
Akhirnya para rombongan kembali ke penginapan dengan perasaan kecewa, sebagian dari mereka bahkan belum sempat mencoba olahraga arung jeram tadi. Tapi Pak Dan sudah memberi komando untuk membubarkan kegiatan. Katanya itu perintah dari tuan Arkan. Kalau pria itu sudah memberi perintah tak ada lagi acara tawar menawar, apapun itu, mutlak harus dilaksanakan.
Arkan sendiri menuju hotel yang sudah disiapkan Pak Dan dengan diantar supir. Selama di perjalanan pria itu hanya diam. Pikirannya melayang entah kemana. Saat mobil berhenti di depan sebuah hotel, Arkan kembali tersadar. Dia turun setelah Pak Dan membukakan pintu. Mereka berjalan memasuki hotel dengan Pak Dan berada di belakang Arkan. Sekarang mereka berada di depan pintu kamar hotel. Pak Dan membukakan pintu, mempersilahkan Arkan masuk. Baru saja hendak melangkah masuk, Arkan menghentikannya.
"Bawa gadis itu kemari, Pak Dan!" ucapnya menatap Pak Dan.
"Baik tuan." jawab Pak sambil menganggukan kepalanya.
Setelah itu barulah Arkan masuk, dan Pak Dan menutup pintu dengan hati-hati. Pria paruh baya itu kembali ke mobil, menyuruh supir menuju penginapan rombongan.
Kian merasa bersalah pada semua teman-temannya. Walaupun tentu tenggelam bukan keinginannya, tapi tetap saja karena dialah kegiatan jadi dibubarkan.
Rendy mengantar Kian sampai di depan pintu kamar gadis itu.
"Kamu yakin tidak mau ke dokter, Kian? Di dekat sini ada klinik, kalau kamu mau aku bisa mengantarmu kesana. Paling tidak kamu harus memeriksakan diri." Rendy masih mencoba membujuk Kian agar gadis itu mau memeriksakan dirinya ke dokter.
"Aku baik-baik saja, Kak Rendy. Tidak perlu ke dokter. Istirahat sebentar juga pasti enakan," jawabnya menyakinkan Rendy. Kian merasa dirinya memang baik-baik saja.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau ke dokter. Tapi nanti kalau kamu butuh sesuatu hubungi aku saja," ucap Arkan lagi. Setelah itu menyuruh Kian masuk kamar agar gadis itu bisa beristirahat. Dia sendiri kembali ke kamarnya.
Kian melihat ketiga temannya sedang tertidur pulas. Raut wajah mereka terlihat lelah. Apalagi harus ditambah dengan kejadian tadi, membuat Kian merasa tambah bersalah.
Kian membuka tasnya perlahan, agar tidak membangunkan teman-temannya. Dia mengambil handuk dan perlengkapan mandinya. Berniat untuk membersihkan dirinya. Tapi tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk dari luar. Kian segera berjalan menghampiri sebelum suara itu membangunkan ketiga temannya.
"A-ada apa, Pak?" Kian terkejut melihat Pak Dan berdiri di depan pintu. Wajah pria itu terlihat sangat datar, tanpa ekspresi.
"Silahkan ikut saya, Nona!" ucap Pak Dan datar.
"Kemana, Pak?"
"Nanti nona akan mengetahuinya."
Mendengar Pak Dan berbicara seperti itu padanya, membuat bulu kuduk Kian merinding.
Orang tua ini habis kesambet apa sih.
__ADS_1
Kian hanya menuruti perintah Pak Dan, dia mengikuti langkah pria itu sampai ke mobil. Lalu tiba-tiba Pak Dan membukakan pintu mobil saat Kian mendekat. Mempersilahkannya masuk.
Kenapa aku jadi merinding begini ya.
Kian mengucapkan terimakasih, menerima perlakuan Pak Dan. Pria itu hanya mengangguk tanpa bersuara. Setelah itu masuk ke mobil dan supir melajukan mobil menyusuri jalan raya.
Diperjalanan Kian mengirimkan pesan kepada Dina, agar gadis itu tidak mencarinya. Walaupun Kian sendiri tidak tahu mau dibawa kemana, setidaknya dia harus mengabari sahabatnya itu.
Mobil akhirnya berhenti di depan hotel bintang lima. Kian buru-buru turun sebelum Pak Dan membukakan pintu untuknya lagi. Pak Dan hanya menatapnya datar tanpa ekspresi. Lalu mereka berjalan memasuki lobi hotel.
Walaupun hotel ini tidak tinggi menjulang seperti hotel di ibukota, tapi lokasi hotel ini cukup luas. Saat masuk lobi tadi, Kian merasa biasa saja, tidak ada yang aneh atau pun mengagumkan. Tapi begitu memasukinya lebih dalam, barulah terlihat perbedaan yang begitu mencolok. Mata akan dimanjakan dengan pemandangan hijau yang mengelilingi setiap bangunan hotel.
Disini bangunan hotel tidak berbentuk kamar-kamar, melainkan sebuah bangunan rumah dua lantai seperti Villa. Kian bahkan bisa menghitung bangunan yang ada tidak lebih dari sepuluh bangunan. Dan setiap bangunan memiliki kolam renang masing-masing
Kian berpikir keras berapa uang yang harus dikeluarkan hanya untuk menginap di hotel ini. Dia tidak mau menerkanya, hanya akan membuat tenggorokannya kering. Kian mengikuti Pak Dan memasuki sebuah rumah, pria itu langsung naik ke lantai dua menuju balkon. Tempat dimana Arkan berada. Pria itu sedang menikmati pemandangan hijau di depannya.
"Saya sudah membawanya tuan," ucap Pak Dan.
Arkan membalikkan badannya.
Kian ragu, tapi dia tetap berjalan menghampiri Arkan. Sambil meremas tangannya yang gemetar.
"Apa kau tahu kesalahanmu?" tanya pria itu pelan. Namun Kian masih diam, dia sendiri bingung memikirkan apa kesalahannya.
"JAWAB!!!!" bentak Arkan. Tangan pria itu mencengkram dagu Kian, membuat gadis itu mengerang kesakitan.
"Maafkan saya, tuan!" Sebenarnya Kian sudah mulai jengah, dengan kata-kata itu. Tapi untuk saat ini, hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulutnya.
"Kalau kau tidak bisa menjaga dirimu, lebih baik kau pulang sekarang juga!" bentaknya lagi.
Arkan melepaskan cengkeramannya, saat melihat gadis itu merintih. Lalu membalikkan badan kembali menikmati pemandangan didepannya.
Sedangkan Pak Dan hanya diam mematung sedari tadi.
"Buatkan kopi!" ucapnya datar.
__ADS_1
"Eh? Kopi?" Merasa ragu dengan ucapan Arkan.
"SEKARANG!!" teriak Arkan memekakkan telinga .
Sontak Kian berlari menuruni anak tangga, mencari kopi instan di dapur lalu menyeduhnya. D
Apa dia sudah gila? Mau minum kopi saja sampai membuat orang jantungan setengah mati. Apa di hotel ini tidak ada pelayan yang bisa membuatkan untuknya? Menyusahkan saja.
Dia benar-benar muak dengan pria itu. Kalau saja dia sudah mendapatkan pekerjaan lain, Kian pasti akan terbebas dari cengkraman Arkan. Mengingat pria itu membuat emosi Kian naik ke level paling atas. Kian mengaduk kopi kasar, membuat isinya bermuncratan kemana-mana. Menyisakan pinggiran gelas yang berantakan. Kian mencari sesuatu untuk membersihkannya
Minum nih kopi rasa kain lap!
Dia baru saja membersihkan pinggiran gelas tersebut dengan kain lap yang ada di sebelahnya. Gadis itu tergelak saat membayangkan Arkan meminumnya. Lalu dengan semangat empat lima, Kian naik ke lantai dua. Mengantarkan kopi tersebut untuk Arkan.
Kian tersenyum menyeringai saat meletakkan gelas kopi diatas meja. Mendengar ketukan gelas yang diletakkan, Arkan berbalik mendekati meja. Dia meraih gelas itu dan menempelkannya di bibir.
Melihat itu, Kian melebarkan senyumannya. Walaupun sebenarnya dia sudah tidak tahan ingin tertawa sekerasnya.
"Minum!" Arkan menyodorkan gelas kopi tersebut ke wajah Kian.
"Ehh?" tanya Kian terkejut.
"Cepat minum!!!" dengan intonasi yang meninggi.
Mau tidak mau Kian menerima gelas itu.
Menempelkannya di bibir, dan meminumnya perlahan.
Aaaahh Kenapa jadi aku yang minum sihh?? Ini mah namanya senjata makan tuan.
"Dasar gadis bodoh! Apa kau pikir bisa mengerjaiku?" ucapnya dengan nada mengejek.
Kok dia bisa tahu sih??
Kian hanya nyengir, mendengar ucapan pria itu. Syukurlah dia tidak marah, walaupun tahu dirinya akan dikerjain.
__ADS_1
Sekarang di balkon hanya tinggal mereka berdua, sedangkan Pak Dan sedari tadi sudah meninggalkan hotel. Dia kembali ke kamar hotel yang tidak jauh dari tempat Arkan berada. Agar dia bisa segera datang, saat tuan mudanya membutuhkannya.