Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Jalan-jalan


__ADS_3

"Tidak! Aku tidak akan mengirimnya ke penjara lagi!" tolak Arkan saat Sam menyarankan untuk memenjarakan Reino lagi.


"Lalu apa yang akan kita lakukan padanya, Tuan?"


"Bawa dia ke ruangan bawah tanah di rumah besar! Aku akan memberinya pelajaran disana!"


"Baik, Tuan." Sam berlalu melaksanakan tugas sesuai perintah Arkan.


Arkan kembali ke apartemennya setelah bertemu Sam di lobby. Ia masih memilih cuti dan menemani Kian dirumah. Walau sebenarnya Kian sudah berkali-kali merengek agar ia diijinkan kembali bekerja. Namun tetap saja Arkan tidak mengijinkannya.


"Sayang, kamu darimana?" tanya Kian begitu Arkan muncul dari balik pintu.


"Bertemu Sam di bawah."


Mata Kian langsung berbinar. "Apa kamu akan berangkat ke kantor?"


"Tidak. Aku masih mengambil cuti." Arkan mendudukkan dirinya di samping Kian yang berada di atas ranjang.


Kian mengerucutkan bibirnya. Laki-laki ini benar-benar mengurungnya di rumah selama berhari-hari. "Sayang, aku bosan!"


"Kamu bosan, hmm?"


Kian mengangguk. "Tidak bisakah kita berjalan-jalan keluar sebentar?"


"Kamu ingin kemana?"


Kian tampak berpikir sejenak. "Bagaimana kalau ke Mall?"


Arkan langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak! Kamu tidak boleh ke tempat ramai!"


"Kenapa?" tanya Kian bingung.


Bagaimana menjelaskan padanya kalau sebenarnya aku masih trauma. Di depan mataku sendiri ia di perlakukan seperti itu. Aku bahkan tidak bisa melihatnya bertemu dengan orang asing. Apalagi ke Mall. Tempat ia menghilang dari pandanganku.


"Pokoknya tidak boleh!"


Kian mencebikkan bibirnya. "Aku ingin makan steak daging di restoran waktu itu," alasan Kian.


"Kita bisa memesannya via online."


"Aku ingin menonton bioskop."


"Kita bisa memasang layar proyektor seperti di bioskop."


"SAYANG!!!!!" teriak Kian kesal.


"Kenapa Sayang? Semuanya bisa kita lakukan di rumah tanpa harus keluar."


"Tapi aku bosan di rumah terus! Aku juga butuh udara segar."

__ADS_1


"Kamu mau udara segar? Ayo ikut aku!" Arkan menggenggam tangan Kian dan membawanya ke balkon. Lalu kembali ke dalam mengambil beberapa camilan dan minuman ringan.


"Bagaimana kalau kita menikmati udara segar disini?" ucap Arkan tanpa beban.


"Tidak mau!" Kian berjalan kembali ke kamar meninggalkan Arkan seorang diri di balkon.


Arkan menghela napas panjang sambil menyusul Kian kembali ke kamar. Dilihatnya Kian menutupi seluruh tubuh dengan selimut sambil membelakanginya.


Dia pasti benar-benar kesal padaku.


"Baiklah, ayo kita pergi Mall!" ajak Arkan.


Kian langsung membuang selimutnya dan menatap Arkan girang. "Benarkah?"


"Hmmm." Arkan mengangguk.


"Baiklah aku akan bersiap!" Kian beranjak dari ranjang menuju ruang ganti. Namun ia berbalik lagi mendekati Arkan. Sebuah ciuman ia berikan untuk suaminya. "Terimakasih Sayang. Aku mencintaimu!" Selepas itu ia pergi ke ruang ganti sambil menari-nari.


"Aku juga sangat mencintaimu!" gumam Arkan sendirian. Ia mengelus-elus pipinya yang baru saja di cium Kian sambil terus tersenyum lebar.


"Kosongkan tempat itu sekarang!!!" perintah Arkan di telepon.


Selang beberapa menit Kian keluar dengan riasan sederhana. Ia menghampiri Arkan yang sudah menunggunya.


"Sudah siap?" tanya Arkan.


Kian melingkarkan tangannya di lengan Arkan. Merasakan angin yang berhembus lembut menerpa wajahnya. Rasanya benar-benar menyenangkan.


Mereka berjalan memasuki Mall dari lobby utama. Saat menginjakkan kaki disana, Kian merasa ada yang aneh. Tak ada seorang pun yang ia temui selain petugas pelayanan Mall. Meskipun bukan weekend, biasanya Mall ini tetap ramai pengunjung. Tidak seperti kali ini yang benar-benar sepi tanpa pengunjung.


"Kenapa Mall ini sepi sekali?" tanya Kian heran.


"Mana aku tahu. Mungkin mereka memilih ke tempat lain," sahut Arkan berpura-pura.


Padahal jelas-jelas ia yang menyuruh Direktur utama pengelola Mall tersebut untuk menutupnya dari pengunjung lain. Arkan tidak ingin Kian bertemu dengan orang banyak yang bisa saja salah satu dari mereka menyakitinya.


"Ayo kita makan dulu baru menonton bioskop!" ujar Arkan.


Kian hanya mengangguk meski sebenarnya ia merasa ragu. "Apa sebaiknya kita cari Mall lain? Disini terlalu sepi."


"A-APA?!" Arkan membelalak kaget.


"Iya, lebih baik kita pergi ke Mall lain saja. Disini sepi seperti kuburan!" Kian menyeret lengan Arkan menuju pintu keluar.


"Tunggu!" teriak Arkan. Kian menghentikan langkahnya.


"Kita sudah jauh-jauh datang kesini. Kalau mencari tempat lain mungkin akan macet. Dan kita tidak bisa menonton film yang ingin kamu tonton," ucap Arkan beralasan.


Namun sepertinya berhasil. Kian terlihat berpikir sambil manggut-manggut. "Benar juga. Ayo kita makan!"

__ADS_1


Hauffftt Syukurlah!


Selesai makan, mereka berdua melanjutkan menonton film. Seperti sebelumnya, Kian juga merasa aneh saat di gedung bioskop juga suasananya sepi melompong.


Apa seseorang sudah menyewanya? Tunggu!


Kian menatap Arkan yang tengah asyik menikmati film di depannya. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri.


Tidak. Tidak mungkin dia.


Merasa tidak yakin kalau Arkan yang menyewa Mall tersebut, Kian melanjutkan menonton film. Setidaknya ia tidak terkurung lagi di dalam rumah.


"Sayang, aku mau ke toilet!" ucap Kian.


"Ayo, aku antar!" Arkan hendak beranjak.


"Apa?! Tidak, tidak. Memangnya aku anak kecil apa yang harus di antar ke toilet segala!' protes Kian.


"Bagaimana kalau ada orang yang ingin melukaimu lagi?"


"Mall ini bahkan sepi dari pengunjung, Sayang! Aku sebentar saja kok!" Kian berlalu tanpa menghiraukan ucapan Arkan selanjutnya.


Dia itu kenapa sih? Kenapa posesifnya semakin overdosis begitu?


"Memang benar-benar tajir ya Tuan Arkan itu! Sampai-sampai menyewa Mall segala untuk istrinya."


"Iya, dia pasti cinta mati sama istrinya sampai seperti itu!"


Percakapan dua wanita yang tidak sengaja Kian dengar dari dalam toilet membuat dugaannya terbukti benar. Bahwa memang Arkanlah yang sudah melakukan semua ini. Kenapa ia sampai harus melakukan semua ini?


Kian kembali ke dalam bioskop dan mendapati Arkan memejamkan matanya. Terlihat guratan lelah di wajah pria itu yang beberapa hari ini rela mondar-mandir demi memenuhi kebutuhan Kian. Ia bahkan rela melakukannya sendiri tanpa meminta bantuan pelayan.


Kian lebih memilih menatap wajah suaminya daripada melanjutkan menonton film hingga selesai. Semua lampu kembali menyala membuat Arkan memgerjapkan matanya. Ia terbangun dan melihat Kian sedang menatapnya.


"Maaf aku ketiduran," ucapnya menyesal.


Kian tersenyum. "Tidak apa-apa. Filmnya sudah selesai, apa lebih baik kita pulang?"


"Hmmm baiklah. Kamu ingin membeli sesuatu lagi?"


Kian menggeleng. "Tidak.


Mereka menuju pintu keluar sambil terus bergandengan tangan. Sesekali Kian juga bergelayut manja di lengan Arkan.


"Kamu senang?" tanya Arkan.


"Hmm sangat. Aku sangat berterima kasih pada orang yang sudah menyewa Mall ini sehingga kita bisa menikmatinya hanya berdua. Apa sebaiknya aku bertemu dengannya untuk berterima kasih?" goda Kian.


"Tentu saja kamu harus berterima kasih padaku!" sahut Arkan keceplosan.

__ADS_1


__ADS_2