
Arkan masuk ke rumah lebih dulu lalu disusul Kian. Mata pria itu mengedarkan pandangan menyusuri setiap sudut rumah. Lagi, ia menahan napasnya. Tidak bisa membayangkan bagaimana orang-orang di dalam rumah ini bisa hidup dengan nyaman. Tidak ada sofa, tidak ada Tv, tidak ada pendingin ruangan. Cuma ada rakitan bambu berbentuk kursi.
"Silahkan duduk!" Kian menunjuk kursi bambu yang ada di ruang tamu.
"Disini?" tanya Arkan bingung.
"Bukan, di atas seng!" jawab Kian ketus. "Ya di situlah, memang mau dimana lagi?"
Arkan mengangkat sebelah alisnya. "Memang ini kursi?"
"Kan tadi sudah aku bilang kau tidak akan nyaman masuk ke rumah ini! Kau seha...
"Aku haus!" Arkan memotong ucapan Kian dan langsung mendudukkan dirinya di atas kursi.
"Baiklah, aku ambil dulu. Tunggu sebentar!"
Kian berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Namun, langkahnya terhenti saat melihat tumpukan barang di ruang tengah. Matanya melotot melihat barang itu satu persatu. Ia menggeleng tidak percaya, melihat semua barang itu adalah barang yang tidak jadi ia beli kemarin. Dan hebatnya, tak ada satu pun yang tertinggal dari apa yang ia lihat di toko-toko itu.
Bagaimana dia melakukan semua ini.
Kian melanjutkan langkahnya menuju dapur. Mengambil segelas air putih. Lalu membawanya kembali ke ruang tamu.
"Air putih?" tanya Arkan tidak percaya.
"Iya, bukannya tadi kau bilang haus?"
"Apa tidak ada sirup atau sesuatu yang menyegarkan gitu?"
"Kalau kau tidak mau, ya su..." Kian mengambil lagi gelas yang ia letakkan di atas meja. Namun tiba-tiba Arkan merebutnya dan meminumnya sampai tuntas. Kian hanya tersenyum puas melihatnya.
"Maaf, orangtuaku tidak pernah membeli sirup selain lebaran," ucap Kian masih dengan senyum di wajahnya. Menyembunyikan kegetiran.
Arkan tertegun mendengar pengakuan Kian. Dia tidak tahu sesulit apa hidup yang dijalani gadisnya dulu. Tapi, begitu pun dia merasa salut. Kian bisa melewati itu semua dengan tegar. Ia menyesali kebodohan yang pernah ia lakukan saat pertama kali bertemu gadis itu. Sekarang, jika diingat-ingat lagi, dia seperti manusia tidak memiliki perasaan. Bagaimanapun juga, ia akan membayar kesalahan itu. Tekadnya dalam hati.
"Kemana orangtuamu?" tanya Arkan saat tidak melihat Ibu dan Bapak sedari ia masuk tadi.
__ADS_1
"Ada di belakang sedang menyiapkan makanan," jawab Kian sambil tangannya menunjuk ke arah belakang. "Oh ya, dimana Sam?"
"Aku menyuruhnya kembali ke hotel."
"Lalu kau? Kenapa kau masih disini?" tanya Kian gelagapan. Dia merasa ada sesuatu yang aneh.
Belum sempat Arkan menjawab, Ibu menghampiri mereka. "Ayo kita makan dulu!" ajak Ibu.
Arkan terlihat bingung apa yang harus ia lakukan. Ia menoleh ke Kian, namun gadis itu hanya mengangkat bahunya. Tidak membantu sama sekali.
"Ayo Kian, ajak Nak Arkan sekalian!" ucap Ibu lagi.
"Tapi bu,," Kian belum sempat menjelaskan, tapi Bapak sudah muncul lagi mengatakan hal yang sama.
Mau tidak mau, ia mengajak Arkan makan bersama di ruang tengah. Tidak ada meja makan. Makanan-makanan itu hanya di letakkan di atas tikar. Ibu dan Bapak sudah duduk terlebih dulu. Tinggal Kian dan Arkan yang masih berdiri. Arkan terlihat bingung, bagaimana caranya ia makan seperti itu.
"Apa tidak ada meja makan?" bisik Arkan.
"Tidak ada. Sudah cepetan duduk!" balas Kian berbisik juga. Lalu ia sendiri duduk.
Ibu menyendokkan nasi untuk Bapak dan untuknya sendiri. Lalu menyuruh Kian mengambil nasi sendiri.
"Ambilkan untuk Nak Arkan sekalian!" perintah Ibu pada Kian yang sedang memegang centong nasi. Membuatnya terkejut
Ibu apa-apan sih? Memangnya aku ini istrinya apa**!
"I-iya bu." Kian lalu memberikan piring nasi pada Arkan.
Melihat piring itu sudah penuh dengan nasi dan lauk pauk, Arkan membelalak. Baginya makanan itu terlalu banyak.
"Banyak sekali!" Arkan berbisik-bisik lagi.
"Habiskan! Atau Ibu dan Bapak akan marah!"
Arkan menelan ludahnya. Selama ini ia tidak pernah peduli dengan penilaian orang lain. Lagi pula, biasanya orang lain yang akan takut jika berdekatan dengannya. Namun, saat Kian mengatakan itu, tiba-tiba ia merasa takut. Ia harus menghabiskan makanan itu apapun yang terjadi.
__ADS_1
Setengah jam berlalu.
Bapak, Ibu dan adik Kian sudah menyelesaikan makanan mereka sedari tadi. Sedangkan Kian sendiri masih menatap pria di depannya ini. Raut wajah Arkan sudah memerah, peluhnya juga sudah mengalir dari pelipisnya. Namun, ia masih berusaha menghabiskan makanan di piringnya.
Rasanya Kian ingin tertawa melihatnya. Sejak kapan pria sombong seperti Arkan peduli dengan ucapan orang lain. Kian tidak menyangka Arkan akan berusaha mati-matian menghabiskan makanannya. Padahal, saat ia mengatakan Ibu dan Bapak akan marah, itu tidak sepenuhnya benar. Lagi-lagi Kian tidak menyangka Arkan akan percaya.
Melihat Arkan yang masih bersusah payah menelan makanannya, membuat Kian tidak tega. Dia menarik piring itu dari tangan Arkan.
"A--ppa yya--ng kka--u laa--kuukan?" tanya Arkan. Mulutnya masih penuh dengan makanan. Rasanya ia sudah tidak sanggup lagi menelannya.
"Kau ini bodoh atau apa?! Lihat, wajahmu sudah merah padam begitu!" Kian memarahi Arkan yang masih berusaha menghabiskan makanannya.
"Aku harus menghabiskannya. Aku tidak ingin Ibu dan Bapak marah," jawab Arkan setelah berhasil menelannya.
"Sudah, tidak perlu di habiskan. Ibu sama Bapak tidak akan marah. Tadi aku hanya bercandaa!!" Kian langsung melengos pergi setelah mengatakannya. Ia tergelak sendiri sambil berjalan ke dapur.
"KAUU?!!!" Arkan nyaris saja berteriak. Kalau saja ia tidak ingat dimana ia berada. Mungkin Arkan sudah mengeluarkan suara petirnya. Kali ini ia merasa harus menjaga sikapnya.
Sementara Kian masih terkekeh sendiri sambil mencuci piring bekas Arkan. Dia merasa senang
sekaligus kasihan melihat Arkan seperti itu. Senang bisa mengerjai pria yang selama ini terkenal kesombongannya. Namun Kian juga tidak tega melihat wajah Arkan yang sampai merah padam dibuatnya.
Lagian siapa suruh percaya padaku. Bukannya dia tidak pernah peduli dengan kata-kata orang lain.
Ibu yang melihat Kian terkekeh sedari tadi mendekati putrinya. Wajah ibu terlihat sangat ramah, senyum di wajahnya selalu terukir dengan lembut.
"Apa kamu sebahagia itu melihatnya kesusahan?" tanya Ibu sambil mengusap bahu Kian.
"Aahh Ibu, bukan seperti itu. Ibu hanya belum mengenalnya. Kalau ibu mengenalnya seperti Kian, Ibu pasti juga akan tertawa melihatnya."
"Huss tidak baik menertawakan kesusahan orang lain. Ibu lihat, dia pria yang baik dan sopan."
Mendengar penuturan Ibu, Kian semakin terkekeh.
Dia, pria yang baik? Sopan? Ahh Ibu pasti bercanda. Kalau saja Ibu tahu sifat aslinya, Ibu pasti tidak akan memujinya.
__ADS_1