
Sejauh mata memandang, entah siapa yang bersemayam. Benci, tapi bila didekatnya merasa nyaman. Cinta, tapi saat disisinya hanya ada air mata. Ini cinta atau ilusi semata?
Selepas makan siang, Kian ijin kembali ke ruangannya. Tapi apa yang dikatakan Arkan hanya membuat Kian ragu sekaligus bingung.
"Ck. Apa kau pikir akan diterima disana?
Apa maksudnya. Itu kan memang ruangan kerjanya, batin Kian. Dia pun meninggalkan ruangan Arkan dan kembali ke ruangannya. Namun dia terkejut saat barang-barangnya sudah tidak ada disana, bahkan tasnya.
Kian menghampiri Dina, sahabatnya. Mendengar jawaban Dina, Kian nyaris tidak percaya. Kalau saja Kepala Departemen tidak memanggilnya dan menjelaskannya, mungkin ia benar-benar tidak percaya.
"Kamu sudah dipindah tugaskan menjadi sekretaris pribadi Tuan Arkan. Barang-barang mu juga sudah di pindahkan kesana. Jadi mulai hari ini kamu bukan bagian dari departemen ini." Begitulah penjelasan yang ia dapat. Benar-benar tidak bisa dipercaya!.
Kian menarik napas, menghembusnya perlahan. Mengumpulkan kembali sisa-sisa kewarasannya. Seperti biasa dia berjalan sambil menghentakkan kakinya untuk melampiaskan kekesalannya.
Dia pikir dia siapa? Seenak jidatnya memindahkan tugas orang.
Kian merasa ingin memakinya, tapi mengingat fakta yang ada. Dia frustasi.
Ahh benar, dia pemilik perusahaan ini. Aargghhhh.
Tidak bisa memaki orang yang memindahkannya, Kian hanya mengumpat dalam hati. Dia tidak tahu mimpi buruk apa yang akan menimpanya lagi.
Sebelum sampai ditempat barunya, Kian sempat berpapasan dengan Rendy. Melihat raut wajah Kian yang kesal, Rendy tidak berani banyak bicara. Dia hanya menyapa Kian, tapi gadis itu bahkan tidak menggubrisnya. Membuatnya sedih. Apalagi sekarang ruangan mereka berbeda, dia tidak bisa menjahili gadis itu lagi seperti biasa. Rendy merasa ada lubang dihatinya yang tidak bisa ia tutupi, saat Kian menjauh darinya. Rasanya sakit.
Kian melihat barang-barangnya sudah tersusun rapi di ruangan yang menghadap ruangan Arkan persis. Entah sejak kapan barang-barang itu berpindah, Kian sama sekali tidak mengetahuinya. Dia terlalu sibuk mengurusi keperluan tuan mudanya. Hingga tidak menyadari orang suruhan Arkan berlalu lalang di depan ruangan.
Ruangan yang hanya dilapisi dinding kaca itu, membuat Kian dan Arkan bisa melihat satu sama lain. Jadi apa yang dilakukan Kian, Arkan bisa melihatnya. Begitu pun Kian. Ruangan yang tidak terlalu besar dan terlalu kecil itu sebenarnya terlihat nyaman untuk Kian. Namun yang membuatnya tidak nyaman, dia merasa seseorang akan terus mengawasinya. Ya walaupun selama ini mereka kerja selalu diawasi melalui CCTV, tapi kali ini rasanya berbeda. Yang mengawasi Kian adalah pemilik langsung dari perusahaan ini. Bahkan untuk bernafas saja rasanya takut ketahuan.
Sekarang Kian tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Pekerjaan lamanya sudah digantikan oleh orang lain. Dan pekerjaan sekretaris pribadi? Omong kosong! Tuan muda itu pasti hanya menjadikannya tak lebih dari seorang pelayan, umpatnya kesal.
Tiba-tiba suara telpon berdering. Kian mengangkatnya.
"Cepat kemari!" ucap seseorang.
__ADS_1
Kian tahu siapa pemilik suara itu, ia langsung melirik ke ruangan Arkan. Pria itu sedang memegang gagang telpon dan menyuruh Kian ke ruangannya.
"Apa ada yang Tuan butuhkan?" tanyanya saat menghampiri Arkan.
"Ambilkan setelan jas ku ditempat laundry! Aku ada acara makan malam," perintah Arkan. Pria itu menatap lembaran kertas di meja tanpa menoleh ke Kian.
Tuh kan dia menyuruhku yang tidak-tidak. Bukankah laundry memiliki jasa antar jemput? Sudah ku duga dia hanya ingin mengerjaiku.
"Dimana, Tuan?" tanya Kian datar.
"Sam tahu tempatnya. Aku sudah menyuruhnya untuk mengantarmu." Baru menoleh ke arah Kian.
Kian bergeming. Dia tidak tahu siapa orang yang dimaksud Arkan.
"Sam itu supirku! Dia sudah menunggumu di mobil! Ingat, jangan sampai jas itu kotor atau rusak. Atau aku tidak akan mengampuni mu!" ancam Arkan. Dia sepertinya menyadari gadis didepannya ini sedikit tulalit, otaknya terlalu lama mencerna sesuatu.
Kalau jas itu sangat berharga kenapa kau tidak mengambilnya sendiri? Bisanya mengancam orang saja!
Ohh nama supir itu ternyata Sam.
Kian pergi meninggalkan ruangan Arkan. Mengambil tas di ruangannya lalu bergegas turun. Di depan mobil supir yang bernama Sam itu sudah menunggunya. Membukakan pintu untuk Kian. Dengan tulus Kian mengucapkan terimakasih.
"Pak, Mas, Om, aku harus memanggilmu dengan sebutan apa?" tanya Kian nyeleneh saat didalam mobil.
Sesaat supir itu tersenyum dibalik kemudi melihat tingkah Kian.
Dia lucu juga!
"Panggil saja saya Sam, Nona!" ucapnya ramah.
"Kian, panggil saja aku Kian!" balas Kian cepat. Dia merasa umur mereka tidak terpaut terlalu jauh, status sosial mereka juga kelihatannya sama. Kian ingin menganggap pria itu sama seperti teman kerjanya yang lain. Jadi tidak perlu bicara formal segala.
"Baik, Nona Kian," ucap Sam lagi.
__ADS_1
"Tidak! Maksudku jangan memakai embel-embel nona. Cukup Kian saja!" protes Kian.
"Baiklah. Terserah anda saja." Mulai menyerah.
"Mulai sekarang kita adalah rekan kerja Sam. Jadi mungkin kedepannya aku akan membutuhkan bantuan mu."
"Saya siap membantu anda kapanpun anda butuh."
Kaku banget sih ini orang! Pakai bahasa formal segala.
Kian tak menyangka tempat laundry yang dimaksud Arkan sejauh ini. Hampir dua jam perjalanan, karena lalu lintas yang macet. Begitu memasuki tempat tersebut, ia di buat kagum dengan segala fasilitas dan pelayanannya. Sangat berkelas jika dibandingkan tempat laundry pada umumnya.
Cukup menyebut nama Tuan Arkan, mereka semua langsung paham dan bergerak cepat mengambil pakaian yang dimaksud. Benar-benar professional!
Kian membawa jas itu dengan hati-hati. Menjaganya melebihi nyawa nya. Karena kalau sampai terjadi sesuatu pada jas itu, tamatlah riwayatnya.
Sam langsung membuka pintu mobil saat melihat Kian mendekat. Membantunya meletakkan jas dengan hati-hati. Dia tahu seberapa penting jas itu untuk tuan mudanya.
Mobil kembali melaju menuju kantor. Lalu lintas semakin padat. Tak ada celah untuk bisa menerobos. Kalau seperti ini terus, bisa-bisa Arkan tidak bisa menghadiri acara makan malam dengan jas ini. Kian memutar otak, sepertinya kalau menggunakan motor akan lebih mudah menerobos kemacetan. Setidaknya lebih mudah juga mencari jalan tikus. Tanpa pikir panjang, Kian langsung memesan ojek online. Menentukan titik jemput dan tujuan. Selesai!. Sekarang tinggal menunggu ojek tersebut datang.
Hampir 15 menit menunggu, akhirnya ojek online datang. Kian memberitahukan Sam bahwa dia akan kembali ke kantor dengan ojek online saja. Belum sempat supir itu mengatakan sesuatu, Kian sudah menghambur keluar.
Semoga tidak terjadi sesuatu dengan anda, Nona.
Benar saja, naik motor lebih mudah mencari jalan alternatif lain. Sehingga mereka tidak perlu terjebak macet terlalu lama.
"Brugg." Tiba-tiba motor yang mereka kendarai jatuh. Sebuah motor dengan kecepatan tinggi baru saja menyenggol mereka. Hingga tabrakan tidak bisa dihindari.
"Aduh... Kian merintih kesakitan. Dia terpental tak jauh dari tempat kejadian. Kondisi Kian dan ojek online itu baik-baik saja, hanya beberapa luka ringan. Motornya juga masih bisa dikendarai, cuma sedikit lecet saja. Tapi Kian baru menyadari, sesuatu yang harus ia jaga dengan nyawanya baru saja terlempar ke dalam kubangan air. Melihat itu, Kian merasa hidupnya akan berakhir, tubuhnya lemas seketika, untuk berdiri pun rasanya sulit.
Bagaimana ini, apa yang harus aku katakan padanya? Dia pasti akan memakiku habis-habisan kali ini. Syukur kalau dia hanya memakiku, kalau lebih dari itu?? Aahh aku ingin menghilang saja rasanya.
Akhirnya Kian dibantu beberapa orang yang berada ditempat itu untuk berdiri. Dia berjalan lunglai mengambil jas yang sudah basah dan kotor itu. Kian memeluk jas kotor itu sekaligus meremasnya.
__ADS_1
Apa aku masih bisa hidup setelah dia mengetahui hal ini?