceria berubah murung seketika.


***


"Aisshhh, apa tidak ada harga yang lebih masuk akal? Bukankah barang-barang itu terlihat hampir sama seperti yang dijual dipasar? Kalau begini caranya aku tidak bisa membeli apapun untuk ibu, bapak sama adik-adikku," gerutu Kian kesal. Kakinya sudah lelah berjalan kesana kemari. Dan dia belum membeli apapun juga.


Akhirnya Kian keluar lagi dari toko ke sepuluh yang ia datangi. Dia ingin pulang saja karena sudah tidak kuat berjalan. Tanpa sengaja, matanya menangkap bayangan Rendy bersama Viona tidak jauh dari tempatnya berdiri. Tubuhnya terasa kaku saat melihat mereka saling berpegangan tangan, melempar senyum satu sama lain. Raut wajah Rendy terlihat sangat bahagia sekali. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan itu.


Kian membalikkan tubuhnya ingin menjauhi Rendy dan Viona. Namun seseorang menarik tangannya. Kian terkejut melihat kedatangan Arkan yang tiba-tiba. Pria itu menggenggam tangannya erat, berjalan menghampiri sepasang kekasih yang ingin Kian hindari.


"Tuan," lirihnya.


Kian mengernyit. Darimana dia tahu.


"Ayo cepat." Arkan menarik tangan Kian agar menyejajari langkahnya. Mereka menuju restoran dimana Rendy dan Viona berada.


"Boleh kami bergabung?" tanya Arkan. Sebenarnya bukan sebuah pertanyaan, tapi lebih ke memaksa secara halus.


Melihat kedatangan Kian dan Arkan sambil menggenggam tangan, sontak membuat Rendy terkejut. Refleks ia melepas tangan Viona dari genggamannya. Raut wajah Viona langsung berubah. Ia jelas tidak terima dengan perlakuan Rendy.


"Silahkan saja," jawab Rendy dingin. Masih dengan ekspresi tidak percaya.


"Ayo duduk!" Arkan menarik kursi dan mendudukkan Kian. Lagi-lagi Kian terkejut dengan perlakuan pria itu. Tapi ia dapat segera mengendalikan dirinya.

__ADS_1


"Terimakasih, Tuan," jawab Kian. Senyum tipis muncul di bibirnya.


"Bukankah anda Tuan Arkan dari Wijaya Group?" tanya Viona tidak percaya setelah menyadari siapa pria yang datang bersama Kian. Alih-alih menyapa Kian, ia malah terlihat lebih tertarik pada Arkan.


"Kau sudah mengenalku ternyata. Berarti aku tidak perlu memperkenalkan diri lagi," tukas Arkan. Sebuah seringaian muncul disudut bibirnya.


"Hanya orang tidak waras yang mungkin tidak mengenal anda, Tuan." Viona merekahkan bibirnya saat Arkan tersenyum padanya.


Sial. Apa itu artinya aku orang gila?


Hei, kenapa kau tersenyum bodoh seperti itu pada wanita ini. Lihat, dia langsung salah tingkah begitu. Kasian sekali Kak Rendy punya kekasih seperti wanita ini. Tidak bisa lihat orang tampan kaya dikit. Ck.


Kian berdecak kesal melihat Arkan yang tersenyum pada Viona, ditambah lagi ekspresi wanita itu yang langsung berubah aneh. Bahkan Rendy sampai tidak ia pedulikan. Dia hanya sibuk menyapa Arkan dan bersikap sok akrab. Membuat Kian jengah.


Kian tidak memilih makanannya sendiri, dia hanya mengikut apa yang dipesan Arkan. Rasanya malas. Sesekali matanya melirik Rendy yang terlihat canggung. Pria itu lebih banyak diam. Tidak seperti Viona, yang mengoceh kesana kemari.


Tak lama berselang, makanan yang dipesan Arkan datang. Kian terkejut. Dia baru menyadari makanan yang dipesan pria itu ternyata steak. Kalau saja Kian tahu dari awal, dia tidak akan memesan makanan yang sama. Sepertinya hari ini bukan hari keberuntungannya. "Arrggggh" teriaknya dalam hati.


"Makanlah!" Arkan menukar piringnya dengan piring Kian. Memberikan steak yang sudah ia potong-potong agar memudahkan Kian memakannya.


Meskipun bukan pertama kalinya Arkan melakukan itu untuk Kian, tapi tetap saja rasanya aneh bagi gadis itu. Terlebih dua orang yang saat ini tengah menatap mereka. Walaupun Rendy menatapnya datar, namun sorot matanya menunjukkan rasa kecewa dan kaget sekaligus. Apalagi Viona, wanita ini sampai menganga tidak percaya.


Ck. Apa spesialnya sih dia sampai Tuan Arkan bersikap semanis itu padanya. Bahkan pria bodoh ini terus mencuri pandang untuk meliriknya sedari tadi. Viona


Sebenarnya apa hubunganmu dengan pria itu, Kian. Kenapa dia bersikap seperti itu padamu. Kau tidak ada hubungan apapun dengannya, kan?. Rendy


"Terimakasih, Tuan," jawab Kian. Ia berusaha tersenyum untuk menunjukkan rasa terimakasihnya.

__ADS_1


Akhirnya sore itu di sebuah sudut restoran, empat orang tenggelam dalam perasaannya masing-masing. Sambil menikmati makanan, mata mereka melirik ke arah dimana perasaan membawa mereka.


__ADS_2