
Kian langsung dibawa ke IGD setibanya di rumah sakit. Pendarahannya cukup banyak hingga keadaannya sedikit kritis.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa istriku masih belum keluar juga dari IGD?" tanya Arkan panik.
Lalu salah seorang dokter keluar dan memberikan penjelasan. "Tuan, mengingat pendarahannya yang cukup parah, saya harap Anda siap untuk kemungkinan terburuk. Janin di perut Nona Kian bisa saja tidak bisa bertahan. Belum lagi, Nona Kian mengalami patah tulang di bagian rusuknya. Tapi kami tetap berusaha yang terbaik!"
"Apa maksudmu berusaha yang terbaik? Kalian harus menyelamatkan istriku dan juga calon anakku! Kalau sampai sesuatu terjadi pada mereka, aku akan menutup rumah sakit ini!" ancam Arkan.
"Akan kami lakukan sesuai permintaan Tuan!" jawab sang dokter cepat dari pada Arkan bertambah emosi. Untuk saat ini lebih baik tidak memberitahukan apapun sampai kondisi Nona Kian membaik, pikirnya.
"Tuan, Nona Kian mencari Anda!" ucap salah seorang dokter. Sekarang Kian sudah dipindahkan di ruang perawatan. Meskipun masih di ruang ICU.
Arkan masih mematung di pintu melihat keadaan Kian. Sudah kedua kalinya Kian berada di tempat ini meski dalam situasi yang berbeda. Setiap kali melihat Kian tergeletak tak berdaya seperti ini membuat jantung Arkan berdenyut nyeri. Ia tidak tega melihatnya.
"Kemarilah!" pinta Kian.
Arkan pun berjalan mendekati Kian, ia duduk di sebelahnya. "Apa rasanya masih sakit?" tanya Arkan mengusap punggung tangan Kian sambil sesekali menciumnya.
"Sudah tidak terlalu. Dokter bilang apa?"
"Tidak ada. Mereka hanya bilang kamu dan calon anak kita akan baik-baik saja!"
"Apa yang terjadi sudah menjadi takdirNya. Jangan menyalahkan siapapun. Apalagi dokter yang sudah berusaha menyelamatkan kami. Maafkan aku karena kesal padamu. Kalau saja aku tidak kesal, mungkin ini tidak akan terjadi."
"Sshhht! Sudah jangan dipikirkan. Aku yang salah karena menyakitimu. Waktu itu aku sangat khawatir hingga tidak bisa berpikir jernih."
"Tuan, bisa kita bicara sebentar?" Seorang dokter menghampiri mereka.
"Aku tinggal sebentar ya!"
Kian mengangguk. "Hmmm. Pergilah!"
Arkan mengikuti dokter masuk ke ruangannya. Jika dibandingkan tadi, wajah dokter tersebut sekarang tidak begitu tegang.
"Syukurlah, istri dan calon anak Anda baik-baik saja. Namun mereka tetap butuh perawatan intensif untuk memastikannya."
Arkan langsung menghela napas lega. "Terimakasih, Dok!" balasnya ramah. Tidak seperti tadi, seperti ingin menerkam saja.
***
Setelah beberapa hari dirawat, akhirnya Kian diijinkan pulang dengan syarat harus rajin check rutin. Arkan pun selalu setia mendampingi istrinya bahkan saat hendak pulang.
__ADS_1
"Tidak perlu pakai kursi roda. Aku bisa berjalan sendiri!" protes Kian saat Arkan menyiapkan untuknya.
"Tidak. Aku tidak ingin kamu kecapean sedikit pun!"
Akhirnya Kian mengalah mengikuti kemauan Arkan. Sekali pun ia ngotot, pria itu tidak akan membiarkannya. Arkan mendorongnya sampai mereka tiba di mobil.
"Selamat siang Nona, senang akhirnya bisa melihat Anda kembali!" sapa Sam sambil menunduk hormat.
"HEY!! Apa maksudmu senang melihat istriku?! Apa kau menyukainya?" protes Arkan pada Sam.
Astaga mulai lagi bucinnya!
"Maaf bukan begitu maksud saya, Tuan! Saya hanya senang melihat Nona Kian akhirnya sembuh."
Melihat kelakuan dua pria di depannya membuat Kian hanya menggelengkan kepala. Tidak hanya posesif, tingkat kecemburuan Arkan juga terkadang di atas rata-rata. Tapi Kian justru senang melihatnya. Baginya, Arkan terlihat menggemaskan.
"Hey kau mau kemana!" tanya Arkan saat melihat Kian berdiri.
"Masuk ke dalam mobil," jawab Kian sambil mengerutkan kening.
"Duduk! Biar aku yang menggendong mu!"
"Aku akan melakukannya sampai kamu benar-benar pulih. Kalau perlu, aku akan menggendongmu kemana pun kamu pergi!"
Dasar sinting!
Benar saja, Arkan sama sekali tidak mengijinkan Kian banyak bergerak. Bahkan ia menggendong Kian menuju kamar mandi dan kembali mengantarkannya ke ranjang.
Setiap kali Kian ingin makan atau minum, Arkan yang selalu mondar mandir mengambilkannya. Sampai-sampai Kian merasa jenuh sendiri karena tidak bisa bergerak bebas.
"Sayang, sampai kapan aku terkurung seperti ini?" gerutunya saat mereka berbaring diatas ranjang. Arkan memeluk Kian di dalam dadanya.
"Sampai kamu benar-benar pulih." Sambil mengusap kepala Kian.
"Tapi aku sudah sembuh. Sudah tidak sakit sama sekali! Kamu juga sudah sepekan tidak berangkat ke kantor. Pasti banyak pekerjaan yang menumpuk," Kian berusaha mencari alasan.
"Ada Pak Dan yang mengurus perusahaan," jawab Arkan santai.
"Sayang..." panggil Kian dengan suara lembut. Jemarinya sudah menari di balik pakaian Arkan. Berusaha menggoda.
"Hentikan, atau aku tidak bisa menahannya lagi!"
__ADS_1
Kian terhenyak. Ia baru sadar bahwa sudah beberapa hari ini mereka tidak melakukannya. Bahkan jika di ingat-ingat sejak ia hamil. Kenapa Arkan menahannya?
Kian mendudukkan dirinya tegak. "Kenapa kamu menahannya?" tanyanya penasaran.
"Tentu saja karena kamu hamil!"
Kian masih tidak mengerti maksud Arkan. "Maksudmu?
"Bagaimana kalau calon anak kita kesakitan karena aku memasukkan anuku?" ucap Arkan polos.
"Hahahaha!" Kian tidak bisa menahan tawanya lagi. Melihat kepolosan suaminya benar-benar membuatnya gemas.
Astaga. Dia ini polos atau bodoh sih???
Sementara Arkan hanya mengerutkan keningnya. Dia tidak tahu kenapa Kian begitu girang.
"Jadi, selama ini kamu berpikir seperti itu? Apa kamu yakin akan berpuasa selama sembilan bulan?!"
"Sembilan bulan?!"
"Hmmm. Jangan-jangan kamu juga tidak tahu lama masa kehamilan?!
Arkan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak tahu!"
"Astaga!" Kian menepuk jidatnya.
"Jadi aku akan berpuasa selama sembilan bulan?!" tanya Arkan syok. Menahannya selama beberapa hari saja sudah membuatnya tidak karuan. Apalagi kalau harus menunggu selama sembilan bulan.
"Dengarkan aku! Selama hamil, aman bagi wanita untuk tetap berhubungan intim.Calon bayi juga tidak akan tersakiti selagi dalam batas wajar. Jadi kamu tidak perlu menunggu sampai ia lahir!"
Mendengar penjelasan Kian, Arkan langsung berpindah posisi menindih tubuh Kian dengan bertumpu di antara kedua kakinya. Ia langsung melepas pakaian Kian satu persatu.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya sejak awal? Dengan begitu aku tidak perlu menahannya selama ini!" protes Arkan.
"Siapa suruh tidak bertanya!"
"Kalau begitu rasakan pembalasanku!'
"APA?!!"
Arkan langsung ******* habis bibir Kian dan menelusuri setiap inchi tubuhnya. Gairahnya melewati ambang batas setelah beberapa hari tidak menyentuh Kian. Bisa di pastikan malam ini akan menjadi malam yang panjang nan indah bagi mereka berdua.
__ADS_1