
Kian sedang mematut dirinya di depan cermin. Dengan balutan dress berwarna violet, membuatnya terlihat anggun. Syukurlah, waktu itu Arkan membelikannya beberapa, jadi setidaknya Kian memiliki pakaian yang pantas untuk dibawa menghadiri acara resmi. Tidak lupa ia membawa sweater agar tidak kedinginan saat menaiki ojek online.
Setelah turun dari motor, Kian memberikan kartu undangan kepada petugas yang berjaga.
"Mohon sweater Anda dilepas, Nona," kata salah satu petugas.
"Oh iya, baik." Kian melepas sweater miliknya lalu memberikannya pada petugas untuk di simpan.
Suasana di dalam gedung begitu ramai, tidak ada seorang pun yang Kian kenal disini. Bahkan Reino yang mengundangnya juga tidak terlihat. Pasti dia sangat sibuk menyambut tamu yang datang, batin Kian. Akhirnya Kian memilih duduk di sudut ruangan tempat para bartender meracik minuman. Suasananya lebih sepi dan tenang, sangat cocok untuknya. Jujur saja, ini adalah kali pertamanya menghadiri acara sebesar ini, jadi ia tidak tahu harus bersikap seperti apa.
"Mau minum?" tanya seorang bartender tersenyum ramah.
Kian yang sedang melamun, terkejut dibuatnya. "Hmm boleh, jangan yang beralkohol ya!" pesan Kian.
"Oke." Tak lama minuman sudah tersaji di depan Kian. Ia meneguk minuman itu sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
Ia kembali melihat orang-orang di tengah gedung yang sedang asyik menggerakkan tubuh mengikuti alunan musik. Kian sendiri bergidik ngeri melihat para wanita dan pria menari bersama seperti itu. Mereka seperti orang yang tengah mabuk, mengikuti alunan musik yang semakin cepat dan memancing semua orang untuk bergoyang.
"Boleh saya duduk?" tanya seorang pria tiba-tiba.
"Silahkan," jawab Kian datar.
Pria itu tersenyum ramah, sembari memandangi Kian. Mulai dari ujung kepala hingga kaki tak lepas dari tatapan pria itu. Membuat Kian risih. Kian pun memilih menghindarinya dengan pergi ke toilet.
Baru saja Kian keluar dari toilet, ia menangkap bayangan wanita seperti Viona sedang memeluk seorang pria. Sambil berjalan perlahan Kian mengikuti wanita itu. Sampai di sebuah ruangan privat langkah Kian berhenti. Namun, ia masih bisa melihat dari bilik pintu yang terbuka sedikit.
Dan benar, wanita itu adalah Viona. Ia sedang bercumbu mesra dengan seorang pria. Dan sialnya, itu bukan Rendy. Raut wajah pria itu tidak terlihat jelas karena terhalang oleh Viona. Kian masih ingin berdiri disana melihat raut wajah pria itu, namun tiba-tiba seseorang menempelkan sapu tangan di wajahnya hingga ia tidak sadarkan diri. Ia dibawa ke sebuah ruangan besar dengan cahaya temaram.
Beberapa saat tidak sadarkan diri, Kian mulai membuka matanya, merasakan kepalanya masih sedikit pusing.
"Aku dimana?" gumamnya pelan.
"Kau ada di kamarku, Gadis Manis!"
Mendengar suara seorang pria, Kian langsung berusaha bangkit dari tidurnya. Namun tangannya dan kakinya diikat hingga ia tidak bisa bergerak.
"Lepaskan tanganku!" teriak Kian histeris.
Tanpa menjawab, pria itu berjalan mendekat sambil membawa botol minuman dan gelas di tangannya.
"Siapa kau? Apa yang mau kau lakukan?" tanya Kian dengan tubuh yang mulai bergetar ketakutan.
"Tenanglah, aku tidak akan mencelakaimu, aku hanya ingin menikmati tubuh indahmu sebentar saja." Pria itu mendudukkan diri di tepi ranjang sembari menuang minuman ke dalam gelasnya.
"Dasar brengsek! Cepat lepaskan aku!!" teriak Kian lagi.
"Kau haus?" tawar pria itu sambil menyodorkan gelas ke depan Kian.
"Tidak! Aku tidak mau, aku hanya ingin pergi dari sini!" Kian menutup mulutnya rapat, membuat pria itu meletakkan gelasnya lagi.
__ADS_1
"Tolong lepaskan aku!" Kian masih berusaha berteriak. Ia berharap seseorang akan mendengarnya.
Sekarang pria itu naik ke atas ranjang, ia membelai wajah Kian sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah gadis itu. Dengan sekuat tenaga, Kian meronta. Terlebih saat tangan pria itu mulai turun ke lehernya. Memainkan jari-jarinya disana.
"Aku mohon, hentikan. Biarkan aku pergi" isak tangis mulai terdengar dari mulut Kian. Namun pria itu tetap melakukan aksinya, ia bahkan mulai menurunkan belaian tangannya ke area sensitif Kian yang masih di lapisi pakaian. Membuat tubuh gadis itu semakin bergetar hebat.
"Kau benar-benar sangat menggoda. Aku sudah tidak tahan lagi." Pria itu melepas bajunya kasar dan melemparkannya ke lantai. Ia juga sudah menarik ujung resleting pakaian Kian.
"Brakkkk." Tiba-tiba pintu dibuka paksa dari luar.
Pria yang sedang berusaha membuka pakaian Kian, terkejut melihat kedatangan orang-orang dari balik pintu. Ia lalu turun dari ranjang dengan wajah piasnya.
"Dasar brengsek!" umpat seorang pria yang baru saja masuk. Dengan cepat pria itu melayangkan pukulan. Tanpa dibantu yang lain, seorang pria menghajar pria brengsek itu hingga terkulai tidak berdaya. Wajahnya yang babak belur nyaris tidak bisa dikenali.
"Cepat bawa tikus itu keluar!" perintahnya pada pengawalnya.
Mendengar suara orang itu sekarang, Kian merasa seperti bermimpi.
Benarkah itu dia?
Selesai memberi pelajaran, pria itu berlari mendekati Kian. "Kau baik-baik saja? Maafkan aku!" Terlihat Arkan melepas ikatan tangan Kian dan memeluk gadis itu erat. Kian ikut merasakan tubuh pria itu bergetar sama seperti dirinya. Ia juga memeluk Arkan erat, menumpahkan segala ketakutannya. Andai pria itu telat datang sedikit lagi, mungkin Kian akan kehilangan masa depannya.
"Maafkan aku!" ucap Kian dengan suara bergetar. Air matanya menetes membasahi bahu Arkan.
"Tidak, aku yang salah. Seharusnya aku tidak meninggalkanmu begitu saja." Arkan mengusap kepala Kian dalam pelukannya.
"Aku ingin pergi dari sini,"
Arkan melepaskan jasnya dan memakaikannya pada Kian. Lalu menggendong gadis itu di punggungnya. Mereka berjalan sambil di ikuti oleh para pengawal di belakang. Kian tidak tahu mereka ada dimana, yang ia lihat hanya lorong-lorong sepi dengan kamar disisi kanan dan kirinya, seperti sebuah hotel.
Meski ia sudah tidak menangis seperti tadi, namun isakan kecilnya masih terdengar di telinga Arkan.
"Hei, berhenti menangis! Kau mau aku mandi air matamu?" ejek Arkan.
Kian semakin mengeratkan pegangan tangannya. Membuat Arkan nyaris tercekik.
"Hei gadis bodoh, kau mau membunuhku ya?"
"Berhenti memanggilku bodoh!"
"Terus aku harus memanggilmu apa, gadis pintar? Ck, tidak ada gadis pintar yang mau datang ke acara seperti itu seorang sendiri,"
Kian menundukkan kepalanya lebih dalam. "Maaf, sudah merepotkanmu."
"Kalau kau menyesal, berarti kau harus membayar usahaku."
Kian mengangkat kepalanya lagi. "Bayar? Aku tidak punya uang," jawabnya lirih. "Aku bahkan belum mengembalikan uangmu yang kemarin."
"Ck, siapa juga yang membutuhkan uangmu? Kau harus membayarnya dengan cara lain!"
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Tetaplah menjadi asisten pribadiku." Arkan meletakkan Kian di dalam mobilnya. Lalu menyuruh Sam melajukan mobilnya. Sementara para pengawal yang lain, mengikuti mereka dari belakang.
Di dalam mobil, tak ada seorang pun yang bicara. Arkan sedang sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya. Sedangkan Kian, karena merasa pusing, ia memejamkan matanya lagi memilih tidur.
Melihat Kian yang tertidur pulas, Arkan meraih kepala gadis itu dan menempelkannya di bahunya. Ia juga merapikan anak rambut yang berantakan di wajah Kian lalu mengatakan sesuatu pada Sam. Supir itu mengangguk paham sambil tetap fokus mengemudi.
Kian mengerjapkan matanya saat ia tersadar. Melihat ke sekeliling untuk memastikan keberadaannya. Ruangan ini sudah tidak asing lagi baginya. Ia mencari sosok yang membawanya kesini, tidak ada orang. Namun terdengar suara gemericik dari dalam kamar mandi. Sepertinya Arkan sedang membersihkan dirinya.
Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Terlihat Arkan keluar hanya menggunakan lilitan handuk di pinggangnya. Lagi, Kian bisa melihat separuh tubuh pria itu yang begitu sempurna. Bahkan dia yang wanita saja, tidak memiliki kulit seperti itu.
"Kau sudah bangun?" tanyanya sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Hmm, kenapa kau membawaku kesini?" Kian masih di atas ranjang, sebagian tubuhnya masih tertutup selimut.
"Aku tidak ingin Bibi melihat kondisimu yang berantakan seperti itu."
Kian mengalihkan pandangan, melihat dirinya yang ternyata memang sangat berantakan karena ulah pria brengsek tadi. Kian mengangkat kepalanya lagi, namun ia segera menutup matanya dengan selimut.
"Hei, apa kau sudah gila? Seharusnya kau memberi tahuku jika ingin melepas handukmu. Seenaknya saja telanjang di depan wanita!" teriak Kian dari balik selimut.
Arkan menghentikan kegiatannya sejenak. Lalu ia menatap Kian yang bersembunyi dibalik selimut.
"Kau sudah selesai?" Kian masih menutup kepalanya dengan selimut. Lalu ia mendengar langkah kaki Arkan mendekat.
"Hei kau, berhenti disana. Jangan mendekat!" Kian takut Arkan akan menghampirinya dengan tubuh polos.
"Aku bilang berhenti. Awas saja kalau kau mendekat tanpa memakai pakaianmu!"
Tanpa menyahut, Arkan terus mendekat. Langkahnya terhenti di tepi ranjang. Ia menyeringai, melihat selimut yang bergetar. Itu pasti Kian yang sedang bergetar ketakutan di balik selimut.
"Buka matamu!"
"Tidak mau!"
Tanpa aba-aba, pria itu menarik selimut yang menutupi Kian dan menjatuhkannya di lantai. Gadis itu tersentak kaget, ternyata ia sudah salah menduga.
"Apa yang kau pikirkan? Dasar mesum!"
Arkan terkekeh, sebenarnya ia tidak dalam kondisi polos seperti yang Kian bayangkan. Ia sudah memakai celana boxer saat di kamar mandi tadi. Hanya saja ia ingin mengerjai Kian dengan membuatnya gugup setengah mati.
Merasa dirinya sudah dikerjain, Kian memasang wajah masamnya. Ia juga malu ketahuan berpikiran yang tidak-tidak. Tapi itu kan wajar, terlebih baru saja ia mengalami kejadian buruk. Refleks Kian memukul wajah Arkan menggunakan bantal karena kesal. Namun, pria itu berhasil menangkisnya. Kian masih berusaha memukul pria itu dengan tangannya, entah apa yang terjadi tiba-tiba Arkan kehilangan keseimbangan dan ia terjatuh.
Arkan jatuh tepat di atas Kian. Menyisakan jarak yang hanya beberapa senti diantara mereka. Sejenak mereka terdiam. Saling memandang satu sama lain. Dengan hembusan napas yang begitu hangat menerpa wajah, mereka hanyut dalam perasaan masing-masing.
Kian mendorong tubuh Arkan sekuat tenaga. Membuat tubuh pria itu terpental ke sisi kasur yang lain.
"Aku mau mandi!" Kian berlalu meninggalkan Arkan yang masih terkejut.
__ADS_1
Pria itu memandang langit-langit kamar sambil meraba detak jantungnya. Kali ini, rasanya berdetak 200 kali lebih cepat.
Bisa bisa aku terkena serangan jantung mendadak setiap kali bersamanya.