Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Sesuai jadwal yang ditentukan, pertemuan antara dua keluarga diadakan di kediaman keluarga Wijaya Group. Bapak dan Ibu Kian dijemput oleh seorang supir yang mengantar mereka ke rumah utama keluarga Wijaya. Seperti halnya Kian yang pernah tercengang saat menginjakkan kakinya pertama kali disana, kedua orang tuanya pun merasakan hal yang sama. Jika dibandingkan dengan rumah mereka di kampung, jelas tidak ada apa-apanya. Mungkin luas dapur rumah ini tidak sebanding dengan rumah mereka di kampung. Bagi mereka, rumah ini lebih menyerupai istana. Besar, mewah, dan megah. Bapak dan Ibu Kian hanya bisa berdecak kagum memandangnya. Beberapa pengawal yang berjaga di depan pintu mengangguk dan tersenyum pada mereka.


Salah seorang pengawal membukakan pintu untuk kedua orang tua Kian. Seperti dugaan, mereka lebih terkejut melihat isi rumah tersebut.


Terlihat dua orang sudah berdiri. Bapak dan Ibu terkejut saat Nyonya Wina langsung menyambut mereka dengan sangat ramah. Hal luar biasa yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Mereka pikir keluarga konglomerat akan selalu bersikap sombong dan angkuh pada orang biasa seperti mereka, tapi ternyata Nyonya Wina sangat bersikap baik pada mereka.


"Selamat datang Bapak dan Ibu Kian! Akhirnya saya bisa bertemu dengan calon besan juga," sapa Nyonya Wina dengan senyum ramahnya


"Terima kasih..." Ibu menggantung ucapannya, ia terlihat bingung ingin menyebut Nyonya Wina dengan sebutan apa.


"Panggil saja saya Jeng Wina," tukas Nyonya Wina seperti mengerti raut wajah bingung calon besannya.


Kening Ibu terlihat berkerut mendengar jawaban Nyonya Wina. Tapi ia langsung mengendalikannya sambil mengangguk. "Ahh baik. Terima kasih sudah mengundang kami kesini, Jeng Wina dan Tuan Wijaya," ucap Ibu lagi.


Tuan Wijaya hanya mengangguk datar tanpa ekspresi. "Silahkan masuk!" ajak Nyonya Wina.


***


Karena pertemuan itu hanya untuk kedua orang tua Kian dan Arkan saja, maka adik-adik Kian tidak ikut serta. Sambil menunggu pertemuan itu selesai, Arkan mengajak Kian beserta ketiga adiknya ke suatu tempat. Mereka pergi ke sebuah tempat wisata water park yang ada di Ibukota.


Ayu, Angga dan Didi terlihat sangat antusias. Bahkan Didi sampai melompat kegirangan saat ia melihat wahana permainan air yang ada disana. Karena jujur saja mereka ini kali pertama mereka bermain ke tempat wisata seperti itu. Biasanya di kampung, mereka hanya bermain di danau yang ada di dekat rumah.


Karena hari biasa, pengunjung tidak begitu ramai. Didi ditemani Ayu dan Angga pergi ke wahana kolam ombak dan ember tumpah. Sementara Arkan mengajak Kian menuju wahana speed slide. Sebuah seluncuran terowongan dengan ketinggian 20 meter yang langsung memacu adrenalin.


"Kenapa? Apa kau takut?" tanya Arkan saat melihat Kian pucat menatap seluncuran yang ada di depan mereka.


"Kau yakin ingin mencoba wahana ini?" tanya Kian balik. Meskipun bisa berenang, tapi ia takut dengan ketinggian.


"Tentu saja! Ini adalah wahana yang paling tinggi dan seru di tempat ini. Tapi kalau kau takut, kita bisa bermain disana!" Arkan menunjuk wahana permainan yang dipenuhi anak-anak. Bermaksud meledek Kian.


Mengerti maksud dari pria di depannya Kian mendengus kesal, ia langsung menarik ban yang dipegang oleh seorang petugas dan meletakkannya di atas seluncuran.


"Kau tidak ikut?" ejek Kian pada Arkan. Ia sendiri sudah duduk di atas ban dan siap didorong petugas yang berjaga.


"Awas kalau kau sampai pingsan karena ketakutan!" sahut Arkan sambil duduk di belakang Kian. Lalu ia memberi kode pada petugas untuk mendorong mereka.

__ADS_1


"AAAAAAAAA!!!!" Kian berteriak kencang saat mereka meluncur dari atas. Benar saja adrenalinnya terpacu saat melewati terowongan dengan kecepatan hampir 70km tersebut.


"Byurrrr." Mereka mendarat diatas kolam yang tidak terlalu dalam. Mungkin hanya sekitar satu meter.


Kian menarik ban ke atas kolam dan berjalan meninggalkan Arkan yang mengusap wajahnya dari tetesan air.


"Hei, kau mau kemana?!" teriak Arkan saat melihat Kian meninggalkannya.


"Naik wahana ini lagi!!" jawab Kian tanpa berbalik.


"Apa?!" Arkan terkejut. Niatnya untuk membuat Kian takut malah membuat gadis itu ketagihan. Dengan segera, Arkan menyusul Kian yang sudah menaiki anak tangga.


Kini, Arkan merasa kakinya nyaris terlepas saat ia menaiki anak tangga untuk kelima kalinya. Sedangkan Kian masih bersemangat. Meskipun sedikit lelah, tapi ia tetap antusias menaiki tangga dan menikmati wahana itu lagi. Ia tidak menghiraukan Arkan yang berteriak menyuruhnya berhenti.


"Sepertinya kakinya benar-benar terbuat dari besi," gerutu Arkan dengan napas yang tersengal. Ia masih berusaha menaiki tangga hingga ke atas.


"Kakimu lembek sekali!" ejek Kian saat melihat Arkan baru tiba.


"KAU!" Arkan melayangkan jitakan di depan Kian. "Setelah ini berhenti atau aku akan menyuruh petugas untuk menutup water park ini!" ancamnya.


"Iya.. Iya.. Ini yang terakhir! Setelah ini aku ingin makan karena perutku sangat lapar," sahut Kian sambil memegangi perutnya. Ia sudah duduk di atas ban dan menunggu Arkan. Sementara pria itu berbisik sebentar pada petugas sebelum ia duduk di belakang Kian. Lagi, mereka meluncur dari ketinggian. Senyum dan tawa terus terukir di wajah Kian, membuat Arkan ikut menyunggingkan senyum.


"Makanan dari mana ini?" tanya Kian terkejut. Ketiga adiknya hanya saling berpandangan. Mereka sendiri tidak tahu. Mereka hanya dipersilahkan untuk memakannya oleh salah seorang petugas yang menghidangkannya.


"Aku yang memesannya," jawab Arkan santai. Ia langsung duduk dan ikut menikmati makanan.


Kian terkesiap melihatnya. Makanan-makanan tersebut terlihat sangat enak, ditambah perutnya yang tengah keroncongan membuat Kian langsung ikut melahapnya.


"Bagaimana? Kalian suka bermain disini?" tanya Arkan pada adik-adik Kian.


Dengan serempak mereka mengangguk. "Iya Kak. Terima kasih sudah mengajak kami kesini," jawab Ayu malu-malu.


"Kapan-kapan kesini lagi ya, Kak!" celoteh Didi yang kesusahan mengunyah karena mulutnya penuh dengan makanan.


"Didi, ditelan dulu makanannya baru ngomong," sela Kian. "Lagian tempat ini pasti mahal, kita tidak bisa sering-sering kesini," sambungnya lagi.

__ADS_1


"Siapa bilang tidak bisa? Kalau mau, kau bisa datang kesini setiap hari. Petugas tidak akan berani meminta bayaran tiket dari calon istriku. Kau bisa masuk tanpa harus membayar," sahut Arkan setelah menelan makanannya.


"Berarti kita bisa setiap hari kesini kalau bilang adik ipar Kak Arkan dong?" tanya Didi dengan mata berbinar.


"Husss. Didi, jangan sembarangan bicara!" potong Kian.


Arkan mengangguk. "Tentu saja. Kalian akan menjadi adik iparku. Jadi kalian bisa bermain disini sepuasnya."


"Yeayy asikkk." Ketiga adik Kian bersorak kegirangan.


Kian tertegun saat mendengar ucapan Arkan. Bukan karena ia bisa masuk ke tempat itu kapan saja, melainkan saat Arkan menyebut dirinya sebagai calon istri membuat hatinya terasa berbunga.


"Terima kasih sudah membawa adik-adikku kesini. Melihat mereka tertawa bahagia rasanya sangat menyenangkan," ucap Kian. Ia dan Arkan masih duduk beristirahat di gazebo setelah mereka menyelesaikan makan. Sedangkan ketiga adiknya sudah menghambur di kolam wahana.


Belum sempat Arkan membalas, Kian sudah membuka suaranya lagi. "Tapi, bukannya kau tidak bisa berenang? Kenapa memilih membawa kami bermain air?" tanyanya lagi.


"Apa kau bodoh? Sedari tadi kita bermain kolam air di wahana permainan tidak ada yang dalam?" jawab Arkan sambil menoleh ke arah Kian yang mengerucutkan bibirnya.


"Lagian, kenapa pria seperti kau tidak bisa berenang? Sepertinya sangat mudah menemukan pelatih yang professional yang bisa mengajarimu."


Arkan menghela napas berat. "Aku tidak mempercayai mereka," ucapnya lirih. "Dulu sewaktu aku kecil, seorang pelatih pernah mengajariku. Namun, ternyata ia suruhan salah seorang saingan bisnis ayahku. Dia berusaha menenggelamkan diriku saat Ayah dan Ibu tidak di rumah. Beruntung aku bisa selamat setelah Pak Dan datang menyelamatkanku," ungkapnya sambil menatap lurus ke depan.


Pantas saja. Sepertinya dia mengalami trauma setelah kejadian itu.


"Aku bisa mengajarimu," kata Kian. Tanpa sadar kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.


Arkan memajukan wajahnya menatap Kian lekat. "Apa yang sedang kau rencanakan?"


"Rencana? Apa maksudmu?" Dahinya berkerut mencerna pertanyaan Arkan. Pria itu masih belum bergeser dari posisinya.


"Kau tidak sedang ingin membunuhku, kan?"


"Ck. Apa untungnya untukku? Bahkan aku belum sah menjadi istrimu jika ingin mengambil semua hartamu," dengusnya kesal. Ia beranjak dan berlalu meninggalkan Arkan.


"Hei, kau mau kemana?!" teriak Arkan. "Bukannya kau bilang ingin mengajariku?"

__ADS_1


"TIDAK JADI!!" jawab Kian ketus tanpa menoleh.


"Aarrgghh bodoh.. Kenapa aku tidak langsung mengiyakannya saja tadi? Lagian, cepat sekali dia berubah pikiran!" Arkan mengejar Kian yang sudah siap menaiki wahana permainan air yang lain.


__ADS_2