
"Apa kerja kalian selama ini?! Dasar tidak berguna!!!" bentak Arkan di tengah rapat.
Ia marah besar saat tahu pihak kompetitor memonopoli supplier mereka. Sehingga stok barang mereka terbatas dan menyebabkan profit mereka turun drastis. Tanpa di selidiki lebih dalam, Arkan sudah bisa menduga siapa dalang dibalik semua ini. Pasti Delia. Dia adalah anak dari pemilik supermarket yang menjadi kompetitor mereka.
"Bujuk para supplier dan tawarkan sesuatu yang lebih dari Delia Market berikan!" titahnya lagi lalu keluar dari ruangan meeting.
Kembali ke ruangannya, Arkan merasa ada yang kurang disana. Tidak melihat istrinya di kantor beberapa hari membuatnya tidak bersemangat. Ditambah lagi masalah perusahaan yang membuatnya semakin tidak betah berada di kantor. Ia memilih meninggalkan kantor dan menemui istrinya.
Sekarang disinilah Arkan, mengikuti Kian yang sejak tadi sibuk melihat perlengkapan bayi. Seperti sebelumnya, ia membelikan semua barang yang sudah dilihat Kian. Ia bahkan tidak berpikir bagaimana jika kelak anaknya seorang laki-laki. Yang ia pikirkan hanyalah kebahagiaan Kian. Tidak perlu memikirkan hal lainnya.
Saat Kian menuju toilet, Arkan hanya menunggunya dari kejauhan. Sambil memilih baju hamil di salah satu toko. Alih-alih Kian yang berbelanja, justru Arkanlah yang memborong segala keperluan untuk istrinya. Ia tidak peduli saat orang lain melihat nya dengan senyuman geli.
Sudah hampir satu jam Kian belum juga kembali dari toilet. Arkan yang merasa gelisah memutuskan masuk ke toilet wanita tanpa menghiraukan orang yang memandangnya bingung.
"Dimana istriku?!" tanyanya pada orang-orang yang berada disitu.
Mereka hanya saling pandang sambil menggelengkan kepala. Lalu salah seorang membuka suara. "Tadi saya lihat Nona Kian keluar beberapa menit yang lalu, Tuan!"
Arkan bergegas keluar dan mencari keberadaan Kian namun tidak menemukannya.
"Cari di sebelah sana!" perintahnya pada Sam.
"Baik, Tuan!" Sam langsung melesat menyusuri sisi lainnya.
Di tengah pencarian, tiba-tiba ponsel Arkan bergetar. Ada sebuah pesan masuk.
Kalau kau menginginkan istrimu. Segera datang kesini tanpa ditemani siapapun. Atau kalau tidak, aku akan menyakiti istrimu.
"Sial! Siapa yang sudah berani bermain-main denganku?!" umpatnya kesal.
Arkan langsung menuju tempat yang dimaksud oleh pengirim pesan tersebut tanpa memberi tahu Sam. Ia mengikuti permintaan orang itu demi keselamatan Kian.
__ADS_1
Setibanya di sebuah gedung kosong, Arkan membelalak tidak percaya melihat pemandangan di depannya.
"Tidak ku sangka kau benar-benar datang seorang diri," ucap seorang pria di depan Arkan.
Melihat Kian yang diikat di sebuah kursi dengan mulut yang ditutup membuat emosi Arkan sudah tidak bisa lagi ia tahan. Ia langsung melayangkan pukulan tepat ke wajah pria di depannya.
"Dasar brengsek!" maki Arkan. Namun pria itu justru menyeringai sambil mengusap darah di sudut bibirnya.
"Bagaimana bisa kau keluar secepat ini?! Aku sudah menyuruh mereka untuk membuatmu membusuk dipenjara!"
"Tidak usah terlalu terkejut seperti itu. Ada orang baik hati yang sudah membebaskan diriku. Sekarang saatnya aku yang membalasmu!" ucap Reino dengan santai. Ya pria itu, entah siapa yang sudah membebaskannya hingga bisa berulah lagi seperti ini.
Bugg. Sebuah balok kayu menghantam tubuh Arkan hingga membuat pria itu terhuyung. Lalu dua orang pria bertubuh besar memegangi kedua tangan Arkan yang dipaksa berlutut.
"Hmmpp..hmmp!" Kian yang mulutnya di tutup rapat hanya bisa menangis sambil terus menggelengkan kepalanya. Memohon pada mereka untuk tidak menyakiti Arkan.
"Kau ingin dengar tangisan istrimu?" ejek Reino. Ia menarik paksa lakban yang menutup mulut Kian hingga ia meringis kesakitan.
Namun bukannya iba, Reino justru tertawa nyaring. "Kalian benar-benar pasangan serasi. Membuatku iri saja!"
"Sampah seperti mu tidak pantas mendapatkan pendamping!" sahut Arkan.
Reino langsung mengambil balok kayu dan mulai memukul Arkan secara bertubi-tubi. Hingga darah mulai bercucuran dari wajah Arkan. Reino juga menendang perut Arkan hingga pria itu memuntahkan darahnya.
"Aku mohon hentikan!! Tolong lepaskan dia. Biarkan aku sebagai gantinya!"" teriak Kian.
"Hmm. Benar. Aku mungkin tidak pantas untuk mendapatkannya. Namun, kau juga harus merasakan hal yang sama!" Reino mendekati Kian dan berusaha menciumnya. Membuat Kian menggeliat untuk menghindar.
"Hentikan brengsek! Atau aku akan membunuhmu!"
"Coba saja kalau kau bisa!" Reino masih mencoba mencumbu Kian. Hingga akhirnya Kian meludahi wajah Reino agar pria itu berhenti.
__ADS_1
Plakkk. Sebuah tamparan mendarat di pipi Kian. "Kau ingin bermain denganku?" Reino melepaskan ikatan Kian namun mencengkeram kedua tangannya hingga Kian tidak bisa berkutik.
"Habisi dia!" perintah Reino pada anak buahnya. Kedua pria itu pun melanjutkan menghajar Arkan habis-habisan.
Reino kembali beralih ke Kian. Ia mencengkeram dagu Kian dan mendekatkan wajahnya. Berusaha meraih bibir Kian yang dulu belum sempat ia rasakan.
Namun Kian justru menendang junior Reino dengan lututnya hingga pria itu meringis kesakitan. Lalu mengambil balok kayu untuk memukul Reino. Belum sempat Kian melakukannya, Reino sudah lebih dulu memukul Kian hingga tersungkur.
"Dasar tidak tahu di untung!" Reino menendang tubuh Kian. Sementara Kian hanya bisa meringkuk menahan sakit.
"Hentikan! Kalau sampai kau menyentuh perutnya, aku benar-benar akan membunuhmu!"
Lagi-lagi Reino menyeringai. "Memangnya kenapa dengan perutnya? Apa dia sedang hamil? Bagaimana kalau aku memberi salam perkenalan pada calon anak kalian?"
"Jangan! Aku mohon!" pinta Kian untuk menghentikan Reino. Namun pria itu sama sekali tidak berbelas kasih. Ia justru kembali menendang di bagian perut, hingga Kian berteriak histeris.
Emosi Arkan kembali memuncak. Dengan sisa tenaga ia berbalik menghajar kedua pria suruhan Reino hingga terkulai. Lalu beralih mendekati Reino dan melayangkan pukulan bertubi-tubi hingga Reino tersungkur. Arkan juga mengambil balok kayu dan menghantamnya ke tubuh Reino. Arkan terus menghajarnya membabi buta. Memberikan pelajaran yang setimpal tanpa ampun. Kalau saja Kian tidak menghentikannya, mungkin nyawa Reino akan melayang.
"Sayang, tolong!" panggil Kian.
Arkan terhenyak melihat darah yang mengalir dikaki Kian. Sepertinya Kian mengalami pendarahan. Arkan langsung menggendong Kian dan membawanya ke rumah sakit.
"Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit!"
"Terimakasih sudah datang menyelamatkanku!" lirih Kian dalam pelukan Arkan.
"Kenapa kamu pergi tanpa memintaku menemanimu?"
"Aku kesal padamu. Karena aku pikir kamu tidak menginginkan anak kita!"
"Dasar bodoh! Aku menginginkannya sama seperti aku menginginkan dirimu!"
__ADS_1
Kian tersenyum mendengar penuturan Arkan. Sekarang ia merasa lega karena ternyata Arkan juga menginginkan anaknya.